Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
100


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 100...


Krek...


Suara pintu operasi kembali terbuka. Dari balik pintu muncul pria dengan pakaian operasi. Pria yang di tunggu kehadirannya oleh Rojer dan Edent. Mereka langsung bangkit dan menghampiri Antony.


"Antony bagaimana keadaan Maura.? Dia berhasil di selamatkan kan???. Kamu sudah melakukan hal terbaik kan untuk nya...? " Rojer memberondong Antony dengan pertanyaan- pertanyaan yang sudah menganjal di dadanya.


Antony mengerutkan alisnya, sambil menggelengkan kepalanya sedikit. Selama berjam- jam di dalam ruang operasi sungguh membuatnya letih.


"Jawab aku kenapa kamu diam saja...?!" Rojer meninggikan suaranya. Karna Antony hanya diam.


"Sepertinya---"


"Sepertinya apa? katakan dengan cepat... Bagaimana kondisi Maura sekarang? Dia akan sembuh kan...?" Tanya Rojer lagi dengan tidak sabaran, membuat Antony memutar bola matanya malas.


"Diamlah... Bagaimana aku bisa mengatakannya jika kamu memotong perkataan ku..." Ujar Antony dengan sebal, karna sikap Rojer yang tidak sabaran.


"Tuan anda tenang dulu, biarkan Tuan Antony mengatakan sesuatu.." Gumam Edent di samping Rojer.


Rojer mengatur nafasnya lebih tenang.


"Katakan sekarang... Atau aku akan menerobos masuk ke ruangan sialan ini..." Ucap Rojer lagi dengan menekan kata- katanya. Antony menggelengkan kepalanya tidak percaya, di saat kondisi seperti ini pria di depannya masih bisa mengancamnya.


"Apa kamu bisa bicara dengan ku dengan sopan... Aku tidak percaya dalam kondisi ini kamu masih bisa mengancam ku... Sungguh sangat di sayangkan..."


"Ck... Katakan bagaimana kondisinya... Jangan bicara bertele- tele seperti itu... Kamu tidak ingin aku ---"


"Baiklah... oke... oke... Aku akan mengatakannya... Keadaan Maura masih sangat lemah dan kritis. Jika ia bisa sadar dalam kurun waktu malam ini. Maka dirinya akan melewati masa kritisnya. Tapi jika dia belum bisa sadar, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya... Aku sudah berusaha melakukan hal terbaik yang ku bisa... Kita hanya bisa berdoa kepada tuhan untuk membuat Maura sadar dalam kurun waktu malam ini..." Jelas Antony dengan sedikit nada sedih pada kalimatnya. Ia memang dokter, tugasnya untuk menyelamatkan pasiennya. Tapi tetap saja, kehidupan seseorang tetaplah di tangan tuhan.


"Bagaimana kamu ini... Kamu... Kamu dokter hebat kan??? Kenapa kamu tidak bisa menyembuhkan nya...!!!" Bentak Rojer kalang kabut, membuat Antony semakin kesal melihat tingkah Rojer yang kekanak kanakan.


"Astaga orang ini, aku sudah berusaha menyelamatkan calon istrinya sebisa ku... Bukannya berterimakasih dia malah membentak ku seperti ini... " Batin Antony dengan menatap kesal pada Rojer.


"Aku memang dokter, tapi hidup dan mati seseorang ada di tangan tuhan... Bukan di tangan ku... Jika aku memiliki wewenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang... Aku pastikan semua orang yang sekarat di rumah sakit ini akan aku berikan kehidupan.. Dan sekalian mayat- mayat yang ada di ruang jenazah juga akan ku hidupkan kembali....!!!" Timpal Antony tak kalah tinggi dari Rojer. Sungguh dirinya tidak percaya temannya yang terkenal arrogant ini jika jatuh cinta akan seperti ini. Dirinya juga jatuh cinta, tapi dia tidak semenyebalkan Rojer.


"Ahhhh sudahlah... Katakan sekarang apa aku bisa menemuinya... Aku sudah menunggu nya selama berjam- jam. Sungguh aku tidak akan bisa menunggu lagi..."

__ADS_1


"Sayang nya tidak... Maura harus di pindahkan ke ruang rawat inap dulu, baru setelah itu kamu bisa menemuinya... Aku juga akan memeriksa ulang laporan kesehatan Maura, kamu bisa menemui ku di ruangan ku..." Antony, melangkah pergi dari hadapan Rojer yang sudah sangat berbeda di matanya. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Rojer. Ia sudah sangat letih. Ia juga ingin menghubungi istrinya yang di tinggalkan saat malam pertama mereka.


"Antony....!!!!! Dokter macam apa kamu ini... Kamu sudah mengatakan hal yang buruk tentang Maura... Dan sekarang kamu melarang ku untuk masuk menemui nya... Antony...!!! Kembali kamu, aku akan membuat mu tidak akan bisa berjalan lagi.....!!!" Teriak Rojer memanggil Antony, yang sudah berjalan menjauh dari hadapannya. Sambil menutup rapat telinganya dengan kedua tangannya.


"Tuan... Tenangkan diri mu...." Edent menenangkan Rojer yang terlihat gusar dan kesal. Ia mnegerti kecemasan dan kekhawatiran majikannya ini.


"Bagaimana bisa aku bisa tenang... Aku belum melihat Maura... Aku belum melihat kondisinya... Bagaimana dia sekarang... Katakan bagaimana aku bisa tenang...!" Bentak Rojer pada Edent, yang membuat Edent memilih untuk diam. Dari pada mencoba memadamkan kobaran api yang sedang berkobar dengan sangat dahsyat. Bisa- bisa dirinya akan ikut terbakar.


...----------------...


Semburat cahaya menyapa kedua mata lentik Charlote. Cahaya putih terang yang berhasil masuk dan menggelitik pupil- pupil kecil matanya.


Tubuhnya terasa remuk dan sangat letih. Tenaganya lenyap entah kemana. Hanya untuk membuka kelopak matanya, rasanya ia tidak bisa. Dirinya hanya bisa mendengar sayup- sayup suara aneh yang terdengar di telinganya.


...----------------...


Rojer memasuki ruang inap Maura dengan detak jantung yang bertabuh cepat. Nafasnya sedikit tercekat, saat otaknya mengingat kondisi Maura saat di temukan di antara reruntuhan itu. Seluruh tubuhnya di penuhi dengan darah.


Rojer menghela nafasnya panjang. Saat tangganya meraih gagang pintu dan memutarnya pelan.


Klek...


Rojer mengangkat kepalanya perlahan, dan membuka matanya. Ia menguatkan dirinya untuk tidak terlalu rapuh di hadapan cintanya yang sedang sangat membutuhkannya.


Rahang wajah Rojer mengeras, gigi- giginya bergemelatuk hebat. Dan matanya memerah dan berkaca- kaca, melihat pemandangan di depannya yang mampu membunuhnya seketika itu juga.


Tubuh Maura terbaring kaku di atas ranjang, dengan alat- alat medis yang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Kepalanya di balut perban, dengan noda merah yang tercetak pada perban putih yang melilit kepalanya. Kedua lengannya juga sama penuh dengan lilitan perban.


Air mata Rojer menghambur jatuh mengalir di pipinya. Kondisi Maura membuat jantungnya terasa sakit, seperti sedang di cabik- cabik binatang buas.


Dengan perlahan Rojer melangkah mendekat ke arah Maura, yang sedang terlelap tanpa beban seperti boneka porselen.


Rojer berdiri di samping ranjang, dengan mata yang tak berhenti memandang tubuh Maura. Hati Rojer terasa seperti ter iris- iris oleh sembilu tajam. Sungguh menyakitkan melihat kekasih yang di cintainya, kini sedang terbujur diam dengan luka yang memenuhi seluruh tubuhnya.


Tangis Rojer kembali terisak, jauh lebih keras dari pada sebelumnya.


"Kenapa kamu lakukan ini pada ku Mau??? Kamu sudah sangat menyakiti ku... Aku lebih baik memilih untuk menerima kemarahan mu, yang dapat membunuh ku. Dari pada aku harus melihat mu dalam kondisi ini... Hiks..." Suara Rojer mengambang di udara. Tangisnya mencekat tenggorakannya, memaksa dirinya menelan ludahnya paksa.

__ADS_1


Edent menatap punggung Rojer dari luar ruangan. Dari sebuah dinding kaca yang menghalangi dirinya dan ruangan inap Maura.


"Kenapa aku begitu bodoh dan ceroboh.... Ini semua memang salah ku... Jika aku memeriksa ballroom itu dengan benar, ini semua tidak akan terjadi. Tuan muda tidak akan menderita seperti ini..." Lirih Edent, bergumam pada dirinya sendiri, dirinya benar- benar merasa bersalah dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Maura dan juga Charlote.


Sebuah tangan menepuk- nepuk bahu Edent pelan. Membuat Edent menoleh ke sampingnya, dan mendapati Antony sudah berdiri di dekatnya, dengan pandangan sedih melihat ke arah Rojer yang bahunya terlihat bergetar.


"Itu semua bukan salah mu Edent.... Semuanya adalah kecelakaan. Siapa yang mengetahui jika ballroom itu akan meledak. Tidak ada... Ini adalah takdir Maura, yang sudah tertulis dalam lembaran hidupnya. Dia tidak akan bisa menghindari hal itu.. Jadi kamu jangan menyalahkan diri mu... Aku yakin pasti kamu tidak ingin hal ini terjadi pada Maura kan.?" Edent mengangguk singkat, mengiyakan apa yang di katakan Antony.


"Anda memang benar Tuan, tapi Tuan muda sudah sering mengingatkan saya untuk mengecek ke amanan hotel dan semua tempat yang akan Nyonya singgahi... Tapi Saya sudah ceroboh sampai melewatkan hal yang sebesar ini. Seharusnya Saya harus tetap waspada. Tapi Saya sudah gagal menjalankan tugas dari Tuan muda... Saya tidak tahu apa setelah ini Tuan muda bisa memaafkan saya..." Timpal Edent dengan pasrah.


"Tapi itu bukan sepenuhnya salah mu... Aku tahu kamu akan mendapat hukuman yang besar dari Rojer.. Tapi percayalah, dia tidak akan membuang orang yang di percayainya dan orang yang sangat setia padanya.... Dia memang sangat menyebalkan... Bahkan aku sampai melewatkan malam pertama ku dengan istri ku karna dirinya... Tapi biar pun dia sangat menyebalkan, aku tidak pernah menginginkan untuk melihatnya menderita seperti ini... Melihatnya meratapi Maura membuat ku takut menyampaikan dugaan medis tentang kesehatan Maura...."


"Maksud anda....??? Apa nyonya baik- baik saja...?"


"Aku harap juga begitu Edent... Ayolah dari pada kamu menonton dua sejoli yang sedang melepas rindu itu, lebih baik kamu menemani ku minum kopi.." Antony merangkul bahu Edent dengan senyum nakal yang selalu menghiasi wajah tampannya.


"Terimakasih Tuan... Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas pernikahan anda... Dan maaf karna Tuan muda anda tidak bisa menimati malam pertama anda...." Edent mengulas senyumnya, meski rasa khawatir masih tertinggal di hatinya.


"Ahhh sudahlah... Menyelamatkan nyawa pasien lebih penting dari pada itu... Lagi pula aku akan melakukan banyak malam pertama dan panas bersama istri ku di sisa hidup ku ini..." Antony terkekeh geli, saat melihat wajah Edent yang tersipu malu. Mereka berjalan dengan antony merangkul bahu Edent seperti seorang teman, menjauh dari ruang inap Maura.


"Oh.. Ya Edent apa kamu sudah punya pacar...???" Tanya Antony nakal, padahal dirinya sudah tahu jika Edent masih jomblo.


Edent hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara wajahnya terlihat merona karna godaan dari Antony.


...----------------...


"Sayang... Bangunlah... Kembali lah pada ku... Jangan membuat ku menderita... Bangunlah... Marahi ku,,, pukul aku sesuka mu... Tapi bangunlah.... Jika tidak aku akan ikut terlelap selamanya bersama mu... Jangan hukum aku seperti ini.... Aku mohon bangunlah Mau....!!!" Ujar Rojer dengan suaranya yang tertahan. Dan dadanya yang terasa sesak.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2