Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
CEO BAU


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 59...


Rojer semakin melancarkan aksinya. Ia mulai meniggalkan beberapa tanda merah di punggung bagian bahu Maura.


Maura meremas sprei dengan kuat dan menggigit bibir bawahnya, agar suara- suara aneh tidak keluar dari bibirnya.


Rojer menaikkan kan tangannya ke arah dua gundukan kenyal Maura yang terekpos tanpa penutup.


Tring...Tring...


Suara ponsel Rojer berbunyi.


"Kutu kupret... ihhh... Siapa lagi sih yang mengganggu... Ck.." Rutuk Rojer saat ponselnya berdering dan membuat aktivitasnya terhenti.


Maura memasang kembali baju mandi yang di kenakan. Menutup semua bagian dari dirinya yang sempat terbuka.


"Hallo... Baiklah... Terima saja... Utamakan yang memiliki tata krama, aku tidak ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi." Ujar Rojer lalu menutup telpon.


"Siapa??" Tanya Maura sambil membenarkan baju mandinya.


"Siapa lagi kalau bukan pengganggu cecurut itu..." Timpal Rojer dengan memutar bola matanya malas.


"Edent??" Tebak Maura dengan menyunggingkan senyumnya.


"Siapa lagi..." Rojer melempar ponselnya sembarang ke tempat tidur, lalu mendekat ke arah Maura.


"Kamu dengannya kan seperti permen karet. Bahkan aku sempat mengira jika kalian adalah sepasang kekasih... haha.." Maura meledek Rojer dengan tertawa.


"Kamu... " Tekan Rojer hendak memeluk Maura.


"Berhenti,,, jangan coba- coba mendekat..!!" Ucap Maura dengan serius dan tatapan tajam.


Rojer panik melihat tingkah Maura yang sama saat tadi Maura menyuruhnya untuk tidak menyentuhnya dan melontarkan hal- hal yang negatif.


"Kenapa..??? Apa aku melakukan kesalahan..?? Apa kamu baik- baik saja...??" Tanya Rojer dengan cemas dan khawatir.


"Aku baik- baik saja..." Timpal Maura singkat.


"Lalu kenapa aku tidak boleh mendekat??" Rojer mendekat ke arah Maura. Tapi lagi- lagi Maura menghentikan.


"Aku bilang kamu jangan mendekat, jangan sentuh aku. Kamu belum mandi, badan mu sangat bau dan busuk...iww.." Jawab Maura dengan jijik.


Rojer menghela nafasnya saat mendengar jawaban Maura.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi mandi tapi kita akan mandi bersama.." Ujar Rojer lalu dengan cepat menangkap tubuh Maura ke dalam pelukannya. Sebelum Maura bisa kabur dari cengkaraman Rojer.


Maura mendorong tubuh Rojer menjauh dari tubuhnya. Tapi tangan Rojer memeluk erat pinggang Maura.


"Kamu mau kabur lagi. Tidak akan ku biarkan kan." Ucap Rojer dengan smirk khasnya, yang membuatnya terlihat sangat tampan.


Maura menutup hidungnya, karna bau telur busuk dari tubuh Rojer menyeruak ke dalam indra penciumannya.


"Lepaskan aku... Kamu bau sekali..." Ujar Maura dengan meronta- ronta agar terbebas dari Rojer.


"Aku akan melepaskan mu kalau kamu mau mandi bersama dengan ku.." Rojer kembali mengeratkan pelukannya, hingga membuat tubuh Maura benar- benar terhimpit oleh tubuh Rojer.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau mandi bersama mu... Lagi pula kamu sudah besar kan jadi mandi sendiri. Jangan jadi pri lemah.."


"Aku tidak lemah, bahkan tadi aku yang menyelamatkan mu..."


"Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak mau mandi dengan mu.."


"Kamu masih ingat kan soal hutang mu itu, yang jumlah nya sangat banyak..."


"Aku tidak akan membayar hutang ku dengan mandi bersama mu.." Ujar Maura dengan mencubit pinggang Rojer keras, membuat Rojer seketika melepas pelukannya.


"Aww.. sakit sekali" Ringgis Rojer dengan memegangi bekas cubitan Maura.


"Ck.. Kamu... hhhh baiklah kali ini aku memaafkan mu, tapi lain kali habis kamu..."


"Pergilah... Kamu membuat penciuman ku terganggu dasar CEO BAU..." Maura melempar handuk ke wajah Rojer yang hampir tertawa.


"Untuk kali ini aku memaafkan mu, karna kamu tengah mendapat masalah.. lain kali aku akan membuat mu tidak bisa berjalan..." Batin Rojer dengan mengulas smirknya. Ia bahagia melihat Maura sudah tertawa lepas dan tidak sedih lagi dengan masalah tadi. Tidak apa- apa jika ia mengalah kali ini atas ejekan Maura. Tapi bagi Rojer kebahagian Maura yang terpenting tidak penting jika Maura bahagia dengan memgejeknya.


Rojer melangkah meninggalkan Maura dan masuk ke dalam kamar mandi. Maura masih tertawa terkekeh. Kali ini ia tidak tertekan dengan masalah hutangnya ketika Rojer mengancamnya seperti biasa.


...----------------...


Kini Rojer dan Maura sudah siap. Mereka sudah memakai baju masing- masing dan terlihat rapi. Hanya saja Maura terlihat sedikit berbeda, karna bekas lebam yang ada di lengannya dan luka yang ada di pelipisnya.


"Sekali lagi maafkan aku..." Ujar Rojer merasa bersalah setiap kali melihat Maura.


"Sudahlah, ini bukan salah mu... Kenapa terus meminta maaf.. lagi pula ini semua sudah berlalu... Luka ini akan sembuh dalam beberapa hari."


"Hhhh... Tapi kamu mendapat masalah ini karna diri ku... Aku tidak tahu, apa yang harus aku katakan kalau Charlote bertanya tentang ini..."


"Jangan pikirkan itu, aku akan mengatasi Charlote. Kamu tidak perlu mencemaskan dirinya."

__ADS_1


Maura dan Rojer keluar dari lift yang membawa mereka langsung ke lobi kantor.


Maura memperhatika sekeliling kantor. Sejak tadi ia berjalan tidak ada tanda- tanda altivitas manusia.


"Tunggu dulu, kenapa sepi sekali, dimana para karyawan yang biasa bekerja di sini. Jangan kan bayangan mereka bahkan batang hidung mereka pun tidak terlihat." Batin Maura memandangi kantor yang kosong tanpa ada siapapun kecuali dirinya dan Rojer. *Maura mengalihkan pandangannya ke arah sisi tembok tempat poster besar foto dirinya dan Rojer di pasang.


"Lo.. kok posternya udah hilang aja.." Batin Maura dengan tatapan bingung.


"Apa sih yang terjadi, saat aku tidak ada.." Tanya Maura pada dirinya sendiri*.


"Kenapa..?" Tanya Rojer pada Maura dengan meraih tangan Maura dalam genggaman tangannya.


"Kok sepi sekali, karyawan yang biasanya pada kemana?? Kamu menyuruh mereka pulang ya karna kejadian tadi. Maaf karna aku kantor tidak beroperasi hari ini.." Ucap Maura dengan nada bersalah.


"Ya wajar saja sepi, orang mereka semua sudah ku pecat.." Jawab Rojer dengan entengnya.


"Apa...!!!" Ujar Maura dengan terkejut mendengat jawaban Rojer. Tanpa di sadari mulut Maura menganga terbuka, karna sakit terkejutnya.


"Ha..ha.. Kamu jangan mangap begitu, ini bukan sesuatu yang luar biasa... Ayo mingkem, atau kamu mau di mingkem sama bibir ku... " Ujar Rojer dengan tertawa sambil mendekaykan wajahnya pada Maura.


Maura langsung memundurkan wajahnya dan menutup mulutnya rapat- rapat.


"Ni orang, bentar- bentar ngancem cium... Otak nya isinya itu- itu semua ya.." Batin Maura dengan melengkungkan bibirnya ke bawah.


" Bagaimana bisa kamu memecat mereka semua??. Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu hanya gara- gara hal sepele." Ujar Maura dengan khawatir membayangkan kantor ini tanpa karyawan.


"Hal sepele?? Kamu bilang itu hal sepele... Tidak Maura itu bukan hal kecil. Mereka sudah berani menghina bahkan melukai wanita yang ku cintai. Jadi itu adalah hal yang setimpal buat mereka."


"Tapi kamu tidak perlu sampai memecat mereka juga. Bagaimana dengan perusahaan??.." Timpal Maura dengan kesal.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!

__ADS_1


__ADS_2