
Saat ini Keluarga Ayah Rafiq sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan seperti biasanya, ada yang berbeda dari Cyra untuk Akmal kali ini, dia terlihat sangat dingin sekali pagi ini, dan yang menyadari sikap Cyra seperti itu, cuma Akmal seorang.
" Ayah, Akmal mau ijin, besok Akmal mau ke rumah Aalifa ," kata Akmal.
" Ada apa kamu ke sana Akmal?? ," tanya Ayah Rafiq.
Walau Aalifa statusnya tunangan si Akmal, tapi tidak bisa sembarang saja Akmal pergi ke rumah Aalifa, begitupula dengan Mirza dulu, jika dia ingin bertemu Cyra, harus ijin kepada Mama dan Ayahnya.
" Ada Keluarganya yang menikah, Aalifa mengajak Akmal, Ayah, mungkin sekalian berkenalan dengan mereka semua ," jawab Akmal.
" Iya terserah kamu, tapi kamu jangan menyalahgunakan kepercayaan Ayah ya Akmal, karena kamu belum menikah dengan Aalifa ," jawab Ayah Rafiq.
" Iya Ayah ," jawab Akmal.
Cyra biasa saja mendengar Akmal ingin bertemu Aalifa, tapi Akmal selalu mencuri pandang ke arah Cyra, karena dia ingin tahu, apakah Cyra cemburu dengannya atau tidak, tapi kenyataannya Cyra tidak peduli, dan malah asik mengobrol sendiri bersama Mirza.
" Mirza sudah selesai, Mirza pamit dulu Ayah, Mama ," kata Mirza.
" Iya Nak, hati-hati di jalan ," jawab Mama Jian.
Cyra langsung saja ikut berdiri, ketika sang suami sudah beranjak berdiri dari duduknya.
Dengan mesra, Cyra memeluk pinggang Mirza dihadapan mereka semua, dan Mirza pun juga tidak malu, langsung merangkul mesra pundak Cyra.
" Akmal juga mau berangkat dulu Ayah, Mama, ada kelas pagi hari ini ," pamit Akmal juga.
" Iya, kamu juga hati-hati di jalan ," jawab Mama Jian.
Seperti sang Kakak tadi, Akmal juga tidak lupa mencium tangan sang Mama dan juga sang Ayah.
Setelah itu, Akmal langsung melangkahkan kakinya ke luar rumah, menuju ke arah mobilnya yang sedang terparkir rapi sejak tadi.
" Anak Abi sehat-sehat ya di dalam sana ," kata Mirza kepada calon anaknya dan didengar jelas oleh Akmal.
" Iya Abi, Abi yang semangat bekerja ya, jangan capek-capek, cium dulu dong ," jawab Cyra sambil menirukan suara anak kecil.
Mirza sangat senang sekali dengan perhatian Cyra yang selalu manis kepadanya.
Akmal melirik kemesraan sang Kakak dengan Cyra, yang sebenarnya sangat membuatnya iri.
Bukan maksud hati ingin membuat Akmal cemburu, akan tetapi begitulah Cyra, selalu manis dan mesra kepada Mirza setiap saat.
Mereka berpelukan, mencium kening dan pipi seperti biasanya pun, dilakukan didepan Akmal tanpa rasa malu sama sekali.
__ADS_1
Mirza langsung masuk ke dalam mobilnya, setelah berpamitan dengan sang istri dan calon anaknya.
Akhirnya, baik Mirza dan Akmal sama-sama melajukan mobilnya, untuk berangkat mengajar di tempat berbeda.
Singkat cerita, hari pun telah berganti dengan hari lagi.
Akmal selesai mengajar di kampus, langsung saja pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.
Akmal yang sedang ingin menaiki tangga, tidak sengaja melihat Cyra sedang duduk di ruang Keluarga, sambil menerima telepon dari Kalila.
Kalila yang sedang curhat jika semua teman-temannya pada marah dan merajuk kepadanya, karena tidak ada yang tahu tentang acara lamarannya pun, membuat Cyra tersenyum sendiri.
Senyum Cyra tiba-tiba pudar, ketika matanya tidak sengaja melihat Akmal baru saja pulang ke rumah.
Cyra tidak mempedulikan Akmal, dan dia memilih mengalihkan pandangannya ke arah lainnya, sambil terus melanjutkan pembicaraannya dengan Kalila.
Sedangkan Akmal, tentu saja berpura-pura tidak peduli dengan Cyra dan lalu memilih segera menuju ke dalam kamarnya.
Selesai sholat dzuhur, dan sudah siap untuk berangkat menuju ke rumah Aalifa, Akmal pun langsung ke luar dari dalam kamar untuk menuju ke dalam mobilnya.
Akmal yang daritadi tidak melihat keberadaan sang Mama, dia mencoba bertanya kepada Cyra yang sedang memainkan ponselnya.
" Cyra, apakah kamu melihat Mama?? ," tanya Akmal.
" Kakak sedang berbicara denganmu, Cyra?? ," tegur Akmal, karena Cyra seperti tidak sopan kepadanya.
" Kenapa memangnya, yang penting kan sudah Cyra jawab ," jawab Cyra dengan nada yang terdengar ketus, dan baru kali ini Akmal melihat Cyra marah.
Akmal hanya menghela nafasnya saja, supaya dia tidak sampai kelepasan marah kepada Cyra.
" Sampaikan kepada Mama dan Ayah, jika Kakak mau pergi ke rumah Aalifa saat ini ," kata Akmal.
" Iya, hati-hati di jalan, kalau perlu Kakak menginap saja di sana, tidak perlu pulang ke rumah ini lagi ," jawab Cyra sambil berlalu naik ke atas tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sungguh mood seorang ibu hamil sangat kuat sekali, terlebih lagi Akmal sudah benar-benar membuatnya sebal dan marah, jadi ya begitulah jawaban Cyra untuknya.
Akmal memejamkan matanya sambil terus beristighfar, supaya tidak terpancing emosi dengan jawabannya Cyra kepadanya.
Setelahnya, Akmal lalu benar-benar pergi menuju ke rumah Aalifa.
Karena hati sedang tidak baik-baik saja, sebab perkataan dari Cyra tadi, yang ada di pikiran Akmal saat ini cuma Cyra saja.
Hingga perjalanan yang cukup jauh pun tanpa Akmal sadari, akhirnya dia sampai juga di depan rumah Aalifa.
__ADS_1
Aalifa langsung menyambut kedatangannya Akmal dengan baik, karena sebelumnya, Akmal sudah mengatakan kepadanya, jika dirinya sedang berada diperjalanan.
Kedatangan Akmal juga disambut ramah oleh ke dua orang tua Aalifa, yaitu Pak Ismail dan Mama Atika.
" Kak Akmal pasti capek ya, mending Kakak istirahat dulu, nanti kita ke sananya setelah sholat maghrib saja ," kata Aalifa.
" Tidak ko, Kakak tidak terlalu capek ," jawab Akmal.
" Bagaimana dengan pekerjaan kamu Nak Akmal, lancar?? ," tanya Pak Ismail.
" Alhamdulillah, lancar Pa ," jawab Akmal.
" Keluarga sehat semua kan?? ," tanya Pak Ismail lagi.
" Alhamdulillah sehat semua Pa ," jawab Akmal.
" Itu istri Kakak kamu sudah hamil berapa bulan Nak, kan nanti jika dia melahirkan, kita semua bisa berkunjung ke sana ," kata Pak Ismail.
Mendengar pertanyaan dari sang Papa untuk Akmal, Aalifa langsung memperhatikan wajah Akmal dengan sangat serius sekali.
" Sudah sekitar empat bulan Pa ," jawab Akmal.
" Wah, sebentar lagi ya, cuma kurang lima bulanan saja ," kata Mama Atika dan Akmal hanya mengangguk saja.
Pak Ismail lalu terlibat perbincangan santai dengan Akmal, sedangkan Aalifa ijin untuk bersiap-siap terlebih dahulu di dalam kamarnya.
Selesai bersiap-siap, Aalifa lalu menemui Akmal dan mengajaknya untuk segera pergi ke pesta pernikahan saudaranya.
Ini pertama kalinya Aalifa dan Akmal pergi berdua seperti itu, dan Akmal sedikit merasa, yah antara nyaman dan tidak nyaman, sebab mereka belum sah menjadi sepasang suami istri.
Selama diperjalanan, Akmal sedikit tidak nyambung jika diajak berbicara oleh Aalifa, karena pikiran Akmal sedang tertuju kepada Cyra yang tadi marah kepadanya.
Hingga ketika pulang dari acara pernikahan tersebut, Akmal tidak sengaja memanggil Aalifa dengan nama Cyra.
Karena kali ini Aalifa bertemu langsung dengan Akmal, jadinya dia memberanikan diri bertanya langsung kepada Akmal tentang Cyra.
" Kenapa Kakak selalu salah menyebut nama Aalifa dengan nama Kak Cyra, apakah Kakak mencintainya?? ," tanya Aalifa yang membuat Akmal menjadi kebingungan sendiri.
Nah kan, makanya Akmal, jangan terlalu memikirkan keadaan yang tidak seharusnya kamu pikirkan.
Jiwa dan raga sedang bersama siapa, eh pikiran entah tertuju ke mana, jadinya begitu kan, membuat Aalifa memberikan pertanyaan yang membuatmu kebingungan sendiri.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...