
Sedangkan beralih ke Akmal sendiri.
Setelah dirinya bisa ke luar dari dalam rumah sang Ayah, Akmal lalu mengendarai mobilnya menuju ke salah satu hotel yang ada di kotanya.
Akmal malam itu memilih menginap di hotel terlebih dahulu, supaya dia ada tempat berteduh dan beristirahat malam untuk sejenak.
Semalaman Akmal tidak bisa tidur sama sekali, karena dia terus memikirkan keadaan sang Kakak.
Bukan amarah dari sang Ayah yang membuat Akmal takut, tapi keadaan sang Kakak lah yang membuat dirinya takut, jika keadaan Mirza akan memburuk setelah kepergiannya.
" Ya Allah, Ya Tuhanku, semoga Engkau senantiasa melindungi Kakakku di mana pun dia berada ," doa tulus dari Akmal di dalam hatinya.
Perasaan Akmal semakin gundah gulana, ketika dirinya sudah tertidur lelap, tiba-tiba bermimpi bertemu dengan sang Kakak, lalu Mirza melambaikan tangan kepadanya, setelahnya dia menghilang ditelan cahaya yang menyilaukan mata.
Seketika membuat Akmal langsung terbangun dari tidurnya, dengan keringat yang cukup deras mengalir dari dalam tubuhnya.
" Astaghfirullah ," ucap Akmal sambil menetralkan detak jantungnya.
Akmal lalu melihat jam, yang ternyata sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dengan segera, Akmal bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih badannya, sebelum menunaikan ibadah sholat subuh.
Selesai sholat subuh, akmal langsung membuka materi yang akan diajarkannya nanti kepada semua murid-muridnya yang ada di kampus.
Namun materi itu bukan untuk dia ajarkan langsung, melainkan akan dia titipkan kepada salah satu asisten Dosennya, sebab dirinya nanti akan pergi mencari rumah kontrakan yang akan ditempatinya sementara waktu.
Singkat cerita, selesai sarapan di restoran yang ada di hotel tersebut, Akmal langsung segera pergi berkeliling, untuk mencari rumah kontrakan yang sesuai dengan yang diinginkannya.
Setelah berkeliling sampai siang, akhirnya Akmal menemukan rumah kontrakan yang jaraknya cukup jauh dari rumah sang Ayah, maupun rumah Abi Rasyid, dan juga kampus tempatnya mengajar.
Tidak masalah bagi Akmal, karena dirinya memang membutuhkan itu, untuk menghindar dari permasalahan hati yang sedang dirasakannya beberapa hari ini.
Ketika Akmal sedang menata semua barang-barang bawaannya ke rumah kontrakannya itu, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari Aalifa.
" Kenapa dia meneleponku terus sih!! ," gerutu Akmal.
" Padahal Aalifa sudah ku beri tahu, jika aku sudah membatalkan perjodohan ini ," ucap Akmal lagi.
Akmal membiarkan saja sambungan telepon tersebut, namun karena merasa risih ditelepon sampai lima kali, akhirnya Akmal pun mengangkatnya juga, tanpa mau mengucapkan salam terlebih dahulu.
" Ada apa!! ," ucap Akmal.
" Kenapa Kakak tidak mengangkat sambungan telepon dari Aalifa,? Aalifa merasa khawatir Kak ," jawab Aalifa.
" Kakak sudah tidak mau melanjutkan perjodohan ini Aalifa, stop ganggu Kakak!! ," kata Akmal.
__ADS_1
" Kakak tidak akan bisa membatalkan perjodohan ini, akan Aalifa pastikan kalau Kakak pasti menikahi Aalifa!! ," jawab Aalifa.
" Kakak tidak peduli, karena Kakak tetap tidak akan mau menikah denganmu!! ," jawab Akmal.
Setelahnya, Akmal langsung mematikan sambungan teleponnya dan mematikan ponselnya untuk sementara waktu.
Sedangkan di sisi lain, Aalifa langsung menunjukkan wajah sebalnya, sebab Akmal benar-benar sudah membuatnya takut.
" Aaaa, aku ada ide ," kata Aalifa dengan tiba-tiba.
" Aku telepon saja Ayah Rafiq atau Mama Jian, mereka kan sangat menyukaiku, jadi mereka pasti akan terus membujuk Kak Akmal, untuk mau melanjutkan pernikahan kami ," kata Aalifa dengan perasaan senang.
Selanjutnya, Aalifa langsung menghubungi Ayah Rafiq, yang sedang berbincang bersama Umma Nada, Cyra dan juga Mama Jian di ruang perawatan Mirza.
Atensi semua orang teralihkan ke arah ponsel Ayah Rafiq yang sedang berdering.
" Aalifa ," ucap Ayah Rafiq.
Umma Nada yang mendengar Ayah Rafiq menyebut nama Aalifa, memohon untuk meludspeaker sambungan teleponnya. Karena semua itu Umma Nada lakukan, untuk menguatkan perasaannya tentang penilaiannya terhadap Aalifa.
" Baiklah ," jawab Ayah Rafiq, dan untung saja Ayah Rafiq mau meloudspeaker sambungan teleponnya.
" Halo Assalamu'alaikum Aalifa ," salam dari Ayah Rafiq.
" Ada apa Nak, menelpon Ayah?? ," tanya Ayah Rafiq.
" Ayah, Kak Akmal, Yah, dia sudah membentak Aalifa, dan katanya dia sudah tidak mau lagi melanjutkan perjodohan ini, bagaimana ini Yah, Aalifa tidak mau sampai kehilangan Kak Akmal, Yah ," mengadulah Aalifa kepada Ayah Rafiq, sambil berakting menangis.
Ayah Rafiq, Umma Nada, Cyra dan juga Mama Jian, langsung saling pandang satu sama lainnya, sambil merasa aneh dengan ucapannya Aalifa.
" Kata Kak Akmal, Aalifa wanita yang buruk, wanita jahat, dan kata Kak Akmal juga, Aalifa wanita murahan Yah ," fitnah Aalifa lagi untuk Akmal.
" Tolong Yah, Aalifa tidak mau perjodohan ini sampai batal, karena Aalifa sangat mencintai Kak Akmal ," memohonlah Aalifa kepada Ayah Rafiq dengan suara yang dia buat sesedih mungkin.
" Iya Nak, nanti Ayah akan memarahi Akmal, karena sudah bersikap kasar kepadamu ," jawab Ayah Rafiq.
" Ayah pastikan perjodohan ini tidak akan batal, kamu tenang saja ," ucap Ayah Rafiq lagi.
" Ayah tutup dulu ya Nak teleponnya, Ayah sedang berada di perjalanan sekarang, assalamu'alaikum ," kata Ayah Rafiq.
" Iya Ayah, hati-hati di jalan, wa'alaikumussalam ," jawab Aalifa, dan akhirnya, sambungan teleponnya berakhir.
Aalifa merasa sangat senang sekali, karena dia pikir, Ayah Rafiq sekarang berada di pihaknya, padahal tanpa dia sadari, sikapnya itu malah membuat Ayah Rafiq dan semua orang, merasa curiga kepadanya.
__ADS_1
" Mama tidak percaya, jika Akmal sampai berkata seperti itu kepada seorang wanita, Ayah ," kata Mama Jian.
" Iya Mas Rafiq ," ucap Umma Nada juga.
" Walau saya tidak melahirkan Nak Akmal, tapi saya sangat tahu betul bagaimana sifatnya ," kata Umma Nada lagi.
" Apakah yang dikatakan oleh Akmal itu benar, jika Aalifa bukan wanita yang baik?? ," tanya Ayah Rafiq kepada dirinya sendiri.
" Karena saya sendiri juga tidak yakin, Akmal bisa sampai sekasar itu kepada seorang wanita ," ucap Ayah Rafiq lagi.
Cyra sedikit terbuka mata hatinya, ketika mendengar sendiri ucapan dari Aalifa yang tadi baru saja mengadu kepada Ayah Rafiq.
" Lebih baik kita jalani saja dulu seperti ini, kita fokus kepada kesembuhan Nak Mirza dulu Mas, sambil terus mencari di mana keberadaannya Akmal sekarang ," saran Umma Nada.
Ayah Rafiq dan Mama Jian langsung mengangguk setuju saran dari Umma Nada.
Sekitar jam tiga sore, akhirnya Mirza sadar juga dari pengaruh obat yang disuntikkan ke dalam tubuhnya.
Cyra dan semua orang yang melihat, langsung memencet tombol darurat yang tersedia di situ.
" Akmal mana?? ," tanya Mirza dan orang yang pertama kali di cari oleh Mirza adalah sang adik.
" Abi jangan banyak berbicara dulu, sebentar lagi Dokter akan datang ," jawab Cyra.
Sedangkan Akmal nya sendiri yang baru membuka ponselnya, dia cukup terkejut, sebab ada begitu banyak pesan masuk, serta panggilan tidak terjawab termasuk dari sang Ayah.
Baru saja menghidupkan ponselnya, ponsel Akmal langsung berdering dan kali ini dari Hamzah.
" Halo assalamu'alaikum Ham ," salam dari Akmal.
" Wa'alaikumussalam Mal ," jawab Hamzah.
" Kamu dari mana saja Mal,? daritadi aku coba menghubungimu tapi tidak bisa?? ," tanya Hamzah.
" Tadi ponselku mati, ada apa?? ," jawab Akmal.
" Cepatlah datang ke rumah sakit Akmal, karena Kak Mirza masuk rumah sakit lagi, sebab dia sangat terkejut mengetahui kamu pergi dari rumah ," kata Hamzah.
" Apa!! ," jawab Akmal sambil berteriak.
Akmal benar-benar sangat terkejut sekali mendengar laporan dari Hamzah. Dan Hamzah bisa mengetahui berita tentang Mirza masuk rumah sakit, karena sebelumnya, dia sudah dihubungi oleh Ayah Rafiq tentang Akmal yang kabur dari rumah.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...