
Cyra lalu memanggil para bibi untuk membeli dagangan es cendol tersebut. Dan semuanya yang akan membayar adalah Cyra. Ketika penghuni rumahnya sudah pada kebagian semua, termasuk dirinya dan juga Akmal. Cyra menyuruh salah satu bibi untuk mengambil dua wadah. Karena Cyra mau cendol dan kuah santennya dipisah untuk dia masukkan ke dalam kulkas. Dan akan di minumnya nanti jika merasa haus.
"Cendolnya enak ya Abu."
Akmal mengangguk membenarkan. "Iya Umi. Segar."
Padahal Cyra dan Akmal belum sarapan. Tapi sudah minum es cendol. Ya biarlah. Suka-suka mereka.
"Biar Umi bayar dulu es cendolnya."
Akmal yang mendengar. Langsung mencegah Cyra. "Biar Abu saja yang membayarnya. Uang Umi simpan saja."
Cyra tersenyum mendengar ucapannya Akmal. "Terimakasih Abu."
"Tolong ambilkan dompet Abu dong Umi, di dalam laci. Di situ ada amplop juga. Ambillah uang dua juta saja."
Cyra mengangguk. Setelahnya dia langsung beranjak berdiri menuju ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu yang disuruh oleh Akmal tadi.
Untuk sekedar informasi. Akmal dan Cyra menikah kemarin. Mereka tidak mau menerima sumbangan dan kado. Kalaupun sudah ada yang terlanjur bawa kado. Mau tidak mau, Cyra dan Akmal tetap menerimanya sebagai bentuk rasa menghormati. Dan posisinya tidak enak jika mereka harus menolak. Tapi untuk uang sumbangan. Akmal dan Cyra jelas menolaknya. Mereka tidak menerima sepeser pun dari para tamu undangan. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama antara Cyra, Akmal dan ke dua orang tua mereka masing-masing.
Setelah mendapatkan apa yang disuruh oleh Akmal. Cyra langsung bergegas keluar untuk memberikannya kepada Akmal. "Ini Abu."
Akmal menerima dompet dan uang yang tadi. "Terimakasih Umi."
Cyra cuma mengangguk saja dan gantian dirinya mengambil alih baby Zahwa ke dalam gendongannya. Sedangkan Akmal langsung berjalan menghampiri bapak penjual cendol yang sedang melayani para mamang yang ingin menambah es cendol.
"Apakah semuanya sudah kebagian?" Akmal bertanya kepada para pekerjanya.
"Sudah Pak Akmal." Jawab serempak dari semua para pekerja.
"Jika mau menambah lagi silahkan. Sebelum bapaknya pergi dari sini."
Akhirnya. Ada beberapa orang yang ingin menambah lagi. Dan setelah mereka puas. Akmal langsung memberikan bayaran yang pantas untuk bapak tersebut.
"Pak! Ini uang untuk membayar es cendolnya. Tolong es cendolnya dibagikan secara gratis ya Pak kepada orang-orang yang membutuhkan. Seperti pemulung atau pak satpam di depan dan tukang sapu jalanan. Atau jika ada yang mau beli. Berikanlah secara percuma."
__ADS_1
Akmal memberikan uang sebesar satu juta rupiah kepada bapak tersebut. Dan bapak penjual cendol gemetaran menerima uang dagangannya sebanyak itu. "Ini kebanyakan Mas."
Akmal tersenyum sambil menepuk lengan si penjual cendol. "Tidak apa-apa Pak. Anggap saja rejeki untuk Ibu dan keluarga bapak di rumah."
Akmal lalu memberikan uang dua juta tadi kepada si bapak penjual cendol. "Dan yang ini uang tambahan dari saya untuk keluarga bapak. Untuk menambah biaya kebutuhan Bapak sekeluarga. Terimalah Pak."
Bapak penjual cendol itu pun menangis terharu melihat kebaikan Akmal yang sudah jarang dia temui selama berdagang. "Mas Akmal! Apakah Mas Akmal bercanda kepada Bapak?"
"Tidak Pak. Ambillah. Saya ikhlas memberikannya. Insyaallah nanti Allah akan memberikannya lagi kepada saya. Supaya saya bisa berbagi lagi kepada yang lainnya." Akmal tersenyum ramah
Bapak penjual cendol itu bahkan hampir saja mau bersujud di kaki Akmal. Tapi langsung dicegah oleh Akmal. Cyra yang juga melihat kejadian tersebut. Langsung mendekat ke arah Akmal dan bapak penjual es cendol. Dan para pekerja yang menyaksikan itu semua. Sangat bangga melihat kebaikannya Akmal.
"Bapak jangan seperti ini kepada saya."
Bapak penjual cendol itu masih sesenggukan dalam menangis. "Terimakasih Mas Akmal. Terimakasih banyak atas bantuan Mas Akmal yang sudah diberikan kepada saya hari ini."
Akmal tersenyum senang. "Sama-sama."
"Semoga Mas Akmal sekeluarga bisa mendapatkan gantinya jauh lebih banyak dari ini. Dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wata'ala."
"Benar begitu 'kan Abu?" ucap Cyra lagi.
Akmal yang tidak tahu rencana Cyra, cukup terkejut ketika mendengarnya. Tapi dia tidak marah. Justru dirinya merasa senang. Sebab Cyra ingat untuk berbagi. Apalagi hari jum'at adalah hari yang paling baik untuk bersedekah.
Akmal tersenyum manis. "Benar sekali Sayang."
"Iya Pak. Ajaklah teman-teman Bapak. Siapapun itu yang membutuhkan. Nanti setiap hari jum'at kami akan berbagi makanan dan juga insyaallah sedekah yang lainnya."
Bapak penjual cendol itu merasa bangga dengan Akmal dan Cyra. "Masyaallah. Kalian berdua memang orang yang baik. Masih muda taat beragama dan tahu berbagi dengan sesama."
"Baik Neng, Mas Akmal. Nanti saya akan mengajak orang-orang untuk datang ke sini. Tapi bagaimana kalau dilarang sama bapak penjaga portal di depan?"
"Tenang saja Pak. Nanti saya yang akan berbicara kepada mereka." Akmal masih terus tersenyum.
Bapak penjual cendol tersenyum senang. "Alhamdulillah. Baiklah Mas Akmal. Kalau begitu saya pamit undur diri ya Mas, Neng. Saya mau membagikan es cendol ini kepada yang membutuhkan."
__ADS_1
Akmal dan Cyra tersenyum sambil mengangguk. Dan pada akhirnya. Bapak penjual cendol itu berlalu pergi dari dalam pekarangan rumah mewah Akmal dan Cyra.
Akmal lalu mengajak Cyra dan baby Zahwa masuk ke dalam rumah setelah kepergian dari si penjual cendol tersebut.
Para penjaga dan pekerja yang ada di pos jaga yang menyaksikan itu semua, merasa senang dan bangga bisa bekerja dengan Akmal dan Cyra.
"Kita beruntung bisa bekerja dengan pak Akmal dan bu Cyra," ucap Doni saudara bi Tukiyah.
Mang Ijong yang mendengar lalu menjawabnya. "Iya. Ibu mertua saya yang sudah bekerja dengan pak Rafiq sangat lama sekali. Kalau tidak salah sejak pak Akmal masih kecil. Beliau juga sering mengatakan. Jika keluarga mereka benar-benar orang baik."
Mang Dasir adik kandung mang Kasim juga ikut berbicara. "Kasihan pak Mirza. Dia juga orang baik. Tapi Allah lebih sayang kepadanya."
Hampir semua pekerja di rumah Cyra dan Akmal sudah mengetahui bagaimana jalan ceritanya. Yang sudah diceritakan dari mulut ke mulut.
"Iya. Tapi mau bagaimana lagi. Kalaupun pak Mirza masih hidup. Pak Akmal pasti tidak akan bisa menikah dengan bu Cyra. Karena mereka berdua 'kan mencintai satu gadis yang sama," jawab mang Dana.
Mang Kasim yang paling tua sendiri lalu menegur mereka. "Hust! Sudah! Kita jangan ngerumpi terus. Tidak enak kalau didengar sama pak Akmal dan bu Cyra."
Mereka semua lalu pada bubar jalan dan melakukan tugas mereka masing-masing. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada yang sedang mencuci mobil atau memanasi mesin mobil. Dan ada yang langsung berjaga di pos satpamnya kembali.
Sedangkan kembali ke Cyra dan Akmal yang saat ini sedang berada di ruang makan. Akmal dan Cyra terlibat perbincangan hangat tentang rencana mereka yang ingin bersedekah setiap hari jumat.
"Maafkan Umi ya Abu. Umi tidak bercerita terlebih dahulu dengan Abu masalah sedekah itu." Cyra benar-benar takut jika Akmal marah kepadanya.
Akmal tersenyum. "Untuk apa Abu marah Umi? Justru Abu merasa bangga kepada Umi. Dan kalau istri ingin berbuat baik ya harus didukung dong."
Cyra merasa lega melihat Akmal tidak marah kepadanya. "Terimakasih Abu."
"Iya sama-sama. Sudah yuk kita sarapan yang terlambat ini."
Cyra tertawa. "Iya baiklah."
Cyra lalu dengan telaten mengambilkan makanan untuk Akmal. Mereka makan dengan tenang, nikmat dan sambil bercanda satu sama lainnya. Baby Zahwa yang sudah mulai tertarik dengan makanan. Dia selalu ingin mengambil sesuatu yang ada di atas meja makan. Alhasil. Cyra memberikannya biskuit khusus bayi untuknya. Daripada memasukkan barang yang tidak seharusnya dia masukkan ke dalam mulutnya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...