IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
FADLI - DEENA GO HALAL


__ADS_3

Masih Fadli ya guys ya. Iklan sejenak untuk Akmal dan Cyra.


Papa Ahmad cukup terkesima mendengar ucapan Fadli. Dan juga terpukau melihat Fadli sangat lantang dalam berucap.


"Boleh juga laki-laki ini." Kak Chairil berbicara di dalam hati.


"Ya Allah. Semoga Engkau membuka pintu hati papa." Doa Deena di dalam hatinya.


"Ok. Tapi semuanya akan saya serahkan kepada Deena," ucap papa Ahmad.


"Sebenarnya? Bukan kekayaan yang saya cari untuk menikahkan putri saya satu-satunya Nak. Tapi dia harus taat dalam beribadah dan bisa membimbing Deena untuk menjadi istri serta ibu yang baik."


Fadli mengangguk pelan sambil tersenyum kepada papa Ahmad.


"Bagaimana Deena? Apa kamu mau menerima lamaran dari Nak Fadli?"


Pandangan mata semua orang langsung teralihkan ke arah Deena yang sedang menunduk malu.


"Jawab Nak. Itu Nak Fadli sudah menunggu jawaban darimu," ucap mama Rina.


"Emm! Sebelum Deena menjawabnya. Bolehkah Deena bertanya dulu kepada Fadli, Papa?"


"Silahkan," papa Ahmad tidak merasa keberatan.


"Mau tanya apa Deena? Insyaallah! Aku akan menjawabnya dengan jujur," ucap Fadli.


"Jika seumpama aku menerimamu. Kapan kamu akan segera menikahiku?"


"Aku sendiri ingin secepatnya Deena. Karena godaan bagi seorang laki-laki sangatlah banyak sekali. Jika kamu tahu akan hal itu," jawab Fadli.


"Baiklah." Tapi aku ada satu syarat untukmu."


"Apa itu syaratnya?" Fadli bertanya dengan sangat serius sekali.


"Bisakah kamu menikahiku dua minggu lagi yang akan datang?"


Semua orang merasa sangat terkejut sekali. Papa Ahmad, mama Rina, kak Chairil begitupula dengan ke dua orang tua Fadli.


"Baik. Aku sanggup menikahimu dua minggu yang akan datang. Tapi aku juga mempunyai satu permintaan kepadamu."


"Katakanlah," jawab Deena.


"Aku tidak bisa menyediakan pernikahan yang mewah untukmu. Tapi aku bisanya menyediakan pernikahan sesuai yang aku mampu."


"Aku mau. Yang penting kita sah secara agama dan juga negara."

__ADS_1


"Jadi? Ini kalian berdua akan menikah dua minggu lagi?" papa Ahmad lebih memastikannya.


"Iya Pa. Deena menerima lamaran Fadli. Dan insyaallah, Deena menerima Fadli apa adanya," jawab Deena.


"Alhamdulillah," ucap ke dua orang tua Fadli.


"Baiklah. Jika memang ini keputusanmu Nak. Papa dan mama akan merestui hubungan kalian. Tapi kamu juga harus meminta ijin kepada kakak kamu. Sebab kamu akan menikah terlebih dahulu."


Deena tiba-tiba bersimpuh di depan kaki sang kakak yang sedang duduk di sofa single.


"Kak Chairil." Walau terkejut! Sang kakak tetap mengusap kepala sang adik dengan lembut.


"Selama ini Deena selalu menurut apa kata Kakak. Dan selama ini pula, Kakaklah yang sudah menggantikan tugas papa dalam menjaga Deena."


"Dengan segenap hati. Deena meminta ijin tanggung jawab Kakak itu dialihkan kepada Fadli. Karena Deena ingin menikah dengannya Kak. Apakah Kakak mau merestui hubungan kami?"


"Deena ingin melangkah bersamanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ijinkan Deena menikah lebih dahulu dari Kakak."


Kak Chairil pun tersenyum. Lalu mendongakkan wajah sang adik. "Kamu adik perempuan Kakak satu-satunya Deena."


"Jika memang ini tandanya Kakak sudah tidak bisa lagi menjagamu. Dengan ikhlas Kakak akan memberikan tanggung jawab Kakak kepada calon suamimu."


"Kakak juga ikhlas jika kamu ingin menikah lebih dahulu adikku. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Kakak juga."


Deena langsung memeluk sang kakak dengan sangat erat sekali. "Terimakasih Kak Chairil. Deena sangat menyayangi Kakak."


Fadli yang melihat pemandangan manis antara kakak dan adik di depan matanya. Dia pun tiba-tiba ikut bersimpuh juga disamping Deena.


"Kak! Fadli janji. Fadli akan menggantikan tugas Kakak dengan baik. Fadli akan menjaga Deena seperti Kakak menjaganya."


Kak Chairil lalu mengajak Fadli berdiri. Dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Iya. Semoga kamu tidak mengingkari kepercayaan dari Kakak ya Fadli."


Fadli mengangguk semangat. "Insyaallah Kak. Kami dipertemukan karena Allah. Jadi Fadli akan memperlakukan Deena sesuai ajaran Allah dan Nabi kita Muhammad."


Kak Chairil tersenyum manis sekali sambil menepuk lengan Fadli dengan lembut.


"Di agama tidak ada yang namanya tradisi langkahan, Pak, Bu." ucap ayah Dzakki.


Fadli dan Deena pun kembali ke tempat duduknya semula. Begitu juga dengan kak Chairil.


"Tapi kami sebagai orang jawa percaya akan hal itu. Jadi? Alangkah baiknya Nak Deena bertanya kepada Nak Chairil. Dia ingin minta apa sebagai adat langkahan."


"Iya Anda benar Pak. Kami pun juga percaya akan hal itu." ucap mama Rina.

__ADS_1


"Jadi kamu mau meminta apa dari Deena, Chairil?" tanya papa Ahmad.


"Apapun yang kamu minta. Akan Deena berikan."


"Wah! Kesempatan yang bagus," canda Chairil. Membuat semua orang langsung tertawa.


"Jangan yang mahal-mahal ya Kak. Karena uangnya akan Deena gunakan setelah menikah." Namun Chairil malah menampilkan wajah mengejeknya. Lalu setelahnya dia tertawa terbahak-bahak. Sebab melihat wajah cemberutnya Deena.


"Kamu tenang saja Dek. Kamu kan tahu bagaimana sifat Kakak. Mana tega Kakak kepadamu." Chairil berbicara sangat lembut sekali.


"Sudah cepat sebutkan Kak! Hih! Jadi gemas sendiri 'kan Deena." Fadli tersenyum melihat sikap Deena seperti itu.


"Kakak minta dibelikan sepeda motor matic saja ya yang keluaran terbaru. Iya-iya? Uang kamu kan banyak." Kak Chairil menaikan ke dua alisnya ke atas bawah sambil memperlihatkan wajah menjengkelkan kepada Deena.


"Kan Kakak sudah punya motor tuh di garasi?"


"Capek pakai motor sport terus. Pakai mobil terkadang tidak tahan dengan macetnya."


"Iya baiklah. Sebelum acara pernikahan. Nanti Kakak pilihlah sendiri motor yang Kakak inginkan." Kak Chairil merasa sangat senang sekali.


"Terimakasih adikku," kak Chairil sangat senang sekali.


"Baiklah. Sekarang semuanya sudah jelas. Lusa datanglah ke sini lagi ya Nak. Untuk membahas perihal pernikahan kalian dengan keluarga besar kami." Fadli langsung menganggukkan kepalanya.


"Ini Nak. Berikan kepada Nak Deena." Mama Ika memberikan sebuah cincin warisan kepada Fadli.


"Sebagai pengikat antara kamu dan aku. Maukah kamu memakai cincin yang sudah diwariskan turun temurun dari keluargaku ini, Deena?"


"Iya aku mau," senyum Deena merekah dengan indah sambil menyodorkan jari jemari tangannya yang sebelah kiri.


"Nanti kamu mau meminta mahar apa dariku Deena?"


"Sesuai kemampuanmu saja Fadli. Karena Cyra pernah berkata. Sebaik-baiknya seorang perempuan, ialah yang paling murah maharnya."


Fadli tersenyum manis. "Baiklah aku tahu apa yang akan aku berikan kepadamu nanti." Deena menganggukkan kepalanya.


Setelah puas berbincang untuk mengenal lebih jauh lagi antara dua belah pihak. Ayah Dzakki lalu mengajak Fadli dan mama Ika untuk kembali pulang ke rumah.


Ketika Fadli dan ke dua orang tuanya sudah pergi dari rumah mereka. Deena langsung diintrogasi oleh ke dua orang tuanya dan juga sang kakak tentang Fadli.


Mendengar cerita dari Deena. Papa Ahmad menjadi tambah yakin untuk merestui Fadli yang ingin menjadikan Deena sebagai istrinya.


Papa Ahmad tadi langsung suka dengan Fadli. Karena sikap Fadli terlihat tegas dan dewasa. Jadi papa Ahmad yakin. Jia dia pasti bisa membimbing Deena untuk menjadi lebih baik lagi. Terlebih lagi Deena sudah menceritakan sendiri bagaimana sifat Fadli yang sesungguhnya selama dia mengenalnya selama ini sejak kuliah.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


\*\*\*TBC\*\*\*


__ADS_2