
Malam harinya ketika semua Keluarga Ayah Rafiq sedang pada makan malam bersama seperti biasanya.
Di saat Cyra sedang sibuk mengambilkan makanan untuk Mirza, barulah Mirza sadar jika pergelangan tangan sang istri terlihat memerah dan bengkak.
" Sayang, tangan kamu kenapa?? ," tanya Mirza.
Akmal yang sedang menyendok makanannya pun langsung terhenti, dan curi-curi pandang ke arah sang Kakak dan Cyra yang duduk berseberangan dengannya.
Cyra yang ditanya seperti itu oleh Mirza, dia reflek langsung menutupi lukanya itu dengan bajunya.
Bukan maksud hati tidak mau jujur dengan sang suami, hanya saja bukan di meja makan juga untuk memberitahukannya.
Pikir Cyra, dia akan bercerita dengan Mirza, nanti malam saja, ketika mau tidur, biar lebih enak, karena pikiran sedang tenang.
Tadi, sebenarnya Cyra ingin bercerita kepada Mirza, tapi tidak jadi, karena Mirza sudah pulangnya jam lima sore lebih, hampir mau maghrib, dan sampai rumah pun, Mirza langsung bersih-bersih badannya untuk segera sholat maghrib di masjid.
Ayah Rafiq dan Mama Jian yang mendengar perkataan Mirza, jadi ikut-ikutan melihat ke arah tangan Cyra.
" Sini Umi, Abi mau lihat, kenapa malah ditutupin begitu ," kata Mirza.
Hati Akmal merasa sangat gelisah sekali, bukan gelisah karena takut di marahi oleh sang Kakak, tapi gelisah takut jika luka Cyra tambah parah karena ketidaksengajaan nya tadi.
Cyra pun akhirnya menurut dengan mengulurkan tangannya kepada Mirza, dan Mirza dengan lembut membuka lengan Cyra sedikit untuk melihat lukanya.
" Astaghfirullah, ini bengkak sayang ," kata Mirza.
" Ini kenapa ko bisa sampai begini?? ," tanya Mirza merasa sangat khawatir sekali.
" Dan kenapa Umi masih mengambilkan makanan untuk Abi, pasti ini sangat sakit sekali kan?? ," kata Mirza lagi.
Sebelum menjawab pertanyaan beruntun dari sang suami, Cyra reflek memandang ke arah Akmal, Ayah Rafiq dan Mama Jian.
Akmal tidak masalah, jika Cyra akan jujur kepada Mirza, karena memang dia posisinya sedang bersalah.
" Ini ........ ," Cyra belum selesai berbicara, eh si Akmal langsung menyelanya.
" Maafkan Akmal, Kak ," kata Akmal, yang membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akmal.
" Kenapa kamu meminta maaf kepada Kakak, Akmal?? ," tanya Mirza.
" Tangan Cyra seperti itu, karena tadi ketika akan turun dari tangga, Akmal tidak sengaja menginjak tangannya ," jawab Akmal.
Akmal sengaja mengaku kepada sang Kakak, karena Akmal tidak mau, jika Cyra nantinya akan dimarahi oleh sang Kakak, biarlah dirinya saja yang dimarahi oleh Mirza.
Hmm sangat gentle sekali si Akmal, mau mengakui kesalahannya dihadapan semua orang.
__ADS_1
Cyra yang mendengar pengakuan jujur dari Akmal, dia langsung menggelengkan kepalanya, padahal Cyra tadi ingin membuat alasan lain, supaya Akmal dan Mirza tidak berselisih paham.
Cyra dan Akmal sama-sama mempunyai niat yang baik, hanya saja dengan versi mereka masing-masing.
" Tadi Cyra meminta bantuan kepada Akmal untuk membenarkan lampu kamar mandi Kak, dan Cyra, Akmal suruh memegangi tangganya saja, tapi ketika akan turun dari atas tangga, Akmal malah tidak sengaja menginjak tangan Cyra ," jelas Akmal lagi.
" Maafkan Akmal, Kakak ," kata Akmal kepada Mirza.
" Kenapa kamu ceroboh sekali sih Dek, istri Kakak ini sedang hamil, masa di suruh untuk memegangi tangga!! ," kata Mirza terdengar marah.
" Kalau kamu terjatuh, pasti akan menimpa istri Kakak dan juga calon anak Kakak!! ," kata Mirza lagi.
Nah benar kan, sebenarnya tadi keputusan Cyra yang tidak mau jujur kepada sang suami sudah tepat sekali, sebab jika jujur, yang ditakutkan akan seperti saat ini, Mirza marah kepada Akmal.
Tapi semuanya sudah terlanjur, Akmal sudah mengakui kesalahannya kepada Mirza, ya sekarang harus dijalani sesuai alurnya saja.
" Ssstt, Abi, tidak boleh berbicara seperti itu ," kata Cyra.
" Kak Akmal juga tidak sengaja tadi, dan biasanya juga tidak seperti itu, janganlah Abi marah-marah kepada Kak Akmal, dia kan sudah meminta maaf kepada kita ," kata Cyra lagi menenangkan Mirza.
" Lain kali jika mau membenarkan lampu, kamu ajak pekerja laki-laki yang ada di sini Akmal ," nasihat sang Ayah.
" Iya Ayah ," jawab Akmal.
" Itu jika tidak dipi74t malam ini, bisa jadi kamu tidak akan bisa tidur Cyra ," kata Mama Jian.
" Kalau sekarang sudah cukup malam Ayah, pasti dia tidak mau, karena kan rumahnya cukup jauh juga dari sini ," jawab Mama Jian.
" Suruh Akmal saja tuh yang memi74t, dia kan bisa m3mi74t tangan keseleo seperti itu ," kata Mama Jian lagi.
" Oh ya, Mama benar sekali ," kata Ayah Rafiq.
" Tidak perlu Ma, Yah, biar Cyra pi74t sendiri saja ," kata Cyra menolak.
" Sudah, tidak apa-apa, biar di pi74t sama Akmal sebentar ya sayang, nanti Abi temani ko ," kata Mirza kepada Cyra.
" Baiklah ," jawab Cyra.
Selesai makan malam, mereka semua saat ini sedang duduk di ruang keluarga, dengan Cyra yang duduk diantara Akmal dan Mirza.
Akmal jadi berdebar sendiri ketika akan mem174t tangan Cyra, karena itu artinya dia akan menyentuh kulit Cyra lagi.
Pada hukum dasarnya, bersentuhan kulit secara langsung antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram atau bukan suaminya sendiri, hukumnya haram.
Namun bila ada hal-hal mendesak yang tidak mungkin dihindari serta tidak ditemukannya alternatif lainnya, untuk sementara, hal-hal yang hukumnya haram bisa berubah sesaat. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyah,Β Adh-Dharuratul Tubihul Malhdzurat. Sesuatu yang darurat itu bisa membolehkan larangan.
__ADS_1
Sifatnya lokal, sementara, parsial dan seperlunya saja. Begitu kadar kedaruratannya hilang, maka hukum keharamannya kembali lagi. Sesuai dengan kaidah:Β Adh-dharuratu Tuqaddar bi Qadriha.
Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Adab Asy-Syar'iyah menyebutkan: bahwa bila ada seorang wanita sakit, namun tidak ada yang bisa mengobatinya kecuali laki-laki, maka dibolehkan khusus buat laki-laki itu saja untuk melihat sebagian auratnya. Yaitu yang terkait denan penyakitnya itu saja. Dan demikian pula berlaku sebaliknya.
Semoga sampai di sini para readers mengerti dan tidak menghujat author ini dan itu ya, karena othor yang cantik ini sudah mengambil dari berbagai sumber.
Akmal lalu mengolesi pergelangan tangan Cyra yang sakit itu dengan minyak, setelahnya dia langsung saja melakukan pi74t pas di tulang yang sakit itu dengan sedikit kasar.
" Aaaaa, sakit Kak ," teriak Cyra, karena tangannya memang benar-benar sangat sakit.
" Tahan ya sayang, biar cepat sembuh ," kata Mirza menenangkan Cyra.
" Tahan Cyra, biar nanti malam tidak semakin bengkak ," kata Akmal juga.
Akmal lalu melakukan p174tan sesuai dengan alur otot dan tulangnya dengan sedikit menekannya, supaya keesokan harinya, jika dibuat bergerak pergelangan tangannya tidak sakit.
Cyra bahkan sampai mengeluarkan air matanya, karena merasa tidak tahan menahan rasa sakitnya itu.
" Tahan sebentar ya sayang ," kata Mirza lagi sambil mengusap air mata Cyra.
Akmal yang melihat, rasanya dia ingin sekali menggantikan sang Kakak yang mengusap air matanya.
" Pelan-pelan Akmal, kasihan Cyra tuh ," kata Ayah Rafiq.
" Ini Akmal sudah pelan Ayah ," jawab Akmal.
" Tahan Nak, biar cepat sembuh ," kata Mama Jian.
Sekali lagi, Akmal menuntaskan pi74tannya itu dengan sedikit menekan di titik yang sakit, dan setelahnya Akmal pun menyudahinya.
" Nanti Kakak, bisa mem174tnya perlahan, supaya lebih enakan ," kata Akmal kepada Mirza.
" Insyaallah besok sudah lebih baik ," kata Akmal lagi.
" Terimakasih Akmal ," kata Mirza.
" Terimakasih Kak ," kata Cyra dengan suara khas orang yang sedang menangis.
" Iya sama-sama, syafakillah Cyra ," jawab Akmal sambil mengangguk.
Mirza lalu mengajak Cyra untuk beristirahat di dalam kamar, dan membantu Cyra untuk memi74t lembut pergelangan tangannya.
Sedangkan Akmal yang juga sudah berada di dalam kamarnya, dia menjadi malas membalas pesan dari Aalifa, karena pikirannya sedang tertuju kepada Cyra.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...