IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KEBOHONGAN AKMAL


__ADS_3

Akmal terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan dari Aalifa.


" Emm, maafkan Kakak Aalifa, Kakak cuma ke ingat dengan Cyra saj,a yang sedang sendirian di rumah ," jawab Akmal berbohong.


" Bukannya di rumah ada Mama, Kak? ," jawab Aalifa.


" Iya, tadi kebetulan Mama sama Ayah sedang pergi, jadi Cyra sendirian di rumah, sedangkan, jika tidak ada Mama dan Ayah, Kak Mirza selalu menitipkan Cyra kepada Kakak ," jawab Akmal lagi.


" Memangnya Kak Mirza apa belum pulang mengajar Kak?? ," tanya Aalifa.


Sepertinya Aalifa percaya akan kebohongan yang Akmal ciptakan.


" Belum ," jawab Akmal.


" Maafkan Kakak, bukan maksud Kakak ..... ," kata Akmal, tapi belum selesai sudah terpotong oleh perkataannya Aalifa.


" Iya, tidak apa-apa, maafkan Aalifa juga Kak, yang tadi sudah bertanya yang tidak-tidak kepada Kakak ," kata Aalifa juga.


Akmal hanya menjawab dengan tersenyum dan juga mengangguk saja.


" Maafkan Kakak, Aalifa, sudah berbohong kepadamu, karena kamu tidak sepatutnya tahu tentang perasaan Kakak untuk Cyra ," kata batin Akmal.


Mereka lalu terlibat pembicaraan santai, dan supaya Aalifa tidak semakin curiga kepadanya, Akmal mencoba fokus ketika diajak berbicara olehnya.


Akmal dan Aalifa sampai di rumah Pak Ismail, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Pak Ismail, Mama Atika dan juga Aalifa, yang takut jika Akmal kenapa-kenapa di jalan, mereka mencoba membujuk Akmal untuk menginap di rumah mereka saja.


Namun, Akmal yang teguh pendiriannya, dia tetap kekeh menolak dan ingin pulang saja ke rumah sang Ayah.


Mau tidak mau, mereka bertiga menghormati keputusan Akmal, dan Aalifa menyuruh Akmal untuk segera mengabarinya, ketika dirinya sudah sampai di rumah nanti.


Akmal saat ini sedang perjalanan pulang menuju ke rumah sang Ayah, dan karena hatinya masih belum merasa baik-baik saja, plus kebetulan juga, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras sekali, akhirnya Akmal memilih membelokkan setirnya, untuk menginap di salah satu hotel ternama yang ada di kota itu.


Akmal sengaja memesan satu kamar untuk dirinya, karena perjalanan yang akan dia tempuh masih cukup lama, dan dirinya juga tidak mau terjadi apa-apa di jalan.


Baru saja Akmal masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja dirinya mendapatkan telepon dari sang Kakak.


" Halo, Assalamu'alaikum Kak ," salam dari Akmal.


" Akmal, apakah kamu sudah di perjalanan pulang ke rumah?? ," tanya Mirza.

__ADS_1


" Memangnya kenapa Kak?? ," tanya Akmal balik.


" Kepala Kakak pusing sekali, Kakak ingin sekalian kamu membelikan obat di apotek ," jawab Mirza.


" Astaghfirullah Kak ," kata Akmal sangat khawatir.


" Biar Akmal menyuruh satpam saja ya Kak, kalau menunggu Akmal sampai rumah kelamaan, apalagi di sini sedang turun hujan yang sangat lebat ," kata Akmal lagi.


" Iya baiklah ," jawab Mirza.


Mirza dan Akmal lalu memilih mengakhiri sambungan teleponnya, dan Akmal langsung saja menghubungi satpam rumahnya, untuk membelikan obat yang biasanya di konsumsi oleh Mirza, di apotek yang buka dua puluh empat jam.


Akmal juga berpesan kepada satpam tersebut, untuk jangan memberitahukan perihal itu kepada siapapun.


Mirza yang kepalanya pusing, dia tidak bisa tidur sama sekali, rasanya ingin sekali dirinya membangunkan sang istri, akan tetapi, dia tidak tega melihat Cyra tidurnya terganggu.


Mirza yang tidak bisa tidur, dia memilih beranjak turun dari atas ranjang dan berjalan ke arah jendela kamarnya, sambil terus memijat kepalanya yang terasa sangat pusing sekali.


Akmal yang mendapatkan telepon dari sang Kakak, pikirannya menjadi bercabang ke mana-mana, sebab di saat sang Kakak membutuhkan bantuannya, dirinya malah sedang tidak berada di rumah.


Cyra tidak sengaja terbangun, di saat tangannya tidak mendapati sang suami ada di ranjang sebelahnya.


Berusaha membuka mata, akhirnya Cyra melihat sang suami sedang berdiri di depan jendela kamar, sambil terus memijat dahi dan juga kepalanya.


" Eh ko Umi bangun ," jawab Mirza sambil berjalan ke arah ranjang.


" Abi kenapa ko tidak bisa tidur?? ," tanya Cyra.


" Abi sakit?? ," tanya Cyra lagi.


" Tidak sayang, kepala Abi cuma sedikit pusing saja, karena terlalu banyak yang harus Abi kerjakan tadi di sekolahan ," jawab Mirza.


Entahlah, ini Mirza jujur apa berbohong kepada Cyra, kita tidak tahu dan tidak bisa menebaknya.


" Sini, biar Umi pijat kepalanya ," kata Cyra.


" Tidak perlu, Umi tidur saja ya, biar si dedek sehat ," jawab Mirza.


" Sudah sini Abi ," kata Cyra sambil menarik tangan Mirza untuk rebahan beralaskan p4h4nya.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Cyra pun memijat lembut kepala sang suami, supaya tidak semakin pusing.

__ADS_1


Mirza yang awalnya menolak, lama-kelamaan menikmatinya juga pijatan tangan sang istri, hingga akhirnya dia bisa tertidur lelap.


Cyra tersenyum melihat Mirza bisa tidur juga, dan sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.


Dengan perlahan, Cyra menaruh kepala Mirza ke bantal yang ada, dan dia lalu turun dari atas ranjang untuk membukakan pintu kamarnya yang ternyata ada satpam rumahnya.


" Iya Pak ," kata Cyra.


" Ini obat dari Tuan Akmal, Nyonya ," jawab Pak Satpam sambil memberikan obat yang sudah dibelinya.


" Oh ya, terimakasih ya Pak ," jawab Cyra sambil menerima obat tersebut.


" Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi ke depan lagi ya Nyonya ," pamit Pak Satpam, dan Cyra hanya mengangguk sambil tersenyum saja.


Walau memakai niqob, Pak satpam tadi tahu, jika Cyra sedang tersenyum kepadanya.


Cyra langsung saja menutup kembali pintunya, ketika Pak satpam tadi sudah berlalu pergi dari depan kamarnya, dan baru saja menutup pintu, Cyra langsung mendengar ponsel sang suami yang sedang berdering.


Cyra mencoba melihatnya, siapakah orang yang sedang menelpon suaminya di tengah malam begitu, dan ketika sudah dilihat ternyata itu dari Akmal.


" Halo Kak Mirza, tadi obatnya sudah dibelikan sama Pak Satpam kan?? ," kata Akmal, ketika teleponnya sudah diangkat oleh Cyra.


" Iya Kak, terimakasih sudah membelikan obat untuk suami Cyra ," jawab Cyra yang sungguh sangat mengejutkan Akmal.


" Cy-cyra?? ," kata Akmal.


" Iya, saya Cyra ," jawab Cyra.


" Kak Mirza baru saja tidur, setelah ku pijat kepalanya, dan sekali lagi, terimakasih Kakak sudah membelikan obatnya, serta sudah perhatian kepada suami Cyra ," kata Cyra lagi, dan dia sengaja selalu menyebut kata suami, supaya memperjelas status Akmal yang bukan siapa-siapa baginya.


" Iya Cyra, sama-sama, Kak Mirza, Kakak kandungku, jadi aku pasti akan merasa sedih jika dia sedang sakit ," jawab Akmal.


" Baiklah, Cyra tutup dulu teleponnya Kak, assalamu'alaikum ," kata Cyra.


" Iya, wa'alaikumussalam ," jawab Akmal, dan akhirnya Cyra langsung mematikan sambungan teleponnya, ketika sudah mendengar jawaban salam dari Akmal.


Akmal di seberang sana, menjadi bertanda tanya sendiri, apakah sang Kakak sudah bercerita jujur kepada Cyra, karena malam ini Cyra tahu, jika Mirza sedang merasa pusing kepala.


Akmal akan memastikannya sendiri, nanti, jika dia sudah sampai rumah, dan bertanya langsung kepada sang Kakak.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2