
...ILUSI TAKDIR 131...
Maura membuka kelopak matanya perlahan. Kepalanya masih sangat sakit, karna kejadian tadi malam. Sementara hati nya terus saja bertanya apa maksud wanita yang melabrak dirinya.
Di telinga nya terus saja terngiang - ngiang perkataan dari wanita itu.
"Wajah itu tidak asing untuk ku... Ibu tiri,, putri nya... Apa semua ini..." Maura menekuk lutut nya hingga menyatu dan menempel di badan nya. Sementara tangannya terus menutup telinga nya yang terus saja mendengar ucapan- ucapan dan caci maki wanita tersebut.
Rojer keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
Netra matanya langsung panik saat melihat Maura yang meringkuk ketakutan.
"Maura... Are you oke baby...?" Tanya Rojer segera menghampiri Maura dan langsung menarik tubuh Maura masuk ke dalam pelukan nya.
"Ingatan ini... Sakit sekali..." Ringgis Maura terus memegangi kepalanya.
Jeduar....
Seperti sebuah ledakan yang langsung menghantam Rojer.
"Ingatan... Oh tidak apa Maura sudah mengingat semua nya.... Apa semua ini akan berakhir begitu saja.." Batin Rojer dengan pelukan yang melemas.
"Tenang kan diri mu sayang... Cobalah untuk tidak memaksa ingatan mu... Itu hanya ingatan buruk, hal itu tidak untuk di ingat..." Ucap Rojer berusaha menenangkan Maura. Sementara diri nya kini benar- benar gelisah.
Tubuh Maura mulai melemas, dengan deru nafas yang berusaha untuk di stabilkan. Maura berusaha untuk mengontrol diri nya. Mengsugesti diri nya untuk tenang dan tidak memikirkan hal tadi malam.
Rojer mengangkat wajah Maura dengan mulut terbuka dan sedikit bergetar.
"Tenanglah ada aku di sini.. Hmmm kamu tidak perlu memaksa untuk mengembalikan ingatan mu..." Lirih Rojer lalu langsung mendekap tubuh Maura.
Kepala Maura menyender di dada bidang Rojer. Membuat Maura mendengar detakan jantung Rojer yang membuat diri nya rileks.
Pelukan lembut dan nyaman Rojer, seakan adalah penenang untuk Maura.
Maura mendorong tubuh Rojer dan melepas pelukan nya.
"Apa perlu aku memanggil Dokter Antony ke sini?" Tanya Rojer ingin memastikan keadaan Maura.
Maura menggeleng perlahan.
"Perkataan wanita yang menemui ku tadi malam.. Sungguh sangat mengusik ku..." Curhat Maura.
Rojer menyelipkan anak rambut Maura yang mencuat keluar.
__ADS_1
Dirinya sedikit lega, saat mendengar penuturan Maura. Yang artinya Maura tidak mengingat apa pun. Ia belum siap untuk menghadapi reaksi Maura nanti.
"Aku merasa begitu mengenal nya... Apa dia benar ibu tiri ku..? Dan aku punya saudari tiri?? Katakan... Kenapa kalian tidak pernah menceritakan tentang keluarga ku pada ku... Aku juga harus mengetahui nya... Aku ingin tahu identitas ku Rojer... Katakan sesuatu...!" Desak Maura.
"Kamu jangan salah paham sayang... Bukan nya kami menyembunyikan apa pun dengan mu... Tapi mereka bukan lah orang yang pantas untuk kamu ingat..."
"Tapi kenapa???"
"Wanita tadi malam memang adalah ibu tiri mu... Tapi dia bukan lah ibu yang baik... Bahkan dia menjual diri mu.. Apa dia pantas untuk kamu ingat... Dengar... Ini mungkin menyakitkan.. Tapi dia tidak menginginkan mu sayang... Ibu mu selalu memberi mu luka... Untuk itu aku mau pun Mama tidak mau memberitahu mu soal ini..."
Air mata Maura mengalir dengan bebas di pipinya. Kenyataan pahit tentang keluarga nya begitu sangat menyakiti diri nya. Apa alasan nya ibu tiri nya bisa melakukan hal itu pada nya. Apa dulu ia bukan anak yang patuh. Hingga diri nya begitu di benci.
Rojer mengusap air mata Maura, dan kembali mendekap tubuh yang sedikit bergetar karna menangis.
"Lalu kenapa mama tiri ku menyebut ku sebagai wanita penggoda dan pelakor... Apa benar aku sudah merusak hubungan keluarga saudari tiri ku...?" Tanya Maura pada Rojer di sela- sela tangis nya.
"Tentu saja tidak... Kamu tidak seperti itu sayang... Apa yang di katakan mama tiri mu itu tidak semua nya benar... Rasa benci nya pada mu membuat dia mengatakan hal seperti itu."
"Tapi seperti nya ia tidak terlihat berbohong... Untuk apa dia mengatakan hal itu jika tidak benar... Hiks... Hiks..." Tangis Maura semakin pecah.
Rojer melipat bibir nya ke dalam. Apa yang harus ia katakan pada Maura. Apa harus ia mengatakan karna diri nya Rojer menceraikan Catlin. Karna cinta nya hanya untuk Maura bukan yang lain.
"Apa kamu lebih percaya dengan perkataan mama tiri mu yang siap melukai mu... Dari pada perkataan suami mu...?"
Maura langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku mempercayai mu... lebih dari diri ku sendiri... Aku percaya dengan apa yang kamu katakan... Mana mungkin aku tidak percaya pada suami ku sendiri. Pria yang pertama kali aku lihat saat membuka mata ku... Pria yang selalu bersama ku dan menjaga ku... Aku tidak punya keberanian untuk tidak mempercai mu..." Timpal Maura dengan serius. Lalu kembali menghambur memeluk tubuh nyaman suami nya.
"Aku mempercayai mu lebih dari diri ku sendiri... Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi..." Lanjut Maura dengan mengeratkan pelukan nya.
"Maaf kan aku Maura... Maaf aku telah banyak membohongi mu.... Tapi sungguh aku tidak ingin kehilangan diri mu..." Batin Rojer dengan menyesap harum tubuh Maura.
"Aku berharap ingatan mu tidak akan kembali lagi..." Lanjut Rojer.
...----------------...
Catlin keluar dari rumah sakit, memakai kerudung yang di gunakan untuk menutupi wajah nya yang menyeram kan.
Diri nya sangat syok dan tidak percaya saat melihat wajah nya untuk pertama kali nya.
Empat goresan dalam di wajah nya membuat wajah cantik nya berubah menjadi buruk rupa.
Hari ini ia harus keluar dari rumah sakit, karna dirinya sudah tidak mampu membayar rawat inap di rumah sakit.
__ADS_1
Charlote benar- benar membuat hidup nya terasa di neraka. Wajah jelek dan uang yang di ambil tanpa sisa. Tujuan Catlin kini hanya satu pulang menuju Ibunya. Ny. Aorura.
Di sisi jalan, ada dua bola mata tajam, yang sedang memperhatikan gerak- gerik Catlin.
Tak butuh waktu lama, Catlin sudah sampai di kediaman karavan.
Catlin langsung masuk ke dalam rumah yang jauh lebih kecil dari rumah keluarga Wang yangn selama ini biasa di tempati.
Catlin menaiki anak tangga menuju kamar Ny. Aurora. Sekarang yang hanya bisa membantu nya hanya Ny. Aurora ibu nya sendiri.
Dirinya ingin segera menyingkirkan wajah buruk rupa ini.
Tok...
Tok..
Tok..
Suara ketukan membuat Ny. Aurora yang sedang merebahkan diri semakin kesal.
Dirinya tengah frustasi atas kejadian tadi pagi yang langsung membuat diri nya jatuh dalam jurang kemiskinan.
Tok...
Tok..
Tok...
"Apa aku tidak bisa tenang untuk sesaat saja..." Omel Ny. Aurora lalu segera mendekat ke arah pintu.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1