
Tiba saatnya makan malam. Semua hidangan yang sudah dimasak oleh para bibi sudah dihidangkan semuanya di atas meja makan. Akmal yang sedang asik mengobrol dengan semua sahabatnya. Tiba-tiba bi Sukma datang dan menyela pembicaraannya.
"Pak Akmal. Makan malamnya sudah siap."
Akmal cuma mengangguk saja. Setelah itu dirinya mengajak semua sahabatnya untuk menuju ke ruang makan yang ada di rumahnya. Seperti Misha tadi. Hamzah pun mengagumi rumah Akmal dan Cyra. "Rumah kalian sangat bagus sekali."
"Alhamdulillah. Ini berkat kak Mirza," jawab Akmal.
Misha ikut menimpali ucapan sang suami. "Tadi Mama juga berkata seperti itu kepada Cyra, Ayah. Karena Mama juga sangat menyukai interior rumah ini."
Akmal dan Cyra tersenyum mendengar ucapan Misha. "Sudah yuk kita duduk. Mari kita nikmati makan malam ini dulu," ucap Akmal.
Mereka semua lalu duduk di kursi makan dengan Akmal yang duduk di ujung meja makan.
"Mari-mari silahkan dinikmati hidangan yang sudah kami sediakan untuk kalian semua. Ayo dimakan," Akmal berusaha ramah dengan para sahabatnya.
Seperti biasanya. Cyra mengambilkan makanan untuk Akmal dengan sangat telaten sekali. Begitupun dengan para wanita yang lainnya yang mengambilkan makanan untuk suami mereka masing-masing.
Malam itu Akmal dan Cyra merasa sangat bahagia sekali. Sebab mereka bisa menikmati makan malam bersama dengan para sahabat di rumahnya.
Selesai menikmati makan malam. Mereka semua lalu berbincang lagi dengan santai di ruang tamu, sambil memperhatikan kelucuan baby Zahwa yang semakin aktif dan menggemaskan saja.
Ketika baby Zahwa melihat Cyra sedang menggendong baby Abbiyya. Dia tidak merasa cemburu sama sekali. Justru terlihat senang dengan ingin berdekatan terus dengan baby Abbiyya.
"Sepertinya Zahwa ingin segera punya adik tuh!" goda Hamzah.
"Segera buatkan Mal. Jangan dikasih kendor. Tancap gas sampai ke tujuan!"
Akmal tertawa terbahak-bahak lagi karena mendengar godaannya Hamzah. "Aku tidak pernah kasih kendor sama sekali ko Ham. Tenang saja. Remnya masih pakem!"
Gantian Hamzah dan yang lainnya ikut tertawa. Bahkan Cyra pun juga tertawa sambil menggelengkan kepalanya karena ucapan sang suami tadi.
Puas berbincang dan mengobrol untuk menghilangkan kerinduan yang mendera. Sekitar jam sembilan malam. Mereka semua lalu memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Setelah semua sahabat sudah pada pulang. Akmal dan Cyra memilih langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sebab waktu sudah cukup malam.
Akmal saat ini sedang mencoba menidurkan baby Zahwa, dengan dia timang sambil bersholawatan. Usaha Akmal tidak sia-sia. Karena tidak lama, baby Zahwa akhirnya tertidur juga. Melihat baby Zahwa sudah tidur cukup lelap. Akmal langsung menaruhnya di box babynya.
__ADS_1
Selesai menidurkan baby Zahwa. Akmal langsung mendekati Cyra yang daritadi dia perhatikan sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Umi kenapa? Ko daritadi Abu perhatikan Umi melamun terus?"
Cyra lalu mengalihkan pandangannya ke arah Akmal. "Umi cuma memikirkan sesuatu Abu."
"Memikirkan apa Sayang. Cerita dong sama Abu."
"Semakin ke sini kaum dhuafa yang datang ke rumah kita semakin banyak. Umi jadi kepikiran ingin membuat sebuah panti asuhan dan penampungan untuk kaum dhuafa yang tidak punya tempat tinggal. Bagaimana menurut Abu?"
"Supaya uang kita bisa bermanfaat untuk sesama dan menjadi ladang pahala untuk kita nantinya. Siapa tahu bisa menjadi shodaqoh jariyah untuk kita Abu."
Akmal terharu dengan keinginannya Cyra. "Masyaallah. Pemikiran Umi cerdas sekali."
"Abu tidak masalah ko Sayang, kalau Umi ingin mendirikan panti asuhan dan penampungan untuk kaum dhuafa."
"Tapi kita juga harus memikirkan kegiatan apa saja yang harus mereka jalani nantinya di sana. Supaya mereka nanti bisa mempunyai kehidupan yang layak ketika sudah waktunya pergi dari tempat itu."
"Iya nanti kita bisa datangkan orang yang ahli atau ajarkan cara berdagang, menjahit, memperbaiki mesin motor atau mobil begitu. Memasak dan lain-lainnya Abu."
"Biar nanti Abu cari lahan dulu yang bagus untuk membangun gedungnya," ucap Akmal lagi.
"Abu tidak perlu cari lahan lagi. Pakai saja lahan dari mahar yang Abu berikan kepada Umi kemarin."
Akmal cukup terkejut mendengarnya. "Lho! Tapi 'kan itu mahar dari Abu, Sayang?"
"Memangnya kenapa Abu? 'Kan itu sudah menjadi hak Umi. Dan Umi ingin menggunakan lahan itu sebagai ladang pahala kita. Daripada kosong begitu. Malah ditinggali sama jin dan kawan-kawannya," jawab Cyra.
Akmal langsung menerjang tubuh Cyra. Karena dirinya sangat suka dengan cara pemikiran Cyra yang memikirkan akhirat daripada dunia.
Cyra terkejut dengan tindakan Akmal. Bahkan dia sedikit berteriak karena ulah Akmal kepadanya. Hingga Cyra sampai refleks memukul pundak Akmal. "Abu iiihh! Membuat Umi terkejut saja."
Akmal malah semakin mengeratkan pelukannya dengan Cyra yang masih berada di bawah tubuhnya. "Abu! Umi sesak nafas."
Akmal melepaskan tubuh Cyra sambil tertawa dengan tertahan. Takut jika membangunkan baby Zahwa. "Maafkan Abu," sambil mencubit mesra pipi Cyra.
"Kalau itu keinginan Umi. Abu mendukungnya seratus persen. Dan untuk masalah pembangunan, serahkan semuanya kepada Abu. Ok!"
__ADS_1
"Itu uang Umi banyak. Pakai juga uang Umi, Abu. Bahkan mahar dari kak Mirza dulu masih sisa sangat banyak sekali di rekening."
"Uang itu simpan saja untuk keperluan Umi. Begitupun uang mahar dari Abu," jawab Akmal.
"Tidak! Umi tetap mau ikut berkontribusi dalam pembangunan panti asuhan itu, Abu," Cyra tetap kekeh dalam pendirian.
"Baiklah jika itu keinginanmu Sayang. Mana! Sini uangnya. Biar Abu tambahi nanti kekurangannya," kata Akmal.
"Iya nanti akan Umi ambilkan, Abu," Akmal menganggukkan kepalanya saja.
Sambil duduk berdua bersandar di sandaran ranjang. Akmal bercerita kepada Cyra.
"Abu punya teman. Dia mempunyai toko bangunan yang besar dan cabangnya sudah tersebar di mana-mana. Bahkan di kota kita saja dia mempunyai dua toko bangunan terbesar Umi."
Cyra sepertinya tertarik dengan cerita Akmal. "Dan jika kita jadi membangun panti asuhan itu. Insyaallah Abu akan mengambil semua kebutuhan bahan bangunan di toko miliknya."
"Memangnya apakah Abu tahu di mana rumah teman Abu itu?" tanya Cyra.
"Tahu. Dulu Abu pernah datang ke rumahnya. Waktu dia menikah. Terus waktu istrinya melahirkan," jawab Akmal.
"Di mana rumahnya Abu? Kita datang saja ke rumahnya yuk! Sekalian membicarakan keinginan Abu itu. 'Kan lebih enak bila ketemu sama pemiliknya langsung daripada sama anak buahnya."
"Rumahnya sangat jauh dari sini Umi. Ada di pedesaan dan di bawah kaki bukit. Dia anak pemilik pondok pesantren di sana Umi."
Mendengar nama pondok pesantren. Cyra menjadi sangat bersemangat sekali. "Ayo kita segera ke sana Abu! Umi ingin melihat pondok pesantrennya. Siapa tahu nanti Aiza bisa kita pondokan ke sana."
"Sudah Abu tebak nanti Umi akan berbicara seperti itu," sindir Akmal sambil tertawa.
Cyra langsung tertawa. Karena jalan pikirannya bisa langsung ditebak oleh Akmal. Dan teman yang Akmal maksud adalah Gus Alzam. Suami dari Syahlaa.
Siapa mereka? Jika ingin tahu siapa mereka. Kalian bisa mampir dulu di novel saya yang berjudul DIA JODOHKU. π
Selamat membaca.π€
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1