
Setelah puas mengobrol bersama Akmal dari hati ke hati dan sedikit mendengarkan keluh kesahnya Akmal. Fadli pun lalu berpamitan pergi. Sebab dirinya ada jam mengajar lagi.
Beberapa hari telah berlalu. Semua undangan sudah tersebar semuanya kepada semua keluarga, kerabat dan juga sahabat.
Tibalah masanya hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Fadli dan Deena. Yaitu hari pernikahan mereka berdua.
Walau Deena dari keluarga kaya. Papa Ahmad tidak menuntut banyak kepada Fadli. Dan dirinya juga membantu menyiapkan ini serta itu untuk kelancaran pernikahan Deena dan Fadli.
Mereka menikah di rumah papa Ahmad. Karena itu permintaannya Deena. Deena berpikir lebih baik uangnya disimpan untuk kebutuhan setelah menikah. Daripada harus dihambur-hamburkan hanya untuk menyewa gedung pernikahan.
Deena sangat tahu bagaimana kehidupan Fadli. Itulah sebabnya dia mencoba menjadi istri yang baik untuknya dengan tidak terlalu banyak menuntut kepada Fadli.
Deena saat ini sedang di make up di dalam kamarnya oleh para MUA yang sudah disewanya. Sedangkan Fadli sudah persiapan untuk berangkat menuju ke rumah Deena.
"Dek! Kakak tidak menyangka kamu sebentar lagi akan menikah." Deena tersenyum melihat kedatangan sang Kakak ke dalam kamarnya.
"Semoga bahagia ya Dek. Ini kado dari Kakak untukmu." Kak Chairil memberikan sebuah amplop kepada Deena.
"Ko kecil sekali hadiahnya Kak?" canda Deena. Membuat semua orang yang ada di situ langsung tertawa. Termasuk para MUA sekalipun.
"Bukalah saja jika kamu sudah sangat penasaran." Deena sangat semangat mendengarnya.
"Benarkah?" kak Chairil langsung mengangguk.
Tidak pakai lama lagi. Deena pun langsung membuka amplop tersebut. Yang ternyata isinya dua buah tiket liburan ke luar Negeri sekaligus untuk honeymoon Deena dan Fadli.
"Ini? Kakak memberikan tiket honeymoon kepada Deena?" Deena sangat tidak percaya pemberian sang kakak.
"Iya," kak Chairil mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih Kak. Terimakasih banyak." Deena tersenyum sangat senang sekali.
"Sama-sama."
"Cepat sedikit ya. Ini sudah jam segini," para MUA dan Deena langsung mengangguk.
Sekitar pukul sepuluh pagi. Akhirnya! Rombongan pihak keluarga Fadli sampai juga di rumah mewah milik papa Ahmad.
Kedatangan mereka semua disambut ramah oleh sang pemilik rumah dan para saudara yang hadir.
__ADS_1
Fadli sudah sangat gagah sekali dengan pakaian pengantin yang serasi dengan Deena. Dia pun langsung disuruh duduk di kursi yang sudah disediakan oleh sang pemilik rumah.
Melihat rombongan mempelai laki-laki sudah datang. Deena dibantu oleh para saudara sepupunya lalu ke luar dari dalam kamar untuk duduk di samping Fadli.
Jantung Fadli seakan mau meledak melihat Deena terlihat sangat cantik sekali saat ini. Dirinya tidak menyangka. Jika hari ini akan melangsungkan pernikahan dengan wanita yang selama ini tidak dia sangka.
"Bagaimana semuanya? Sudah bisa kita mulai acaranya?" pak Penghulu membuka suaranya.
"Bisa Pak. Silahkan." jawab papa Ahmad mewakili.
Seperti biasanya. Sebelum memulai acara pernikahan. Pak Penghulu mengucapkan kata bismillah plus doa-doa supaya diberikan kelancaran akan berlangsungnya acara ijab kabul kali ini.
Semua pada khidmat dan diam mendengarkan doa dari pak Penghulu. Hingga akhirnya. Tibalah pak Penghulu dan Fadli saling berjabat tangan.
"Tolong tirukan suara Bapak dengan lantang dan tegas ya Nak Fadli," ucap pak Penghulu.
Fadli pun mengangguk mantap. "Baik Pak."
Pak Penghulu mulai membacakan bacaan ijab kabul. Dan sekali mendapatkan hentakan tangan. Fadli langsung menirukan ijab kabul tersebut dengan lantang, tegas dan tenang.
Suara sah terdengar menggema di dalam tenda tersebut. Dan pada akhirnya. Fadli dan Deena sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami istri secara agama serta Negara.
Momen ijab kabul tersebut diabadikan dengan kamera yang sudah disiapkan. Setelah selesai sesi ijab kabulnya. Fadli dan Deena langsung disuruh duduk di singgasana yang sudah disediakan. Untuk memulai acara pesta resepsi pernikahan.
"Kak! Kakak datang ke pesta pernikahan Deena dan Fadli tidak?" tanya Cyra melalui sambungan telepon.
"Datang dong bidadariku. Hmm memangnya ada apa?" jawab Akmal.
"Kakak mau datang jam berapa?"
"Emm! Setelahmu." Akmal menjeda ucapannya. "Kamu sendiri mau datang jam berapa Cyra?"
"Cyra tidak bisa datang Kak. Maukah Kakak ke rumah sebentar untuk mengambil kado yang sudah Cyra siapkan untuk Deena?"
"Kamu kenapa tidak bisa datang, Cyra?" Akmal merasa sangat penasaran sekali.
"Aiza sakit Kak. Badannya tiba-tiba panas dan muntah-muntah terus daritadi."
Akmal langsung berdiri dari duduknya. Karena merasa sangat terkejut mendengar baby Zahwa sedang sakit. "Apa! Aiza sakit, Cyra?"
__ADS_1
"Apa kamu sudah mencoba membawanya ke klinik atau rumah sakit, Cyra?" wajah Akmal terlihat sangat khawatir sekali.
"Ini Cyra dan umma sedang ada di klinik Kak. Kadonya sudah Cyra titipkan sama bibi. Nanti tanya saja kepada mereka"
"Baiklah. Kakak akan segera ke sana sekarang. Dan kamu terus kabari Kakak tentang keadaannya Aiza ya Cyra."
"Iya Kak. Cyra tutup dulu teleponnya ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Akmal langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan dia langsung bergegas memberitahukan kepada ke dua orang tuanya perihal baby Zahwa yang sedang sakit.
Untung saja hari ini ayah Rafiq ada di rumah. Jadi dia bisa langsung mengantarkan sang istri untuk menjenguk sang cucu yang sedang sakit.
Akmal dan ayah Rafiq langsung segera menuju ke rumah abi Rasyid menggunakan mobil mereka masing-masing.
Sesampainya di sana. Kedatangan Akmal dan ke dua orang tuanya langsung disambut ramah oleh abi Rasyid, yang baru saja pulang dinas dari rumah sakit.
Abi Rasyid sebenarnya juga sangat terkejut sekali. Ketika sampai rumah langsung mendapatkan kabar tentang baby Zahwa yang sedang sakit.
"Akmal langsung saja ya Abi. Biar Akmal tidak bertemu dengan Cyra. Jika Akmal bertemu dengan Aiza nanti. Pasti Aiza tidak mau berpisah dengan Akmal jika dia sedang sakit seperti sekarang." Abi Rasyid menganggukkan kepalanya.
"Titip Aiza ya Abi. Sedih sekali rasanya tidak bisa menemani Aiza yang sedang sakit." Wajah Akmal terlihat murung.
"Kamu tenang saja Akmal. Kami akan selalu menjaga Zahwa dengan baik. Dan doakan saja. Semoga Zahwa baik-baik saja." Akmal cuma mengangguk saja.
Setelahnya. Dia pun langsung berlalu pergi menuju ke acara pesta pernikahan Deena dan Fadli. Sedangkan ayah Rafiq dan mama Jian masih berada di situ untuk menunggu sang cucu yang sedang berada di klinik.
Sesampainya di pernikahan Fadli dan Deena. Akmal dengan sangat menyesal harus memberitahukan kepada mereka. Jika Cyra tidak bisa menghadiri acara pernikahan mereka berdua.
Fadli dan Deena tidak marah. Justru mereka berdua ikut merasa khawatir mendengar baby Zahwa yang sedang sakit.
Akmal tidak bisa terlalu lama berada di situ. Melihat makanan pun rasanya tidak berselera. Sebab dirinya terus kepikiran dengan baby Zahwa.
Bahkan selama di acara pernikahan Fadli dan Deena. Akmal malah sibuk sendiri dengan ponselnya untuk mengetahui perkembangan baby Zahwa dari Cyra.
Setelah dirasa cukup lama berada di pesta resepsi pernikahan Fadli dan Deena. Akmal pun akhirnya berpamitan pulang kepada ke dua mempelai untuk menenangkan hati dan pikirannya di rumah.
Walau dirinya tidak bisa melihat Aiza. Setidaknya dengan melalui sambungan video call, yang sengaja ia lakukan kepada abi Rasyid untuk melihat baby Zahwa. Hati Akmal sudah merasa lebih baik. Tidak seperti sebelumnya.
Alhamdulillah baby Zahwa tidak sakit parah. Cuma masuk angin seperti pada umumnya yang baby rasakan, plus dia juga sedang sariawan. Makanya baby Zahwa tidak berselera minum ASI, hingga membuat perutnya kosong dan kembung.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...