
Tadi, setelah Akmal ke luar dari dalam ruang ICU, Mirza didekati oleh Dokter lagi, untuk diperiksa keadaannya oleh sang Dokter.
Namun, ketika Dokter baru memegang tubuhnya, Mirza pun menolaknya sambil mengatakan sesuatu.
" Dokter ," ucap Mirza.
" Iya Tuan Mirza ," jawab sang Dokter.
" Tolong jangan periksa tubuh saya dulu ," ucap Mirza.
" Kenapa memangnya Tuan?? ," tanya sang Dokter.
" Saya ingin istirahat sebentar, tubuh saya rasanya sangat sakit sekali, bolehkan Dokter ," jawab Mirza.
" Baiklah, saya akan meninggalkan anda dulu kalau begitu Tuan, nanti saya akan ke sini lagi ," kata sang Dokter.
" Baik Dokter, terimakasih ," jawab Mirza dengan suara lirih. Dan sang Dokter hanya tersenyum sambil mengangguk saja.
Sang Dokter pun lalu pergi dari dalam ruangan tersebut, menuju ke ruangan para tim medis, untuk mengecek hasil laporan tentang keadaan Mirza dan memantaunya dari luar ruangan.
Akan tetapi, ketika sang Dokter baru saja ke luar sekitar lima menit lamanya, monitor yang terhubung ke tubuh Mirza, tiba-tiba menunjukkan garis lurus sejajar.
Sang Dokter dan para asistennya yang melihat, langsung bergegas masuk ke dalam ruangan, untuk mengecek denyut nadi dan keadaannya Mirza, yang ternyata nyawa Mirza sudah tidak bisa tertolong lagi.
Di saat Dokter tadi sudah melangkah pergi menjauh darinya, Mirza sempat mengucapkan dua kalimat syahadat dengan terbata-bata, dan pada akhirnya, dia harus pergi meninggalkan kita semua, untuk selama-lamanya.
Tanda-tanda orang yang akan meninggal menurut islam itu benar nyata adanya, dan Mirza pun sudah merasakannya sejak beberapa minggu yang lalu.
Kini tibalah saatnya dirinya harus pergi dan tak akan kembali lagi bersama kita semua.
Para Dokter yang sudah memastikan jika Mirza benar-benar meninggal, mereka semua langsung melepaskan apa saja yang menempel di tubuh Mirza, dan salah satu Dokter langsung mencoba ke luar untuk menemui semua para Keluarga.
Semua orang yang mendengar ucapan dari sang Dokter, benar-benar sangat syok dan juga terkejut sekali.
" Tolong Dokter, jangan bermain-main dengan kami, tolong jelaskan lah kepada kami secara jelas!! ," ucap Akmal.
" Tuan Mirza sudah meninggal Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya lagi ," jawab sang Dokter.
" Tapi tadi ketika saya masuk, Kakak saya terlihat baik-baik saja Dokter!! ," marah Akmal.
" Akmal, sabar Nak, sabar ," tahan Abi Rasyid.
__ADS_1
" Iya, setelah anda pergi, Tuan Mirza ijin kepada saya untuk beristirahat sebentar, tapi tidak tahunya, ternyata dia beristirahat untuk selamanya ," jawab sang Dokter.
" Maafkan kami, kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya ," ucap sang Dokter.
Semua orang langsung menangis sejadi-jadinya mendengar nyawa Mirza sudah tidak bisa tertolong lagi.
Akmal yang gagah, tampan nan rupawan, tidak malu menangis di hadapan semua orang, ketika sang Kakak yang selalu menemaninya sejak dia kecil, sekarang harus pergi selamanya dan tidak akan kembali lagi.
Di saat semua orang sedang pada bersedih dan menangis, tiba-tiba ada suara seseorang yang jatuh pingsan, dan kalian semua pasti tahu siapa orang tersebut.
Yaps, Cyra yang jatuh pingsan karena tidak kuat mendengar kenyataan, jika sang suami yang sangat dia cintai, harus pergi untuk selamanya dan belum sempat melihat anak pertama mereka lahir ke dunia ini.
Dokter yang melihat, langsung membantu Cyra yang sedang pingsan, untuk memberikan pertolongan pertama kepadanya.
Sedangkan para Keluarga yang lainnya, langsung mengurus kepulangan Mirza ke kota tempat kelahirannya.
Tidak lama, Cyra pun akhirnya sadar dari pingsannya, dan dia langsung berteriak memanggil nama sang suami.
" Kak Mirzaaaaaa!! ," ucap Cyra sambil menangis sejadi-jadinya.
" Nak, tenanglah Nak, tenanglah, kita ada di rumah sakit sekarang ," Umma Nada mencoba menenangkan Cyra, di bantu oleh para saudara yang lain.
" Kita tunggu Dokter dulu ya Nak ," jawab sang saudara.
" Tidak mau Budhe, Cyra harus melihat Kak Mirza sekarang juga!! ," jawab Cyra. Dan Cyra langsung melepaskan paksa infus yang menancap di tangannya.
Salah seorang tenaga medis yang melihat Cyra melepaskan paksa infus yang menempel di tangannya, dia mencoba mencegah Cyra.
" Tolong suster jangan mencegah saya, karena saya ingin melihat suami saya!! ," ucap Cyra.
" Tapi tubuh anda masih lemas Nyonya, anda harus kembali ke ranjang anda ," jawab sang suster.
" Saya tidak mau, dan tolong jangan halangi langkah saya!! ," jawab Cyra sambil menyingkirkan tubuh sang suster yang menghalangi jalannya.
Sang suster merasa bingung harus berbuat apa kepada Cyra, dan dia mencoba meminta bantuan kepada salah satu tenaga medis yang lainnya untuk mencegah Cyra.
Untung saja sang Budhe, bisa menjelaskan kepada para tenaga medis itu, bagaimana keadaan Cyra sekarang, dan mereka semua akhirnya mengerti, lalu membiarkan Cyra pergi untuk menemui Mirza.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya, jenazah Mirza diijinkan pulang juga oleh pihak rumah sakit, untuk mereka bawa ke rumah Ayah Rafiq.
Di dalam ambulance itu, ada Cyra, bersama Akmal dan juga Ayah Rafiq.
__ADS_1
Mereka bertiga terdiam, sambil terus melihat ke arah keranda yang ada di depan mata mereka, dengan air mata yang terus mengalir sangat deras.
" Abi ," ucap Cyra di dalam hati.
" Kenapa Abi tega pergi meninggalkan Umi sendirian di sini ," ucap Cyra lagi.
" Bahkan Abi belum melihat, mengadzani dan memberikan nama untuk anak pertama kita ," kata Cyra.
" Bukankah itu harapan Abi selama ini, ingin menggendong anak pertama kita. Tapi kenapa Abi malah memberikan kejutan yang tidak Umi sukai sama sekali ," kata Cyra.
" Abi, tolong bangunkan Umi, jika ini cuma mimpi ," ucap Cyra lagi di dalam hatinya dengan berderai air mata, hingga niqob yang dipakainya basah terkena air matanya.
Suara tangisan Cyra, membuat hati Akmal dan Ayah Rafiq tersayat-sayat perih sekali.
" Nak, yang tabah Nak, ikhlaskan Mirza ," ucap Ayah Rafiq sambil mengusap punggung Cyra.
" Cyra, janganlah menangis, Kak Mirza pasti akan bersedih jika melihat kamu seperti ini ," ucap Akmal juga, sambil mengusap pundak Cyra.
Cyra tidak bisa menanggapi ucapan mereka berdua, karena lidahnya terasa kelu dan hatinya terasa membeku untuk saat ini.
" Kak Mirza sangat jahat kepada Akmal!! ," ucap Akmal kepada sang Kakak di dalam hatinya.
" Lihatlah Cyra, Kak, lihatlah!! ," marah Akmal.
" Dia sangat bersedih karena Kakak, kenapa Kakak tega sama dia ," ucap Akmal lagi.
" Bukankah Kakak ingin menggendong anak Kakak dan melihatnya lahir ke dunia ini, tapi kenapa Kakak malah tega meninggalkan kami semua di saat dia belum lahir ," ucapan yang sama dari Akmal untuk Mirza.
" Tolong bangunkan Akmal dari mimpi buruk ini Kak ," kata Akmal lagi masih di dalam hatinya, dengan air mata yang masih mengalir dari matanya.
Mirza berangkat ke kota kelahiran Aalifa, dengan perasaan bahagia, untuk menghadiri pernikahan sang adik, tapi sekarang, dia justru pulang hanya tinggal nama saja.
Wallahu a'lam bish-shawab, semua itu sudah takdir dari Allah sang Maha Pencipta.
Kita sebagai umat manusia hanya bisa berpasrah diri dan memperbaiki diri untuk lebih baik lagi.
Semoga amal ibadah Mirza, di terima oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala dan di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1