IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BONCHAP `ICA` 10


__ADS_3

Setelah memberikan selamat dan ungkapan rasa bahagia kepada Cyra. Sekarang para orang tua sedang sibuk dengan sang cucu ke dua yang sangat mereka sayangi.


Baby Zahwa sendiri saat ini sedang tidur. Jadi para orang tua bisa saling bergantian menimang sang cucu jagoan dengan puas. Dengan berat badan sekitar tiga koma lima dan panjang sekitar lima puluh centimeter, membuat jagoan Akmal - Cyra cukup gemuk.


Wajah sang baby jagoan terlihat sangat merah sekali dengan bibir yang berwarna pink asli sejak lahir tadi. Menambah keimutan sendiri untuknya secara alami.


Akmal terus menemani Cyra yang masih terlihat lemah. Mereka berdua terus memperhatikan ke dua orang tua mereka masing-masing yang sedang merasa bangga dengan anak ke dua mereka.


"Abu!"


Pandangan mata Akmal teralihkan ke arah Cyra. "Hmm! Ada apa Umi?"


"Umi yakin jika Abu sudah menyiapkan nama untuknya. Siapakah namanya Sayang?"


Akmal tersenyum. "Namanya El Zhar Dzulhilmi Achnaf Khaliq."


"Coba tebak apa arti namanya Sayang?" ucap Akmal lagi.


"Umi cuma tahu artinya Khaliq dan Dzulhimil. Yang lainnya tidak tahu."


"Arti kepanjangannya itu adalah anak laki-laki yang mempunyai wajah cerah berseri-seri, suci, kreatif dan juga sabar atau penyabar."


Abi Rasyid yang mendengar ucapan Akmal langsung bertanya. "Itu arti nama siapa Nak? Apakah cucu Abi yang ke dua?"


Akmal menganggukkan kepalanya. "Lalu siapa namanya Mal?" tanya ayah Rafiq.


"El Zhar Dzulhilmi Achnaf Khaliq."


"Siapa nama panggilannya?" tanya abi Rasyid lagi.


Pandangan semua orang saat ini sedang tertuju kepada Akmal. "Nama panggilannya Achnaf, Abi," jawab Akmal.


Para orang tua dan Cyra sangat menyukai nama panggilan sang jagoan mereka, yaitu Achnaf yang berarti suci. Semoga seperti namanya. Di dalam hatinya akan selalu tumbuh sifat yang suci dan tidak mudah terprovokasi dunia sekitar yang buruk.


Kabar bahagia yang Akmal miliki tentu saja tidak dia simpan sendiri. Dia langsung memberitahukan perihal kelahiran putranya kepada semua kerabat, saudara dan juga sahabat.


Hamzah, Misha, Deena, Fadli dan juga Abraham sangat senang sekali mendengar kabar kelahirannya baby Achnaf. Akmal berpesan kepada Abraham untuk menyampaikan juga kabar kelahiran Achnaf kepada Kalila dengan cara yang lembut.

__ADS_1


"Iya aku mengerti maksudmu, Mal."


Begitulah jawaban Abraham melalui sambungan telepon kepada Akmal. Dan setelah selesai menerima telepon dari Akmal. Abraham mencoba mengatakan hal tersebut kepada Kalila.


"Sayang!"


Abraham mendekati Kalila yang sedang sibuk memakan buah-buahan. "Hmm! Ada apa sayang? Mau?" Kalila menyodorkan satu potong buah kepada Abraham.


Abraham menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tapi ada hal lain yang ingin Kakak bicarakan."


Sambil mengunyah buah-buahan yang dimakannya. Kalila pun menjawabnya. "Apa itu Kak?"


"Cyra sudah melahirkan anak ke duanya. Ayo kita datang menjenguknya."


Abraham sangat hati-hati sekali mengatakan kepada Kalila. Karena dia takut jika Kalila akan merasa bersedih lagi.


"Alhamdulillah. Masyaallah. Kapan Kak? Ayo kita segera datang menjenguknya."


Ternyata diluar ekspetasi Abraham. Kalila terlihat biasa saja dan enjoy. Bahkan wajahnya terlihat bahagia mendengar Cyra sudah melahirkan.


Abraham tersenyum. "Sekarang. Saat ini dia masih di rumah sakit. Jika mau menjenguknya, ayo sekarang kita segera datang ke rumah sakitnya."


Abraham mengangguk sambil tersenyum. "Iya."


Kalila beranjak berdiri dari duduknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Abraham yang melihat Kalila sudah bisa mengontrol emosinya menjadi lega dan berdoa, semoga Kalila selalu berpikir positif jika kebahagiaan pasti akan datang menghampiri mereka berdua.


Setelah selesai bersiap-siap. Abraham dan Kalila pun datang menjenguk Cyra di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit. Kedatangan Abraham dan Kalila langsung disambut ramah oleh semua orang. Termasuk Akmal dan Cyra sekaligus.


Kalila mencoba menggendong baby Achnaf dengan perasaan bahagia. Cyra sebagai sahabat yang melihat Kalila bahagia seperti itu. Berdoa dengan tulus untuk kebahagiaannya Kalila. "Semoga Allah segera memberikanmu keturunan Kalila."


Setelah puas berkunjung dan melihat baby Achnaf. Abraham dan Kalila pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Para sahabat Akmal dan Cyra silih berganti datang menjenguk ke rumah sakit. Dan setelah beberapa hari berada di rumah sakit. Akhirnya Cyra dan baby Achnaf diijinkan pulang ke rumah oleh dokter.


Tepat tujuh hari umur baby Achnaf. Akmal dan Cyra mengadakan aqiqah baby Achnaf dengan mengundang anak yatim piatu dan para kaum dhuafa yang biasa mereka santuni setiap jumatnya.


Semua orang menyambut suka cita kelahiran baby Achnaf. Mereka semua mendoakan dengan tulus kesehatan Cyra sekeluarga beserta baby Achnaf tentunya. Dan acara aqiqah baby Achnaf berjalan dengan lancar seperti yang mereka harapkan.


Hari-hari telah berjalan seperti semestinya. Tiga hari setelah mendatangi acara aqiqah baby Achnaf. Tiba-tiba Kalila merasa tidak enak badan. Tubuhnya rasanya letih dan matanya seperti berkunang-kunang jika buat berjalan.

__ADS_1


Abraham yang melihat sang istri jatuh sakit. Merasa sangat khawatir sekali. "Kita periksa ke dokter yuk Sayang!"


Kalila menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Kak! Ini paling cuma sakit biasa. 'Kan dari kemarin Kalila kurang tidur."


Abraham tersenyum tipis. "Kalau ada apa-apa kabari Kakak ya. Kakak mau ke bengkel dulu."


Kalila hanya tersenyum saja. Dirinya lalu menyalami tangan Abraham dengan sopan sebelum Abraham berangkat bekerja ke bengkel.


Sore harinya. Sepulang dari bengkel. Abraham tidak menemukan sang istri di manapun. Dan ternyata ketika sudah masuk ke dalam kamar. Kalila sedang rebahan di dalam kamar.


"Apa tubuhmu masih sakit Sayang?" Abraham mengusap lembut kepala Kalila.


Kalila mengangguk. "Iya Kak. Maafkan Kalila yang tidak bisa masakin Kakak. Karena seharian ini tubuh Kalila rasanya tidak kuat untuk bangun."


Abraham tersenyum. "Iya. Kakak tidak apa-apa ko. Lagipula Kakak sudah beli makanan untuk kita berdua."


"Kalau begitu. Biar Kalila siapkan. Tapi sebelumnya Kalila mau pipis dulu."


Abraham hanya tersenyum dan mengangguk saja. Setelahnya, Kalila berlalu ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. Setelah keluar dari dalam kamar mandi. Kalila memanggil Abraham sedikit histeris. Hingga membuat Abraham menjadi khawatir dibuatnya.


"Ada apa Sayang! Ada apa Kalila?"


"I-Ini! Lihatlah," dengan tangan gemetar Kalila memberikan sesuatu yang digenggamnya.


Abraham langsung mengambil barang tersebut. Namun belum sampai melihat dengan jelas. Kalila langsung jatuh pingsan. Dengan sigap Abraham langsung memindahkan Kalila ke atas ranjang. Setelah memindahkan Kalila ke atas ranjang. Abraham mengecek sebentar barang yang tadi diberikan oleh Kalila, yang ternyata sebuah testpack bergaris dua yang artinya Kalila positif hamil.


Tangan Abraham sampai gemetaran juga melihat garis dua yang terpampang jelas di testpack yang sedang dipegangnya. Jadi yang membuat Kalila sakit hari ini karena dia sedang hamil. Dan yang membuat Kalila pingsan, karena dia saking syoknya melihat hasilnya positif.


Setelah bisa mengontrol perasaannya. Abraham langsung mencoba membangunkan Kalila sebisanya. Dan akhirnya berhasil. Kalila sadar hingga membuat Abraham langsung memeluknya dengan sangat erat sekali.


"Kamu hamil Kalila. Sebentar lagi kita akan punya anak."


Mata Abraham berkaca-kaca. Begitupula dengan Kalila. "Kalila tidak sedang bermimpi 'kan Kak?"


Abraham menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ini dua garis. Kamu positif sayang." Mereka berdua melihat testpack itu bersama-sama.


"Ayo kita segera periksa ke dokter untuk lebih memastikannya."

__ADS_1


Kalila mengangguk. Setelah itu mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat ke dokter untuk memeriksa apakah Kalila benar-benar positif hamil atau tidak.


...~.~...


__ADS_2