
Sebelum menjawab pertanyaan dari Aalifa, Akmal memilih menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya terlebih dahulu untuk pergi dari situ.
Karena jika dirinya masih memarkirkan mobil mewahnya di situ, bisa menyebabkan kemacetan jalan nantinya.
Aalifa yang melihat Akmal tidak peduli dan malah cuek saja kepadanya, dia semakin merasa, jika Akmal memang benar-benar tidak mencintainya.
Namun dugaannya salah, karena Akmal tiba-tiba memarkirkan mobilnya di dekat taman kota yang sangat ramai, dengan orang yang berolahraga pagi atau cuma bersantai dan berjemur menikmati matahari pagi.
" Sekarang apa yang ingin kamu dengar dari Kakak, Aalifa?? ," tanya Akmal.
" Jawab saja semua pertanyaanku tadi Kak ," jawab Aalifa.
" Ok, akan Kakak jawab ," kata Akmal.
" Lalu jawaban yang bagaimana yang ingin kamu dengar dari Kakak?? ," tanya Akmal lagi.
" Jika Kakak tidak mencintai Kak Cyra ," jawab Aalifa.
" Kalau Kak Akmal memang mencintai Kak Cyra, lebih baik pertunangan kita selesai sampai di sini saja, dan Aalifa akan memberitahukan semua ini kepada semuanya ," kata Aalifa lagi.
Akmal menarik nafasnya cukup panjang, ketika mendengar Aalifa seperti sedang mengancamnya.
Akmal baru mengetahui, jika sifat Aalifa ternyata seperti ini, masih manja dan sedikit kekanak-kanakan, karena selama ini mereka cuma berkomunikasi lewat media sosial, yang Akmal tahu, jika dirinya nyambung dengan Aalifa.
" Terserah kamu saja Aalifa mau berasumsi bagaimana tentang Kakak dan Cyra ," kata Akmal setelah bisa meredakan emosinya.
" Suatu saat nanti, kamu akan tahu sendiri, kenapa Kakak sangat perhatian dengan Cyra ," kata Akmal lagi, dan setelahnya dia langsung menjalankan mobilnya kembali.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, Akmal dan Aalifa seperti perang dingin, tidak ada pembicaraan sama sekali.
Hingga ketika sampai di rumah sakit pun, mereka tetap saja diam, namun tetap berjalan bersama menuju ke dalam rumah sakit.
Ketika baru saja ke luar dari dalam lift dan sedang berjalan menuju ke ruang perawatannya Mirza, Akmal mengatakan sesuatu dulu kepada Aalifa.
" Aalifa, tolong rubah mimik wajahnya, jangan seperti itu, tidak baik dilihat yang lainnya ," kata Akmal.
" Iya baiklah ," jawab malas-malasan dari Aalifa, karena dia masih bete dengannya.
Setelah sampai di depan ruang perawatannya Mirza, sebelum masuk, Akmal mengetuk pintunya terlebih dahulu, dan lalu masuk sambil mengucapkan salam.
Salam dari Akmal, langsung dijawab oleh semua orang, kecuali Ayah Rafiq dan Abi Rasyid.
Karena Abi Rasyid sudah pulang ke rumah setelah selesai sholat subuh tadi, sebab dia harus berangkat bekerja ke rumah sakit, sedangkan Ayah Rafiq, sedang pergi untuk membeli sarapan untuk mereka semua.
" Eh kalian ," kata Mama Jian.
Tidak lupa, Akmal dan Aalifa menyalami tangan Mama Jian dan Umma Nada terlebih dahulu.
" Ini Ma, Aalifa belikan sesuatu tadi di supermarket ," kata Aalifa sambil memberikan beberapa camilan dan makanan yang tadi sudah dibelinya.
__ADS_1
" Terimakasih Nak ," jawab Mama Jian.
Sedangkan Akmal, dia langsung berjalan ke arah Cyra yang sedang duduk di kursi pinggir ranjang, sambil menemani Mirza yang sudah bangun dari tidurnya.
" Cyra, ini Kakak belikan jajanan kesukaanmu, kebetulan tadi lewat ada yang jualan, jadi Kakak belikan deh ," kata Akmal kepada Cyra.
" Waaah, terimakasih Kak ," kata Cyra sangat senang sekali.
" Tapi mungkin sudah tidak panas lagi ," kata Akmal sambil tertawa.
" Iya tidak apa-apa, yang penting masih bisa di makan, terimakasih ya Kak ," kata Cyra.
" Sama-sama ," jawab Akmal sambil tersenyum.
Interaksi antara Akmal dan Cyra diperhatikan sekali oleh Aalifa yang masih cemburu dengan Cyra. Dan menurut Aalifa, Akmal terlalu dekat dengan Cyra.
" Akmal juga beli banyak ko, Mama sama Umma juga kebagian, tapi maaf ya untuk Kak Mirza, karena sementara waktu Kakak tidak boleh makan jajanan seperti ini ," kata Akmal kepada Mirza.
Mirza langsung tersenyum mendengar ucapan dari sang adik.
" Walau Kakak tidak makan, melihat Cyra bisa tersenyum senang karena jajanan itu, Kakak sudah seperti ikut merasakan makan juga ko Akmal ," kata Mirza.
" Kak Mirza begitu sangat romantis sekali, apakah Akmal bisa seperti Kakak?? ," tanya Akmal.
" Kamu cuma harus membahagiakan seorang perempuan, terutama Ibu dan juga istrimu, pasti sikap romantis itu akan ke luar dengan sendirinya dari dalam lubuk hatimu ," jawab Mirza.
Setelah berbincang dengan sang Kakak dan juag Cyra, Akmal lalu berjalan ke arah sofa untuk ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.
" Oh ya, Abi sama Ayah ko tidak terlihat Mama, Umma?? ," tanya Akmal sambil ikut duduk bergabung di sofa.
" Abi kamu pulang, karena hari ini ada dinas di rumah sakit, sedangkan Ayah, lagi ke luar untuk beli sarapan untuk kita semua ," jawab Mama Jian.
" Kamu sendiri sudah makan Nak?? ," tanya Umma Nada.
" Sudah Umma, mampir di alun-alun kota tadi ," jawab Akmal.
" Alun-alun kota?? ," kata Cyra ikut menyahut.
" Iya ," jawab Akmal.
" Kenapa Kakak tidak membelikan juga untuk Cyra, hmm jadi pengen makan di sana deh ," kata Cyra.
Nah kan, sikap Cyra dan Aalifa sangat bertolak belakang sekali.
Ada rasa bagaimana begitu di hati Akmal, karena tadi dia tidak membungkuskan untuk Cyra juga, yang jelas-jelas Cyra suka dengan masakan orang-orang kelas menengah ke bawah.
" Nanti jika Kak Mirza sudah ke luar dari rumah sakit, kamu sama Kak Mirza kan bisa pergi ke sana sendiri Cyra ," jawab Akmal.
" Kakak kan sudah tidak bisa lagi makan sembarangan begitu Akmal ," jawab Mirza kepada Akmal.
__ADS_1
" Jika Umi sudah kepingin beli makanan di sana, besok minta dibelikan sama Akmal, atau beli sama Akmal saja, Abi tidak apa-apa ko ," kata Mirza kali ini kepada Cyra.
Deg, jantung Akmal berdebar lagi, gara-gara perkataan dari sang Kakak.
Tidak tahukah sang Kakak, jika apa yang diucapkannya tadi, bisa membuat bunga yang hampir layu akan tumbuh kembang lagi di dalam hatinya.
" Benarkah, boleh Abi?? ," tanya Cyra.
" Iya benar, boleh ko sayang ," jawab Mirza sambil tersenyum.
Aalifa yang ada di situ memperhatikan semua, dan dia seperti tidak dianggap sama sekali oleh siapapun di situ, termasuk Akmal, karena menurutnya, Akmal lebih mementingkan Cyra dan Cyra daritadi daripada dengan dirinya.
" Boleh, besok bisa Kakak antar kamu Cyra, ke manapun yang kamu mau ," kata Akmal ikut menyahut.
" Ok deh Kak, lihat besok saja ya ," jawab Cyra.
" Iya ," kata Akmal.
" Emm, apakah kamu tidak ke kampus Akmal?? ," tanya Mirza.
" Untuk hari ini tidak dulu deh Kak ," jawab Akmal.
" Pasti karena ada Nona Aalifa kan Kak, yang sudah jauh-jauh datang berkunjung ke sini ," goda Cyra.
Aalifa langsung tersenyum tipis mendengar godaan dari Cyra, sedangkan untuk Akmal sendiri, langsung melirik ke arah Aalifa yang sedang duduk di seberangnya.
Akmal hanya tertawa pelan saja tidak menjawab apapun godaan dari Cyra, karena sebenarnya yang membuatnya tidak fokus mengajar di kampus, bukan Aalifa, melainkan dirimu dan juga Mirza.
Sedang asik berbincang, tiba-tiba Ayah Rafiq pun sudah kembali lagi, sambil membawa beberapa bungkus makanan yang sudah dibelinya.
" Ada Nak Aalifa juga, ayo sini ikut makan juga, Ayah sudah membelikan beberapa makanan untuk kita semua ," kata Ayah Rafiq.
" Aalifa sudah makan ko Ayah, tadi sama Kak Akmal ," jawab Aalifa.
" Pasti sudah sarapan di rumah iya ," kata Ayah Rafiq.
" Tidak ko Ayah, kita beli di alun-alun kota ," jawab Aalifa.
" Waaah di sana banyak makanan kesukaannya Cyra tuh ," kata Ayah Rafiq.
" Kak Cyra lagi ," kata batin Aalifa.
Aalifa hanya tersenyum kaku saja, ketika Ayah Rafiq berkata seperti itu kepadanya.
Walau Cyra merasa lapar, tetap saja dia lebih mementingkan Mirza sang suami, jadi sebelum makan, Cyra memilih menyuapi Mirza terlebih dahulu, setelah itu baru dirinya sendiri.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1