IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BONCHAP `ICA` 6


__ADS_3

Setelah semuanya santai. Dan keadaan tidak segenting tadi. Fadli lalu mencoba memberitahukan perihal kelahiran anak pertamanya yang lahirnya maju dari perkiraan lahirnya kepada semua sahabatnya.


Orang yang ingin Fadli hubungi pertama kali adalah Akmal. Karena cuma Akmal yang cukup dekat dengannya dibandingkan Abraham dan Hamzah.


Akmal yang saat ini sedang berada di toko sparepart miliknya langsung mengangkat sambungan telepon dari Fadli. Dan dia menyingkir sejenak dari ramainya pembeli yang datang ke tokonya.


"Assalamu'alaikum Fadli."


Fadli menjawab sambil tersenyum. "Wa'alaikumussalam Mas Akmal."


"Aku ingin memberitahukan sesuatu kepada Mas tentang Deena," ucap Fadli lagi.


"Deena! Ada apa dengan Deena? Apa Deena sudah melahirkan sekarang?" tanya Akmal.


Dengan sangat semangat sekali Fadli menjawabnya. "Iya Mas! Deena baru saja melahirkan saat ini. Dan anakku laki-laki."


Akmal bisa menebak jika Fadli saat ini sedang sangat bahagia sekali. Sebab terdengar jelas suara Fadli di telinganya. Akmal yang mendapat kabar tersebut dari Fadli langsung ikut merasakan bahagia juga. "Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengarnya Fadli. Di rumah sakit mana Deena melahirkannya?"


Fadli langsung menjelaskan di rumah sakit mana Deena sedang melahirkan. "Ok! Baiklah. Jika aku bisa datang ke rumah sakit sekarang. Akan aku usahakan segera datang ke sana."


"Iya Mas Akmal. Fadli tahu kalau Mas Akmal sedang sibuk. Yang penting doanya Mas. Semoga Deena bisa segera pulih dan bisa segera pulang ke rumah."


Akmal langsung mengaamiinkan ucapan Fadli. "Aamiin."


"Kalau begitu. Fadli tutup dulu teleponnya ya Mas. Assalamu'alaikum."


Akmal langsung menjawabnya. Dan setelahnya sambungan telepon mereka terputus juga.


Selesai menelpon Akmal. Fadli langsung mencoba menghubungi Misha. Sama seperti Akmal tadi. Misha merasa sangat senang sekali mendengar kabar persalinannya Deena. Bahkan Misha sampai meloncat kegirangan ketika melihat foto baby jagoannya Fadli yang sangat gemuk dan montok.


Setelah mendapatkan kabar dari Fadli. Misha langsung menghubungi Hamzah yang sedang sibuk di Cafe. Misha mengajak Hamzah untuk segera menjenguk Deena di rumah sakit. Dan Hamzah pun mengiyakan permintaan sang istri.


Akhirnya! Sampai juga kabar persalinan Deena ke telinga Kalila. Dan orang yang berani menyampaikan kabar tersebut kepada Kalila adalah Cyra. Karena yang lainnya merasa tidak enak serta sungkan untuk menyampaikan berita tersebut kepadanya.


"Kalila! Ada yang ingin aku katakan kepadamu."


Perasaan Kalila sedikit tidak enak mendengar Cyra berbicara serius kepadanya. "Katakanlah saja Cyra. Kamu jangan berbicara seperti ini. Kamu membuatku takut."


Cyra tertawa. Mencoba mengurangi nervous dan tegang yang sedang dirasakannya. "Maafkan aku."

__ADS_1


"Iya! Santai saja. Cepat katakan! Apa yang ingin kamu katakan kepadaku?"


"Emm! Deena sudah melahirkan sekarang. Anaknya laki-laki. Apakah kamu mau datang menjenguknya Kalila?"


Walau terkejut. Dan jujur ada rasa sedikit sedih di dalam hatinya mendengar kabar kelahirannya Deena. Namun Kalila tetap mencoba biasa saja supaya Cyra tidak khawatir kepadanya.


"Kamu bicara apa sih Cyra! Tentu saja aku akan datang menjenguknya. Deena kan sahabatku, sahabatmu juga."


Cyra cukup lega mendengar suara Kalila yang biasa saja. "Kapan kamu akan datang menjenguknya?"


Bukannya menjawab. Kalila justru balik bertanya kepada Cyra. "Kamu sendiri kapan mau datang menjenguk Deena?"


"Aku sama kak Akmal rencananya nanti malam. Kalau tidak salah, Misha dan kak Hamzah juga nanti malam datangnya."


"Baiklah. Kalau begitu aku juga nanti malam saja bersama kalian. Biar semakin ramai 'kan semakin asik."


"Baik. Nanti kita ketemuan di rumah sakit saja ya!"


Kalila mengangguk. "Iya." Setelahnya sambungan telepon mereka terputus.


Bohong sekali jika Kalila bisa menahan kesedihannya. Dirinya tanpa sadar meneteskan air matanya mendengar Deena sudah bahagia dengan kelahiran buah hatinya. Berusaha bangkit dan tidak mau terpuruk lagi. Kalila tidak mau terlihat menyedihkan di mata semua sahabatnya.


Malam pun tiba. Semua sahabat Deena satu persatu sudah pada mulai berdatangan untuk menjenguk Deena dan jagoannya yang gendut itu. Yang pertama datang adalah Misha bersama Hamzah dan baby Abbiyya yang sudah berumur sebelas bulan. Ke dua, yaitu Cyra dan Akmal bersama baby Zahwa yang sudah berumur empat belas bulan. Dan yang terakhir Kalila bersama Abraham.


Kalila ikut senang melihat Deena senang. Tapi di dalam hati kecilnya ingin sekali berada di posisi Deena saat ini.


"Semoga bulan depan kamu hamil ya Kalila. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu."


Deena dengan tulus mendoakan Kalila, ketika mereka berdua sedang berbincang. Ucapan Deena pun langsung di aamiinkan oleh Kalila.


Kalila tersenyum. "Aamiin. Makasih ya Deena. Bolehkan aku menganggap anak kamu itu sebagai anakku juga. Sama seperti Zahwa dan Abbiyya?"


Deena tersenyum manis. "Tentu saja Kalila. Anakku juga anakmu. Anggaplah dia sebagai anakmu. Pasti jagoanku juga senang mempunyai ibu sambung sepertimu."


Kalila meneteskan air matanya. "Terimakasih Deena."


Di dalam ruang perawatan Deena sangat ramai sekali. Mereka semua saat ini sedang menyaksikan kelucuan baby Abbiyya dan baby Zahwa yang asik bermain sendiri, sambil saling bergantian menimang baby jagoannya Fadli.


"Oh ya Fadli. Apakah kamu sudah memberikannya nama?"

__ADS_1


Fadli tersenyum mendengar pertanyaannya Akmal. "Sudah dong Mas Akmal."


"Siapa nih namanya. Biar kita semua enak memanggilnya," ucap Hamzah.


"Namanya Aksa Baihaqi Dhiarulhaq. Panggilannya Aksa," jawab Fadli.


"Helo baby Aksa. Nama kamu indah sekali," ucap Abraham.


Para kakek dan nenek Aksa merasa senang dengan nama cucu mereka. Dan Aksa ini adalah cucu pertama di keluarga mereka berdua.


Sedang asik berbincang satu sama lainnya. Tiba-tiba pintu ruang perawatan Deena terbuka dari luar dengan cukup kasar. Dan orang tersebut adalah kak Chairil.


"Mana keponakanku itu?" ucap kak Chairil berjalan mendekati baby Aksa.


Melihat kedatangan kak Chairil, baby Zahwa sangat ketakutan sekali. Hingga membuat Akmal tertawa lucu melihat tingkah sang putri.


"Kak! Tolong bersih-bersih dulu. Kakak dari luar. Banyak kuman di tanganmu!" cegah Deena.


Kak Chairil memajukan bibirnya. Tapi walau begitu, dia tetap cuci tangan dan muka dengan bersih supaya bisa menggendong sang keponakan tercintanya.


"Wah! Gendut sekali keponakanku ini. Siapa namanya Fadli?" kak Fadli menggendong baby Aksa.


"Namanya Aksa, Paman," jawab Fadli.


"Hai Aksa. Cepat bisa jalan ya. Biar nanti Paman ajak kamu pergi jalan-jalan."


Deena menyahut ucapan sang kakak. "Baru saja lahir beberapa jam yang lalu, sudah di suruh untuk segera berjalan."


"Lihatlah! Abbiyya sama Zahwa saja baru bisa berjalan!" ucap Deena lagi.


"Biar saja!" jawab kak Chairil.


Kak Chairil mengajak berbicara baby Aksa. "Maafkan Paman ya! Karena Paman tidak datang daritadi. Karena Paman baru saja sampai di sini."


"Tidak apa-apa Paman. Yang penting jangan lupa angpaonya yang tebal."


Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan papa Ahmad kepada kak Chairi. Sedangkan kak Chairil langsung memutar bola matanya malas menanggapi sang papa.


Sungguh bahagianya orang yang baru saja dikaruniai seorang anak. Baik itu laki-laki atau perempuan.

__ADS_1


Semoga yang belum dikaruniai seorang buah hati. Janganlah patah semangat untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah. Dan semoga saja keinginan kalian semua dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata'ala. Aamiin.


...~.~...


__ADS_2