
...ILUSI TAKDIR 140...
Rojer mengegadahkan tangan nya. Yang langsung di sambut oleh Edent dengan meletak kan sebuah tang di atas telapak tangan Rojer.
Rasa dingin dari besi tang menyapu permukaan kulit tangan Rojer. Hal itu semakin membuat diri nya untuk segera melancarkan aksi nya. Memberi pelajaran pada pria bandit seperti Dax.
Dax memundur kan tubuh nya ke belakang , saat Rojer semakin mendekat ke arah nya dengan membawa tang di tangan kanan nya.
Apa yang akan di lakukan Rojer , bukan lah yang baik. Pikir Dax. Ia sangat tahu, pria yang sedang terluka itu akan membuat diri nya beteriak kesakitan.
Tapi semua nya percuma, ke dua tangan dan kaki nya di rantai dengan rantai yang tidak akan terlepas jika ia memberontak sekuat tenaga. Semua nya akan sia- sia.
Rojer menangkap dan mencengkram dagu Dax, hingga bibir Dax menganga, menampilkan deretan gigi nya yang tersusun dengan rapi.
Rojer menyerigai puas, melihat wajah Dax yang sudah semakin memucat, dan ketakutan. Sementara pria tersebut terus memberontak, berusaha sekuat tenaga untuk terbebas dari cengkraman Rojer.
"Aaaaarrrrggggghhhh.....!!!" Teriak Dax memilukan dan menggema di setiap sudut ruangan.
Saat tangan Rojer yang memegang tang terayun ke atas. Sebuah benda kecil berwarna putih mirip dengan tulang, dengan darah pada ujung nya, jatuh dan menggelinding di lantai.
Satu gigi Dax, di cabut paksa oleh Rojer.
Suara teriakan kesakitan yang memekak kan telinga dan terdengar begitu memilukan, seakan menjadi bensin untuk Rojer. Untuk melakukan hal yang sama.
"Aaaarrrggghhhh !!!!!" Teriak Dax yang kembali bergema saat satu lagi gigi nya di cabut paksa.
Darah mulai merembes dari bibir Dax , dan menetes jatuh ke lantai. Rasa sakit yang di rasakan Dax benar- benar tiada dua nya. Ia lebih memilih di lenyap nya langsung. Dengan di tembak atau dengan kepala di tebas. Dari pada harus menahan sakit nya, saat anggota tubuh nya di cabut satu persatu- persatu.
"Hentikan... Aku mohon... Aggrrrrhhhh!!!" Lagi- lagi Dax memohon di barengi dengan teriakan kesakitan.
Rojer seakan tuli dengan teriakan dan permohonan Dax. Suara teriakan itu seakan menjadi alunan irama yang membuat diri nya candu untuk mendengar dan mendengar nya lagi.
Tubuh Dax melemah dengan kepala menunduk meneteskan darah dari mulut nya. Tapi ia masih hidup.
Trang...
Tang yang sejak tadi di pegang Rojer, kini terjatuh di lantai. Menimbulkan bunyi nyaring sebagai tanda penutup dari aksi nya.
Gigi Dax yang ia cabut satu persatu, kini telah tercabut seluruh nya. Dan berserakan di lantai.
Rojer menatap Dax yang belutut kesakitan dengan kepala menunduk dan darah yang merembes dari mulut nya.
__ADS_1
"Rasa sakit itu, tidak sebanding dengan rasa sakit takut akan kehilangan orang yang sangat kamu cintai..." Bisik Rojer, dengan mendekat kan wajah nya di telinga Dax. Membuat diri nya dapat mendengar deruan nafas yang tidak teratur dari tawanan nya.
"Edent....!!" Panggil Rojer dengan menjauh dan berbalik membelakangi Dax.
"Iya Tuan..."
"Lemparkan dia ke kandang buaya... Biarkan jasad nya lenyap tanpa sisa di dunia ini...!" Titah Rojer mutlak, ia menatap tangan nya yang terkena percikan darah Dax, membuat Rojer memasang smirk iblis nya.
"Sesuai perintah anda Tuan muda... Bawa dia...!!" Timpal Edent. Dan memberikan perintah pada dua orang anak buah nya untuk membawa Dax dan melemparkan nya ke kandang buaya.
Edent menghela nafas lega, satu tugas nya sudah selesai dengan sangat mulus dan lancar.
Rojer melangkah pergi. Ia ingin segera pulang dan menemani Maura di sisi nya. Ia tidak ingin tertinggal satu pun perkembangan Maura.
Balas dendam nya sudah terbalas. Kini prioritas utamanya adalah Maura.
...----------------...
Maura mengerjapkan ke dua bola matanya. Meski terasa masih berat, tapi ia memaksa untuk membuka dan melihat sekeliling nya.
Maura langsung memegangi pelipis nya. Rasa pusing yang sangat berat, kembali berputar- putar di kepalanya. Membuat ia melihat bayangan buram dengan semburat memori kejadian- kejadian yang terus bermain di kepalanya.
"Ouchhh astaga... kepala ku sakit sekali... Ada apa dengan ku..." Gumam Maura dengan menarik ke dua kaki nya merapat ke tubuh nya. Sementara ke dua tangan nya, mencengkram erat kepalanya yang terasa pening.
Maura memperhatikan setiap sudut ruangan dan berakhir pada foto yang pernikahan yang terletak di atas nakas.
Tit..
Tit..
Suara jam yang menunjukan jam empat dini hari.
Maura memencet tombol pada jam weker di samping foto tersebut. Membuat jam weker berhenti untuk berdecit.
Mata nya menatap lekat sebuah foto pernikahan, di mana diri nya yang sedang memakai gaun pernikahan sedang tersenyum bahagia, meski duduk di atas kursi roda. Bersanding dengan pria yang sangat di kenal nya.
Maura meraih foto tersebut dan mengusap nya ringan. Sementara ke dua mata nya mulai berkaca- kaca.
Prak...
Foto pernikahan bahagia tersebut terlepas dari tangan nya , dan terjatuh ke lantai. Membuat foto tersebut pecah.
__ADS_1
Ada gurat duka di wajah Maura dengan tangis yang di tahan nya. Itu terlihat dari caranya menepuk- nepuk dada nya.
...----------------...
Edent menancap gas dengan kecepatan sedang, dengan Rojer yang berada di kursi penumpang belakang.
"Tuan muda... Apa nyonya muda baik- baik saja???" Tanya Edent membuka percakapan. Ia tidak memungkiri jika diri nya juga ikut mengkhawatirkan majikan perempuan nya itu.
Rojer yang tadi nya menatap ke arah luar jendela kamar, menoleh ke arah Edent, yang masih fokus menyetir. Membelah jalanan yang masih terlihat gelap, meski pagi sudah mulai menjelang.
"Antony mengatakan jika Maura baik- baik saja.. Tapi entah mengapa aku merasa begitu gelisah saat ini..." Timpal Rojer dengan nada sayu penuh kepedihan dan kesedihan.
"Yakin lah Tuan muda... Nyonya akan baik- baik saja..."
"Aku berharap juga begitu Edent.. Aku tidak pernah merasa setakut ini... Meski aku harus mengalami ribuan momen yang siap merenggut nyawa ku... Tapi saat aku melihat Maura terluka , rasanya tuhan sedang menarik nyawa ku secara perlahan..."
"Seperti nya aku harus berpikir dua kali untuk jatuh cinta Tuan..." Papar Edent, dengan terkekeh kecil. Mencoba untuk mencairkan kesedihan majikan nya. Dengan guyonan ringan diri nya.
Ia lebih baik melihat wajah arrogant Rojer dengan ucapan majikan nya yang kasar dan pahit. Dari pada melihat diam nya Rojer dengan begitu banyak kesedihan yang terpancar dari diri Rojer.
Rojer menarik sudut bibir nya ke atas, mendengar pernyataan Edent. Asisten nya yang selama hidup nya selalu mengabdi pada diri nya. Senyum yang terbentuk di wajah Rojer lebih terlihat pahit dari pada manis.
"Saat kamu jatuh cinta... Seakan dunia ini begitu kecil Edent... Yang hanya ada diri mu dan wanita yang kamu cintai... Hal sederhana begitu sangat berharga saat kamu menjalani nya dengan orang yang kamu cintai... Dan sebalik nya, saat orang tersebut terluka, kamu akan merasa lebih sakit dari diri nya.. Kamu bisa merasakan luka yang ia rasakan.. Dan hal itu membuat mu merasa sesak... Tapi percayalah, semua nya terasa begitu indah, meski dengan liku- liku semacam itu.. Jatuh cinta lah Edent, maka kamu akan mengerti apa yang sedang ku rasakan..."
Cit...
Edent langsung mengerem mendadak, dengan perkataan terakhir dari majikan nya.
Jantung nya terasa berpacu dengan cepat. Ada rasa panas yang menjalar di tubuh nya.
Edent kembali menginjak pedal gas mobil, melanjutkan perjalanan. Meneguk ludah nya dalam- dalam. Menetralisir kegugupan di dalam diri nya.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit