IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
MASALAH


__ADS_3

Cyra yang juga ada di situ, mencoba menengahi antara sang suami dan pak Sahab.


"Pak. Jujurlah kepada kami. Sebelum kami membawa Bapak ke kantor polisi!"


Walau cara Cyra berbicara tidak setegas Akmal. Namun, suara lembutnya justru mengandung ketegasan yang dalam dan membuat nyali pak Sahab menjadi semakin menciut.


Mendengar kata polisi. Pak Sahab semakin ketakutan saja. "Ampun Mbak Cyra, Mas Akmal. Maafkan saya. Saya khilaf."


Dengan berurai air mata. Pak Sahab terus meminta ampun kepada Akmal dan Cyra. "Maafkan saya Mas Akmal, Mbak Cyra. Saya janji tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Tolong jangan masukkan saya ke dalam penjara. Kasihan anak dan istri saya nantinya."


Cyra yang sedang berdiri di samping Akmal sambil menggendong baby Zahwa. Langsung menyingkir ketika pak Sahab tiba-tiba mendekat dan ingin bersujud di kakinya maupun kaki Akmal yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Akmal hanya diam saja melihat apa yang sedang dilakukan pak Sahab yang saat ini sedang sujud di kakinya. Biasanya Akmal akan menarik diri. Karena dirinya tidak suka jika ada orang yang berani sujud kepadanya. Namun kali ini berbeda.


Akmal yang sedang dikuasai amarah hanya diam saja. Dan seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan pak Sahab kepadanya.


"Mas Akmal. Ampuni saya Mas. Tolong jangan laporkan saya ke polisi. Ampun Mas," ucap pak Sahab dalam sujudnya.


Melihat sang suami hanya diam saja. Tidak menggubris pak Sahab sama sekali. Cyra mencoba mewakili Akmal.


"Bangun Pak. Kembalilah duduk lagi. Jangan seperti ini."


Cyra tidak menyalahkan sikap Akmal yang seperti itu. Sebab dirinya sendiri juga sama saja seperti Akmal. Yang sedang diliputi rasa kecewa dan juga amarah kepada pak Sahab.


Pak Sahab akhirnya berdiri dari sujudnya dan kembali duduk di kursi depan meja kerja Akmal.


"Apakah Bapak tahu! Berapa kerugian yang dialami butik ini! Hah!" Akmal mencoba tidak meledak amarahnya.


Tidak mau jika baby Zahwa melihat kemarahan sang Abu. Cyra lalu keluar dari dalam kantor untuk menyuruh salah satu karyawan butiknya untuk menjaga baby Zahwa sebentar. Setelahnya, Cyra kembali lagi ke dalam kantor.


Ketika masuk. Cyra masih melihat pak Sahab terus menundukkan kepalanya karena ketakutan mendengar amarah Akmal.

__ADS_1


"Maafkan saya Mas," hanya kata itu yang terus keluar dari mulut pak Sahab.


"Jika maaf bisa mengembalikan uang saya yang ratusan juta itu. Akan saya maafkan!"


"Gara-gara ulah pak Sahab yang berani memanipulasi laporan keuangan di bagian gudang. Butik ini mengalami kerugian hingga lima ratus juta rupiah! Apa Bapak sanggup mengganti uang sebanyak itu. Hah!"


Cyra yang melihat Akmal sedikit tidak bisa mengontrol emosinya. Dia mencoba menenangkan sambil mengusap lembut punggung Akmal. "Abu! Sabarlah. Tenang."


Tiga hari yang lalu. Akmal dan Cyra dibuat terkejut dengan laporan butik yang menjual pakaian khusus laki-laki milik mereka.


Di dalam laporan tersebut. Ada beberapa kejanggalan yang mereka terima. Setiap hari ada barang masuk. Entah itu kain mentah atau bahan yang siap untuk dibuat pakaian. Serta baju-baju atau barang-barang lainnya yang siap di masukkan ke dalam toko.


Dari laporan kain yang mereka terima. Jumlahnya sudah sesuai dengan barang yang datang dan sesuai dengan pengecekan quality control yang sudah disediakan.


Namun. Jika baju-baju atau barang yang lainnya yang datang. Jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah yang mereka terima dari supplier. Barang datang ke butik Cyra bersamaan dengan berkas-berkas atau data-data dari supplier. Di waktu baru saja sampai. Barang itu sesuai data yang diberikan.


Akan tetapi jika sudah berjalan beberapa hari. Dan barang akan disortir untuk siap dipasarkan di dalam toko. Barang itu sudah tidak sesuai lagi dengan data yang diberikan oleh supplier. Ada yang merubah datanya dan yang merubah itu adalah pak Sahab selaku kepala gudang.


Cyra dan Akmal ketika mendapatkan laporan tersebut merasa aneh dengan laporan yang mereka terima dari sang manajer.


"Umi! Apakah Umi merasa ada yang aneh dengan laporan ini? Kenapa Abu merasa laporan ini tidak seperti biasanya ya?"


Cyra yang mendengar langsung ikut mencoba mengecek laporan tersebut. "Iya Abu! Seperti ada yang merubah laporan ini."


"Karena tidak biasanya pihak supplier cuma mengirimkan barang hanya segini saja."


"Nanti Abu akan menelpon suppliernya," Cyra mengangguk saja.


Keesokan harinya. Akmal mencoba menelpon supplier yang biasa mengirimkan dan memasok barang di butiknya. Dari laporan yang Akmal terima. Mereka tidak menyuplai barang yang jumlahnya sedikit seperti yang Akmal tanyakan.


Sudah mendapatkan penjelasan dari pihak supplier. Membuat Akmal dan Cyra semakin mencari tahu tentang kejanggalan laporan yang mereka terima itu. Hingga beberapa hari berikutnya penyelidikan Akmal dan Cyra membuahkan hasil.

__ADS_1


Akmal dan Cyra akhirnya bisa menemukan sebuah petunjuk. Dan mengarahkan kepada dalang dibalik itu semua dari perubahan data yang mereka terima dari supplier. Siapa lagi orangnya jika bukan pak Sahab. Orang yang bertanggung jawab penuh di bagian gudang.


Sang manajer butik yang sudah bekerjasama dengan Cyra dan Akmal sejak kemarin. Dirinya yang masih berdiri di situ hanya diam saja menunggu perintah selanjutnya dari Akmal.


"Kami sudah mengetahui semuanya pak Sahab. Anda bekerja di sini tidaklah sebentar. Apa gaji yang kami berikan kepada Anda masih kurang banyak. Bahkan setahu saya. Kak Mirza dulu jika ada keuntungan banyak. Semua karyawan yang bekerja di sini mendapatkan bonus juga. Apa kurang baik menurut Bapak cara kami memperlakukan karyawan. Hingga Bapak berani mengkhianati kami!"


"Ampun Mbak Cyra. Saya khilaf melakukan itu. Karena istri saya terlilit hutang di pinjaman online. Saya terpaksa mencuri barang di sini untuk saya jual lagi untuk menutupi hutang istri saya," ucap pak Sahab.


"Di mana Bapak menjual semua barang yang Anda ambil dari sini!"


Akmal bukan bertanya. Tapi dia menuntut penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada pak Sahab.


"Di online shop. Atau terkadang saya jual kepada teman-teman saya Mas."


"Astaghfirullah!" Akmal mencoba meredakan emosinya.


"Ampuni saya Mas Akmal, Mbak Cyra. Jangan laporkan saya ke polisi. Saya siap bekerja di sini seumur hidup saya tanpa di gaji sekalipun. Tapi mohon. Jangan masukkan saya ke dalam penjara."


"Kami kecewa Pak. Anda bekerja di sini tidaklah sebentar."


Pak Sahab hanya bisa menangis dan menangis saja mendengar kekecewaannya Akmal dan Cyra yang disebabkan olehnya.


"Kerugian yang kami alami tidaklah sedikit Pak. Kami bahkan harus memutar otak supaya barang yang ada di toko tidak sampai kehabisan," wajah Akmal penuh dengan kekecewaan yang mendalam.


"Jika Bapak mengalami masalah. Bapak bisa meminjam uang kepada saya. Insyaallah jika saya bisa bantu. Pasti akan saya bantu. Bukankah Bapak juga sudah mengenal saya cukup lama sejak kak Mirza masih hidup?"


Air mata pak Sahab semakin deras saja mengalirnya. Dirinya merasa terhina sebab sudah berani melakukan kejahatan di tempat kerja yang selama ini sudah membuat perekonomian keluarganya terangkat.


Tapi sayang. Hanya karena pinjaman online yang dilakukan oleh sang istri tanpa sepengetahuannya, membuat hidupnya menjadi tidak tentu arah. Dan pada akhirnya dirinya melakukan hal yang sangat merugikan tempat kerjanya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2