IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KUMPUL SAHABAT


__ADS_3

Malam harinya. Sekitar jam setengah tujuh malam. Sahabat yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dari Abraham bersama Kalila. Hamzah bersama Misha dan baby Abbiyya. Serta Deena dan juga Fadli.


Akmal dan Cyra sebagai tuan rumah yang baik menyambut kedatangan mereka semua dengan ramah dan hangat sekali.


"Kalian ko datangnya bisa bersamaan begitu? Apa sudah janjian sebelumnya?"


Kalila pun langsung menjawabnya. "Iya Kak Akmal. Kami sudah janjian sebelumnya. Tapi sebelum masuk ke kompleks ini kami saling menunggu di depan pintu gerbang."


Akmal menganggukkan kepalanya mendengar jawabannya Kalila.


"Oh ya Deena. Kamu terlihat lebih gendut ya sekarang. Atau jangan-jangan kamu sudah hamil ya?" gantian Cyra yang berbicara.


Deena tersenyum. "Alhamdulillah Cyra. Aku sudah hamil."


Cyra dan Misha terlihat senang mendengar kabar kehamilannya Deena. "Wah! Alhamdulillah, selamat. Sudah berapa bulan Deena?"


"Sekitar dua bulan setengah," jawab Deena.


"Alhamdulillah," ucap Misha.


Ada orang yang terluka mendengar Deena sudah hamil sekarang. Siapa lagi jika bukan Kalila.


Yaps! Kalila dan Deena menikah hampir bersamaan. Mereka selisih dua minggu saja menikahnya. Namun Deena sudah hamil lebih dulu dibandingkan Kalila.


Mendengar Deena sudah hamil sedangkan dirinya belum. Ada rasa kekhawatiran yang dirasakan oleh Kalila. Dirinya tanpa sadar mengusap perutnya sendiri sambil berkata di dalam hatinya. "Ya Allah. Semoga Engkau segera memberikanku keturunan yang sholih dan sholihah. Aamiin."


"Kalau kamu Kalila. Apakah sudah menyusul Deena?" tanya Misha.


Kalila dengan wajah lesunya langsung menggelengkan kepalanya. "Belum."


Cyra, Misha dan Deena langsung terdiam. Mereka berpikir bagaimana caranya supaya Kalila tidak terpuruk dengan keadaan dan juga tidak tersinggung mendengar kabar kehamilannya Deena.


"Allah Maha Mengetahui Kalila. Percayalah. Kamu belum diberikan momongan bukan karena Allah tidak sayang kepadamu. Tapi karena Allah ingin melihat kamu lebih baik lagi dalam memperbaiki diri. Sebab Allah yang lebih tahu mana yang baik untuk hamba-Nya," ucap Cyra.


"Iya Kalila. Lagi pula kamu menikahnya 'kan baru sebentar. Ambil segi positifnya ya. Kamu sama kak Abraham malah bisa menghabiskan waktu berdua dan bisa pacaran halal dengan bebas," Misha mencoba menyemangati Kalila.


Kalila tersenyum mendengar ucapan Cyra dan Misha. "Iya. Terimakasih. Insyaallah aku akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya."


"Kamu tetap sahabat kami Kalila. Kami akan membantumu jika kamu dalam kesulitan sekalipun," Deena tersenyum manis.


"Terimakasih Deena," Deena langsung mengangguk kepada Kalila.

__ADS_1


Sedangkan para laki-laki hanya diam saja sambil mendengarkan para wanita yang sedang asik mengobrol.


"Lagi pula aku juga tidak terlalu terburu-buru ko untuk mempunyai anak. Sekasih-Nya saja," ucap Abraham.


"Bismillah. Lebih banyak berdoa dan nikmati dulu waktu berduanya. Sepertiku yang selalu ingin berdekatan dengan Cyra," Akmal ikut berbicara untuk merubah suasana.


Ucapan Akmal sukses membuat Cyra tersenyum dibalik niqabnya.


"Kalau kamu tuh tidak perlu diragukan lagi. Pastinya mau menempel terus. Seperti upil di dalam hidung! Atau jangan-jangan kamu juga tidak membiarkan Cyra untuk keluar kamar hanya untuk melayanimu saja!" goda Hamzah.


Akmal langsung tertawa terbahak-bahak mendengar godaan dari sang sahabat.


"Sudah-sudah. Ada banyak anak kecil di sini," Akmal mencoba meredakan suara tawanya.


"Mereka masih bayi! Mana mungkin mengerti ucapan Hamzah!" Abraham melempar bantal sofa ke arah Akmal yang masih tertawa.


Akmal berhasil menangkis lemparan bantal sofa dari Abraham. Karena merasa gemas kepadanya. Sedangkan para cewek juga masih pada tertawa melihat tingkah suami mereka yang seperti anak kecil.


Sedang asik bercanda, tiba-tiba telinga mereka semua mendengar suara adzan isya' berkumandang. Sebagai laki-laki yang baik. Akmal langsung mengajak ke tiga sahabatnya untuk menunaikan ibadah sholat isya' di masjid yang tidak jauh dari rumahnya.


Sedangkan untuk para wanita. Cyra langsung mengajak mereka untuk sholat di ruang sholat yang ada di rumahnya.


"Rumah kamu benar-benar sangat bagus sekali ya Cyra. Aku suka interiornya," Misha mengagumi rumah Cyra.


Selesai menunaikan ibadah sholat isya', semua orang langsung kembali ke ruang tamu rumah Akmal.


Fadli yang juga datang bersama Deena. Dia mencoba bertanya kepada Akmal perihal pengunduran dirinya sebagai Dosen.


"Mas Akmal apakah benar mau mengundurkan diri jadi Dosen?"


Karena berhubung mereka berdua tidak berada di lingkungan kampus. Fadli sengaja memanggil Akmal dengan panggilan Mas.


Abraham yang mendengar ucapan Fadli langsung ikut bertanya juga kepada Akmal. "Apakah benar Mal! Kamu mau mengundurkan diri jadi Dosen?"


"Bukankah menjadi seorang Dosen adalah cita-citamu dari kecil?" Hamzah menambahkan.


Cyra yang mendengar pertanyaan itu semua langsung mengalihkan pandangannya ke arah Akmal. Sebab dirinya ingin tahu jawaban apa yang akan Akmal berikan kepada ke tiga sahabatnya.


Akmal menganggukkan kepalanya. "Iya benar. Aku memang sudah memberikan surat pengunduran diriku kepada pak Rektor. Tinggal menunggu di ACC saja olehnya."


"Tapi kenapa Mas Akmal sampai mengundurkan diri? Di kampus kemarin sempat heboh lho mendengar Mas Akmal mau mengundurkan diri," ucap Fadli.

__ADS_1


"Masa sih sampai heboh, Fadli?"


Fadli mengangguk. "Iya. Tapi cuma di kalangan Dosen saja. Itupun dapat bocoran dari pak Dekan."


"Aku cuma ingin menjadi suami yang baik saja ko. Aku tidak tega melihat istriku kecapekan mengurus butik seorang diri. Belum lagi toko sparepartku yang juga butuh perhatianku. Belum Yayasan."


"Salah satu di antara itu semua harus ada yang aku korbankan. Yaitu menjadi seorang Dosen."


"Walau aku sudah tidak bisa mengajar lagi. Setidaknya ilmuku masih bisa bermanfaat untuk ku ajarkan kepada anak-anak dan istriku."


Cyra tersenyum dibalik niqobnya. Dirinya merasa tersanjung mendengar jawabannya Akmal.


"Oh ya Cyra. Tadi kamu belum cerita tentang konveksi. Itu konveksi punya siapa?" tanya Kalila.


Akmal langsung mengalihkan pandangannya ke arah Cyra.


"Itu konveksi milik orang lain. Tapi sudah bekerjasama dengan butik milik kak Mirza. Dan hasilnya dibagi dua. Mereka tidak boleh menjahit baju jika bukan dari butik kak Mirza."


"Waktu aku buka instagram milikku. Tidak sengaja aku melihat artis ternama yang mengetag akun instagrammu Cyra. Katanya gaun pernikahannya dan semua baju yang dipakai keluarga besarnya, serta bridesmaidnya itu dari butik milikmu. Apakah itu benar?" tanya Deena.


Cyra tersenyum sambil mengangguk. "Iya. Dia mengambil di butikku. Dan dirinya sangat suka dengan hasilnya. Walau pengerjaannya cuma dalam waktu satu minggu saja."


Misha sangat terkejut. "Apa! Cuma satu minggu saja!"


Suara Misha yang keras sampai membuat baby Abbiyya yang sedang tidur langsung terbangun karena terkejut.


"Kamu ih Sayang. Jadi terbangun 'kan!" tegur Hamzah.


Hamzah langsung mengambil alih baby Abbiyya untuk dia tenangkan. Sedangkan Misha hanya tertawa saja seperti tanpa merasa bersalah.


"Iya. Itu pengerjaannya cuma satu minggu saja. Kami mengeluarkan banyak tenaga dan membuang waktu kami semua untuk lembur mengerjakan pesanannya," bukan Cyra yang menjawab melainkan Akmal.


"Sepertinya bisnis kak Mirza semenjak kalian pegang terlihat semakin sukses ya," kata Abraham.


Akmal langsung mengucap syukur. "Alhamdulillah. Aamiin."


"Semua ini juga berkat kak Mirza, Kak. Karena kami cuma meneruskan saja supaya bisnis yang sudah dibangun susah payah olehnya tidak hancur ditengah jalan," jawab Cyra.


Abraham mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengar jawabannya Cyra.


Sebagai seorang sahabat yang baik. Dirinya juga ikut senang mendengar Akmal dan Cyra semakin sukses. Karena Abraham tahu bagaimana sifat Akmal dan Cyra. Walau mereka sukses dan kaya. Tapi Akmal dan Cyra selalu berusaha tawadhu'.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2