IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
SADAR


__ADS_3

Setelah puas menatap sang Kakak yang masih terbujur lemah di atas brankar pasiennya, Akmal pun memilih ijin kepada sang Ayah untuk ke luar sebentar.


" Janji, nanti kembali lagi ya Nak ," ucap sang Ayah.


" Tenang saja Ayah, kali ini Akmal tidak akan pergi lagi ," jawab Akmal.


" Baiklah ," ucap sang Ayah, dan Akmal hanya tersenyum tipis saja.


Setelah itu, dia berlalu ke luar dari dalam ruang perawatan sang Kakak untuk duduk di kursi tunggu yang tersedia di situ.


Akmal melamun, dia terus menatap ke arah ruang perawatan sang Kakak dengan pikiran yang melayang entah ke mana.


Di saat sedang asik melamun dengan pikiran yang lagi berkelana, tiba-tiba pikirannya terbuyarkan dengan dering ponsel miliknya sendiri.


Akmal lalu mengambil ponselnya, dan ternyata yang sedang menghubunginya adalah Abraham.


" Halo assalamu'alaikum ," salam dari Akmal.


" Wa'alaikumussalam, Mal ," jawab Abraham.


" Apakah kamu baik-baik saja, kenapa suara kamu terdengar lemas begitu?? ," tanya Abraham.


" Aku cuma kepikiran dengan keadaannya Kak Mirza saja Abraham ," jawab Akmal.


" Sudah berapa kali ku katakan Akmal, pulanglah, temui mereka, temui Ayah kamu, terutama Kak Mirza yang sangat membutuhkanmu ," kata Abraham.


" Iya, sesuai dengan ucapanmu, aku sudah pulang dan saat ini sedang berada di rumah sakit ," jawab Akmal.


" Sungguh??!! ," ucap Abraham sangat terkejut.


" Iya sungguh, aku memang sudah pulang sejak tadi ," jawab Akmal.


" Dan kondisi Kak Mirza semakin memburuk ," ucap Akmal.


" Jika nanti Kak Mirza tidak sadar, bisa dipastikan Kak Mirza akan koma, Abraham ," kata Akmal.


" Astaghfirullah ," kata Abraham.


" Nanti aku akan ke sana menemanimu, aku akan mengajak Hamzah, tapi aku mau menyelesaikan dulu pekerjaanku di sini ," ucap Abraham.


" Iya terserah kamu ," jawab Akmal.


" Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, assalamu'alaikum ," salam Abraham.


" Wa'alaikumussalam ," jawab Akmal dan setelahnya sambungan teleponnya pun terputus.

__ADS_1


Akmal lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dan tiba-tiba pandangannya teralihkan ke arah Cyra dan Abi Rasyid yang sedang berjalan memasuki ruang perawatan Mirza.


Cyra hanya diam saja, dia cuma melirik Akmal tanpa mau menyapanya sama sekali, hingga akhirnya, tubuhnya pun tidak terlihat karena pintu sudah tertutup dari dalam.


Sedangkan Abi Rasyid, sebelum masuk ke dalam ruang perawatan Mirza, memilih mendekati Akmal terlebih dahulu.


" Kenapa duduk di sini Nak,? apa kamu sedang menunggu seseorang?? ," tanya Abi Rasyid.


" Tidak Abi, cuma mencari udara segar saja ," jawab Akmal.


" Sudah, ayo ikut masuk, jangan terlalu dipikirkan ," ucap Abi Rasyid.


" Yang namanya makhluk yang bernyawa, pasti akan mati juga, jika ajalnya sudah tiba, dan kita sebagai manusia yang masih hidup, disuruh berserah diri, serta memperbaiki diri dan juga jangan terlalu terpuruk akan keadaan ," nasihat Abi Rasyid.


" Dan untuk Cyra, kamu tidak perlu memikirkannya juga, karena saat ini kondisinya juga sama sepertimu, yang sangat membutuhkan seseorang di sampingnya ," kata Abi Rasyid.


" Abi ," ucap Akmal.


" Iya ," jawab Abi Rasyid.


" Abi pasti tahu sesuatu tentang Kak Mirza kan, karena Abi juga seorang Dokter Spesialis Bedah Saraf ," kata Akmal.


" Tolong katakan kepada Akmal yang sejujurnya, bagaimana kondisi dari Kak Mirza ," kata Akmal lagi.


Abi Rasyid lalu menatap lurus ke depan, sambil menarik nafasnya cukup panjang, sebelum menjawab pertanyaan dari Akmal.


" Sel kankernya sudah hampir merusak sistem daya kerja otaknya ," ucap Abi Rasyid dengan pandangan lurus ke depan.


" Tapi alhamdulillah, Kakak kamu masih bisa sadar dan bisa kita ajak berkomunikasi, walau ya, kamu tahu sendiri, sekarang sudah sedikit lambat dalam menangkapnya ," kata Abi Rasyid sambil menatap ke arah Akmal.


Akmal semakin terpukul, mendengar penjelasan dari Abi Rasyid, dan seperti ada beban berat yang tidak terlihat di dadanya saat ini.


" Abi, Akmal mau bertanya satu lagi ," ucap Akmal.


" Tanyakanlah Nak ," jawab Abi Rasyid.


" Apakah keputusan Akmal sudah tepat, jika Akmal ingin melanjutkan perjodohan ini, sebelum Kak Mirza meninggal dunia?? ," tanya Akmal.


" Keputusan itu ada di tangan kamu Nak, dan ridho dari-Nya ," jawab Abi Rasyid.


" Seberapa kuat kamu menghindar, jika Aalifa memang dijodohkan untukmu, kamu tidak akan bisa menolaknya Akmal ," kata Abi Rasyid.


" Akmal cuma takut menghadapi penyesalan Abi ," ucap Akmal merasa bersedih.


" Tanyakan kepada dirimu Nak, karena kamu yang menjalani pernikahan itu ," jawab Abi Rasyid sambil menepuk pundak Akmal.

__ADS_1


" Ayo kita masuk ke dalam ," ajak Abi Rasyid dan Akmal hanya mengangguk saja.


Setelahnya, Akmal pun melangkah masuk ke ruang perawatan Mirza bersama Abi Rasyid.


Tidak terasa, adzan maghrib pun berkumandang.


Ayah Rafiq ijin pulang sebentar bersama Mama Jian tadi, begitupun dengan Umma Nada, karena Saqif sang anak ke dua, sedang membutuhkan bantuannya di rumah.


Jadi yang menemani Cyra di rumah sakit cuma Abi Rasyid bersama Akmal.


Ketika mendengar adzan maghrib, Akmal dan Abi Rasyid segera bergegas menuju ke masjid depan, dan untuk Cyra sendiri, memilih untuk sholat maghrib di samping ranjang pasiennya Mirza.


Setelah menunaikan sholat maghrib berjamaah di masjid, Akmal bersama Abi Rasyid kembali ke dalam ruang perawatan Mirza lagi.


Namun, Akmal dan Abi Rasyid tidak berdua saja, akan tetapi bersama Abraham dan juga Hamzah.


Sebab mereka berdua tadi tidak sengaja bertemu dengan Hamzah dan Abraham, ketika akan masuk ke dalam lift.


" Kalian tadi sudah sholat?? ," tanya Abi Rasyid.


" Sudah Abi, tadi ketika masih di jalan, kami mampir sebentar di masjid ," jawab Hamzah dan Abi Rasyid hanya mengangguk saja.


Akhirnya, setelah lift yang mereka naiki sampai di lantai ruang perawatan Mirza berada, mereka berempat langsung berjalan menuju ke dalam ruang perawatan sambil berbincang santai.


Di saat baru saja masuk, mata mereka berempat langsung melihat Cyra sedang mengaji di samping ranjang pasien Mirza, dengan Mirza yang sudah membuka matanya dan itu tidak di sadari oleh Cyra sama sekali.


Yaps, Mirza memang sudah sadar dan juga sudah membuka matanya, karena tadi mendengar suara merdu mengajinya Cyra, dan Mirza memilih diam saja, sambil terus mendengarkan suara sang istri yang sedang mengaji.


" Kak Mirza ," teriak Akmal sambil bergegas mendekati Mirza.


" Akmal, kamu sudah pulang?? ," jawab Mirza dengan suara lirih.


Mendengar suara sang suami, Cyra langsung segera bangun dari duduknya dan menaruh Al-Qur'an yang dibacanya tadi ke atas meja.


" Abi,!! Abi sudah sadar ," ucap Cyra sangat senang sekali.


" Masyaallah, Cyra senang melihatnya ," kata Cyra lagi.


" Biar Abi panggilkan Dokter dulu ," kata Abi Rasyid dan yang lainnya cuma mengangguk saja.


Abi Rasyid lalu memencet tombol darurat untuk memanggil Dokter, supaya mereka memeriksa keadaan Mirza sebentar.


Sebelum para tenaga medis itu datang, Mirza berbincang sejenak dengan Akmal, untuk menuangkan kerinduannya sejak kemarin.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2