
Sudah berganti dengan celana training. Sudah memakai kaos biasa. Dan saat ini dia sedang memandang pohon mangga yang ada di depannya. Siapa lagi jika bukan ayah Rafiq.
Sebelum naik ke atas pohon. Ayah Rafiq menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat semua keluarganya yang sedang menatap ke arahnya.
"Semangat Ayah!" mama Jian mengepalkan ke dua tangannya.
"Ayo Ayah! Demi cucu Ayah!"
Ayah Rafiq mencibirkan mulutnya mendengar semangat dari Akmal.
"Kalau tidak bisa! Mending nggak jadi saja Mas. Biar saya beli yang matang saja di supermarket."
Akmal langsung menjawab ucapan sang mertua. "Enak saja Abi! Tidak mau! Akmal mau melihat ayah naik pohon mangga!"
"Lama-lama kamu kurang ajar juga ya Mal!" ayah Rafiq terlihat gemas dengan Akmal.
Akmal tersenyum sambil mengangkat ke dua telapak tangannya ke atas. "Ampun Ayah! Bukan maksud Akmal begitu."
"Ini kapan mau metik buah mangganya kalau kalian ngomong terus begini?" ucap mama Jian.
"Iya-iya! Ok baiklah!"
Ayah Rafiq lalu memulai memanjat pohon mangga yang pohonnya tidak terlalu tinggi mau pun rendah.
"Semangat Ayah!" ucap Cyra.
Perlahan tapi pasti. Ayah Rafiq bisa memanjat juga pohon mangga tersebut, walau dengan kaki yang sedikit gemetaran.
"Ayah! Yang itu Ayah! Yang sebelah sana tuh besar buahnya!"
Berusaha menggapai buah yang diinginkan Akmal. Ayah Rafiq mencoba mengulurkan tangannya.
"Ah! Dapat!" akhirnya ayah Rafiq mendapatkan buah mangga tersebut.
"Tangkap Mal!"
Akmal sudah bersiap-siap untuk menangkap buah mangga tersebut dari bawah.
"Hap!" yah berhasil guys. Akmal bisa menangkap lemparan buah mangga dari sang ayah dengan sempurna.
"Besar sekali buahnya," ucap lirih abi Rasyid.
"Lagi Yah! Yang sebelahnya lagi tuh. Sepertinya sudah tua."
Ayah Rafiq mengalihkan pandangannya ke arah mangga yang sedang ditunjuk oleh Akmal. Sekali lagi. Buah mangga itu mendarat dengan sempurna di tangan Akmal.
"Ini dua sudah cukup Mal. Biar yang lain pada tua dulu. Kalau matang 'kan lebih enak untuk di makan."
__ADS_1
"Satu lagi Ma!" Akmal tidak menuruti keinginan sang Mama.
"Satu lagi Yah! Yang sebelah sana tuh! Ayah ganti cabang lagi yang sebelah kiri."
Mengikuti aba-aba dari Akmal. Ayah Rafiq melihat buah mangga yang dimaksudkan. Dan lagi-lagi berhasil.
Setelah tiga buah mangga didapatkan. Ayah Rafiq perlahan turun ke bawah dengan menahan rasa encok di pinggangnya.
"Pinggangku sakit sekali!" Ayah Rafiq memijat pinggangnya.
"Wah! Mantap mangganya. Ayo semuanya kita masuk dulu ke dalam."
Semua orang langsung masuk ke dalam rumah ayah Rafiq lagi untuk melihat abi Rasyid memakan buah mangganya.
Setelah buah mangganya sudah di kupas bersih dan juga dipotong-potong, plus ada garam yang sudah dicampur dengan cabai rawit yang super pedas. Akmal sudah sangat tidak sabar sekali untuk melihat sang abi memakannya.
"Ayo Abi! Sekarang Akmal mau melihat Abi makan ini!"
Akmal mendekatkan mangga tersebut kepada abi Rasyid. Abi Rasyid sudah menelan air liurnya sejak tadi karena mangga muda yang ada di depannya.
"Satu saja tidak apa-apa 'kan Nak? Abi takut sakit perut."
"Iya baiklah. Yang penting Akmal sudah melihat abi makan buah mangganya."
Ayah Rafiq seperti tidak terima dengan ucapan Akmal dan abi Rasyid.
"Mengalah-lah Mas kepada yang lebih muda," abi Rasyid mencandai ayah Rafiq.
"Tidak adil ah! Paling tidak tiga buah potong dong!"
Akmal menatap abi Rasyid dengan tatapan ya! Bagaimana lagi.
"Akmal tidak bisa membantu Abi," Akmal mengangkat ke dua tangannya.
"Iya-iya baiklah! Tiga buah potong." Abi Rasyid pasrah tapi sedikit merajuk.
Perlahan abi Rasyid mengambil potongan pertama mangga muda itu. Lalu dia campurkan ke dalam garam yang sudah dicampur dengan cabai rawit. Setelahnya dia mencoba memakannya.
Hmm! Mata semua orang kecuali Akmal terlihat ngeri-ngeri sedap melihat abi Rasyid memakan buah mangga muda itu. Dan kalian semua tahu bagaimana ekspresi abi Rasyid memakan mangga muda tersebut.
"Ayo Abi! Abi pasti bisa!"
Akmal mencoba menyemangati. Tapi apa yang terjadi. Abi Rasyid langsung segera berlari ke dalam kamar mandi tamu untuk memuntahkannya.
Rasa asam, asin, plus pedas, mendominasi mulut abi Rasyid. Dan itu rasanya sangat tidak enak sekali.
Cyra sebenarnya kasihan melihat sang abi. Tapi yah! Itu semua dilakukan demi calon anaknya juga.
__ADS_1
Akmal yang melihat sang mertua tidak kuat makan mangga muda tersebut. Dia pun lalu mencobanya sendiri.
Kalian tahi guys bagaimana ekspresi Akmal saat memakan mangga muda itu. Dia santai saja seperti tidak merasakan rasa asamnya mangga. Hingga membuat semua orang yang melihat merasa heran dengan Akmal.
"Abu! Apakah tidak asam mangganya?"
Akmal menggelengkan kepalanya. "Tidak! Coba saja kalau Umi tidak percaya."
Cyra pun lalu mencobanya satu. Tapi rasanya sungguh sangat asam sekali. Sampai Cyra harus melepehkannya ke dalam tempat sampah.
"Ini asam sekali Abu! Kenapa Abu bilang tidak asam!"
"Nggak ko Umi. Ini enak! Bahkan segar rasanya."
Mama Jian dan umma Nada langsung saling pandang sambil menggelengkan kepalanya.
"Nak Akmal benar-benar sedang mengidam. Mangga yang asam seperti itu di kata tidak asam. Umma sampai menelan ludah terus daritadi."
"Perut Abi rasanya langsung kembung!" ucap abi Rasyid yang sudah kembali dari kamar mandi.
Akmal hanya mengedikkan bahunya saja. Dia seakan tidak peduli dengan ucapan semua orang kepadanya. Yang terpenting sekarang dirinya sedang menikmati mangga muda yang enak itu.
Sedang asik memperhatikan Akmal menikmati mangga muda. Tiba-tiba ada salah satu penjaga pintu gerbang yang masuk ke dalam rumah. Hal itu langsung mengalihkan pandangan semua orang ke arahnya.
"Mas Akmal! Ini sate pesanan Mas Akmal. Tadi sudah di antarkan sama kurirnya."
"Oh ya Mang! terimakasih."
Si mamang cuma mengangguk sopan saja. Namun ketika dirinya akan berlalu pergi. Si mamang langsung dicegah oleh Akmal.
"Tunggu Mang!"
Si mamang tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya. "Iya Mas Akmal."
Akmal lalu memberikan empat porsi sate yang dibelinya kepada si mamang. "Yang ini satenya buat mamang sama teman-teman yang lain. Habiskanlah."
Mamang tersebut mengambil satenya dengan perasaan senang sekali. "Terimakasih Mas Akmal. Terimakasih."
Akmal hanya mengangguk saja. Setelah itu si mamang langsung segera kembali keluar untuk memakan sate itu dengan semua teman-temannya.
"Kamu beli sate banyak sekali Mal?'' tanya mama Jian.
"Iya Ma! Sengaja. Akmal lagi ingin makan sate ini," jawab Akmal.
"Umi! Tolong dong siapin satenya. Biar kita semua bisa makan bersama-sama nanti. Dan ambilkan empat bungkus juga untuk para bibi. Biar mereka juga bisa ikut makan."
Cyra mengangguk patuh kepada Akmal. Setelahnya, dirinya langsung masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan sate tersebut dan memberikan empat bungkus juga kepada para bibi.
__ADS_1
...~.~...