Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
75


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 75...


Tapi langkah Rojer terhenti saat matanya menangkap sesuatu di dalam kamar.


"Maura..." Ujar Rojer.


Steve dan Maura yang sudah sadar memandang ke arah pintu kamar yang di buka paksa.


"Rojer..." Batin Maura memandang Rojer yang sudah memerah menahan amarah.


Amarah Rojer memuncak sampai ke ubun- ubun, dan tangannya mengepal keras. Rasa cemburu begitu membara di dalam dirinya. Terlihat jelas pada kedua matanya yang siap mencabik- cabik musuhnya. Rojer begitu terbakar ketika melihat Maura ada dalam pelukan laki- laki lain selain dirinya.


Dengan gemeretak gigi penuh amarah dan dengan rahang yang sudah mengeras sempurna. Rojer masuk ke dalam kamar dan menerjang Steve dengan brutal. Steve hanya terpaku tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Rojer.


Rojer merenggut paksa tubuh Steve menjauh dari wanita yang di cintainya. Menarik kerah baju steve hingga sobek. Dan tanpa ampun menghujamkan sebuah bogem mentah pada wajah Steve, hingga Steve terjungkal ke belakang membentur tembok dan terkapar di lantai.


"Bajingan... Brengsek... Berani- beraninya kamu menyentuh wanita ku... Aku pastikan kamu tidak akan bisa bernafas lagi.!" Ujar Rojer dengan sangat marah. Matanya mengkilat karna amarah cemburu yang terbakar.


Maura terbelalak, melihat sifat syco Rojer. Sungguh mengerikan. Bahkan ia tidak bisa berkata- kata. Mulutnya hanya terbuka lebar melihat pembantaian Rojer di depan matanya.


Darah segar mengucur dari sudut bibir Steve. Punggungnya terasa remuk karna hempasan Rojer. Di wajahnya yang putih sudah membiru bekas pukulan Rojer.


Rojer memegang bahu Steve dan mengangkat tubuh Pria yang hanya tingginya sebatas hidung Rojer. Rojer mendorongnya dengan kuat hingga terhimpit pada tembok.


"Siapa yang mengizinkan tangan bajingan mu ini menyentuh wanita ku... Lancang sekali kamu... Aku akan menghukum tangan mu yang lancang ini.. Aku akan mematahkan tangan kurang ajar ini. Dan memberi pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan..." Ujar Rojer dengan nada penuh penekanan. Tatapannya menyiratkan kecemburuan yang sudah sampai puncaknya. Sekali lagi ia memukul wajah Steve dengan begitu kuat. Hingga tubuh Steve terhempas membentur pintu kamar.

__ADS_1


"Hentikan...! Rojer....!" Maura berusaha berteriak menghentikan Rojer. Meski suaranya terdengar parau, karna kondisinya yang masih lemah. Bisa- bisa Rojer membunuh Steve pria yang menyelamatkan hidupnya 7 tahun lalu, jika tidak di hentikan. Tapi sepertinya telinga Rojer sudah tertutup awan cemburu hingga tidak mendengar panggilan Maura sejak tadi.


Steve mengatur nafasnya. Ia mengusap darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Rahangnya terasa patah karna kuatnya hantaman pukulan Rojer. Ia bisa saja melawan, tapi bukan pada orang sedang salah paham dan terbakar api cemburu seperti Rojer.


"Ini hanya salah paham..." Ucap Steve lirih, mencoba menjelaskan kebenaran pada Rojer.


Rojer meraih kerah baju Steve. Dengan tatapan siap untuk membuh mangsanya.


"Jangan pernah berharap untuk menyentuh wanita ku... Dia hanya milik ku... Aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja... Akan ku buat diri mu menyesal karna telah berani memeluknya.." Ujar Rojer dengan posesif. Akal sehatnya sudah hilang di telan cemburu. Ia tidak ingin mendengar apa pun dari mulut Steve. Baginya Steve adalah musuh terbesarnya. Dan dia siap untuk menghabisi pria di depannya demi wanita yang ia cintai.


"Rojer...!! Hentikan... Siapa pun hentikan dia..." Tangis Maura. Ia berusaha berteriak meski tenaga nya sudah terkuras. Maura begitu lemah, hingga suaranya saja tidak terdengar jelas.


Rojer meraih tangan Steve dan siap mematahkannya. Tangan yang sudah berani menyentuh miliknya. Tangan yang sudah berani memeluk hangat tubuh wanitanya. Kali ini tidak ada ampun bagi si pemilik tangan. Rojer sudah siap dengan ancang- ancangnya untuk mematahkan tangan Steve.


Edent yang baru masuk ke dalam kamar, dan melihat kebrutalan Rojer. Segera menarik tubuh majikannya menjauh dari Steve. Jika tidak Rojer akan mematahkan tangan Steve tanpa ampun.


Rojer memberontak. Berusaha melepaskan diri dari Edent yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Menghentikannya untuk menghabisi pria bajingan seperti Steve.


Edent berusaha menahan pemberontakan Rojer. Ia menahan serangan sikutan dari Rojer, yang pasti akan membiru di dadanya. Tapi Edent tidak ingin majikannya ini membuat masalah yang akan di sesalinya nanti.


"Tuan muda hentikan...!!! Kamu bisa membunuhnya..." Teriak Edent menghentikan amukan Rojer. Dengan terus menahan tubuh Rojer menjauh dari Steve.


"Lepaskan aku Edent... Jika kamu tidak ingin terluka... Lepaskan aku...!!! Aku pastikan pria yang berani menyentuh wanita ku... Harus hancur dan menyesal... !!!" Teriak Rojer dengan amarah yang belum reda. Rojer terus memberontak melepas tangan Edent dari tubuhnya. Saat ini dalam pikirannya hanya satu, menghancurkan pria di depannya itu.


Steve bangkit dengan memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit, karna terpelintir oleh Rojer. Ia tidak bisa meremehkan kekuatan Rojer, yang telah berhasil membuatnya babak belur. Steve terhuyung ke belakang. Ia memandang Rojer yang masih berontak melepaskan diri dari Edent. Amarah di mata Rojer tidak terlihat berkurang sedikit pun. Meski Rojer sudah membuat dirinya terluka.

__ADS_1


"Pergilah Tuan... Jika kamu masih ingin hidup...!!" Teriak Edent pada Steve. Berharap Steve mendengarkan peringatannya.


Steve menoleh ke arah Maura, yang terlihat sedikit ketakutan karna menyaksikan pembantaian dirinya. Maura mengangguk menyetujui ucapan Edent. Sebaiknya Steve segera pergi dari sini. Jika tidak amarah Rojer tidak akan mereda.


Mengerti arti anggukan Maura. Steve menghela nafasnya dan keluar dari kamar Maura.


"Hei... Brengsek.. Mau kabur kemana kamu... Jangan harap kamu bisa lolos dari ku... Aku pastikan hidup mu akan menyedihkan...!!" Pekik Rojer dengan mata menyalang, melihat Steve yang pergi.


Edent melepas tubuh Rojer, setelah melihat Steve sudah pergi. Rasanya tubuh bagian depannya sudah memar karna menahan sikutan- sikutan Rojer.


Rojer berbalik menghadap Steve dengan mata yang memerah.


"Berani sekali kamu Edent menghentikan ku...!" Teriak Rojer pias di depan wajah Edent.


Plakkkkk....!


Tamparan keras mendarat di wajah Edent. Hingga wajah Edent langsung menolah ke kiri, karna kerasnya tamparan Rojer. Dapat di pastikan tangan Rojer akan membekas di pipi mulus Edent.


Edent tidak bergeming meski sudah mendapat tamparan dari majikannya. Ia tahu ia salah karna menahan majikannya tadi. Tapi satu yang pasti Rojer akan murka kepadanya lebih parah dari pada ini nanti, jika ia tidak menghentikannya sekarang.


"Aku akan menahan pukulan mu Tuan... Tapi aku tidak akan bisa menahan amarah mu nanti jika perbuatan mu ini membuat Nona Maura meninggalkan mu karna melenyapkan seseorang . Kamu boleh menghajar ku sepuas mu sampai wajah ku tidak terbentuk lagi. Tapi aku tidak akan biarkan hubungan mu dengan Nona Maura terancam. Aku tidak ingin nanti melihat hati mu hancur Tuan muda..." Batin Edent dengan terus berdiri dengan tegap di depan Rojer. Tanpa ada rasa takut. Ia siap di jadikan samsak pukulan oleh majikannya itu.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Koment dong... Butuh asupan nutrisi semangat😣


__ADS_2