Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
119


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 119...


Charlote melangkah ke depan dengan membawa nampan betabur kelopak bunga tulip, dengan kotak kecil beludru biru terbuka, menampakkan dua cincin indah di atasnya.


Rojer tersenyum melihat Charlote membawa baki cincin pernikahannya. Momen ini adalah momen yang paling indah yang tidak akan pernah ia lupakan sampai kapan pun.


Rojer menduduk kan Maura di atas kursi roda nya kembali. Lalu berlutut di hadapan Maura mensejajarkan dirinya.


Hal itu membuat Maura semakin terharu dengan perlakuan Rojer yang begitu romantis pada dirinya.


Begitu pula dengan para tamu undangan yang juga ikut berdecak kagum menyaksikan pernikahan yang begitu mengharukan.


Rojer meraih tangan kiri Maura. Di jari manis Maura telah melingkar cincin yang ia berikan saat melamar Maura. Cincin yang di pasang paksa dengan menanamkan sebuah kode pada cincin tersebut. Rojer tersenyum lebar, mengingat momen tersebut.


Rojer mengeluarkan sebuah remot kecil dari dalam saku jasnya. Memencet beberapa nomer yang membuat cincin yang melingkar di jari manis Maura berkedip- kedip.


Maura sedikit terkejut dengan cincin yang berkedip di jari manisnya. Namun saat ini ia tidak ingin menghancurkan momen sakral ini dengan pertanyaan dari dirinya.


Rojer melepas cincin tersebut dari jari Maura. Lalu mengambil cincin pernikahan dan menyematkannya pada jari manis Maura.


Tangan mungil dan putih Maura semakin terlihat lentik dengan cincin pernikahan yang melingkar dengan sempurna.


Prok...


Prok..


Prok...


Suara tepuk tangan bergema di ruangan.


Kini giliran Maura, ia mengambil cincin pernikahan di atas kotak kecil beludru tersebut. Tangan nya meraih jemari kekar Rojer, dan menyematkannya dengan begitu sempurna. Sembari bibirnya terus menyunggingkan senyum bahagia.


Prok...


Prok..


Prok...


Lagi- lagi tepuk tangan para tamu menggema di ruangan.


Rojer langsung merengkuh tubuh Maura ke dalam pelukannya. Ia memeluk tubuh Maura dengan erat, seakan tak ingin melepaskan sang pemilik tubuh kembali.


"Terimakasih telah bersedia menjadi istri ku..." Bisik Rojer di telinga Maura.


"Aku juga berterimakasih karna menjadi suami yang begitu baik selama ini..." Timpal Maura dengan berbisik di telinga Rojer.


"I love you Maura..." Rojer menyatakan cintanya dengan tersenyum lebar. Kini hatinya terasa begitu plong setelah mengatakan hal tersebut.


"I love you more Rojer Wang.." Sambung Maura dengan buliran bening yang berhasil lolos dari sudut matanya. Tangis haru, menerima kenyataan indah ini.


...----------------...


Sementara di sisi lain, the twins sudah berada di tempat nya masing- masing. Tempat tersembunyi, namun dapat melihat semua sisi acara dengan mudah.


Dua buah kaki jenjang masuk ke dalam ruangan acara. Dimana resepsi kini sedang di adakan.


Wajahnya menunjukkan kemarahan yang tak terbendung, dengan sorot mata penuh kebencian.


Langkah kaki Catlin semakin lebar. Dirinya ingin cepat sampai dan ingin segera melenyapkan Maura di hadapan semua orang dengan mengerikan.


"Sudah cukup kamu menduduki tempat ku Maura... Aku akan mengirim mu untuk pergi dari dunia ini... Aku tidak peduli dengan apa pun lagi... Jika aku tidak bisa mendapatkan Rojer maka begitu juga dengan diri mu..." Batin Catlin dengan urat- uratnya yang sudah menonjol dan mengeras.


Tap..

__ADS_1


Tap...


Tap..


Satu langkah lagi kaki Catlin masuk ke dalam ruangan acara. Sebuah tangan kekar membekapnya dari belakang. Membuat tubuh nya tertarik ke belakang.


Catlin terlonjak kaget dengan bekapan tiba- tiba dari orang yang tidak di kenalnya.


"Hmmm hhhmmmm" Erang Catlin, dengan tangan memukul keras tangan yang sedang membekap mulut nya. Namun sepertinya tangan itu seperti batu. Sekeras apa pun Catlin memukul tangan tersebut, tangan tersebut tidak bergeming sama sekali. Malah semakin erat membekap mulut nya.


"Brengsek siapa yang berani melakukan ini..." Batinnya kesal, saat tubuhnya di seret semakin jauh dari kerumunan.


Tubuh Catlin di hempaskan masuk ke dalam sebuah mobil hitam. Sang pelaku menutup pintu dan masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil sudah ada rekannya yang lain, yang langsung menyalakan mobil dan melajukannya menuju sebuah tempat.


"Cepat juga kerjaan mu Greenly..." Ujar rekannya yang sedang menyetir yang tak lain adalah Greyly dengan tersenyum puas dengan pekerjaan saudara kembarnya.


"Tentu saja,,, hanya menculik seorang wanita... Bukan seekor singa..." Timpal Greenly dan melepas slayer yang melekat di wajahnya.


Catlin mendudukkan tubuhnya. Ia mengusap mulut nya yang di bekap oleh pria yang tak di kenalnya.


"Hey brengsek... Berani sekali kalian menculik ku... Lepaskan... Lepaskan aku... Berhenti... Hentikan mobil ini...!!!" Teriak Catlin dengan menggedor- gedor pintu mobil.


Tapi sepertinya The twins tidak megubris teriakan Catlin yang terus berteriak dan memberontak di belakang mereka.


Mereka tidak peduli apa yang akan di lakukan wanita di belakangnya. Yang terpenting sekarang tugas mereka sudah terlaksana dengan lancar. Hal itu sudah cukup memuaskan.


"Heyyy... Pria brengsek... apa kalian tidak mendengar ku... Hentikan mobilnya jika tidak aku kan melompat...!!!" Oceh Catlin lagi. Membuat Greyly jengah mendengarnya.


Greyly mengambil handsheet dari saku jasnya dan memasangnya di ke dua telinganya.


Greenly yang melihat hal tersebut terkekeh geli.


"Suaranya sangat tidak enak untuk di dengar..." Ledek Greenly, membuat Greyly memutar bola matanya malas.


"Katakan... Siapa yang menyuruh kalian untuk menculik ku... Kalian tahu siapa aku... Aku adalah istri Rojer Wang,, Nyonya muda keluarga Wang...!!!" Ujar Catlin yang langsung di sambut gelak tawa the twins.


"Haha... ha... ha...."


"Kenapa kalian tertawa.. Lihat saja kalian akan habis jika Rojer sampai mengetahui hal ini. Cepat lepaskan aku...!!"


Greenly menatap Greyly sebelum tertawa terbahak- bahak kembali, mendengar teriakan Catlin yang mengocok perutnya.


"Hello nona anda jangan menghalu terlalu tinggi Haha... haha..." Olok Greenly tanpa menghentikan tawanya. Sementara Greyly hanya menggeleng melihat tingkah kembaran nya.


Wajah Catlin semakin merah padam mendengar tawa Greenly yang mengejek dirinya. Bahkan berani mengatakan jika dirinya menghalu. Ia mengatakan itu semua untuk mengancam dua pria yang sedang menculiknya. Tapi bukan takut pria yang menculiknya malah tertawa mengoloknya.


"Kenapa kalian tertawa?... Ucapan ku tidak main- main..." Tegas Catlin dengan nada mengancam. Menggunakan Rojer yang terkenal berkuasa untuk menakuti pria yang menculiknya.


"Siapa yang lebih tahu tentang hubungan anda dengan Rojer lebih baik dari kami...." Timpal Greenly dengan nada mencemooh yang membuat Catlin langsung diam membisu.


"Apa maksud kalian...?" Tanya Catlin dengan bingung. Apa mereka adalah anak buah Rojer yang sengaja di perintahkan untuk menangkap dirinya. Pikir Catlin dengan memerhatikan ke dua pria di depannya.


"Duduk dengan tenang... Berhentilah berteriak... Oke... Percuma juga nona melakukan hal itu. Karna pertama mobil ini kedap suara.. Dan mobil ini sudah di modifikasi anti penyok dan anti peluru..." Kekeh Greenly lagi.


Dor...


Sebuah peluru melesat melewati daun telinga Greenly. Membuat pria tersebut terdiam seketika.


Catlin menodongkan sebuah pistol ke arah Greenly.


"Lepaskan aku jika kalian tidak mau menjadi mayat..." Ancam Catlin dengan mata nyalangnya.

__ADS_1


Greenly dan Greyly seketika menjadi waspada. Mereka menyadari jika wanita yang di culiknya tidak hanya licik tapi juga Sycho.


Dengan gerakan kilat, Greenly memindahkan posisinya yang kini berada di jok belakang. Dengan cepat ia membekuk aksi Catlin hingga pistol di tangan Catlin jatuh ke lantai.


"Jangan sekali- kali berani memberontak..." Lirih Greenly dengan nada mengancam. Sementara tangannya berada di leher Catlin.


Greyly melempar lakban kebelakang yang langsung di tangkap oleh Greenly.


Ia mengikat tangan dan kaki Catlin dengan lakban. Menimalisir pemberontakan yang di lakukan Catlin. Tidak tertinggal pula mulut Catlin yang juga di lakban.


Greyly tersenyum dengan seringgainya, menatap ke belakang dari kaca spion depan.


...----------------...


Rojer dan Maura duduk di singgasana kursi mewah. Kini resepsi pernikahan sedang di langsung kan.


Charlote sesekali mengambil gambar Maura dan Rojer. Menyimpannya sebagai sebuah kenangan untuk nya nanti.


Di lain sisi, Ny. Anindita sibuk bertegur sapa dengan para tamu- tamu yang hadir dalam acara tersebut.


Namun aneh nya, Semua para tamu tidak ada yang menggosipkan kondisi Maura. Seperti mulut mereka sudah di setel sebelum masuk ke dalam ruangan ini.


Rojer mengenggam tangan Maura yang sedikit terlihat bergetar.


"Apa kamu masih gugup sayang?" Tanya Rojer dengan berbisik, ia mendekatkan duduknya ke arah Maura.


Rojer merasakan tangan Maura dingin, jadi tugasnya sekarang ia harus menghangatkan tangan mungil istrinya. Menghilangkan kegugupan istrinya.


"Sedikit..." Cicit Maura dengan menunjukkan gigi putihnya.


"Kamu tidak perlu gugup semuanya sudah selesai... Pernikahan, pemasangan cincin. Semuanya sudah berlalu sayang... Ayo sekarang tarik nafas lalu buang... Biar kamu semakin rileks..."


Maura mengikuti intruksi dari Rojer. Menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Istri pintar..." Ujar Rojer dan mengusap puncak kepala Maura yang sekarang berstatus sebagai istrinya.


"Rojer..." Panggil Maura dengan menundukkan kepalanya.


"Iya..."


"Apa kamu tidak malu..?"


"Malu untuk apa?" Kening Rojer berkerut.


"Malu jika istri mu ini cacat.. Lumpuh tidak bisa berdiri... Bahkan tadi saat ikrar pernikahan... Kamu menopang tubuh ku dengan tubuh mu..." Wajah Maura semakin sedih mengatakan kenyataan yang begitu pahit.


"Heiiii apa yang kamu katakan barusan... Dengar kan aku baik- baik... Aku sangat mencintai mu Mau... Aku mencintai mu tanpa syarat... Aku tidak akan pernah malu untuk memiliki mu... Justru sebaliknya, aku sangat beruntung manjadi suami mu... ini adalah impian ku selama ini... Kaki mu ini tidak bisa berdiri atau berjalan.. Tapi masih ada kaki ku.." Rojer menunjuk kakinya.


"Yang bisa menjadi kaki mu... Aku akan mengantar mu kemana pun kamu mau... Aku akan selalu bersama mu.." Lanjut Rojer lagi dengan mengangkat wajah Maura untuk menatap keseriusannya saat mengatakan itu semua.


Maura melipat bibirnya ke dalam, dan memeluk Rojer dengan hangat. Rasa ragu dan malu yang menyerangnya kini hilang hanya dengan ucapan Rojer. Yang sangat menenangkan dirinya.


Rojer membalas pelukan Maura. Mendekap tubuh rapuh itu dengan pelukan menjaga.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2