
...ILUSI TAKDIR 118...
"Wahh... Nyonya anda terlihat sangat cantik..." Puji salah satu penata rias, setelah memoles kuas terakhir pada wajah Maura.
Maura tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Dirinya tidak memungkiri hanya dengan sedikit polesan make up membuat dirinya begitu berbeda. Dengan penampilannya yang selalu natural.
"Aku yakin Tuan muda akan semakin terpesona dengan Nyonya... Jika Nyonya memakain gaun pengantin ini..." Ujar penata rias yang lainnya dengan membawa gaun pengantin Maura yang terlihat sangat indah dan mewah.
Gaun bergelombang dan lebar serta dengan sulaman bunga indah yang menghiasi gaun berwarna biru langit di hadapannya. Sungguh gaun yang terlihat begitu cantik dan berkelas.
"Kami akan membantu Nyonya untuk bersiap..." Ujar sang penata rias kembali dengan mendorong kursi roda Maura ke dalam kamar mandi.
Maura tersenyum kecut. Di hari bahagia dan bersejarah dalam hidup nya, ia sedikit sedih karna harus di bantu mengenakan gaun pernikahan yang begitu indah.
Tapi bagaimana lagi, dengan kondisinya yang lumpuh seperti sekarang ia memang membutuh kan bantuan untuk mengenakan gaun yang terbilang besar.
Sementara lain di kamar Rojer. Edent dan Mr. Kong melakukan hal yang sama. Menyiapkan Tuan muda nya agar terlihat memukau dan tampan di hari yang spesial dan bersejarah ini.
Mr. Kong begitu bahagia dan terharu saat mendengar kabar pernikahan Rojer. Ia sungguh bahagia karna kini Tuan muda nya sudah menemukan dan mendapatkan kebahagiannya. Dirinya berharap semoga acara ini berjalan dengan lancar dan khidmat.
Deg..
Deg..
Deg..
Rojer memegang dada sebelah kirinya. Merasakan detakan jantung nya yang semakin meningkat. Dirinya tersenyum merasakan detakan jantung nya sendiri yang berpacu dengan cepat.
"Huhhh... Sungguh aku benar- benar gugup hari ini..." Ujar Rojer dengan melipat bibirnya ke dalam.
"Aku tidak menyangka jika Tuan muda juga merasakan rasa gugup..." Ledek Edent tanpa ekspresi, sementara tangannya sibuk memasang kancing tuxedo Rojer.
Hari ini, Rojer memakai tuxedo berwarna navy, dengan desain yang begitu mewah dan elegant. Postur tubuhnya yang di balut dengan tuxedo navy tersebut begitu terlihat sempurna dengan warna kulit nya yang kontras.
"Wajar saja jika Tuan muda merasa gugup... Karna hari ini dirinya akan menikah..." Sahut Mr. Kong, yang sibuk merapikan kerah kemeja Rojer.
"Tapi aku tidak merasa segugup ini saat menikah dengan Catlin..." Timpal Rojer dengan kening yang berkerut.
"Tentu saja anda tidak merasakan hal ini saat menikah dengan Nona Catlin, karna Tuan muda menikah karna terpaksa. Dan sekarang kasus nya tentu berbeda Tuan muda... Hari ini anda akan menikahi seorang wanita yang sangat anda cintai... Pernikahan anda ini berlandaskan dengan cinta bukan karna keterpaksaan... Tentu saja anda akan merasa gugup..." Jelas Edent panjang lebar, membuat Rojer mendelik dengan perkataan Edent.
"Sepertinya kamu semakin pengalaman dalam urusan cinta Edent..." Tukas Rojer.
Edent menatap ke arah Rojer, yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam. Membuat dirinya menelan salivanya kasar.
"Aahhh ini berkat buku cinta itu Tuan..." Jawab Edent dengan alasannya.
"Seingat ku... Buku teori cinta yang kamu berikan kepada ku tidak membahas hal itu.." Selidik Rojer, yang semakin membuat Edent salah tingkah.
__ADS_1
"Di buku teori cinta itu memang tidak ada Tuan... Saya membacanya pada teori cinta seson dua... Jadi wajar jika anda tidak tahu..." Jawab Edent dengan gugup yang ia sembunyikan.
"Jika begitu berikan buku itu pada ku... Dan letakkan satu lemari penuh tentang cinta dan semacamnya di perpustakaan..." Titah Rojer yang berhasil membuat Edent mati kutu.
Edent hanya asal mengatakan hal itu semua. Hanya untuk menggoda majikannya. Tapi seperti nya semuanya kini berbalik ke padanya. Sekarang pekerjaan nya bertambah satu lagi. Harus menyiapkan buku- buku cinta untuk bosnya yang sedang kasmaran.
Mr. Kong tersenyum tipis melihat wajah Edent yang langsung tertekuk ke dalam. Seperti sebuah kertas yang di remas- remas.
...----------------...
Ny. Aurora sedang mondar- mandir dengan tangan terangkat menopang dagunya. Wajahnya terlihat frustasi. Pikirannya benar - benar kusut dengan berita besar yang baru beberapa jam dia terima.
Sesekali ia melirik ponselnya. Namun tidak ada apa- apa yang ia bisa di temukan di sana.
"Anak bodoh itu,,, kenapa bisa ia melepas Rojer semudah itu... Dan sekarang Rojer dan Maura akan menikah... Tambang uang ku lenyap begitu saja karna anak bodoh itu... Hhhh aku harus melakukan apa... Jika aku menggagalkan pernikahan Maura dan Rojer... Maka Rojer tidak segan untuk menutup perusahaan ku dan membuat ku dalam sekejap menjadi pengemis... Tidak... Tidak... Itu tidak boleh terjadi...." Gumam Ny. Aurora sendiri dengan pemikiran yang terus membelit otaknya. Menduga- duga kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada dirinya.
...----------------...
Jam yang di tunggu kini tiba. Para tamu undangan sudah duduk dengan rapi pada kursi- kursi yang di sediakan.
Di depan mereka sudah berdiri altar mewah dengan bunga tulip berwarna putih dan dengan perpaduan warna biru.
Karpet merah sudah membentang dari pintu yang akan di lewati sang mempelai wanita.
Sedangkan di sisi altar sudah berdiri seorang pendeta dengan wajah tersenyum.
Maura menatap dirinya di depan cermin dengan tatapan sendu. Ada kesedihan yang terpancar dari matanya.
Ia mengasihani dirinya yang duduk di atas kursi dan tidak berdaya. Gaun indah yang di kenakannya tidak terlihat sempurna karna harus tertekuk karna di duduki.
Perasaan malu tiba- tiba merayap dalam hatinya. Impian untuk menjadi mempelai yang sempurna kini pupus di depannya. Dirinya malu bersanding dengan Rojer yang seperti seorang pangeran. Sementara dirinya adalah wanita lumpuh yang tidak bisa berdiri.
"Rojer pasti akan merasa malu pada para ramu undangan. Memiliki seorang istri lumpuh seperti ku..." Maura tertawa kecut, dengan menatap dirinya lekat pada cermin.
Ibu mertuanya mengatakan, jika dia sengaja melakukan semua ini untuk Maura. Supaya ingatan Maura kembali pulih dengan cepat.
Tapi, Maura merasa adegan ini begitu asing. Dan seakan- akan dirinya melakukannya untuk pertama kali.
Maura menghela nafas dalam. Untuk mengurangi kegugupan yang datang menyerangnya.
"Sayang... Maura ,,,, Rojer sudah sudah menunggu mu..." Ujar Ny. Anindita yang datang untuk menjemput Maura.
"Wah.... Kamu terlihat sangat cantik sayang..." Ujar nya lagi saat melihat penampilan Maura yang begitu cantik mengenakan gaun pengantin pilihannya.
Maura semakin tersenyum kecut mendengar pujian dari ibu mertuanya, yang seperti olokan bagi dirinya.
"Kamu sudah siap..?" Tanya Ny. Anindita lagi dengan wajah yang begitu antusias. Yang di respon dengan anggukan oleh Maura.
Maura semakin menghela nafasnya panjang. Saat Ny. Anindita mulai mendorong kursi rodanya. Dirinya benar- benar merasa gugup sekarang. Maura meremas jari jemari nya, melampiaskan kegugupan dalam dirinya.
Dari sisi lain Charlote menghampiri Maura dan Ny. Anindita. Berdiri di samping Maura sebagai pendamping sang ibu. Berjalan beriringan memasuki pintu yang menjadi sekat tempat acara yang akan segera berlangsung.
Di ujung sana, sudah berdiri Rojer dengan seorang pendeta di atas altar.
Pipi Maura merona saat melihat pria di depannya tersenyum manis ke arahnya. Ia memungkiri jika Rojer begitu terlihat tampan dan menawan.
Kursi Roda Maura semakin mendekat ke arah altar. Tampak disana Rojer sudah menunggu kehadiran dirinya.
Kini Maura sudah berada di depan Rojer. Semua mata kini mengarah ke pada mereka. Semuanya begitu terpesona dengan kecantikan dan ketampanan dari ke dua mempelai. Membuat semua orang berbisik jika ke duanya adalah pasangan yang sempurna.
__ADS_1
"Bisa kita mulai..?" Tanya sang pendeta yang sudah siap di tempatnya.
"Tunggu..." Ujar Rojer lirih, membuat Maura mendongak menatap Rojer.
Rojer membungkuk dan meraih pinggang Maura. Menopang berat tubuh Maura agar bisa berdiri sejajar dengannya.
Tubuh Maura menempel pada tubuh Rojer dengan tangan Rojer berada di pinggangnya, sebagai tumpuan menyangga tubuhnya.
Maura tersenyum bahagia dengan perlakuan Rojer yang memperlakukan dirinya seperti wanita yang tidak lumpuh. Maura memegang bahu kekar Rojer dengan mata yang berbinar menatap wajah tampan Rojer.
Deg....
Deg..
Deg..
Jantung Maura dan Rojer semakin berdetak kencang. Seakan saling berkomunikasi satu sama lain di balik tubuh mereka yang sedang menempel dengan sempurna.
"Lakukan..." Lirih Rojer, yang di angguki oleh sang pendeta.
"Maura Wang... Bersediakah kamu menjadi istri dari Rojer Wang.. Untuk saling memiliki satu sama lain, Untuk saling menjaga, dari sekarang hingga selama- lamanya. Baik dalam susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun ke kurangan. pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan..." Ujar pendeta mengikrarkan sumpah pernikahan pada Maura.
"Aku bersedia..." Jawab Maura mantap dengan tatapan yang tidak teralihkan dari Rojer.
"Rojer Wang... Bersediakah kamu menjadi Suami dari Maura Wang.. Untuk saling memiliki satu sama lain, Untuk saling menjaga, dari sekarang hingga selama- lamanya. Baik dalam susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun ke kurangan. pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan..." Lanjut pendeta mengikrarkan sumpah pernikahan pada Rojer.
"Aku bersedia..." Jawab Rojer dengan yakin, dan tersenyum ke pada Maura. Ini lah yang selama ini dirinya impikan dan sekarang Maura sudah resmi menjadi istri dan Nyonya muda keluarga Wang.
"Kalian sudah resmi menjadi suami istri... Kalian bisa melakukan ciuman pernikahan..." Sambung sang pendeta.
Wajah Maura semakin merona ketika mendengar ucapan pendeta.
Rojer mendekatkan bibirnya pada bibir Maura. Semakin dekat hingga tidak menyisakan jarak sedikit pun.
Cup...
Bibir Maura dan Rojer bertabrakan. Menciptakan sensasi yang aneh tapi manis. Rojer menekan pinggul Maura membuat ciuman mereka semakin dalam. Maura terpejam menikmati moment tersebut.
"Ehemmm" Charlote berdehem cukup keras, membuat Maura dan Rojer melepas tautan bibir mereka.
"Sekarang saat nya memakaikan cincin..." Ujar Charlote polos.
"Ha... ha..."
Membuat para undangan dan semua yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa mendengar penuturan dari Charlote. Yang sebelumnya mereka begitu terlarut dengan keromantisan pasangan di depan mereka.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1