
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kini saatnya Mirza untuk kembali pulang ke rumah, karena kondisinya sudah mulai membaik sejak beberapa hari yang lalu.
Dokter pun sudah mengecek kepala Mirza, jika otaknya sudah kembali berfungsi dengan normal, walau kemarin ada pembengkakan sedikit, namun masih bisa diatasi oleh para tim medis.
Beruntung bagi Mirza, bisa mempunyai mertua seorang Dokter Bedah Saraf, jadi sedikit banyak Abi Rasyid bisa mengarahkan kepada Mirza, harus begini dan begitu, termasuk mengkonsumsi makanan serta pola hidup sehat.
Selama perjalanan pulang, Cyra terus tersenyum senang, karena pada akhirnya, sang suami bisa kembali pulang ke rumah bersamanya.
" Kamu sangat senang sekali sayang, apa karena melihat Kakak bisa pulang ke rumah?? ," tanya Mirza.
" Tentu saja dong Kak, karena Cyra sudah tidak sabar menemani hari-hari Kakak di rumah, sampai ...... ," ucapan Cyra terpotong, karena disela oleh Mirza.
" Sampai Kakak meninggal ," kata Mirza.
Cyra yang daritadi merangkul mesra lengan Mirza, langsung ia lepaskan seketika, ketika mendengar ucapan ngawur dari Mirza. Padahal tadi ucapan yang benar adalah sampai Kakak sembuh, akan tetapi Mirza malah menyelanya seperti itu.
Walau Mirza cuma bercanda, namun tetap saja Cyra tidak menyukai candaan tersebut.
Cyra langsung diam, dan senyum yang daritadi terlihat diwajahnya, seakan sirna entah ke mana.
" Hei, sayang, kamu marah ya ," kata Mirza.
Crya tetap diam saja, dan dia tidak mau menanggapi ucapan Mirza sama sekali.
" Kakak minta maaf deh, Kakak kan cuma bercanda sayang ," ucap Mirza lagi.
Cyra masih tidak mempedulikan, karena menurutnya, sikap Mirza sudah sangat keterlaluan sekali.
Pikiran yang dari kemarin sudah tidak tenang, selalu diusahakan untuk bisa tenang, supaya dirinya tidak stres, namun Mirza selalu ada saja ucapan yang membuatnya khawatir.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai juga di kediaman Ayah Rafiq.
Di rumah Ayah Rafiq sudah sangat ramai sekali orang yang akan mengikuti syukuran atas kembalinya Mirza ke rumah.
Mama Jian sengaja mengundang ibu-ibu pengajian yang ada di komplek, untuk meramaikan syukuran yang sengaja di adakannya. Tidak lupa juga dengan para tetangga yang ada di dalam komplek, hampir semuanya di undang oleh Ayah Rafiq.
Ayah Rafiq sendiri juga sengaja mengundang seorang Pak Kyai, untuk ceramah singkat di pengajian di rumahnya.
__ADS_1
Begitupula para kerabat, sahabat dan juga saudara, di undang semua oleh Ayah Rafiq dan Mama Jian, sebagai rasa syukur mereka atas pulangnya Mirza ke rumah.
Cyra turun dari dalam mobil masih tetap membantu Mirza, namun Mirza tahu, jika Cyra masih marah kepadanya.
Abi Rasyid, Umma Nada dan juga Saqif sudah di situ sejak tadi, untuk ikut membantu jalannya pengajian syukuran yang diadakan oleh sang besan.
" Ayo Nak, hati-hati jalannya ya ," kata Abi Rasyid dan Mirza hanya tersenyum saja.
Abi Rasyid menuntun Mirza untuk masuk ke dalam rumah, dan kedatangan Mirza bersama Cyra disambut suka cita oleh semua orang.
" Nak, Mama sudah menyiapkan pakaian untuk kalian berdua, ganti baju dulu ya di kamar, baru bergabung sama kita semua ," kata Mama Jian sambil tersenyum.
" Baik Ma ," jawab Cyra.
Cyra lalu membantu Mirza untuk naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Cyra dengan telaten melepaskan kancing baju yang dipakai oleh Mirza, dan akan menggantinya dengan baju koko yang sudah Mama Jian siapkan untuknya.
Mirza diam saja, ketika Cyra melepaskan kemeja yang di pakainya, dan dia terus menatap Cyra dengan sangat lekat sekali, sedangkan Cyra sendiri, tidak mempedulikan sang suami yang sedang menatapnya, karena hatinya masih marah dengannya.
" Apakah Umi masih marah sama Abi, bahkan daritadi Umi tidak bertanya sama Abi?? ," ucap Mirza.
Masih sama seperti tadi, Cyra membantu melepaskan ikat pinggang dan celana kain yang dipakai oleh Mirza, dengan diam seribu bahasa.
Setelahnya, Cyra membawa celana dan kemeja kotor tadi, untuk dia taruh di dalam keranjang pakaian kotor.
Mirza membiarkan saja sikap Cyra yang masih marah kepadanya sambil berusaha memakai sarung yang sudah diambilkan oleh Cyra tadi.
Selesai mengurus sang suami, saatnya dirinya sendiri yang berganti pakaian, dengan baju gamis yang sudah disiapkan juga oleh sang Mama mertua.
Warna dan model baju yang sama persis dengan baju koko yang sedang dipakai oleh Mirza. Mereka berdua terlihat sangat serasi sekali.
Cyra yang sedang memakai hijabnya di depan cermin, langsung didekati oleh Mirza yang sudah selesai memakai sarungnya.
" Wajah secantik ini, jika marah, nanti bisa luntur lho kecantikannya ," kata Mirza sambil memeluk Cyra dari belakang.
" Kenapa dari kemarin Kakak berbicara jika seolah-olah akan meninggal besok?? ," jawab Cyra.
__ADS_1
" Apa Kakak tidak mengerti bagaimana perasaan Cyra,!! kenapa Kakak seolah-olah merasa sendirian saja di dunia ini,? lalu Kakak menganggap Cyra apa?? ," ucap Cyra panjang lebar.
" Maafkan Kakak sayang ," kata maaf dari Mirza.
" Mulai saat ini, Kakak tidak akan berbicara atau bercanda seperti itu lagi ," jawab Mirza.
" Kakak akan lebih menghargai hidup, karena hidup ini cuma sementara, apalagi di sisa umur Kakak yang sekarang ," ucap Mirza.
" Kakak akan memperbaiki semuanya sayang ," kata Mirza.
" Maafkan Kakak, karena Kakak rasanya belum bisa menerima semua takdir ini dengan ikhlas, karena Kakak takut kehilanganmu dan anak kita ," ucap Mirza lagi sambil menangis.
Cyra yang melihat sang suami menangis dari pantulan cermin, dia langsung berdiri dan berbalik badan untuk menghadap Mirza.
" Kakak jangan berbicara seperti itu ," ucap Cyra sambil mengusap air mata Mirza.
" Ada Cyra yang akan selalu mendampingi Kakak seumur hidup Kakak ," ucap Cyra dengan mesra.
" Cyra tidak akan meninggalkan Kakak, karena Cyra ingin membina rumah tangga seutuhnya bersama Kakak seorang ," kata Cyra lagi.
Mirza yang merasa malu dan senang secara bersamaan, langsung memeluk Cyra dengan erat sekali, sambil terus mengucapkan kata maaf.
Sekarang Mirza sadar, jika apa yang dia lakukan sejak kemarin adalah salah.
Mirza sudah tidak mau lagi terpuruk dengan kondisi dan keadaan, karena dia ingin semangat menjalani pengobatan yang harus dia jalani mulai besok, supaya bisa hidup lebih lama lagi di dunia ini.
Selesai bersiap-siap di dalam kamar, Mirza dan Cyra lalu ke luar dari dalam kamar dan bergabung bersama dengan yang lainnya.
Acara pengajian sudah dimulai, namun untuk ibu-ibu terlebih dahulu, baru setelahnya, akan dilanjutkan ceramah singkat dari Pak Kyai yang sedang menuju ke rumah Ayah Rafiq.
Cyra dan Mirza langsung berpisah tempat, karena Cyra akan bergabung dengan para ibu-ibu, sedangkan Mirza bergabung dengan para laki-laki.
Semua mengikuti bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang dilantunkan oleh para Ibu-ibu pengajian, tidak lupa juga mereka senantiasa bersholawat yang mereka panjatkan kepada Baginda Rasul kita Nabi Muhammad.
Mirza berharap, dengan doa dari semua orang yang hadir di rumahnya, bisa menambah rasa syukur dan semangatnya untuk menjalani hidupnya.
Terutama untuk bisa sembuh dari sel kanker yang sedang menggerogoti otaknya.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...