IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KEJUTAN DARI FADLI


__ADS_3

Pesta pernikahan Abraham dan Kalila selesai tepat pukul lima sore. Dan di pukul lima itu. Akmal baru saja sampai di rumah.


"Aah! Capek sekali badanku!"


Mama Jian yang melihat Akmal sedang duduk di ruang keluarga sambil bersandar lesu. Dia lalu mendekatinya. "Kenapa kamu?"


"Capek Ma. Belum istirahat daritadi."


"Akmal mau pulang daritadi juga tidak enak sama Abraham. Jadi Akmal pulang ketika acaranya benar-benar sudah selesai." lanjut lagi ucapan Akmal.


Sambil menepuk paaha Akmal. Mama Jian menjawab. "Iya sudah. Sana istirahat saja di dalam kamar."


Akmal hanya mengangguk saja. Dan ketika dirinya akan beranjak menuju ke dalam kamar. Tiba-tiba ponselnya terdengar ada bunyi pesan masuk. Di saat sudah dilihat olehnya, ternyata dari Cyra yang mengirimkan fotonya baby Zahwa.


"Ma! Lihatlah. Lucu sekali kan? Akmal semakin tambah kangen sama dia."


"Mana! Mama juga mau lihat!" Akmal langsung memberikan ponselnya kepada sang Mama.


"Iya. Cucu Mama semakin tambah gendut ya sepertinya." Akmal tersenyum sambil mengangguk.


"Itu ada videonya juga Ma. Coba dibuka,"


Mama Jian langsung memutar video yang dikirimkan oleh Cyra. "Masyaallah. Lucu sekali sih dia berbicara sendiri seperti ingin menjawab ucapan Cyra."


Hati Akmal sangat senang sekali. Walau dia belum bisa melihat Cyra dan baby Zahwa. Setidaknya semua foto dan video baby Zahwa sudah mengobati semuanya.


"Kalau Mama rindu ingin bertemu dia. Datang saja ke rumah abi Rasyid, Ma."


"Nanti biar Mama bilang dulu sama ayah," Akmal hanya mengangguk saja.


"Kalau begitu Akmal mau ke kamar dulu ya Ma. Masih banyak pekerjaan yang harus Akmal kerjakan." Gantian mama Jian yang mengangguk.


Akmal lalu beranjak pergi menuju ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih badannya. Sebelumnya. Akmal juga sudah menunaikan ibadah sholat ashar tadi ketika masih menghadiri pernikahan Abraham dan Kalila.


Sekarang dia cuma tinggal bersih-bersih badannya saja. Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya yang masih terbengkalai.


Meninggalkan Akmal. Kita beralih ke Deena.


Setelah sudah sampai di rumah tadi. Deena langsung masuk ke dalam kamarnya. Jika mengingat nama Fadli, jantung Deena berdetak dua kali lipat.


"Ada apa dengan jantungku?" Deena terus menyentuh dadanya.

__ADS_1


"Aah! Mungkin Fadli cuma bercanda. 'Kan dari dulu dia suka bercanda tidak pernah serius orangnya." Deena mencoba menenangkan pikirannya.


"Tapi? Entah kenapa aku ingin sekali dia datang ke rumahku. Lalu memintaku kepada papa." Nah 'kan? Ada perasaan ingin lebih kepada Fadli.


Deena lalu melompat ke atas ranjangnya, setelahnya dia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


"Lebih baik aku beristirahat saja. Dan berharap setelah aku bangun nanti. Ini semua cuma mimpi. Iya mimpi."


Deena langsung berusaha memejamkan matanya untuk masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dan akhirnya berhasil. Deena bisa tertidur hingga dia terbangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


Setelah bangun. Deena langsung mandi dan bersih-bersih badannya lagi. Tapi tidak untuk sholat. Sebab dirinya sedang berhalangan hari ini.


Deena berbicara lesu di depan meja riasnya. "Ternyata ini bukan mimpi! Karena ketika aku bangun. Jantungku berdetak sangat kencang lagi di saat teringat nama Fadli dan senyumannya tadi."


Malam harinya. Di saat semua keluarga Deena sedang berbincang santai setelah menunaikan ibadah sholat maghrib tadi. Tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan oleh kedatangan bibi.


"Ada apa Bi?" tanya papa Ahmad.


"Di depan ada tamu Tuan. Katanya dia sedang mencari Tuan dan Nyonya." jawab sang Bibi.


Papa Ahmad dan mama Rina pun langsung beranjak berdiri untuk menemui tamu mereka. Sang anak sulung yaitu kakak laki-lakinya Deena juga ikut berlalu bersama ke dua orang tuanya.


Sesampainya di ruang tamu. Mereka semua sedikit bingung melihat kedatangan orang yang tidak mereka kenal.


"Emm! Maaf? Apakah kami mengenal kalian semua sebelumnya?" papa Ahmad mencoba bertanya.


"Belum Pak," jawab sang tamu.


"Perkenalkan. Nama saya Fadli. Dan ini ayah serta mama saya." Ternyata tamu yang datang ke rumah Deena adalah Fadli.


Fadli benar-benar membuktikan ucapannya kepada Deena. Entah bagaimana reaksi Deena nanti ketika melihat Fadli benar-benar datang ke rumahnya.


Papa Ahmad, mama Rina dan juga kak Chairil pun masih diam ingin mendengarkan kelanjutan dari ucapannya Fadli.


"Kami ke sini ingin melamar anak Anda yang bernama Deena, Pak." Ayah Dzakki tersenyum formal.


Keluarga Deena benar-benar merasa sangat terkejut sekali mendengar ucapan dari ayah Dzakki.


"Maaf? Apa sebelumnya Anda sudah mengenal Deena, Nak?" mama Rina ikut-ikutan berbicara.


"Sudah Bu. Kami teman kuliah dulu. Dan saya sudah berjanji kepadanya untuk melamarnya malam ini."

__ADS_1


"Chairil! Panggilkan Deena ke sini." Kak Chairil cuma mengangguk. Lalu beranjak pergi menuju ke dalam kamar Deena.


Sesampainya di depan kamar Deena. Kak Chairil pun langsung mengetuk pintunya dengan pelan.


"Dek! Dipanggil papa."


Deena yang perasaannya sedang tidak tenang daritadi semakin tidak tenang saja. Ketika mendengar ucapan sang kakak.


"Iya Kak!" sahut Deena dari dalam kamar.


Deena langsung keluar dari dalam kamar. Dan berlalu bersama sang kakak menuju ke ruang tamu.


"Fadli!" Deena benar-benar sangat terkejut sekali.


Sedangkan Fadli tersenyum sangat manis dan juga mematikan melihat Deena baru saja ke luar dari dalam rumah.


"Duduk Deena," kata papa Ahmad.


Deena langsung duduk di sebelah sang Mama sambil menunduk dan curi-curi pandang ke arah Fadli. Terlebih lagi saat ini dirinya tidak memakai make up sama sekali dan cuma memakai baju rumahan plus hijab instan miliknya.


"Apakah kamu mengenal pemuda ini?" Deena langsung menganggukkan kepalanya.


"Dia datang ke sini untuk melamarmu. Apakah kamu mau?"


"Tunggu dulu. Jangan kamu jawab dulu Deena." ucap papa Ahmad lagi.


Jantung Deena seakan mau meledak berada di situasi seperti saat ini. Terlebih lagi Fadli terlihat sangat rapi, tampan dan terus menatap ke arahnya.


"Nak Fadli? Apa pekerjaanmu saat ini?" pertanyaan umum seperti pada biasanya.


"Saya seorang Dosen di kampus dulu kami kuliah, Pak." Papa Ahmad mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sebelumnya saya akan jujur. Saya bukan dari keluarga kaya seperti Anda, Pak. Saya cuma dari keluarga sederhana yang tidak pernah pacaran bahkan dekat dengan Deena."


"Jika kamu tidak pernah dekat dengan Deena. Kenapa kamu berani sekali melamarnya saat ini, Nak?"


"Setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Dan tadi tidak sengaja dipertemukan oleh takdir. Ada hati yang berkata jika Deena adalah jodoh saya. Jadi? daripada kita terjerumus ke dalam hal-hal yang sangat dibenci oleh agama. Saya putuskan untuk datang ke sini bersama ke dua orang tua saya untuk melamarnya sebagai istri saya, Pak."


Sungguh gentle sekali si Fadli. Bisa berbicara jujur kepada papa Ahmad dengan lancar, tanpa merasa malu akan siapa jati dirinya sebenarnya.


Deena semakin terpesona saja dengan cara Fadli yang berani menghadapi sang papa. Dirinya berdoa semoga papa Ahmad mau menerima lamaran darinya.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2