
Hari-hari telah berlalu, dan tidak terasa sudah satu minggu Mirza berada di rumah sakit.
Silih berganti Keluarga, saudara dan para kerabat menjenguk Mirza di rumah sakit. Bahkan ada yang dari jauh, mereka menyempatkan datang, hanya untuk menjenguk Mirza yang sedang sakit, sekaligus bersilaturrahmi dengan Keluarga Ayah Rafiq.
Sekitar satu jam tadi, Mirza baru saja selesai diperiksa oleh Dokter, dan kesehatan tubuhnya dinyatakan sudah mulai stabil. Rencananya, besok Mirza akan di perbolehkan pulang oleh Dokter yang merawatnya.
" Makan yang banyak ya Abi, biar cepat sembuh ," kata Cyra sambil menyuapi Mirza dengan telaten.
Bahkan Mirza saat ini sudah bisa duduk dan tidak berbaring terus seperti kemarin.
" Iya sayang ," jawab Mirza sambil menerima suapan dari Cyra.
" Nak, nanti Mama akan pulang dulu ya, mau menyiapkan buat syukuran besok di rumah ," kata Mama Jian.
Di dalam ruang perawatan Mirza cuma ada Cyra dan juga Mama Jian saja. Sedangkan yang lainnya, seperti Ayah Rafiq, sedang berada di Yayasan untuk menggantikan Mirza sementara waktu.
Lalu Abi Rasyid seperti biasa, dia bertugas di rumah sakit, Umma Nada sedang menghadiri acara arisan Keluarga seperti biasanya, dan akan ke rumah sakit jika urusannya sudah selesai.
Sedangkan untuk Akmal sendiri, dia sudah sibuk mengajar lagi sejak beberapa hari yang lalu.
Hubungannya dengan Aalifa, tidak bisa dibilang stabil, karena sifat Aalifa masih egois kepadanya.
Jika Akmal mengalah, Aalifa akan menurut, jika Akmal membantah, Aalifa akan semakin menuntut.
Namun, sejauh ini, Akmal masih mempertahankan hubungannya dengan Aalifa, karena dia belum sempat berbicara kepada ke dua orang tuanya, terutama sang Kakak, jika dirinya ingin mengakhiri acara pernikahannya dengan Aalifa.
Kendala terbesar bagi Akmal untuk saat ini adalah Waktu, sebab dirinya takut, jika akan menambah beban bagi Keluarganya, terutama sang Kakak, yang sudah teringin melihatnya menikah.
Pasrah,? iya, Akmal memang pasrah, tapi dia tidak mau menyerah, Akmal terus meminta kepada Allah, untuk diberikan jalan yang terbaik bagi kehidupannya.
" Jika Aalifa memang ditakdirkan menjadi jodoh hamba, hamba mohon ubah lah sifatnya ya Allah, dan jika Aalifa bukan jodoh hamba dunia, akhirat, berikanlah petunjuk-Mu Ya Rabbi ,"
Sekiranya seperti itulah doa Akmal, yang selalu dia panjatkan di setiap harinya dan setiap waktunya.
" Kamu tenang saja, nanti Akmal akan ke sini setelah selesai mengajar ," kata Mama Jian lagi.
" Iya baiklah Ma ," jawab Cyra.
" Oh ya Abi, hari ini kan jadwal Cyra cek kehamilan, Cyra ijin antre ke ruangan Dokter kandungannya ya ," kata Cyra kepada Mirza.
" Kamu ditemani Mama saja ya sayang, maaf, untuk kali ini Abi belum bisa menemanimu periksa si dedek ," kata Mirza.
" Mama biar di sini saja menemani Abi, Cyra bisa sendiri ko ," jawab Cyra.
" Biar Mama temani saja ya Nak ," kata Mama Jian.
" Tidak Ma, Kak Mirza lebih membutuhkan Mama, daripada Cyra ," ucap Cyra.
__ADS_1
" Baiklah, terserah kamu saja Nak ," kata Mama Jian.
" Hati-hati ya sayang ," kata Mirza.
" Iya ," jawab Cyra.
Sebelum berlalu pergi, Cyra mencium tangan Mirza dengan sopan, dan Mirza pun mencium kening Cyra dengan mesra, setelahnya, Cyra berlalu pergi ke ruang Dokter Kandungan yang ada di rumah sakit itu juga.
Oh ya, meninggalkan Cyra sejenak, author akan memberitahukan sesuatu, jika Kalila kemarin, belum menceritakan kepada siapapun, tentang apa yang dia dengar dari Akmal ketika menelpon Aalifa.
Jadi, Kalila masih menyimpannya sendiri sampai saat ini.
Namun, karena berhubung saat ini Kalila sedang berkunjung ke Cafe milik sang sahabat, yaitu Misha, dia memilih jujur kepada Misha tentang Akmal dan Aalifa.
" Memangnya Kak Akmal dan Nona Aalifa kenapa Kalila?? ," tanya Misha.
" Janji kepadaku ya, jangan kamu beritahukan kepada siapapun, termasuk Cyra ," jawab Kalila.
" Karena aku takut, jika Cyra sampai mendengarnya, itu bisa membuatnya semakin tambah pikiran, kamu pasti tahu kan apa maksud ucapanku ," kata Kalila lagi.
" Iya aku tahu ko, karena aku sudah merasakan sendiri, bagaimana mood ku yang tiba-tiba naik turun faktor kehamilanku ," jawab Misha.
" Ok, sekarang aku mau jujur tentang Kak Akmal yang lebih memilih Cyra daripada Nona Aalifa ," kata Kalila.
" Maksudnya?? ," tanya Misha.
" Astaghfirullah, masa sih Kalila?? ," tanya Misha.
" Iya, untuk apa aku berbohong kepadamu ," jawab Kalila.
" Jika Cyra sampai tahu soal ini, pasti dia akan marah sama Kak Akmal ," kata Misha dan langsung diangguki oleh Kalila.
" Nah makanya, kamu diam saja, awas lho jika sampai orang lain tahu, terutama Cyra ," kata Kalila.
" Siap, percayalah kepadaku ," jawab Misha.
" Percaya itu kepada Allah, bukan kepadamu!! ," kata Kalila.
" Jika aku percaya kepadamu, itu artinya aku sesat!! ," ucap Kalila lagi.
Misha refleks langsung memukul tangan Kalila karena gemas, dan Kalila langsung tertawa melihat sang sahabat sedang gemas kepadanya.
Kembali kepada Cyra lagi.
Cyra yang sudah dipertengahan jalan, dan baru saja ke luar dari dalam lift, tidak sengaja berpapasan dengan Akmal yang baru sampai di rumah sakit.
" Cyra,? mau ke mana?? ," tanya Akmal.
__ADS_1
" Kak Akmal ," sapa Cyra.
" Mau periksa kandungan ," jawab Cyra.
" Mau Kakak temani?? ," tanya Akmal.
" Tidak perlu, Cyra bisa sendiri ," jawab Cyra.
" Jika kamu di sini, lalu siapa yang menunggu Kak Mirza di atas?? ," tanya Akmal lagi.
" Mama, Kak ," jawab Cyra.
" Kalau begitu, Kakak temani kamu saja deh, takutnya kamu membutuhkan bantuan nanti ," kata Akmal.
" Cyra bisa sendiri ko Kak ," jawab Cyra.
" Sudah tidak apa-apa, lagi pula cuma mengantar saja kan, Kakak juga tidak akan ikut masuk ke dalam ko ," jawab Akmal.
" Terserah Kakak sajalah ," kata Cyra.
Akhirnya, Cyra dan Akmal berjalan berdua menuju ke ruang Dokter Kandungan yang ada di dalam rumah sakit tersebut.
Setelah mengantre beberapa orang, akhirnya tiba saatnya Cyra dipanggil oleh sang asisten Dokter.
Salah satu pengunjung laki-laki, lebih tepatnya suami yang sedang mengantarkan istrinya kontrol juga, dia yang merasa penasaran dengan Akmal, kenapa tdak ikut masuk bersama Cyra, akhirnya mencoba bertanya.
" Kenapa anda tidak menemani istri anda masuk Tuan?? ," tanya sang laki-laki.
" Maaf, dia bukan istri saya, tapi Kakak ipar saya ," jawab Akmal dengan sopan.
" Oh, maaf Tuan, saya tidak tahu ," kata sang laki-laki tadi.
" Iya tidak apa-apa, sudah biasa ," jawab Akmal sambil tersenyum.
" Saya kira anda suaminya, sebab kalian berdua terlihat sangat serasi sekali ," kata sang laki-laki lagi.
" Anda bisa saja Tuan ," jawab Akmal sambil tersenyum malu.
" Kenapa bukan suaminya sendiri yang mengantarkan Nyonya tadi, Tuan?? ," tanya sang laki-laki.
" Kakak saya sedang sakit Tuan, dan juga sedang dirawat di rumah sakit ini ," jawab Akmal.
" Syafakillah untuk Kakak anda Tuan, semoga segera diangkat penyakitnya oleh Allah ," doa tulus dari laki-laki tersebut.
Tentu saja ucapan dari laki-laki itu langsung di aamiinkan oleh Akmal.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...