
Keesokan paginya. Ketika semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan pagi. Akmal tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat ayah Rafiq dan mama Jian merasa senang sekali.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu Nak? Jika Cyra sudah menerima lamaranmu?" mama Jian sangat senang sekali.
Sambil tersenyum cerah, Akmal lalu menjawabnya. "Iya Mama. Semalam sebelum pulang, Cyra menerima lamarannya Akmal. Dan nanti malam kita semua diundang untuk berkunjung ke rumah abi Rasyid."
"Iya baiklah. Ayah mau. Nanti malam kita datang ke rumah Rasyid." Akmal menganggukkan kepalanya.
Ketika Akmal sudah selesai sarapannya. Dirinya langsung berpamitan pergi kepada ke dua orang tuanya untuk berangkat mengajar.
Tinggallah cuma mama Jian dan ayah Rafiq saja saat ini yang ada di meja makan.
"Yah. Mama sangat senang sekali. Walau Cyra harus turun ranjang. Setidaknya Akmal bisa mendapatkan perempuan yang baik dan sholehah."
"Iya Mama. Dan kita sebagai orang tua yang baik harus selalu mendukung serta membantu mereka. Karena pastinya di mata semua orang akan terlihat aneh. Sebab turun ranjang atau naik ranjang di mata masyarakat Indonesia masih terlihat tabu. Walau sudah banyak yang menjalaninya."
"Iya Ayah benar. Jika ada yang berani berkata buruk kepada mereka berdua. Mama siap menjadi tameng bagi mereka." Mama Jian berbicara dengan berapi-api.
Singkat cerita malam pun tiba.
Ayah Rafiq, mama Jian dan juga Akmal. Saat ini sudah sampai di rumah abi Rasyid. Dan kedatangan mereka semua langsung disambut hangat oleh abi Rasyid bersama umma Nada dan juga Cyra.
"Oh sayang. Sini ikut sama Abu yuk." Akmal ingin menggendong baby Zahwa. Dan dengan senang hati, Cyra langsung memberikannya.
"Bagaimana? Sudah bisa kita mulai sekarang?" ayah Rafiq langsung mengkode telapak tangannya.
"Bagaimana Nak Akmal?" Akmal langsung menganggukkan kepalanya.
"Silahkan Abi," jawab Akmal.
"Baiklah."
"Abi sudah tahu. Jika Cyra sudah menerima lamaran darimu Nak." Akmal mendengarkannya dengan sangat serius sekali.
"Tapi Abi punya syarat untukmu? Bagaimana?"
"Apapun syaratnya! Akmal siap melaksanakannya Abi." Akmal berbicara dengan sangat mantap sekali.
Abi Rasyid mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda suka dengan sikap Akmal yang sangat tegas sekali.
"Ok. Masa iddah Cyra cuma tinggal kurang lebih sekitar dua bulan lebih sedikit. Saat ini Zahwa baru berumur dua bulan kurang satu minggu. Masa iddah bagi seorang perempuan yang ditinggal mati atau dicerai suaminya sekitar empat bulan sepuluh hari." Akmal masih sangat serius sekali mendengarkannya.
__ADS_1
"Jadi Abi minta. Selama masa iddah Cyra belum selesai. Abi ingin kalian tidak bertemu sama sekali. Bagaimana?"
"Kalau cuma berkomunikasi lewat ponsel apakah juga tidak boleh Abi?" Akmal mencoba bertanya.
"Boleh. Tapi Abi harap jangan sampai video call ya."
Akmal sangat mengerti sekali dan dia sangat setuju. "Baiklah. Akmal setuju Abi. Dan bisakah jika masa iddahnya Cyra selesai. Abi dan Ayah langsung mempersiapkan pernikahan kami?"
"Akmal ingin? Di waktu Akmal bertemu dengan Cyra nanti. Status kita sudah menjadi sepasang suami istri. Apakah Abi setuju?"
"Ok. Abi sangat setuju sekali dengan permintaanmu itu."
Abi Rasyid lalu mengalihkan pertanyaan kepada Cyra. "Bagaimana denganmu sendiri Cyra?"
Dengan mengangguk malu. Cyra langsung menjawabnya. "Cyra menurut saja bagaimana baiknya Abi."
Abi Rasyid menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu. Puaskanlah kamu bermain dengan Zahwa. Karena setelah ini kamu tidak akan bisa bertemu dengannya lagi sampai hari pernikahan tiba."
Akmal setuju. Lalu dia menghabiskan waktunya bercanda dengan baby Zahwa sampai baby Zahwa merasa mengantuk.
Sedangkan para orang tua dan juga Cyra langsung berbincang santai, sambil ikut menimang baby Zahwa secara bergantian.
Sambil mendekap baby Zahwa yang sudah tertidur. Akmal mencoba bertanya kepada Cyra. "Cyra. Pernikahan yang bagaimana yang kamu inginkan?"
"Jika Kakak bertanya kepada Cyra. Cyra cuma ingin kita sah saja di mata negara dan juga agama. Bagaimana? Apakah Kakak setuju?"
Cyra lalu melanjutkannya lagi. "Rasanya Cyra sudah tidak pantas untuk meramaikan pernikahan seperti sebelumnya. Maafkan Cyra jika jawabannya mengecewakan Kakak."
Akmal tersenyum. "Kakak menerima kamu karena Allah. Apapun yang kamu inginkan insyaallah akan Kakak penuhi. Karena laki-laki yang baik adalah laki-laki yang mampu membahagiakan istri dan juga keluarganya."
"Kalau begitu nanti kita menikah secara sederhana saja ya. Cuma mengundang saudara-saudara dekat." Cyra mengangguk setuju.
"Semuanya. Termasuk kamu Cyra. Ada yang ingin Akmal sampaikan kepada kalian."
"Katakanlah Nak," ucap mama Jian.
"Bolehkan nanti Akmal dan Cyra menikah di rumah kak Mirza?"
Ayah Rafiq, mama Jian dan semuanya, terutama Cyra merasa sangat terkejut sekali mendengar permintaannya Akmal.
"Dan jika Ayah sama Mama ijinkan. Terutama kamu Cyra. Maukah setelah menikah nanti kita tinggal di rumah kak Mirza saja?"
__ADS_1
"Apakah kamu sendiri tidak mempunyai rumah pribadi Nak?" Abi Rasyid langsung bertanya.
"Punya Abi," jawab Akmal. "Tapi rasanya Akmal ingin tinggal di rumah milik kak Mirza. Karena dengan menempati rumah itu. Akmal merasa kak Mirza masih hadir di antara kita semua. Daripada rumah itu kosong tidak ditempati." lanjut ucapan Akmal.
"Lalu rumah Kakak sendiri bagaimana?" Cyra ikut bertanya.
"Akan Kakak berikan kepada Aiza. Untuk dia tempati kelak setelah dia besar bersama suaminya." Semua orang sangat terkejut sekali mendengar jawabannya Akmal.
"Bagaimana Cyra? Apakah kamu mau? Setelah menikah nanti kita tinggal di rumah itu?"
"Selama Kakak bersama Cyra nanti. Di manapun kita tinggal. Cyra mau Kak."
"Alhamdulillah." Akmal sangat senang sekali dengan jawabannya Cyra.
"Untuk urusan kalian tinggal. Kami tidak mau mempermasalahkannya. Yang penting kalian hidup dan tinggal di tempat yang layak. Dan janganlah sungkan meminta bantuan kepada kami selagi kami mampu untuk membantu kalian nantinya," ucap ayah Rafiq.
"Terimakasih Ayah." Ayah Rafiq langsung mengangguk.
"Jadi keputusan Abi. Satu minggu setelah masa iddah Cyra selesai. Abi dan Ayah kamu akan mempersiapkan semua pernikahan kalian berdua. Dan satu minggu setelahnya. Acara pernikahan kalian akan dilangsungkan. Mengerti?"
"Mengerti Abi," ucap Akmal dan Cyra secara bersamaan.
"Dan Akmal mohon. Selama Akmal tidak bertemu dengan Cyra. Tolong jangan ada laki-laki yang datang untuk melamar Cyra. Apakah Abi sanggup memenuhi permintaan Akmal?"
Dengan mantap abi Rasyid menjawabnya. "Pastinya Nak. Abi sanggup untuk menjaga Cyra sampai kalian resmi menikah. Karena Abi sudah berjanji akan menyerahkan putri Abi kepadamu. Jadi tidak mungkin akan Abi perlihatkan kepada laki-laki lain selain kamu."
"Terimakasih Abi," Akmal merasa lega sekali sudah mengutarakan apa yang menjadi kegelisahan hatinya.
Sekarang sudah ditentukan kapan Cyra dan Akmal akan menikah. Dan di mana juga mereka nantinya akan tinggal.
Akmal sengaja meminta tinggal di rumah sang Kakak. Karena Akmal ingin selalu berada dekat dengan sang kakak, walau sekarang dia sudah tidak ada di sisinya lagi.
Cyra juga tidak menuntut mahar yang banyak dari Akmal. Sebab Cyra sangat tahu sekali. βSebaik-baik wanita ialah yang paling murah maharnya.β (HR. Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi).
Setelah selesai perbincangan cukup serius itu. Ayah Rafiq lalu mengajak pulang mama Jian dan juga Akmal untuk kembali ke rumah mereka.
Ada hati yang merasa lega tapi belum sepenuhnya. Milik siapa itu? Tentu saja milik Akmal. Dan satu lagi. Milik Cyra.
Entah kenapa dengan ditentukan kapan pernikahannya dengan Akmal. Cyra merasa tenang dan seperti mempunyai jalan tujuan hidup. Karena semenjak Mirza meninggal. Cyra seperti kehilangan arah.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...