IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
TERUNGKAP SEMUA


__ADS_3

Setelah dikompres menggunakan air hangat. Cyra sudah merasa lebih mendingan sedikit, walau ASI-nya masih terus menetes.


Sedangkan Akmal saat ini menunggu kedatangan ke dua orang tuanya di ruang keluarga. Setelah ke dua orang tuanya datang. Akmal langsung menyuruh sang mama membawa baby Zahwa menemui Cyra.


"Ada apa memangnya Akmal?" Mama Jian merasa khawatir dan juga bingung.


Akmal memilih tidak menjawabnya. "Nanti Mama tahu sendiri."


Sesampainya di depan kamar Cyra. Mama Jian langsung masuk saja, dan Cyra ternyata sedang ditemani oleh bi Narsih.


"Aiza." Cyra merentangkan ke dua tangannya untuk meminta baby Zahwa dari gendongannya mama Jian.


"Ada apa Bi?" Mama Jian bertanya kepada bi Narsih ketika sudah memberikan baby Zahwa kepada Cyra. Dan Cyra langsung mencoba meenyusui baby Zahwa sambil menahan rasa sakit di putiing dadanya.


"Tidak apa-apa ko Bu. Cuma air ASI-nya mbak Cyra sudah kepenuhan. Jadinya bengkak dan sedikit demam mbak Cyranya."


Mama Jian sedikit lega mendengar jawaban dari bi Narsih. "Alhamdulillah. Mama lega mendengarnya."


"Itu efek jika sedang meenyusui, Cyra. Tahan ya. Dan minumkan secara bergantian, supaya dadanya tidak bengkak lagi," ucap mama Jian lagi.


Cyra hanya mengangguk saja dan sambil terus meenyusui baby Zahwa yang sangat lahap sekali minumnya.


"Mama tinggal ke luar dulu ya Cyra. Di luar ada abi sama umma kamu. Biar kamu ditemani sama bibi dulu," kata mama Jian.


Cyra cukup terkejut mendengarnya. "Abi sama umma ke sini, Ma?"


Mama Jian mengangguk. "Iya. Tadi mereka ikut khawatir ketika mendengar Mama ditelepon Akmal."


"Ya sudah Mama tinggal dulu." Cyra mengangguk lagi. Dan mama Jian langsung berlalu ke luar dari dalam kamar Cyra menuju ke ruang keluarga lagi.


"Akmal. Coba jelaskan apa yang sudah terjadi tadi di cafe saat kamu bersama Cyra?"


Itulah pertanyaan yang didengar oleh Mama Jian ketika baru saja sampai di ruang keluarga.


"Ayah tenang dulu. Jangan langsung memarahi Akmal. Karena kita tidak tahu duduk permasalahannya." Ucap mama Jian langsung ikut duduk di sofa samping ayah Rafiq.


Ternyata sang budhe tadi setelah pergi dari cafe langsung menelepon dan mengadu kepada ayah Rafiq. Dan ayah Rafiq yang kebetulan ada di rumah sang besan pun, membuat abi Rasyid jadi tahu juga.


Akmal lalu menceritakan kronologisnya tentang kejadian di cafe tadi kepada ke dua orang tuanya dan kepada ke dua orang tua Cyra.


"Tapi kenapa harus Cyra, Nak?"

__ADS_1


Bukannya mau mengelak, tapi Akmal mencoba menjelaskan. "Karena Cyra merasa tidak enak karena sudah membuat Akmal cedera, Abi."


Abi Rasyid dan umma Nada tadi ketika pertama kali melihat Akmal dengan tangan cedera seperti itu merasa sangat terkejut sekali. Sebab tadi di saat ayah Rafiq dan mama Jian berkunjung ke rumahnya. Mereka lupa menceritakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Akmal bersama Cyra kemarin.


Sebelum bertanya soal insiden di cafe tadi. Akmal sudah menceritakan kecelakaan yang dialaminya kemarin bersama Cyra kepada abi Rasyid dan umma Nada. Serta ayah Rafiq juga meminta maaf kepada mereka, karena tadi lupa untuk menceritakannya.


"Semua yang Abi dan Ayah dengar dari budhe itu tidak benar. Justru budhe sudah memfitnah kami dan mengatai Cyra sebagai wanita murahan."


Akmal masih sangat sakit hati sekali jika teringat dengan ucapan budhenya tadi.


"Tolong jangan marahi Cyra. Cyra tidak bersalah Abi. Dia cuma membantu Akmal saja. Dan Cyra juga masih sangat syok atas ucapan budhe."


Tanpa angin dan hujan. Abi Rasyid langsung bertanya kepada Akmal secara to the point. "Apa kamu mencintai Cyra, Akmal?"


Mata Akmal melotot sangat lebar sekali. Begitupula degan mama Jian, ayah Rafiq dan juga umma Nada.


"Jawab jujur kepada Abi." Abi Rasyid menuntut jawaban jujur dari Akmal.


Akmal masih diam saja belum mau berbicara jujur kepada abi Rasyid dan umma Nada. Serta Akmal tahunya jika ke dua orang tuanya juga belum mengetahui kenyataan sebenarnya.


"Kenapa kamu diam saja Akmal?"


"Jika kamu tidak mencintai Cyra. Pasti akan sangat mudah sekali dalam menjawab tidak," ucap abi Rasyid lagi.


Terkejut? Tentu saja semua orang merasa terkejut. Tapi keterkejutan yang dirasakan oleh mama Jian dan ayah Rafiq tidak sebesar abi Rasyid dan umma Nada.


"Apa itu artinya sejak Cyra pertama kali masuk kampus tempat kamu mengajar?" Akmal mengangguk membenarkan.


"Ta-tapi kenapa kamu tidak jujur kepada kita, Nak?" Umma Nada bertanya dengan wajah terlihat syok.


"Menurut Akmal. Kebahagiaan kak Mirza yang terpenting Umma." Jawab Akmal.


Pandangan mereka semua tiba-tiba teralihkan ke arah Cyra yang sedang turun dari atas tangga bersama bi Narsih sambil menggendong baby Zahwa.


Percakapan yang sedang sangat serius tadi. Langsung terhentikan oleh kedatangan Cyra.


"Sepertinya kalian semua sedang sangat serius sekali berbincangnya? Sedang membicarakan apa sih kalau boleh tahu?" Tanya Cyra sambil duduk di sofa yang masih kosong.


"Kamu sudah baikkan Nak?" Umma Nada memilih mengalihkan pembicaraan.


Cyra mengangguk. "Sudah lebih baik Umma setelah di minum sama Aiza."

__ADS_1


"Syukurlah." Umma Nada merasa lega.


Percakapan santai itu tidak berlangsung lama. Sebab abi Rasyid malah memulai percakapan serius itu lagi. "Cyra. Apa kamu juga mencintai Akmal?"


Jedar! Seperti tersambar petir ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang abi.


Akmal langsung menunduk ketika Cyra mengalihkan pandangannya ke arahnya.


"Kenapa kamu malah melihat ke arah Akmal dan tidak menjawabnya Cyra?"


Cyra langsung mengalihkan pandangannya ke arah abi Rasyid lagi.


"Jawab Nak?" Abi Rasyid mencoba melembutkan suaranya. Karena dia tahu jika sang anak tidak bisa dia kasari.


"Tolong jangan memberi pertanyaan yang Cyra sendiri tidak tahu jawabannya." Cyra meneteskan air matanya.


"Tolong jangan membuat Cyra merasa bersalah, merasa gundah dan merasa semakin tertekan karena masalah yang belum teratasi semuanya, karena meninggalnya kak Mirza."


Cyra lalu berbicara lagi. "Jika abi ingin Cyra ikut pulang ke rumah. Cyra mau. Tapi asal jangan menyudutkan Cyra terus menerus. Seakan Cyra ingin segera menikah lagi dan terlalu cepat melupakan kak Mirza!"


Cyra langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi sambil berderai air mata.


Akmal merasa sangat bersalah sekali. Melihat Cyra bersedih lagi karenanya.


"Abi. Cyra belum mencintai Akmal. Tapi Akmal tidak terburu-buru ingin menikah dengannya." Abi Rasyid mendengarkannya sangat serius sekali. Begitupun yang lainnya.


"Cyra tahu jika Akmal mencintainya sejak dulu. Bahkan dulu sebelum kak Mirza menikah dengannya. Akmal sudah pernah melamarnya. Tapi Cyra lebih memilih kak Mirza sebagai suaminya."


Semua orang tua merasa sangat terkejut sekali mendengar ucapannya Akmal.


"Tapi ketahuilah satu hal. Walau kami berada di satu rumah yang sama. Cyra sangat menjaga sekali martabat kak Mirza sebagai suami. Dan Cyra juga selalu menjauh serta jaga diri dari Akmal."


"Janganlah menilai sesuatu hanya sekilas saja, karena kak Mirza sekarang sudah meninggal."


"Tolong lihatlah perasaan Akmal yang sudah berkorban cukup lama dan menahan rasa sakit melihat wanita yang Akmal cintai bermesraan dengan kakak kandung sendiri." Air mata umma Nada dan mama Jian menetes seperti ikut merasakan apa yang dirasakan Akmal dulu.


"Apa salahnya? Jika Akmal sekarang berjuang lagi untuk mendapatkan Cyra. Walau Cyra statusnya janda dari kakak kandung Akmal sendiri?" Akmal terus menjelaskan dengan penuh perasaan.


"Jika takdir bisa Akmal pilih. Akmal lebih memilih kak Mirza hidup. Walau akhirnya Akmal tidak bisa bersatu dengan Cyra." Ucap Akmal lagi.


"Akmal permisi dulu. Mau istirahat, capek." Akmal mengangguk pelan lalu beranjak berdiri menuju ke dalam kamarnya meninggalkan para orang tua yang sedang berdiam diri seribu bahasa. Karena baru saja mendengar kenyataan yang mengejutkan sekali dari Akmal.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2