
Selesai acara syukuran kecil-kecilan itu, akhirnya, Umma Nada berpamitan pulang juga kepada Cyra dan semua Keluarga Ayah Rafiq.
Umma Nada juga berpesan kepada Cyra untuk menjaga kandungannya dengan baik, dan Cyra pun akan selalu mengingat pesan sang Umma.
Malam harinya ketika semua orang sudah pada berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam bersama, tiba-tiba Ayah Rafiq mengatakan sesuatu kepada mereka semua.
" Karena berhubung Cyra sudah kembali pulang ke rumah, Ayah rencananya akan mengajak kalian semua bertamu ke rumah wanita yang akan menjadi calon istrinya Akmal ," kata Ayah Rafiq.
Akmal reflek menghentikan sejenak mengunyah dan menyendok makanannya.
Mau bagaimanapun keadaannya, Akmal sudah tahu, jika dirinya pasti akan di jodohkan oleh sang Ayah.
" Bagaimana Akmal?? ," tanya Ayah Rafiq.
" Apakah kamu setuju?? ," tanya Ayah Rafiq lagi.
" Terserah Ayah, atur saja bagaimana baiknya ," jawab Akmal pasrah.
" Siapa tahu dengan perjodohan ini, Akmal bisa menemukan wanita yang cocok seperti Kak Mirza ," kata Akmal lagi.
" Ayah yakin kamu pasti menyukainya Akmal, karena dia wanita yang baik, sama baik dan sholehahnya seperti Cyra ," jawab Ayah Rafiq.
" Aamiin, semoga saja sesuai dengan kriteria hati Akmal ," jawab Akmal.
" Akmal sudah selesai, Akmal mau ke kamar dulu ," kata Akmal dan langsung berdiri dari duduknya.
Mirza yang melihat langsung saja mencegah Akmal.
" Tunggu dulu Dek, jangan pergi dulu ," cegah Mirza.
" Ada apa memangnya Kak?? ," tanya Akmal kembali duduk lagi.
" Ada yang ingin Kakak sampaikan kepada kalian semua ," jawab Mirza sambil menatap ke arah Cyra, dan Cyra langsung saja mengangguk kepada Mirza.
" Kamu ingin bicara apa Nak?? ," tanya Mama Jian.
" Katakanlah saja ," kata Mama Jian lagi.
" Yah, Ma, bolehkah Mirza dan Cyra tinggal di rumah kita sendiri, karena kita ingin mandiri ," kata Mirza.
Ayah Rafiq dan Mama Jian langsung saling pandang mendengar perkataan dari Mirza.
__ADS_1
" Tapi Kak, Kakak kan tidak bisa .......... ," perkataan dari Akmal langsung terhenti, ketika mendapatkan pelotokan mata dari Mirza.
" Nak, apakah kamu yakin?? ," tanya Ayah Rafiq.
" Ayah sama Mama cuma khawatir saja sama kamu?? ," kata Ayah Rafiq lagi.
" Kamu kan ........ ," kata Ayah Rafiq belum selesai langsung di sela Mirza.
" Yakin Ayah, Mirza dan Cyra ingin mandiri dan mencoba membina rumah tangga kita sendiri ," kata Mirza sengaja menyela, karena dia tidak mau jika sang Ayah mengatakan sesuatu yang belum dia katakan kepada Cyra.
" Nanti akan Ayah pikirkan dulu ," jawab Ayah Rafiq.
" Bukankah jika seorang anak sudah mempunyai istri atau suami, lebih baik tinggalnya memisah dengan ke dua orang tua dan mertua ya Ayah, kenapa Ayah sama Mama ko kesannya menghalangi kami ingin berumah tangga sendiri?? ," tanya Cyra dengan sopan.
" Bukan begitu Nak, hanya saja .......... ," jawab Ayah Rafiq terhenti karena kode dari Mirza.
" Nanti kamu akan tahu sendiri Nak ," kata Ayah Rafiq.
" Ayah permisi dulu, mau ke kamar ," pamit Ayah Rafiq.
Ayah Rafiq sengaja menghindar untuk mengakhiri pembicaraan, sedangkan Akmal menatap curiga ke arah sang Kakak, yang sepertinya belum berkata jujur kepada Cyra.
Akmal sendiri masih memilih menonton televisi, akan tetapi jika diperhatikan dengan seksama, Akmal bukannya menonton televisi, tapi melamun memikirkan sesuatu.
Pandangan Akmal teralihkan ke arah seseorang yang sedang menuruni tangga rumah, dan orang tersebut adalah Mirza.
" Kak Mirza ," panggil Akmal.
" Iya Akmal, ada apa?? ," tanya Mirza sambil berjalan mendekati Akmal.
" Kakak mau ke mana?? ," tanya Akmal.
" Mau mengambil air minum untuk Kakak taruh di dalam kamar ," jawab Mirza.
" Apakah Cyra sudah tidur?? ," tanya Akmal lagi.
" Iya sudah, memangnya kenapa Akmal?? ," tanya balik dari Mirza.
" Kalau begitu, bisakah kita berbicara berdua saja di sini Kak ," jawab Akmal.
" Boleh, mau berbicara apa sama Kakak?? ," tanya Mirza sambil duduk di sofa seberang Akmal.
__ADS_1
" Apa Kakak yakin mau pindah rumah sama Cyra?? ," tanya Akmal.
" Yakin, itu permintaan Cyra, dan kita juga ingin membina rumah tangga kita berdua Akmal ," jawab Mirza.
" Tapi kan Kak, kesehatan Kakak selama ini tidak bisa diprediksi kapan drop dan tidaknya ," kata Akmal.
" Jika Kakak tinggal sendirian, itu bisa membuat Ayah dan Mama merasa khawatir terus menerus ," kata Akmal lagi.
" Kakak tahu Akmal, tapi Kakak juga ingin membahagiakan istri Kakak ," jawab Mirza.
" Doakan yang terbaik saja untuk Kakak, semoga saja Kakak akan selalu sehat untuk beberapa tahun yang akan mendatang ," kata Mirza lagi.
" Mau bagaimana pun kita berusaha, kita juga akan tetap mati ko Akmal ," kata Mirza selanjutnya.
" Tapi kan, Kak, apa Kakak tidak mau mencoba berbicara kepada Cyra, karena Akmal yakin, Kakak pasti belum berbicara jujur kepada Cyra tetang kesehatan Kakak ," kata Akmal.
" Belum Akmal, Kakak memang belum berbicara jujur kepada dia, Kakak takut melihat wajah bersedihnya, karena Kakak pasti tidak akan tahan melihatnya ," jawab Mirza.
" Tapi Cyra berhak tahu Kak,? dia itu istri Kakak, nanti jika Cyra tahu dari kita, pasti itu akan semakin membuatnya bersedih ," nasihat Akmal kepada Mirza.
" Jangan kau katakan dulu kepada Cyra, biar Kakak sendiri nanti yang akan mengatakannya ," jawab Mirza.
" Kakak akan menyiapkan mental Kakak dulu Akmal, terlebih lagi Cyra sedang mengandung anak Kakak sekarang ," kata Mirza lagi.
" Lagi pula, dulu Kakak sudah melakukan 0p3r451, dan kata Dokter penyakit itu sudah tidak ada ," kata Mirza.
" Tapi itu tidak bisa dijadikan patokan Kak, karena Dokter juga tidak begitu yakin, sebab penyakit itu bisa tumbuh kembali sewaktu-waktu ," jawab Akmal.
" Sudah percayalah, Kakak baik-baik saja ko, kan kamu lihat sendiri selama beberapa tahun belakangan ini, Kakak sudah tidak pernah lagi mengeluh sakit ," kata Mirza.
Akmal hanya bisa menampilkan wajah sedihnya, karena sejatinya walau dia merasa tertekan hidup di dalam satu rumah dengan sang Kakak dan juga Cyra, tapi itu lebih baik, daripada dia harus melihat sang Mama dan sang Ayah terus kepikiran dengan sang Kakak, jika sang Kakak akan tinggal di rumah sendiri.
" Kakak mau mengambil air minum dulu ," pamit Mirza dan dia langsung saja berlalu dari hadapan Akmal menuju ke dapur.
Akmal hanya diam saja, sambil memandang ke arah sang Kakak dengan tatapan sedihnya, dan Akmal berdoa, semoga sang Kakak yang sangat dia sayangi akan hidup lebih lama lagi, sampai anak-anaknya dewasa nanti.
Sebab jika Kakaknya tiada di dunia ini, Akmal pasti akan merasa bersedih berkali-kali lipat, karena dia pasti juga tidak akan tahan melihat Cyra bersedih dan terpuruk.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1