
Sepertinya baru saja maghrib. Tidak terasa jam sudah menunjukkan waktunya makan malam.
Selesai sholat isya', mereka semua saat ini sedang berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.
"Ma. Tolong panggilkan Akmal ke sini." Mama Jian langsung mengangguk lalu beranjak berdiri menuju ke kamar Akmal.
Sesampainya di depan kamar Akmal. Mama Jian langsung mengetuk pintunya dengan pelan. "Akmal. Makan malam dulu yuk."
"Iya." Akmal menjawabnya dengan suara pelan.
Akmal pun lalu membukakan pintunya dan melihat sang mama masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kenapa kamu tidak pakai baju?" Akmal menghela nafasnya.
"Tidak bisa Ma. Sudah Akmal coba, tangan Akmal sangat sakit sekali jika terlalu banyak bergerak." Mama Jian merasa sangat kasihan sekali.
"Iya sudah. Sini biar Mama bantu kamu." Akmal mengangguk lalu memberikan kaos miliknya kepada sang Mama.
Pandangan mama Jian dan Akmal tiba-tiba teralihkan ke arah seseorang yang baru saja sampai lantai atas. Dan orang itu adalah Cyra yang ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kamarnya.
Cyra berpura-pura tidak peduli dengan apa yang sedang dilakukan oleh mama Jian bersama Akmal. Dan dia memilih langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan mama Jian terus berusaha membantu Akmal untuk memakai bajunya.
Akmal pun juga tidak ingin menuntut banyak ketika melihat Cyra tadi. Karena hal yang lebih baik ia lakukan sekarang adalah diam. Jika berbicara pun serba salah jadinya.
"Apakah sakit?" mama Jian takut jika Akmal merasa sakit.
"Tidak terlalu Ma," jawab Akmal.
"Sudah selesai. Yuk kita ke ruang makan sekarang." Akmal mengangguk saja.
Ketika dirinya melewati kamar Cyra. Akmal melirik sekilas ke arahnya. Sambil terus melangkahkan kakinya turun ke bawah.
Cyra tahu jika Akmal dan mama Jian sudah turun ke lantai bawah. Sebab Cyra memang mengintipnya sedikit tadi.
Setelah dirasa aman, Cyra lalu ke luar dari dalam kamar untuk bergabung bersama yang lainnya.
Tidak banyak yang terjadi di meja makan. Saat ini Cyra dan Akmal terlihat canggung dan juga kaku. Tidak seperti makan malam yang kemarin. Penuh canda tawa serta godaan dari Akmal untuk Cyra.
"Ayo-ayo mari makan. Silahkan dinikmati Rasyid, Nada. Kalian tidak perlu sungkan." Abi Rasyid menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Mas Rafiq," ucap umma Nada. Dan ayah Rafiq langsung mengangguk serta tersenyum.
Mereka semua menikmati makan malam dengan khidmat dan juga nikmat tanpa ada perbincangan yang berarti.
"Akmal sudah selesai. Akmal pamit ke dalam kamar dulu." Akmal langsung berdiri dari duduknya.
Setelahnya tanpa menunggu jawaban dari semua orang. Akmal langsung berlalu menuju ke dalam kamarnya.
Cyra yang melihat sikap Akmal dingin seperti itu, ada rasa di dalam dada yang seakan tidak rela. Tapi Cyra juga tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Ketika keluarga abi Rasyid sudah selesai menikmati makan malamnya. Mereka semua pun lalu berpamitan pulang kepada ayah Rafiq dan mama Jian.
Akmal menyaksikan mereka semua dari atas balkon kamarnya. Dan Cyra yang merasa penasaran dengan Akmal, mencoba mendongak ke atas membuat matanya langsung bisa melihat Akmal ternyata sedang menatapnya.
Melihat Cyra sedang menatapnya. Akmal memilih berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apakah kakak sedang marah dengan Cyra?" Cyra bertanya di dalam hati.
"Jika tidak? Kenapa kakak terlihat dingin kepada Cyra?" Cyra masih bertanya di dalam hatinya.
"Ayo Nak," ucap umma Nada menyuruh Cyra untuk masuk ke dalam mobil.
Cyra hanya mengangguk saja. Dan malam itu Cyra pulang bersama ke dua orang tuanya, tanpa membawa mobil milik Mirza satu pun.
Lambaian tangan dari mama Jian dan ayah Rafiq mengiringi mobil abi Rasyid yang berlalu pergi dari pekarangan rumah mereka.
Setelah mobil sudah tidak terlihat dipandangan mata. Mama Jian dan ayah Rafiq langsung berlalu masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Akmal lalu ke luar dari tempat persembunyiannya. Karena ternyata tadi Akmal tidak masuk ke dalam kamar, tapi cuma mundur beberapa langkah saja supaya Cyra tidak melihat keberadaannya lagi.
"Maafkan kakak Cyra. Maafkan kakak yang tidak bisa mengantarmu pulang malam ini." Akmal merasa sedih di dalam hatinya.
"Kakak berdoa. Semoga cinta kakak tidak berhenti di tengah jalan lagi. Aamiin." Kali ini Akmal langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu penghubung balkon miliknya.
Sekitar jam sembilan malam. Abraham dan Hamzah pun akhirnya sampai di rumah ayah Rafiq untuk menemui Akmal.
Akmal yang mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, dia langsung segera membukakannya.
"Di bawah ada mas Abraham dan mas Hamzah, Mas," jawab bi Tukiyah.
"Abraham dan Hamzah?" bi Tukiyah langsung mengangguk.
Akmal langsung menutup pintunya dari luar. Dan dia lalu segera turun ke ruang tamu untuk menemui ke dua sahabatnya.
"Astaghfirullah. Tangan kamu Akmal?" Abraham terlihat cukup terkejut melihat tangan Akmal yang terluka.
"Tidak apa-apa, cuma cedera sedikit."
"Sedikit apanya!" Abraham sengaja memukul tangan Akmal yang sedang sakit.
"Aarrghh!" Akmal langsung mengaduh kesakitan.
"Bodoh! Sudah tahu Akmal cuma bercanda tidak perlu kamu pukul juga seperti itu!" Hamzah langsung menjitak kepala Abraham.
Abraham tertawa seperti tanpa dosa ketika sedang dimarahi oleh Hamzah.
"Ada apa kamu datang ke sini? Jika tidak penting, pulanglah." Akmal berbicara dengan bernada sarkas.
"Iya sudah. Ayo Hamzah kita pulang saja!" Abraham langsung berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Eh jangan!" cegah Akmal.
"Katanya tadi suruh pulang!" Abraham menunjukkan wajah sebalnya kepada Akmal.
"Aku cuma bercanda. Katakan ada apa?" Abraham langsung duduk kembali.
"Aku cuma mau menjengukmu. Emm, Cyra mana?" kata Abraham.
"Sudah pulang ke rumah abi Rasyid." Abraham hanya ber oh ria saja.
"Bagaimana keadaanmu Mal? Apakah sudah lebih baik?" tanya Abraham.
"Tanganku sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin. Tapi hatiku yang saat ini sedang sakit." Akmal langsung menundukkan kepalanya.
"Ada apa dengan hatimu?" Hamzah ikut bertanya.
"Ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Cyra. Tapi sangat sulit aku menjelaskannya kepada kalian." wajah Akmal terlihat sangat murung.
"Jika kalian ditakdirkan berjodoh. Sejauh apapun jarak membentang, kamu pasti akan berjodoh dengannya Akmal. Percayalah." Hamzah mencoba menenangkan Akmal.
"Jika nanti ada laki-laki lain yang ingin mendekati Cyra. Biar ku .... "
"Mau kau apakan dia Abraham?" Akmal menyelanya.
"Hehe. Nggak tahu." Hamzah langsung menjitak kepala Abraham lagi karena merasa gemas.
"Kenapa kamu suka sekali menjitak kepalaku sih, Ham!" Abraham merajuk dan tidak terima.
"Habisnya kamu bercanda tidak kenal waktu!" sahut Hamzah.
"Biar saja!" jawab Abraham.
"Oh ya nih. Untuk kamu Akmal." Abraham langsung memberikan kartu undangannya kepada Akmal.
Akmal membelalakkan matanya melihat nama yang tertera di kartu undangan tersebut.
"Kamu mau menikah Abraham?" Abraham langsung menganggukkan kepalanya.
"Selamat kawan. Tidak tahunya kamu diam-diam langsung bergerak cepat," ucap Akmal.
"Pastinya dong. Kamu juga harus begitu. Kalau perlu jika masa iddahnya Cyra selesai. Lamarlah dia." Hamzah mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapannya Abraham.
"Tidak semudah itu Abraham," wajah Akmal terlihat pias dan datar.
"Karena jika Cyra dan aku terburu-buru menikah. Pasti akan banyak orang yang mengira jika kita berdua sudah ada hubungan sejak lama sebelum kak Mirza meninggal."
Hamzah langsung menganggukkan kepalanya lagi karena setuju dengan ucapannya Akmal.
Cukup rumit dan cukup menguras tenaga. Walau Akmal dan Cyra yang menjalaninya. Tapi mereka tetap memikirkan jalan yang terbaik, supaya terhindar dari perkataan yang tentunya sangat menyakitkan hati.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...