IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
SAUDARA JULID


__ADS_3

"Hamzah! Apa kamu masih hidup?"


Hamzah langsung tersadar ketika dibentak oleh Abraham seperti itu. "Aku masih hidup, bodoh!"


"Lalu kenapa kamu malah diam saja tidak menjawab ucapanku?"


Hamzah tertawa garing seperti tanpa dosa. "Maaf. Aku malah mengangguk tadi."


"Sudah sekarang ceritakan kepadaku. Bagaimana Akmal dan Cyra bisa sampai kecelakaan seperti itu?"


Abraham menuntut penjelasan dari Hamzah. Dan Hamzah langsung menceritakan kejadian semuanya kepada Abraham.


"Jadi bu Aish itu sudah benar-benar kamu masukkan ke dalam penjara 'kan Hamzah?"


Hamzah mengangguk lagi di seberang sana. "Iya. Dia sudah kumasukkan ke dalam penjara."


"Baguslah. Jika sampai kamu atau Akmal belum memasukkannya ke dalam penjara. Aku sendiri yang akan menyeretnya!"


"Kalau begitu, nanti malam kamu temani aku ke rumah Akmal. Tidak ada penolakan!"


Mau tidak mau, Hamzah pun pasrah. "Baiklah."


"Baiklah. Lanjutkanlah pekerjaanmu. Aku juga mau lanjut bekerja lagi."


Hamzah mengangguk lagi walau Abraham tidak bisa melihatnya. "Iya." Dan akhirnya, sambungan telepon mereka lalu terputus.


Meninggalkan Hamzah dan Abraham. Kita beralih ke Cyra dan Akmal lagi.


Tidak terasa jam pertama Akmal mengajar sudah selesai. Dan saat ini mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke ruang kantor Akmal.


Hampir saja masuk ke dalam ruang kantornya. Tiba-tiba Akmal dipanggil oleh seseorang.


"Eh Pak Zudi. Ada apa ya Pak?"


"Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa Pak Akmal sekarang."


Akmal mengangguk. "Terimakasih Pak."


"Titip Pak Akmal ya Nyonya. Dia laki-laki yang baik dan juga paling tampan di kampus ini. Jadi wajar saja jika banyak kaum hawa yang menyukainya dan tidak terima ketika melihatnya jalan bersama Anda."


Cyra merasa sangat bingung sekali dengan ucapan pak Zudi. Sedangkan Akmal tersenyum manis penuh arti mendengar ucapan pak Zudi.


Hanya mengangguk pelan saja yang bisa Cyra berikan kepada pak Zudi.


"Baiklah. Saya pamit mengajar dulu ya Pak Akmal, Nyonya."

__ADS_1


Cyra dan Akmal langsung mengangguk menanggapi pak Zudi. Dan mereka pun lalu berpisah tujuan masing-masing.


"Apakah nanti masih ada jam mengajar lagi Kak?"


Cyra langsung duduk di kursi yang ada di ruang kantor Akmal.


"Masih ada satu mata kuliah lagi. Tapi nanti sekitar jam satu siang," Akmal menjedanya. "Emm. Apakah kamu sudah capek?"


Cyra mengangguk sambil menahan sesuatu di tubuhnya. "Dada Cyra sakit Kak."


Akmal benar-benar sangat khawatir sekali. "Sakit! Sakit kenapa Cyra?"


Cyra sedikit membuka hijabnya yang menutupi dadanya. "Rasanya air ASI-nya penuh. Hingga membuat gamis Cyra basah."


Akmal langsung segera mengambil jaket miliknya yang ada di lokernya. "Ini pakailah. Supaya tidak terlihat basah seperti itu."


Cyra langsung memakai jaket tersebut untuk menutupi dadanya yang sudah basah. Apa yang dialami oleh Cyra adalah hal yang wajar. Karena dia sedang menyusui. Jika sekitar dua jam atau lebih tidak segera diminumkan kepada sang baby, pasti akan seperti itu. Dan itu rasanya sangat sakit sekali, biasa bisa sampai membuat demam sang ibu.


"Apakah sakit sekali, Cyra?" Akmal benar-benar terlihat khawatir kepada Cyra.


Cyra mengangguk lemah. "Iya Kak. Dan baru kali ini Cyra mengalaminya."


"Kamu beristirahatlah dulu di sofa itu. Atau begini saja. Kita pulang saja yuk, biar Kakak meninggalkan tugas dulu untuk anak-anak."


Dengan lirih Cyra menjawab. "Terserah Kakak saja."


Tidak lama asisten dosennya masuk ke dalam ruang kantornya. Dan Akmal langsung memberikan beberapa materi serta tugas untuk mereka kerjakan nanti ketika jam mata kuliahnya berlangsung.


Setelahnya Akmal langsung mengajak Cyra untuk pulang ke rumah ayah Rafiq.


"Kak. Bagaimana kalau kita mampir ke cafe sebentar," ucap Cyra sambil memakai sabuk pengamannya.


"Boleh. Apakah kamu sudah lapar?"


Cyra mengangguk sambil menyalakan mesin mobilnya. "Iya."


"Ok. Terserah kamu mau ke cafe mana. Kakak menurut saja."


"Baiklah," Cyra mengangguk setuju.


Akhirnya mobil yang Cyra kendarai benar-benar pergi dari area kampus untuk mencari cafe terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


Sekitar dua puluh menit berkendara. Tiba-tiba Cyra membelokkan stir mobilnya ke sebuah cafe yang menurutnya ramai dan enak untuk dia kunjungi bersama Akmal.


"Jangan lupa dikunci mobilnya."

__ADS_1


Cyra mengangguk sambil memencet tombol kunci mobilnya. Dan mereka berdua lalu masuk bersama duduk di salah satu meja yang masih kosong yang ada di dalam cafe.


Kedatangan Akmal dan Cyra langsung disambut ramah oleh para waiter atau waitress yang bekerja di situ. Setelah menyebutkan ingin makan dan minum apa, para waitress itu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka berdua.


"Apakah tidak apa-apa Kakak tinggal pulang. Sedangkan nanti masih ada jam mengajar lagi?"


Cyra sangat takut sekali. Jika Akmal terkena teguran dari kampus. Karena meninggalkan tanggung jawabnya.


Akmal yang mengerti kegelisahan Cyra mencoba menenangkannya. "Tenang saja Cyra. Lagipula pihak kampus tahu, jika Kakak sedang sakit seperti ini. Pasti mereka mengerti dan tidak akan marah."


"Yang terpenting Kakak sudah meninggalkan banyak tugas dan catatan untuk para murid-murid Kakak."


Cyra mengangguk mengerti ucapannya Akmal. Dan tidak lama makanan serta minuman yang mereka pesan sampai juga di meja mereka.


"Apakah Kakak sudah bisa makan sendiri?"


Cyra merasa kasihan dengan Akmal yang terlihat kesusahan dalam menyendokkan makanannya.


"Bisa. Akan Kakak coba." Walau bisa, tapi makanan itu selalu terjatuh kembali ke piring lagi.


Cyra yang tidak tega, lalu mengambil piring Akmal dan membantunya menyuapkan makanan tadi ke dalam mulutnya.


Akmal tertegun melihat sikap Cyra yang tidak malu menyuapinya di tempat umum seperti itu. Dengan wajah kaku dan menatap Cyra cukup dalam. Akmal pun mau membuka mulutnya ketika mendapatkan suapan dari Cyra.


Setelah menyuapkan satu sendok kepada Akmal. Cyra lalu menyuapkan satu sendok makanannya ke dalam mulutnya sendiri. Begitu terus hingga tidak terasa makanan mereka berdua tinggal sedikit.


Sedang asik makan sambil berbincang. Tiba-tiba meja Akmal dan Cyra didekati oleh salah satu wanita yang sudah berumur.


"Oh. Jadi begini sikap kamu Cyra! Suami baru saja meninggal tapi kamu sudah bermesraan dengan adik dari suami kamu sendiri!"


Ucapan ibu itu sukses membuat Cyra dan Akmal merasa terkejut. Begitupun dengan para pengunjung cafe yang langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Akmal dan Cyra. Sebab ibu-ibu itu berbicara dengan nada yang terdengar keras.


"Apa maksud ucapan Budhe?"


Akmal benar-benar tidak terima dengan ucapan sang budhe. Sedangkan Cyra masih terlihat syok sampai tidak bisa berbicara.


"Kalian berdua tidak tahu malu. Kakak kamu baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu. Tapi kamu sudah berani mendekati istrinya!"


Budhenya Akmal benar-benar butuh diruqyah sepertinya. Karena ucapannya sangat pedas sekali.


"Dan kamu Cyra! Dasar wanita murahan! Kemarin kakaknya kamu nikahi. Sekarang kamu adiknya goda juga!"


Wajah Akmal memerah. Tangannya yang tidak sakit terkepal sangat kuat sekali. Dan tiba-tiba Akmal langsung menggebrak meja di depannya hingga meja itu patah menjadi dua. Dan semua makanan serta minuman yang ada di atas meja itu pecah berhamburan di atas lantai.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2