IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
NASIHAT UMMA NADA


__ADS_3

Semua orang termasuk Umma Nada yang sudah sampai di rumah sakit sejak sepuluh menit yang lalu pun, masih pada setia menunggu di depan ruang perawatan Mirza sambil harap-harap cemas.


" Cyra, apakah semuanya baik-baik saja?? ," tanya Umma Nada.


" Emm, maksud Umma, kenapa suami kamu bisa masuk ke rumah sakit lagi, apa sudah terjadi sesuatu dengan kepalanya?? ," tanya Umma Nada lagi.


" Ini semua gara-gara Akmal!! ," bukan Cyra yang menjawab, melainkan Ayah Rafiq.


" Akmal,? memangnya ada apa dengan Nak Akmal, Mas Rafiq?? ," tanya Umma Nada kepada Ayah Rafiq.


" Akmal pergi dari rumah, karena dia sudah tidak mau dijodohkan sama Aalifa, dan membuat Mirza tiba-tiba jatuh pingsan ," jawab Ayah Rafiq.


" Jika boleh tahu, apa ya yang menyebabkan Nak Akmal tiba-tiba membatalkan perjodohan ini, padahal pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi?? ," tanya Umma Nada lagi.


" Katanya, Aalifa bukan wanita yang baik ," jawab Ayah Rafiq.


" Saya yakin ini cuma akal-akalan Akmal saja, karena dia masih belum ingin menikah ," ucap Ayah Rafiq lagi.


Mendengar jawaban dari Ayah Rafiq, tiba-tiba Umma Nada teringat sesuatu.


Kemarin, sebelum Umma Nada berangkat arisan Keluarga, dia memutuskan untuk pergi berbelanja terlebih dahulu di sebuah supermarket yang cukup besar.


Umma Nada yang merasa haus, dia pun memilih singgah sebentar, di Cafe yang ada di depan supermarket tersebut.


Umma Nada yang sudah duduk di dalam Cafe itu, langsung didekati oleh salah satu waiter yang bekerja di situ.


Sambil menunggu pesanannya datang, Umma Nada memilih memainkan ponselnya.


Namun, telinganya tidak sengaja mendengar pembicaraan seorang wanita yang duduk di meja depannya.


Wanita tersebut duduk saling membelakangi Umma Nada, jadi dia tidak mengetahui, jika pembicaraannya itu didengar jelas oleh Umma Nada.


Wanita tersebut adalah Aalifa, yang sedang berteleponan ria bersama temannya.


Aalifa yang baru selesai bertengkar di taman rumah sakit bersama Akmal, ketika Akmal baru saja mengantarkan Cyra kontrol kandungan kemarin, dia pun memutuskan pergi ke Cafe sebentar, untuk menenangkan hatinya sambil ngopi.


Di dalam percakapan itu, Umma Nada mendengar, jika Aalifa ingin menjauhkan Akmal dari semua Keluarganya jika sudah menikah dengannya.

__ADS_1


" Jika aku sudah menikah dengan Kak Akmal, tidak sudi aku mau tinggal dengan Keluarganya, termasuk Cyra yang sok alim itu ," begitulah jawaban Aalifa kepada temannya, yang di dengar jelas oleh Umma Nada.


" Walau Kak Akmal terus berusaha ingin mengakhiri acara perjodohan kami, sekuat tenaga aku akan mempertahankannya ," ucap Aalifa lagi.


" Enak saja, laki-laki kaya, sholeh, tampan seperti Kak Akmal aku lepaskan begitu saja, rugi sekali tahu ," ucap Aalifa yang masih didengar jelas oleh Umma Nada.


" Maka dari itu, nanti jika Kak Akmal sudah menikah denganku, aku akan menjauhkan Kak Akmal dari Kak Cyra ," kata Aalifa lagi.


" Apa maksud ucapan Aalifa tentang Akmal dan Cyra?? ," kata Umma Nada di dalam hatinya.


" Aku benci dengan Kak Cyra tahu, gara-gara dia, Kak Akmal tidak mau menatapku ," curhat Aalifa kepada temannya.


" Kenapa pembicaraannya terus-terusan menyebut nama Akmal dan Cyra?? ," Umma Nada semakin penasaran saja.


Percakapan Aalifa kepada temannya terputus, karena Aalifa tiba-tiba mendapatkan pesan dari salah satu karyawannya, untuk segera kembali ke acara pernikahan yang dihandle nya,yang tempatnya disalah satu ballroom hotel yang ada di kota tempat tinggal Akmal.


Setelah mendengar semua ucapannya Aalifa, Umma Nada sebenarnya ingin bertanya langsung kepada Cyra, tentang apa sebenarnya hubungannya dengan Akmal, namun sayang, waktu yang selalu menahannya untuk berbicara berdua saja bersama Cyra.


" Umma ," panggil Cyra dan akhirnya masa melamun Umma Nada terhenti, karena panggilan dari Cyra.


" Apakah Abi tidak datang ke sini nanti Umma?? ," tanya Cyra.


" Abi ke sini ko, Nak, tapi nanti jika pekerjaan Abi sudah selesai ," jawab Umma Nada dan Cyra hanya mengangguk saja.


Tidak lama, akhirnya ruang perawatan Mirza terbuka dari dalam, dan mereka semua yang melihat, langsung bergegas mendekati sang Dokter.


" Dokter, bagaimana kondisi anak saya?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Untung saja anda cepat bisa membawanya datang ke sini Tuan, karena Tuan Mirza tadi mengalami penyumbatan pembuluh darah di otaknya, karena dia terlalu stres ," jawab sang Dokter.


" Astaghfirullah ," ucap semua orang.


" Tapi kalian semua tenang saja, kami sudah bisa mengatasinya cukup baik ," ucap sang Dokter lagi.


" Alhamdulillah ," jawab dari semua orang lagi.


" Saya mohon, Tuan Mirza jangan diberikan beban yang berat dalam berpikir dan bekerja, karena itu sangat mempengaruhi daya kinerja otaknya yang masih ada sel kanker di dalamnya ," jelas sang Dokter.

__ADS_1


" Bahkan setelah kami cek tadi, ternyata sel kanker tersebut sudah menyerang tulang belakangnya, kalau Tuan Mirza dibiarkan stres dan banyak pikiran, itu bisa menyebabkan kerusakan di pembuluh otaknya dan akan membuat kelumpuhan total bahkan kematian ," kata sang Dokter lagi.


Cyra sudah meneteskan air matanya sejak tadi, dan rasa benci di dalam hatinya untuk Akmal semakin besar saja. Karena menurutnya, Akmal sudah membuat kondisi sang suami semakin memburuk.


" Baik Dokter kami mengerti ," jawab Ayah Rafiq.


" Kalau begitu, saya tinggal dulu Tuan, dan nanti Tuan Mirza akan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa oleh para asisten saya ," kata sang Dokter.


" Baik Dokter, terimakasih ," kata Ayah Rafiq, dan Dokter tersebut, hanya mengangguk serta tersenyum ramah saja.


Setelah kepergian dari sang Dokter, kemarahan Ayah Rafiq untuk Akmal semakin besar saja, karena sikap egois yang Akmal miliki, membuat sang Kakak semakin lemah keadaannya.


" Ini semua gara-gara Akmal!! ," ucap Ayah Rafiq.


" Jika Akmal mau mencoba menjalani perjodohan ini dengan baik, pasti Mirza saat ini masih berkumpul di rumah bersama kita semua!! ," kata Abi Rasyid lagi.


" Ayah, istighfar Ayah, Akmal itu anak kita juga, dia berhak menentukan pilihannya, walau terkadang pilihan itu ada salah satu yang terluka ," bela Mama Jian.


" Bela saja terus anak Mama itu!! ," jawab Ayah Rafiq.


" Mbak Jian benar Mas Rafiq ," Umma Nada ikut membela Akmal, apalagi Umma Nada sudah mendengar sendiri, bagaimana cara Aalifa berbicara kemarin, cukup kasar untuk seorang perempuan berhijab.


" Kita tidak boleh menghukum Nak Akmal atas semua yang sudah terjadi Mas, mungkin Nak Akmal sudah mempunyai pilihannya sendiri, namun keadaannya sedang tidak tepat ," nasihat Umma Nada.


" Redakan emosimu Mas Rafiq, biar bisa berpikir dengan jernih ," ucap Umma Nada kepada Ayah Rafiq.


" Jika Nak Akmal pulang nanti, tanyakan kepadanya dengan baik-baik, karena terkadang, bukan anak yang bersalah kepada kita, tapi justru tanpa kita sadari, kitalah sebagai orang tuanya yang sudah bersalah bahkan berdosa kepadanya ," nasihat Umma Nada lagi.


Ayah Rafiq, Mama Jian dan juga Cyra, hanya bisa diam saja, sambil terus mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh Umma Nada kepada mereka.


Tiba-tiba lagi, pintu ruang perawatan Mirza terbuka dari dalam, dan ke luar lah ranjang pasiennya Mirza, yang akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa oleh para tim medis.


Setelah melewati lorong dan ke luar masuk dari dalam lift, akhirnya, mereka semua sampai juga di salah satu ruang perawatan terbaik yang ada di rumah sakit tersebut.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2