
...ILUSI TAKDIR 98...
"Selamatkan mereka... Aku mohon.....!!!" Pinta Rojer dengan mengatupkan tangannya pada Antony yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Tenanglah... Aku akan berusaha..." Timpal Antony dengan menepuk bahu Rojer kilat, yang tengah memohon seperti anak kecil yang merenggek meminta permen.
"Siapkan... Ruang operasi... Dan untuk anak kecil itu, hubungi dokter Sillia untuk menanganinya...." Antony langsung melesat masuk ke dalam salah satu ruangan dengan pelang Ruang Operasi.
Beberapa perawat mendorong ranjang rumah sakit dengan terburu- buru masuk ke dalam ruang operasi. Membawa wanita yang terbaring tidak sadarkan diri, dengan penuh luka dan bersimbah darah.
Di lain sisi tiga orang perawat juga melakukan hal yang sama, mendorong ranjang rumah sakit, dengan tubuh mungil yang berbaring di atasnya. Yang tak lain adalah Charlote. Tiga orang perawat tersebut masuk ke dalam salah satu ruangan yang cukup jauh dari ruang operasi.
Antony kembali keluar dari ruangan operasi dengan terburu- buru. Ekspresi wajahnya mengatakan jika kondisi pasien sangat buruk.
"Persiapkan kantong darah golongan A. Pasien sepertinya kehabisan banyak darah... Dan kamu cepat pasang semua alat di ruang operasi... Pastikan tabung oksigen cukup selama operasi berjalan...!" Titah Antony pada dua anak buahnya, yang langsung berlarian memenuhi tugas yang di berikan atasannya.
Rojer menarik tubuh Antony yang sedang kelimpungan menyiapkan proses operasi. Pikiran Rojer benar- benar kalang kabut, saat Maura berhasil di evakuasi tapi dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
"Katakan pada ku... Bagaimana kondisi nya... Aku mohon pada mu selamatkan dia... Aku janji akan memberikan apa pun yang kamu inginkan... Tapi selamatkan dia... Jika tidak tukar nyawanya dengan ku... Ku mohon... Hiks..." Ujar Rojer dengan tangis memilukan. Memohon dan merenggek di depan Antony sahabat kecilnya yang sekarang berdiri sebagai seorang dokter.
"Diam...!!! Tenangkan diri mu!!!" Bentak Antony dengan keras, sambil memegang kerah baju Rojer. Ia begitu kesal, melihat tingkah lemah sahabatnya. Selama berteman dengan Rojer ia tidak pernah melihat Rojer hampir kehilangan akal seperti ini. Menangis dan memohon di hadapannya sungguh bukanlah hal yang ingin di lihat Antony. Biarpun sikap Rojer pada dirinya sangat menyebalkan. Tapi dirinya tidak bisa melihat sahabatnya menderita seperti ini.
"Biarkan aku bekerja... Tenangkan diri mu... Jangan sampai akal sehat mu menghilang Rojer... Jangan melakukan apa pun pada diri mu... Percayalah... Aku akan melakukan yang terbaik untuknya... Edent....!!!! Jaga Tuan mu... Jangan biarkan dia melakukan hal nekat..." Antony melepas kerah baju Rojer yang di tariknya dengan sangat keras. Mencoba menyadarkan Rojer yang sudah kalang kabut. Tubuh Rojer merosot dan jatuh ke lantai. Ia tidak bisa membayangkan sesuatu hal yang buruk akan menimpa Maura. Lalu bagaimana dengan dirinya.
Edent segera menghampiri Rojer yang sudah terduduk tidak bertenaga di lantai. Ia mengangkat dan menopang tubuh Rojer untuk duduk di kursi tunggu.
Kling....
Lampu ruang operasi menyala. Yang menandakan bahwa operasi di mulai. Wajah Rojer semakin pucat dan takut. Tubuhnya lemas dan gemetar. Hatinya merasa saat ini di hunus oleh ribuan benda tajam. Pikirannya terus memikirkan hal yang tidak- tidak, membuat dirinya terus menepis pikiran buruk yang membayangi dirinya. Rojer merasa dirinya benar- benar rapuh dan tidak berdaya.
"*Maura ku tidak boleh mati... hiks..."
"Tapi lihat keaadaannya... Keadaannya sangat mengenaskan..."
"Dia cinta ku... Aku tidak akan bisa hidup tanpa dirinya..."
"Dokter handal seperti Antony pun juga mengatakan jika kondisi Maura sangat buruk dan kritis... Kemungkinan dirinya untuk selamat hanya sedikit..."
"Tidak... Dia harus selamat... Dia tidak bisa meninggalkan ku seperti ini...."
__ADS_1
"Sepertinya tuhan akan mengambilnya sekarang melihat luka di sekujur tubuhnya... Maura akan mati...."
Batin Rojer terus berperang, mengatakan setiap kemungkinan yang terjadi. Saling berperang mempertahankan kemungkinan terburuk yang akan terjadi*.
"Tidak.... Tidak.... Maura tidak boleh mati... Kamu dengar itu Maura tidak boleh mati...!!!" Lirih Rojer dengan menekuk lututnya. Kedua tangannya memukul kepalanya berulang kali. Menepis setiap kemungkinan yang terjadi di dalam otaknya. Ia bahkan tidak menerima otaknya sendiri mengatakan hal buruk tentang Maura.
Edent terkejut melihat tindakan majikan di sampingnya yang terus memukuli kepalanya. Dengan mengulangi kalimat yang sama. Edent segera memegang kedua tangan Rojer dengan kuat. Jika tidak Tuannya itu akan menyakiti dirinya sendiri. Bahkan akan membuat kepalanya pecah karna tangannya terus memukul kepalanya.
"Tuan apa yang anda lakukan.... Tenanglah... Tuan Antony pasti bisa menyelamatkan nyonya Maura... Anda bisa menyakiti diri anda sendiri Tuan...." Ujar Edent dengan sedikit nada cemas, melihat kegilaan Rojer.
"Kepala ini harus di hancurkan Edent.... Kepala ini sudah berani berpikiran buruk tentang Maura... Aku tidak bisa membiarkannya.... Hiks..." Tangan Rojer yang di tahan Edent, masih berusaha untuk memukul kepalanya sendiri.
"Tuan sadarlah... Anda tidak bisa seperti ini...!!"
"Tidak... Maura tidak boleh mati... Kamu dengar itu... Maura tidak boleh mati..."
"Tuan hentikan....!!!!"
Plak....
Satu tamparan keras melayang di pipi Rojer, membuat dirinya terkesiap saat wajahnya terasa perih. Ia memegang pipinya dengan melongo.
"Permisi Tuan,,, Apa anda keluarga dari Charlote....???" Tanya seorang perawat wanita yang tiba- tiba datang menghampiri mereka. Suara perawat wanita tersebut membuyarkan lamunan ke dua pria yang sedang sibuk dengan pikirannya masing- masing.
"Iya, sus sa... ya... Saya ayahnya... Dia putra ku...." Timpal Rojer dengan terbata- bata, sambil menunjuk dirinya sendiri. Ada sedikit kilatan cahaya di manik- manik mata Rojer yang berkaca- kaca.
"Mari Tuan... Anda sudah bisa menjenguk dan melihat kondisi Charlote. Dokter Sillia juga akan mengatakan sesuatu kepada anda tentang kondisi Charlote..." Suster tersebut membungkuk memberi hormat, sebelum pergi dari hadapan Rojer. Dirinya tahu benar siapa Rojer.
Rojer langsung berlari dengan tergopoh- gopoh menuju ruangan yang di tempati Charlote. Hatinya sudah tidak sabar melihat putra kecilnya itu. Ia berharap jika putranya baik- baik saja.
Rojer tersenyum tipis saat ia sudah berdiri di depan dinding kaca. Ia menatap Charlote yang sedang tidur pulas. Dengan sedikit perban di bagian kepala dan lengannya. Rojer menyentuh dinding kaca di depannya. Air matanya bergulir deras. Detakan jantungnya mulai terasa sedikit lebih tenang. Ketakutannya untuk kehilangan putranya sedikit menghilang.
"Tuan Rojer...!" Panggil Seorang wanita cantik dengan rambut merah, keluar dari ruangan Charlote. Rojer menoleh ke arah asal suara yang memanggil namanya.
"Aku dokter Sillia... Keadaan Charlote, sudah stabil... Aku juga turut berduka dengan apa yang terjadi pada calon istri mu dan putra mu Tuan... Tapi sepertinya Nyonya Maura sudah berhasil melindungi Charlote dengan sangat baik. Tidak ada luka dalam atau luka luar yang serius pada Charlote. Dapat di pastikan kondisi nya baik- baik saja... Kondisinya akan pulih lima atau enam hari ke depan...." Ucap Donter Sillia dengan panjang lebar. Sesekali ia memperhatikan penampilan Rojer yang sudah lebih mirip gembel dari pada orang terkaya di kota X ini.
Rojer menghela nafasnya, setidaknya ada kabar baik yang datang. Meski hatinya masih cemas, karna Maura sedang melawan maut di ruangan yang lainnya.
"Terimakasih dokter... Kamu sudah merawat putra ku... Aku sangat berterimakasih kepadamu... Apa aku boleh menemuinya...?" Tanya Rojer tidak sabaran ingin menerobos masuk ke dalam ruang rawat Charlote.
__ADS_1
Namun tangan panjang Dokter Sillia menghentikan langkah Rojer, yang berhasil membuat kerutan di kening Rojer semakin banyak.
"Anda tidak bisa masuk dengan kondisi seperti ini Tuan... Anda juga terluka... Lebih baik anda membersihkan diri dan mengobati luka anda dulu... Aku akan mengirim Suster untuk membantu mu...." Dokter Sillia menatap tangan Rojer yang terluka dan penuh dengan cairah merah bercampur dengan tanah.
"Ini tidak penting... Aku harus memastikan keadaan putra ku... Luka ini tidak lebih berharga dari pada dirinya..." Rojer menolak untuk menuruti ucapan Dokter Sillia. Dan mencoba membuka pintu ruang rawat Charlote, namun lagi- lagi tangan Dokter cantik itu menghalanginya.
Edent memegang bahu Rojer yang sudah mengeras. Saat dirinya sampai, ia sudah melihat majikannya ini memaksa menerobos masuk ke dalam ruangan dengan kondisi kotor dan penuh dengan luka.
"Tuan muda.. Tenangkan diri mu... Anda tidak bisa memaksa untuk masuk... Apa yang di katakan Dokter ini benar. Anda tidak bisa masuk dengan kondisi seperti ini... Lihatlah diri mu sangat kotor.. Dan luka mu perlu di obati... Ingat lah Tuan Nyonya Maura sangat membutuhkan mu sekarang... Dia juga pasti tidak ingin melihat diri mu dalam kondisi seperti ini..." Bahu Rojer yang mengeras mulai melemas. Ia melepas gagang pintu dari genggaman tangannya. Memori saat Maura menutup mulutnya karna mengucapkan kematian bergulir di dalam kepalanya. Apa yang di katakan Edent ada benarnya.
"Sepertinya jurus pamungkas untuk menjinakkan singa yang sedang terluka dengan menyebut nama kekasihnya... Hhhh setidaknya Tuan muda mau mendengar kan ku..." Batin Edent lega, ketika Rojer mau di tuntun ke ruangan lain untuk mengobati lukanya.
Edent bersama dengan seorang perawat pria tengah menunggu Rojer keluar dari kamar mandi. Ruangan yang mereka tempati cukup luas untuk ukuran ruang rawat. Sebelum masuk Rojer meminta untuk perawat pria saja yang mengobati lukanya. Ia tidak ingin tubuhnya di sentuh oleh wanita lain selain Maura.
Rojer keluar dengan memakai baju mandi. Kini penampilannya yang kucel dan kotor sudah tergantikan dengan penampilan yang lebih fresh dan bersih. Meski terlihat beberapa luka di tangan dan kakinya. Sementara wajahnya masih terlihat kosong. Seperti separuh nyawanya sudah di renggut dengan paksa.
Rojer duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Matanya terlihat sembab dan bengkak, karna saking lamanya ia menangis.
Perawat pria segera menghampirinya, dan mulai melakukan tugasnya. Mengobati setiap luka yang ada di tubuh Rojer. Sementara Edent hanya duduk di samping majikannya. Sesekali membantu perawat tersebut mengobati luka majikannya.
"Edent..." Panggil Rojer datar tanpa ekspresi.
"Iya Tuan muda..."
"Aku ingin pelaku peledakan ballroom Aston tertangkap... Siapa pun dia hancurkan tanpa sisa.. Dan bawa dalangnya pada ku... Aku tidak akan membiarkan dia tersenyum di atas penderitaan ku .."
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1