
Setelah selesai mendengarkan semua penjelasan dari Dokter, jika harapan hidup Mirza cuma sedikit saja, Abi Rasyid lalu mengajak Cyra, untuk ke luar dari dalam ruang kerja Dokter tersebut.
Kaki Cyra seperti tidak kuat untuk berjalan. Harapan yang dia inginkan untuk berumah tangga lama dengan Mirza, seperti sudah berada di ujung tanduk, karena faktor keadaan yang tidak dia harapkan.
Cyra menangis dan bersandar di tembok depan ruang kerja sang Dokter.
Abi Rasyid yang melihat putri tercintanya sedang terpuruk, refleks langsung membawa Cyra ke dalam pelukannya.
" Yang sabar Nak ," kata Abi Rasyid sambil mengusap punggung Cyra.
" Kak Mirza, Bi, Kak Mirza ," jawab Cyra sambil menangis sesenggukan.
" Iya Abi tahu ," kata Abi Rasyid.
" Tenanglah, kasihan cucu Abi ," kata Abi Rasyid lagi.
Mereka berdua tidak malu ketika sedang berpelukan begitu dan dilihat oleh semua orang yang berlalu lalang.
Yang ada di pikiran mereka saat ini bukan rasa malu yang tidak ada sebabnya, karena pikiran mereka cuma tertuju kepada Mirza seorang.
Setelah memberikan pelukan hangat khas seorang Ayah kepada anaknya, Abi Rasyid lalu melepaskan pelukannya sambil menatap ke wajah Cyra.
" Jangan menangis lagi ya Nak ," kata Abi Rasyid sambil mengusap air mata Cyra.
" Jangan perlihatkan air mata ini dihadapan Mirza ," nasihat Abi Rasyid.
" Tunjukkan wajah bahagiamu di hadapannya, supaya Nak Mirza semangat dalam menjalani pengobatan dan hari-harinya ," nasihat Abi Rasyid lagi.
" Iya Abi ," jawab lirih dari Cyra.
" Ayo kita kembali ke ruang 0p3r451 lagi ," ajak Abi Rasyid dan Cyra hanya mengangguk saja.
Dengan berjalan di rangkul oleh sang Abi, Cyra terus melangkah dan menguatkan hatinya untuk melihat keadaan dari sang suami.
Ternyata, Mirza belum di pindahkan ke ruang perawatan biasa, dan ketika semua Keluarga melihat kedatangan Cyra dan Abi Rasyid, mereka langsung menatap mereka berdua sangat lekat sekali.
" Abi ," panggil Umma Nada.
" Nanti saja Umma ," jawab Abi Rasyid.
Umma Nada mengerti, dan mereka semua yang mendengar pun, akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang keadaannya Mirza.
Abi Rasyid lalu mengajak Cyra untuk duduk di kursi yang tersedia, dan Cyra terus bersandar di bahu sang Abi yang masih kokoh itu.
__ADS_1
Akmal merasa tidak tega sekali melihat Cyra terpuruk seperti itu, ingin rasanya dia menjadi pengganti Abi Rasyid untuk menjadi sandaran olehnya, akan tetapi apa boleh buat. Mereka bukan mahram yang mudah saling bersentuhan dan berdekatan dengan seenaknya sendiri.
Suasana menjadi hening, karena melihat kesedihan yang di alami oleh Cyra. Tidak lama, tiba-tiba pintu ruang 0p3r451 terbuka dari dalam, dan ke luar lah ranjang pasiennya Mirza yang sedang di dorong oleh beberapa perawat.
Semua orang, terutama Cyra, langsung berdiri dari duduknya untuk mendekati sang suami, yang kepalanya masih penuh dengan perban.
Ranjang pasien Mirza terus di dorong, dan ke luar masuk lift, hingga akhirnya, mereka semua sampai juga di ruang perawatan Mirza yang kemarin.
" Tuan, Nyonya, ada pesan dari Dokter. Jika Tuan Mirza sudah sadar, segera panggil kami ," kata sang suster kepada semua orang.
" Baik Suster, terimakasih ," jawab beberapa orang.
Setelahnya, sang suster pun langsung berlalu ke luar, ketika sudah berpamitan kepada semua orang.
Cyra menatap prihatin, sendu dan sedih, melihat keadaan Mirza yang terlihat sangat menyayat hatinya.
Walau mereka menikah karena perjodohan, namun rasa cinta Cyra untuk Mirza begitu dalam sekali.
" Abi ," ucap Cyra sambil mengusap pipi Mirza.
" Sudah Nak, kamu yang kuat ya ," kata Mama Jian.
Air mata Cyra terus menetes, dia benar-benar tidak kuasa melihat sang suami terbujur lemah tidak berdaya di atas ranjang pasien rumah sakit, untuk menghadapi cobaan yang begitu besar dari sang Maha Pencipta.
Semua orang tentu saja langsung berteriak memanggil nama Cyra, dan Abi Rasyid langsung membawanya ke dalam kamar pribadi yang tersedia di situ.
Abi Rasyid langsung memberikan penangan pertama untuk Cyra yang sedang pingsan.
Karena berhubung Akmal bukan mahram untuk Cyra, dia harus menyingkir sejenak dari dalam kamar pribadi tersebut, sebab Abi Rasyid ingin membuka niqab yang di pakai oleh Cyra.
" Ya Allah, berat sekali cobaan yang Engkau berikan kepada Kakak hamba dan Cyra ," kata Akmal di dalam hatinya.
Saat ini Akmal hanya bisa duduk termenung di sofa yang ada di situ bersama sang Ayah.
Sedang sibuk merenung dan melamun, tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi, dan setelah dilihat ternyata dari Aalifa.
Akmal sedang malas sekali untuk mengangkat telepon dari Aalifa, jadinya, panggilan darinya sengaja langsung dia matikan.
" Kenapa malah di matikan sih!! ," gerutu Aalifa di seberang sana.
Aalifa tidak diam saja, dia mencoba menghubungi Akmal lagi, namun, lagi dan lagi langsung di matikan lagi oleh Akmal, hingga sambungan telepon ke tiga.
" Kenapa Kakak matikan sih!! ," pesan Aalifa kepada Akmal.
__ADS_1
" Malas ," jawab simple dari Akmal.
" Hah,!! malas?? ," balas Aalifa.
" Aalifa ini calon istri Kakak lho,!! kenapa Kakak tega sekali berkata seperti itu kepada Aalifa?? ," balas Aalifa lagi.
Akmal hanya membacanya saja, tanpa mau membalas lagi pesan dari Aalifa. Karena jika dia tanggapi, pasti ujung-ujungnya akan berdebat, dan itu semakin memusingkannya.
Tidak lama ponselnya berbunyi lagi, dan itu adalah bunyi pesan masuk. Ketika sudah dilihat, ternyata dari Aalifa lagi.
" Kakak pasti sedang asik bersama Kak Cyra, makanya malas kepada Aalifa ," pesan dari Aalifa.
" Jika Kakak begini terus, lebih baik kita batalkan saja pernikahan kita ," pesan dari Aalifa lagi.
" Belum menikah saja, dia sudah sering berkata seperti itu, lalu bagaimana kalau kita sudah menikah nanti,? pasti setiap saat jika marah, akan minta cerai!! ," gerutu Akmal di dalam hatinya.
" Dengan senang hati, dan silahkan katakan yang jujur kepada semua orang, Kakak sudah tidak peduli lagi!! ," balas Akmal.
" Lagi pula, Kakak juga tidak mau mempunyai istri yang egois seperti kamu!! ," balas Akmal lagi.
Setelahnya, Akmal sengaja memblokir sementara nomor teleponnya Aalifa, supaya tidak mengganggunya untuk sementara waktu.
Pasti kalian semua tahu kan,? bagaimana reaksi Aalifa, ketika sudah tidak bisa mengirimkan pesan atau menelepon Akmal.
Yaps, dia marah-marah sendiri, dan semakin tidak sabar ingin segera menikah dengan Akmal.
Karena niat Aalifa nanti, jika dirinya sudah menikah dengan Akmal, dia akan memaksa Akmal tinggal di rumah sendiri bersamanya, dan jauh dari Keluarga terutama jauh dari Cyra.
Tidak lama, Mama Jian ke luar dari dalam kamar pribadi tersebut, dan membuat Akmal langsung bertanya kepada sang Mama tentang keadaannya Cyra.
" Mama, bagaimana keadaannya Cyra?? ," tanya Akmal terlihat khawatir sekali.
" Alhamdulillah, Cyra sudah sadar, dia terlalu stres dan banyak pikiran ," jawab Mama Jian sambil duduk di sofa sebelah sang Ayah.
" Kasihan sekali Cyra, dia sedang mengandung juga, Ayah takut cucu kita kenapa-kenapa ," kata Ayah Rafiq.
" Kita berdoa saja Ayah ," jawab Mama Jian.
Untuk memberikan ruang yang cukup, Abi Rasyid dan Umma Nada pun, akhirnya ikut ke luar juga dari dalam kamar pribadi itu dan duduk bergabung bersama Keluarga sang besan.
Sedangkan Cyra di dalam sana, di temani oleh ke tiga sahabatnya yang memang belum pulang sejak tadi.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...