
"Baiklah. Terimakasih atas laporannya, teman."
Begitulah jawaban dari seseorang yang sedang menerima telepon. Setelahnya, dia langsung mematikan sambungan teleponnya itu.
Melihat sang suami sudah selesai menerima telepon. Sang istri pun langsung bertanya kepadanya.
"Bagaimana Kak?"
Sambil menaruh ponselnya di atas meja samping ranjang. Sang suami menjawabnya. "Semuanya sudah beres. Bu Aish sekarang sudah masuk ke dalam penjara."
Misha merasa sangat senang sekali mendengar jawaban dari sang suami. Yaps yang sedang mengobrol saat ini adalah Hamzah bersama Misha.
Hamzah tadi baru saja mendapatkan laporan dari temannya yang polisi. Jika Aish sudah mereka masukkan ke dalam penjara.
Orang yang membuat laporan ke kantor polisi juga Hamzah. Dan Hamzah sebagai sahabat baiknya Akmal, tentu saja tidak akan tinggal diam. Ketika temannya sedang dalam kesusahan seperti itu.
"Syukurlah. Apakah besok Kakak jadi datang ke kampus tempat kak Akmal mengajar Kak?"
Hamzah menganggukkan kepalanya. "Jadi. Karena pihak kampus berhak tahu apa yang sudah bu Aish lakukan kepada Cyra dan Akmal."
"Sebagai seorang pengajar. Seharusnya bu Aish bisa menjadi contoh yang baik untuk para murid-muridnya. Bukannya seperti itu."
Misha mengangguk setuju dengan ucapannya Hamzah. "Sangat dahsyat sekali ya Kak, kekuatan cinta. Membuat orang normal menjadi bodoh."
"Untung saja kak Akmal imannya kuat. Ketika melihat Cyra bersanding dengan kak Mirza," lanjut lagi ucapannya Misha.
Hamzah mengangguk lagi membenarkan ucapan sang istri. "Sudah malam. Kita tidur yuk. Kasihan si dedek nanti."
Misha langsung memeluk Hamzah di dalam satu selimut yang sama. Dan pelukan Misha disambut hangat oleh Hamzah.
Pagi harinya. Ketika semua orang sedang menikmati sarapan bersama. Begitupun dengan keluarga ayah Rafiq. Cyra tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada mereka semua.
"Ma? Nanti titip Aiza dulu ya," ucap Cyra.
"Memangnya kamu mau ke mana Cyra?"
Bukan mama Jian yang bertanya, melainkan ayah Rafiq.
"Cyra mau ikut bersama Akmal lagi ke kampus Ayah. Sengaja untuk menjadi asisten Akmal seharian."
Sama seperti mama Jian. Ini yang menjawab Akmal bukannya Cyra.
"Apakah tidak akan dimarahi pihak kampus Akmal?"
Sambil menggeleng. Akmal menjawab pertanyaan dari sang Mama. "Tidak ko Ma. Justru murid-murid Akmal merasa senang jika Cyra yang mengajar."
__ADS_1
"Iya sudah. Terserah kalian saja. Nanti hati-hati di jalan ya," kata mama Jian.
Cyra dan Akmal langsung mengangguk bersamaan kepada mama Jian.
Singkat cerita. Akmal dan Cyra saat ini sudah sampai di kampus tempatnya mengajar.
Masih sama seperti kemarin. Kedatangan Akmal dan Cyra langsung menjadi pandangan menarik dari semua orang. Jika kemarin karena Akmal datang bersama Cyra yang menggendong baby. Tapi sekarang, karena Akmal datang bersama Cyra dengan tangan yang terluka seperti itu.
Sedang jalan berdua berdampingan. Tiba-tiba Akmal mendengar ponsel miliknya berdering. Dan ketika sudah dilihat olehnya ternyata itu dari Hamzah.
"Halo assalamu'alaikum Ham?"
Di seberang sana Hamzah langsung menjawabnya sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus. "Wa'alaikumussalam Akmal. Kamu ada di mana sekarang?"
"Baru saja masuk ke dalam ruang kantorku sendiri."
Hamzah bergegas menyusul Akmal. "Aku akan ke sana sekarang."
"Baiklah. Aku tunggu," jawab Akmal.
Tidak lama. Baru saja Akmal dan Cyra duduk sekitar sepuluh menit di dalam ruang kantor miliknya sendiri. Hamzah tiba-tiba sudah sampai sambil membuka pintu ruangannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Astaghfirullah. Tidak bisakah kamu mengetuknya dulu Hamzah?" ucap Akmal yang merasa terkejut.
Hamzah tersenyum tanpa berdosa. "Maaf. Aku lupa."
"Ayo kita segera ke kantornya pak Rektor."
Cyra yang tidak pernah berurusan dengan urusan yang cukup ribet. Dia sangat takut sekali jika urusannya nanti bisa sangat panjang. "Cyra takut Kak."
"Tenang saja Cyra. Semua ini tidak akan menjerumuskanmu," jawab Hamzah.
"Ayo Umi. Ikut Abu."
Mendengar ucapannya Akmal. Hamzah refleks langsung menjitak kepala Akmal.
"Nikahin dulu si Cyra. Baru manggil Umi, Abu!"
"Syirik!"
Cyra menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang laki-laki dewasa di depannya yang sedang bertengkar seperti anak kecil.
Akhirnya, langkah kaki mereka bertiga sudah sampai di depan ruang kantor pak Rektor alias pamannya Cyra.
Mendengar kata masuk dari dalam. Cyra, Akmal dan juga Hamzah. Langsung saja masuk ke dalam dan disambut ramah oleh pak Rektor.
__ADS_1
"Pak Akmal, Cyra dan Anda silahkan duduk."
Akmal, Cyra dan Hamzah langsung duduk di sofa yang ada di situ.
"Apa ada yang bisa saya bantu Pak Akmal? Dan kenapa tangan Anda diperban begitu?"
Hamzah mencoba menyelanya. "Sebelumnya. Ijinkan saya saja Pak yang menjelaskannya." Pak Zain mengangguk mempersilahkan.
Hamzah mencoba menyerahkan ponsel miliknya dan map yang tadi sudah ia bawa dari rumah. "Ini. Lihatlah sendiri Pak. Supaya Bapak nanti bisa berkomentar."
Pak Zain langsung melihat ponsel dan isi map yang Hamzah serahkan kepadanya. Setelah melihat itu semua, pak Zain benar-benar merasa sangat terkejut sekali.
"Jadi? Yang membuat tangan Anda terluka adalah bu Aish, Pak Akmal?"
Akmal langsung mengangguk membenarkan. "Iya Pak Zain."
"Bu Aish saat ini sudah saya masukkan ke dalam penjara Pak. Karena saya sendiri sebagai sahabat dekat mereka, tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh bu Aish kepada Akmal dan Cyra."
"Sungguh anda teman yang sangat baik sekali Tuan."
Hamzah mengangguk pelan menanggapi ucapan pak Zain.
"Sebagai sanksi atas apa yang dilakukan oleh bu Aish kepada Pak Akmal. Saya sebagai Rektor akan memecat bu Aish dari kampus ini dengan tidak hormat."
Cyra seperti keberatan dengan keputusan dari sang paman. "Apa tidak bisa diberikan kesempatan lagi untuk bu Aish, Paman?"
"Tidak bisa Cyra. Karena itu sudah termasuk tindak pidana. Dan bu Aish juga sudah melanggar peraturan yang ada di kampus ini."
Cyra mengangguk pasrah. Karena semua hak dan wewenang ada di tangan sang paman dan pihak kampus.
Setelah melaporkan perbuatan bu Aish kepada pihak kampus. Hamzah berpamitan pergi kepada Akmal untuk menuju ke Cafe miliknya yang ada di depan kampus.
Sedangkan Akmal dan Cyra langsung bergegas masuk ke dalam kelas untuk memulai mengajarnya.
Seperti ucapan Cyra semalam. Jika pagi ini yang mengajar di kelas adalah dirinya dengan dibantu oleh Akmal kalau dirinya tidak mengerti.
Sekarang semakin kuatlah pemikiran mereka semua akan status Cyra bagi Akmal. Dan para kaum hawa sudah tidak segencar dulu untuk mendapatkan hati Akmal. Karena sudah ada Cyra di sisinya.
Pak Zain selaku Rektor di kampus itu. Langsung mengumpulkan para jajaran staf kampus dan juga orang-orang penting yang ada di kampus untuk membahas permasalahan Akmal dengan bu Aish.
Mereka semua sangat setuju sekali dengan keputusan yang diambil oleh pak Zain yang akan memecat bu Aish dengan tidak hormat.
Akmal sebenarnya sudah menutup-nutupi perihal tangannya yang sakit itu ketika ditanya oleh para murid-muridnya. Akan tetapi karena rapat yang diadakan oleh pak Zain bersama pihak kampus. Sekarang hampir penghuni kampus tahu. Jika Akmal terluka karena ditabrak oleh bu Aish.
Semakin buruklah penilaian semua orang terhadap bu Aish. Karena hampir semua orang tahu, jika bu Aish sudah cukup lama tergila-gila kepada Akmal. Mereka semua menyayangkan sikap bu Aish yang sampai rela menghalalkan segala cara untuk membalaskan rasa sakitnya. Sebab Akmal lebih memilih Cyra dibandingkan dirinya.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...