IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
DITERIMA


__ADS_3

Selama di perjalanan pulang. Tidak ada pembicaraan sama sekali antara Akmal dan Cyra. Mereka saling diam dengan keterbungkaman dan pikiran mereka masing-masing.


Cyra yang takut memulai terlebih dahulu untuk berbicara. Sedangkan Akmal sedang tidak mood untuk mengobrol.


Ada hati yang rasanya ingin berkata kepada dunia. Jika Cyra adalah miliknya. Namun di sisi lain, dia dihadapkan dengan kenyataan yang mana saingannya lebih berat dari kakaknya dulu.


Title dibelakang nama orang yang meminang Cyra. Membuat Akmal menjadi minder. Dan tiba-tiba juga membuatnya menjadi tidak percaya diri untuk terus melangkah. Hingga melupakan jika Cyra tidak pernah memandang itu semua.


Sunyi sepi. Hanya terdengar suara deru mesin mobil saja saat ini yang ada di telinga Akmal dan Cyra.


Akmal yang humble sekarang berubah menjadi Akmal yang pendiam. Akmal yang suka bercanda dan Akmal yang suka menggoda malam ini tidak Cyra lihat di dirinya.


Cyra terus memainkan jari jemari tangannya untuk mengurangi rasa gugupnya. Dan Akmal yang melihat akan hal itu. Dirinya cuma meliriknya saja tanpa mau mengatakan satu patah kata pun.


Jika lampu sedang merah. Akmal lebih memilih mengetuk-ngetuk stir mobilnya. Daripada menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama Cyra sembari menunggu waktu menjadi hijau.


Sungguh benar-benar situasi yang sangat mereka berdua tidak sukai. Tapi tidak ada yang mau memulai berbicara terlebih dahulu. Hingga akhirnya mobil yang Akmal kendarai sampai juga di rumah abi Rasyid.


Seperti biasanya. Akmal akan langsung turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobilnya untuk Cyra.


Tapi ada yang berbeda sedikit kali ini. Karena Akmal membuka pintunya dengan mulut terkunci tanpa ada embel-embel bercanda atau menggoda.


Ketika Akmal ingin mengitari mobilnya. Langkah kakinya tiba-tiba dihentikan oleh Cyra.


"Kak Akmal!"


Akmal tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya lalu berbalik badan untuk menghadap ke arah Cyra.


Ketika mereka sampai di rumah abi Rasyid, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Cukup lumayan malam bagi Cyra yang pergi berdua bersama laki-laki yang bukan mahramnya.


"Iya." Akmal menjawabnya sangat simple sekali.


Cyra maju satu langkah ke depan, supaya tidak terlihat terlalu jauh dengan Akmal.


"Apakah Kakak tidak mau tahu apa isi hati Cyra?" Akmal menggelengkan kepalanya.


"Apa itu penting bagi Kakak, Cyra? Jika nantinya ujung-ujungnya kamu menolak Kakak?"


Deg! Jantung Cyra seperti dipukul menggunakan sebuah palu.


"Sepertinya Kakak yang sudah terlalu berharap kepadamu Cyra. Apa pantas seorang Dosen seperti Kakak bersanding dengan wanita sepertimu?"

__ADS_1


"Bahkan ada laki-laki yang jauh lebih dari Kakak yang juga menginginkanmu."


Cyra masih diam ingin tahu bagaimana kelanjutan ucapannya Akmal.


"Mungkin dulu waktu muda Kakak terlalu banyak dosa. Hingga membuat kisah cinta Kakak diuji dengan begitu sulitnya."


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Kak! Jika Allah sudah berkehendak. Percayalah," ucap Cyra.


"Kakak harus percaya akan apa Cyra?"


"Apa Kakak harus percaya jika kamu mau melangkah bersama Kakak? Dan menjadi satu keluarga kecil seperti yang Kakak inginkan?" Cyra menggelengkan kepalanya.


"Tidurlah. Ini sudah malam. Kasihan Aiza yang sudah menunggumu daritadi." Akmal langsung berbalik badan ingin masuk ke dalam mobil.


Namun tanpa Akmal duga. Cyra langsung berlari mengejarnya dan langsung mencekal pergelangan tangannya.


Jantung Akmal tiba-tiba berdetak lebih kencang sekali dengan apa yang dilakukan oleh Cyra kepadanya.


Akmal melihat ke arah pergelangan tangannya. Lalu berbalik badan lagi untuk menghadap ke arah Cyra yang sudah berada di depannya.


"Cyra mau Kak! Cyra mau menjadi istri Kakak!" mata Akmal langsung melotot mendengar ucapannya Cyra.


Jantungnya juga berdetak semakin kencang saja cuma karena mendengar ucapan tersebut.


"Tidak! Kakak tidak salah mendengar."


"Cyra sadar. Selama beberapa hari banyak laki-laki yang silih berganti melamar Cyra. Semuanya tidak ada yang bisa membuat jantung Cyra berdebar seperti saat ini".


"Ternyata. Cuma Kak Akmal saja yang bisa membuat jantung ini berdebar selain Kak Mirza."


"Cyra siap melangkah bersama Kakak. Cyra tidak peduli apa kata orang-orang nanti. Karena bagi Cyra saat ini. Cyra ingin berbahagia bersama Aiza dan orang yang Cyra inginkan." Akmal tersenyum super manis sekali.


"Kalau begitu. Selesai masa iddah. Maukah kamu melangsungkan pernikahan dengan Kakak, Cyra?" Cyra mengangguk yakin dengan jawabannya.


"Iya Cyra mau. Karena itu lebih baik untuk kita. Terlebih untuk menghindari fitnah dan godaan setan." Akmal benar-benar bahagia sekali.


"Kakak akan sampaikan berita ini kepada mama dan ayah." Cyra mengangguk lagi.


"Iya. Cyra juga akan bercerita semuanya kepada umma dan abi," gantian Akmal yang sekarang mengangguk.


"Baiklah. Sana masuk. Sudah malam. Kakak mau pulang dulu."

__ADS_1


"Iya. Kakak hati-hati di jalan. Jika sudah sampai rumah segera kabari Cyra ya Kak." Akmal langsung mengangguk semangat sekali.


Setelahnya. Akmal langsung masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang teramat senang sekali.


Lambaian tangan Cyra mengiringi mobil Akmal yang berlalu ke luar dari dalam pintu gerbangnya. Setelah itu, dirinya langsung masuk ke dalam rumah ketika mobil Akmal sudah tidak terlihat lagi di depan matanya.


Alangkah terkejutnya Cyra. Di saat dirinya baru saja masuk ke dalam rumah. Dia langsung melihat abi Rasyid dan umma Nada ada di balik jendela kaca.


"Umma! Abi!"


Umma Nada dan abi Rasyid tersenyum tipis mendengar sapaan terkejut dari Cyra.


"Ayo duduk dulu Nak." ajak abi Rasyid kepada Cyra.


Mereka bertiga lalu duduk di sofa ruang tamu yang ada di situ.


"Apakah Abi dan umma tidak salah mendengar? Dengan apa yang tadi kamu ucapkan kepada nak Akmal?" Cyra tiba-tiba menjadi malu kepada ke dua orang tuanya.


"Iya Abi. Cyra benar-benar serius dengan ucapan Cyra tadi kepada kak Akmal." Cyra berbicara sambil menunduk.


"Tatap mata Abi." Cyra langsung mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah sang abi.


"Apa kamu siap dengan konsekuensi yang akan kamu dapatkan nantinya, Nak?"


Lagi-lagi Cyra langsung mengangguk dengan mantap. "Cyra siap Abi. Karena hati tidak bisa dibohongi. Terlebih lagi Aiza begitu menyayangi kak Akmal. Cyra juga ingin bahagia seperti para wanita yang lainnya."


"Jika itu keputusanmu. Abi akan mendukungnya. Karena nak Akmal tidak kalah sholeh seperti nak Mirza."


"Iya Nak. Umma juga mendukungmu. Karena bagaimanapun juga. Kebahagiaan seorang anak adalah kebahagiaan bagi ke dua orang tuanya. Walaupun ada banyak orang yang tidak menyukai kebahagiaan itu."


Cyra benar-benar terharu mendengar dukungan dari ke dua orang tuanya. "Terimakasih Umma, Abi."


"Tanpa kalian juga. Cyra belum tentu bisa bertahan dengan masalah yang Cyra hadapi saat ini."


"Tapi ingat Nak. Tunggu sampai masa iddahmu selesai. Yaitu empat bulan sepuluh hari." Cyra mengangguk mengerti.


"Besok malam suruhlah nak Akmal datang ke sini bersama mas Rafiq dan mbak Jian. Karena ada yang ingin Abi sampaikan kepadanya."


Cyra mengangguk lagi. "Baik Abi. Nanti akan Cyra sampaikan kepada kak Akmal."


Abi Rasyid hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Setelahnya, Cyra pun memilih berpamitan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2