
Selesai menikmati makan malam. Saat ini semua orang yang terdiri dari abi Rasyid, umma Nada, ayah Rafiq, mama Jian, Cyra, Akmal dan juga baby Zahwa. Sedang duduk santai bersama menikmati kumpul keluarga di ruang keluarga rumah Mirza.
Rumah Mirza sendiri sekarang sudah resmi menjadi rumah Akmal dan Cyra. Karena bagaimanapun juga. Rumah itu adalah sudah sepenuhnya milik Cyra karena harta warisan dari Mirza.
Pekarangan rumah dan seisinya, sudah dirapikan semua dari atribut serta tenda pesta oleh para WO yang sengaja mereka sewa.
Akmal sendiri juga sudah mencarikan pembantu untuk bekerja di rumahnya saat ini. Pembantu itu insyaallah orang yang baik. Karena mereka saudara dari para bibi yang bekerja di rumah ayah Rafiq. Ada juga anaknya bi Narsih yang sudah bekerja puluhan tahun dengan ayah Rafiq dan mama Jian.
Untuk para penjaga pintu gerbang sendiri serta sopir. Semuanya juga sudah dicarikan oleh Akmal. Dan mereka semua masih satu kerabat dengan para bibi yang bekerja di rumah ayah Rafiq.
"Lihatlah Zahwa. Semakin lincah dan menggemaskan saja," ucapan abi Rasyid langsung diangguki oleh semua orang.
Baby Zahwa yang sudah berumur jalan lima bulan. Tentu saja terlihat semakin lucu dan juga menggemaskan. Serta jangan lupakan pipinya yang gembul itu.
"Iya Abi. Bagaimana Akmal bisa jauh dengan si gembul ini," Akmal mencium pipi baby Zahwa dengan gemas.
Cyra yang duduk di sebelah Akmal, terus tersenyum melihat putri cantiknya bisa tertawa puas dengan sosok pengganti ayah kandungnya. Yang insyaallah Akmal bisa menjadi ayah yang baik untuknya.
"Oh ya Abi, Ayah. Nanti Cyra sama kak Akmal mau tidur di kamar utama ya." Cyra meminta ijin.
"Iya sudah! Tidurlah saja di sana. Lagi pula kamu sudah menikah," jawab abi Rasyid.
"Kenapa meminta ijin segala Sayang. Kan kamar itu kamar kita." Akmal berbicara sangat lembut sekali.
"Takutnya abi sama ayah marah jika kita tidur di sana, Kak," Cyra benar-benar sangat polos sekali.
Abi Rasyid dan ayah Rafiq langsung tersenyum penuh makna sambil saling pandang. Sedangkan untuk para mama, cuma menggelengkan kepalanya saja. Sebab mereka sudah tahu apa arti senyuman dari suami mereka masing-masing.
"Oh ya. Abi, Umma, Ayah dan Mama. Kalian malam ini tidur sini kan?" tanya Cyra.
"Iya. Malam ini kita tidur sini. Lagi pula kami rasanya terlalu capek untuk melakukan perjalanan pulang Nak. Walau jaraknya juga tidak terlalu jauh sih," Cyra cuma mengangguk-angguk saja.
"Sudah jam sembilan malam. Akmal sama Cyra ijin masuk ke dalam kamar dulu ya Mama, Umma, Abi, Ayah. Mau menidurkan Aiza." Semua orang langsung menganggukkan kepalanya.
Sebelum masuk ke dalam kamar. Cyra dibantu Akmal membawa semua barang-barang miliknya ke dalam kamar utama.
Baru saja membuka pintu kamar utama. Mata Cyra dibuat melotot sangat lebar sekali. "I-ini kamarnya kenapa?"
Cyra terheran-heran melihat kamarnya sudah disulap begitu indah dan juga kental dengan malam pertama.
__ADS_1
Akmal yang juga ikut melihatnya tidak terkejut seperti Cyra. Sebab dirinya sudah menduga jika hal ini pasti terjadi. Karena ulah abi Rasyid dan sang ayah sendiri.
Biasanya para mama yang akan sangat excited mendekor kamar pengantin. Tapi sekarang justru para ayah lah yang sangat bersemangat sekali.
"Iya. Inilah alasan mereka tidak mengijinkanmu untuk tidur di sini sejak kemarin." Akmal mengajak Cyra masuk dan mengunci pintunya dari dalam.
"Ada-ada saja abi sama ayah. Tapi lucu juga sih. Cyra suka," Cyra tersenyum bahagia sekali.
"Kakak mau memasukkan barang-barang kita dulu ke dalam ruang walk in closet ya Sayang," Cyra mengangguk saja.
Akmal lalu meninggalkan Cyra. Dan Cyra mengikuti arah yang ditunjuk oleh baby Zahwa.
Baby Zahwa ternyata tertarik dengan bunga-bunga yang tersebar di dalam kamar tersebut. Baby Zahwa yang sudah bisa duduk sendiri, dia bermain sambil tertawa riang gembira. Hingga tidak sadar jika Akmal sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Sepertinya sedang asik sekali," Cyra langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akmal yang sedang berjalan ke arahnya.
"Abu sudah selesai?" Akmal mengangguk sambil tersenyum manis.
Akmal yang sudah sampai di samping sang putri lalu dia berjongkok. "Senang deh rasanya sekarang kamu berani memanggil Kakak dengan panggilan Abu," Akmal sambil mengusap kepala Cyra.
Cyra pun tersenyum dibalik niqabnya mendengar ucapan lembut dari Akmal.
"Iya. Abu taruh ke dalam laci meja. Kenapa sayang? Ko sepertinya malu-malu begitu?" Cyra menunduk menyembunyikan rasa malunya.
"Untuk apa merasa malu Sayang. Jika kamu kurang. Ayo akan Abu antarkan beli daalaman lagi," Cyra langsung menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Akmal yang melihat Cyra menggeleng.
"Tidak apa-apa. Emm! Titip Aiza ya Abu. Umi mau ke dalam kamar mandi dulu," Akmal cuma mengangguk saja sambil tersenyum.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Cyra melepaskan niqab dan juga hijab yang dipakainya. Hingga terlihatlah rambut kepalanya yang panjang itu.
Malam itu adalah malam pertama baginya dengan Akmal. Sebenarnya jantungnya sudah sangat berdetak kencang sekali mengingat akan hal itu. Namun? Siap tidak siap! Dirinya dituntut harus siap. Sebab semua yang ada di tubuhnya sekarang sudah menjadi milik Akmal sepenuhnya.
Cyra mulai bersih-bersih badannya di dalam kamar mandi. Akan tetapi ketika dia melihat sesuatu di celaana daalam miliknya. Cyra sungguh sangat terkejut sekali.
Buru-buru Cyra mengingat tanggal datang bulannya. Yang sekarang memang hari inilah saatnya dia menerima tamu bulannya. Padahal malam ini adalah malam pertamanya dengan Akmal.
"Aduh! Bagaimana ini? Bagaimana kalau kak Akmal marah denganku? Kan ini malam pertama bagi kita. Kenapa pas sekali datangnya saat ini." Cyra kebingungan sendiri.
__ADS_1
Mau tidak mau Cyra pun harus jujur dengan Akmal. Tentang kedatangan tamu bulannya yang datang di waktu tidak tepat.
Cyra yang sudah membuka pintu kamar mandi. Cuma berani berdiri saja di depannya, sambil menatap Akmal yang sedang bermain dengan baby Zahwa di atas ranjang.
Akmal yang melihat sikap Cyra sedikit berbeda pun. Dia langsung bertanya. "Umi kenapa? Sakit?" Cyra langsung menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Kenapa diam saja seperti itu? Dan wajah Umi ko terlihat cukup pucat?" Cyra masih bungkam belum berani bilang.
"Sini Sayang. Duduklah di sini," Akmal melambaikan tangannya lalu menepuk ranjang di sebelahnya.
Dengan perlahan. Cyra lalu berjalan menuju ke arah ranjang dan langsung duduk di ranjang tersebut.
"Ada apa hmm?" tanya Akmal dengan lembut sekali.
"Emm maafkan Umi ya Abu," Cyra berbicara sangat pelan-pelan sekali.
Akmal mencoba mendekat ke arah Cyra dan memeluk pinggangnya dengan mesra. "Minta maaf untuk apa Istriku?"
"Baru saja Umi kedatangan tamu bulanannya Umi, Abu."
Akmal tersenyum mendengarnya. "Lalu? Apa masalahnya?"
"I-inikan malam pertama kita?" Cyra menjawabnya sambil menunduk.
Akmal masih tersenyum dan semakin erat memeluk pinggang Cyra dengan kepala beralaskan paahanya.
"Abu mencintai Umi karena Allah. Abu juga menikahi Umi karena Allah. Bukan karena naafsu belaka. Niat terbesar Abu menikahi Umi untuk mengungkapkan rasa cinta Abu ke Umi. Bukan untuk menyalurkan haasrat Abu ke Umi," ucap Akmal.
"Jadi? Kalaupun Umi sedang berhalangan untuk melayani Abu. Untuk apa Abu marah. Justru itu adalah hal yang baik. Pertanda Umi masih subur."
"Tenanglah Sayang. Abu nggak marah ko. Sudah yuk kita tidur. Masih ada banyak waktu untuk melakukannya lain waktu. Lagipula badan Abu malam ini rasanya sangat capek sekali. Kurang tidur dari kemarin."
Cyra pun menurut. Lalu ikut merebahkan badannya di samping Akmal, dengan baby Zahwa yang berada di dada Akmal.
Cyra merasa bahagia sekali. Karena Akmal bisa mengerti keadaannya serta tidak menuntut darinya. Sangat beruntung sekali mendapatkan suami seperti Akmal yang bisa menjelaskan dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Maaf ya readers. Jika terkadang ada double huruf. Itu author sengaja double. Karena biasanya yang didouble itu adalah kata-kata sensitif yang bisa membuat review semakin lama bahkan di tolak. Semoga mengerti.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...