
...ILUSI TAKDIR 145...
Tampak di bandara Internasional Airport. Seorang pria dengan wajah kesakitan, dengan luka yang di perban di pelipis nya. Dan juga tangan yang di gift, terlihat berjalan dengan tergesa- gesa.
"Permisi, penumpang atas nama Maura karavan, kemana arah penerbangan nya?" Tanya Rojer pada seorang petugas wanita.
"Sebentar pak.. Saya akan mengecek nya dulu..." Timpal sang wanita, lalu fokus dengan komputer di depan nya.
"Tujuan penerbangan kota D pak..." Jawab sang petugas singkat.
Tangan Rojer mengepal keras, tapi hati nya berdesir bahagia. Setidak nya ia sudah menemukan petunjuk untuk menemui wanita yang di cintai nya.
"Terimakasih..." Ujar Rojer berterimakasih.
"Edent...!!! pesan kan aku tiket penerbangan selanjut nya ke kota D..." Titah Rojer lalu berjalan dan duduk di kursi tunggu.
"Tapi Tuan, kondisi anda tidak memungkin kan untuk kita melakukan penerbangan sekarang..." Timpal Edent yang masih khawatir dengan kondisi majikan nya.
"Apa sekarang kamu yang menjadi bos nya... Hingga berani membantah setiap ucapan ku..." Geram Rojer pada Edent. Yang sejak tadi terus membantah setiap perintah nya.
Ia sangat tahu Edent sangat mengkhawatirkan dirinya. Karna saat usia nya 14 tahun pemuda itu sudah berada di samping nya, membantu dan mendampingi nya. Sampai saat ini.
"Sesuai perintah anda Tuan..." Edent berjalan berlalu, melaksanakan perintah yang di titahkan Rojer.
Edent tidak akan pernah bisa membujuk tuan muda nya itu, jika sudah berkaitan dengan Maura.
...----------------...
"Maura... Lama tidak bertemu dengan mu..." Sapa seorang pria yang langsung memeluk Maura, yang baru saja keluar dari pintu utama bandara kota D.
"Steve..." Lirih Maura dengan tersenyum tanpa semangat.
Charlote langsung memasang wajah sinis, melihat steve yang memeluk ibu nya.
"Aku sungguh tidak menyangka kita akan bertemu lagi... Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali ke kota ini..." Ujar Steve dengan antusias.
Steve terlihat begitu senang, saat mendapat telpon dari Maura. Dan meminta nya untuk menjemput nya di bandara.
"Aku juga tidak menduga hal itu... Tapi sudah tidak ada yang tersisa untuk ku di sana..." Jawab Maura dengan memperlihatkan deretan gigi - gigi putih nya.
"Apa pun alasan mu... Inti nya aku sangat senang melihat mu kembali ke kota ini..." Ucap Steve.
"Hai Boy..." Sapa Steve pada Charlote yang sejak tadi hanya diam dengan wajah murung nya.
"Cih..." Bukan nya membalas sapaan Steve, Charlote malah berdecih dan mengalihkan pandangan nya dari Steve.
__ADS_1
"Baiklah ayolah... Sekarang kita pulang..." Steve segera melangkah menuju mobilnya dan membukakan pintu penumpang untuk Maura.
Maura dan Charlote masuk ke dalam mobil. Steve segera melajukan mobil nya, membelah jalanan yang terlihat ramai.
Tak berselang lama, Mobil Steve memasuki pelataran rumah dengan gaya klasik tapi terlihat cukup modern.
"Loh ma... Kok kita ke rumah paman Steve?" Tanya Charlote saat melihat rumah berwarna coklat kayu di hadapan nya.
"Karna kalian akan tinggal di sini...." Sosor Steve dengan cengiran kuda.
"Apa...??!!! Aku tidak mau ma... Kita tinggal di rumah lama kita saja... " Renggek Charlote yang tidak setuju.
"Sayang... Dengarkan mama Charlote... Kita tidak bisa tinggal di sana, Kita akan tinggal sementara waktu di rumah paman Steve dulu..." Bujuk Maura dengan lembut.
"Tapi ma... Papa tidak akan suka..."
"Ssstttt Jangan bahas tentang papa mu... Charlote percaya kan sama mama... Untuk kali ini saja.. Charlote jangan banyak bertanya..." Maura meletakkan satu telunjuk nya di depan bibir. Meminta Charlote untuk berhenti bertanya akan keputusan nya.
Maura sengaja tinggal di rumah Steve untuk sementara waktu. Ia sudah memikir kan hal ini. Ia yakin Rojer akan mencari nya sampai ke kota ini.
Dengan sangat mudah pasti Rojer akan menemukan rumah lama nya di kota D ini.
Untuk alasan itu, ia memilih untuk tinggal di rumah Steve. Agar Rojer tidak mudah untuk menemukan diri nya.
...----------------...
Maura menghela nafas panjang. Melirik Steve yang sedang memandang nya dengan tatapan sendu.
Senyum tipis tergurat di bibir Maura. Ia merasa tatapan Steve memandangi diri nya, seperti tatapan penuh kasihan.
Tapi Maura merasa pantas untuk itu. Bahkan diri nya juga mengasihani nasib hidup nya.
Yang selalu di tentukan oleh tangan orang lain. Atau bahkan takdir.
"Di saat orang yang paling kamu cintai membohongi mu... Kira- kira bagaimana perasaan mu?" Jawab Maura dengan sebuah pertanyaan.
Steve menarik ujung bibir nya. Memandang ke arah tembok dengan cat cream di depan nya.
"Rasa nya pasti sangat sakit... Aku mungkin belum pernah menghadapi situasi seperti mu... Tapi bukan berarti aku tidak pernah berada di posisi yang mirip dengan mu.. Orang yang begitu kamu percayai bahkan lebih dari diri mu, membohongi mu dengan kebohongan yang besar. Saat itu dunia kita seakan runtuh seketika...
Kecewa dan terkhianati menyatu menjadi satu. Menjadi sebuah luka yang sulit untuk di sembuh kan... Katakan apa Rojer melakukan hal yang seperti itu??"
Maura mengangguk pelan. Tenggorokan nya terasa kering. Sementara ke dua mata nya memanas dengan air yang muncul di pelupuk mata nya.
Maura menengadah kan wajah nya. Menatap plapon rumah dengan sinar lampu menembus pupil mata Maura.
__ADS_1
Maura sengaja melakukan hal itu , agar air mata nya tidak tumpah di hadapan Steve.
Ia tidak ingin orang lain merasakan luka nya. Karna luka pengkhianatan ini harus di simpan rapat.
Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria di samping nya. Ia ingin menjadi wanita yang tegar, meski luka di hati nya menganga begitu besar. Bahkan ia tidak tahu kapan luka ini akan sembuh.
Maura menyeringgai sebelum kembali berbicara.
"Aku tidak tahu dia menganggap ku sebagai apa dalam hidup nya... Dengan tingkah nya yang manis, perkataan nya yang manis, sangat membuat ku terbuai...
Tapi,,, Suatu saat dia membohongi ku di saat aku kehilangan ingatan ku...
He... Dia bahkan menjebak ku dalam sebuah pernikahan di luar kesadaran ku...
Aku tidak pernah mengira dia bisa berpikir untuk memanfaatkan ku di saat ingatan ku hilang...
Saat ini aku begitu kecewa.. Dan terluka dengan sikap nya yang selalu melakukan apa pun sesuai dengan keinginan nya sendiri...
Tanpa berpikir bagaimana perasaan orang lain. Seakan semua itu tidak penting bagi nya..."
Papar Maura dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aku memgerti Mau... Aku yakin luka itu akan segera sembuh... Pria seperti Rojer tidak pantas untuk mu.. Kamu mengambil keputusan yang tepat untuk meninggalkan diri nya..." Ujar Steve dengan penekanan di setiap perkataan nya.
Tangan Steve terulur menyentuh bahu Maura, dan menarik nya dalam pelukan nya.
Maura sama sekali tidak memberontak atau melawan.
Seperti nya diri nya saat ini memang butuh bahu untuk bersandar, meluapkan emosi yang tertahan dan menumpuk di dalam dada nya. Pikir Maura.
"Maksud paman apa dengan mengatakan hal itu???!!!" Bentak Charlote, yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1