Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Mencari tahu tentang USB...


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 36...


"Dengar... Di antara kita tidak terjadi apa- apa kan???" Tanya Maura dengan sangat hati- hati pada Rojer. Maura ingin memastikan kalau Rojer tidak mengingat apapun tentang kejadian tadi malam.


Rojer menghentikan suapannya saat mendengar pertanyaan Maura yang terdengar malu- malu. Rojer terseyum tipis sambil berdehem.


"Hmmm... Apa maksudmu,,, dengan terjadi apa- apa di antara kita...?" Ujar Rojer menimpali Maura dengan pertanyaan juga.


"Eee... Maksudku kita tidak melakukan apapun kan tadi malam... Ingatanku sedikit lupa mengingat kejadian tadi malam... he..." Ujar Maura dengan tertawa terpaksa melihatkan deretan gigi putihnya.


"Apa benar dia tidak ingat dengan yang terjadi kemarin malam di antara kita..." Batin Rojer dengan menatap Maura intens, sambil mengunyah sarapannya perlahan. Rojer menatap Maura mencari kebenaran dari kata- kata Maura.


"Hei... Kenapa kamu menatapku seperti itu.." Ujar Maura dengan canggung karna Rojer yang terus menatapnya menyelidik.


"Hmmm... tidak... tidak ada..." Ujar Rojer mengalihkan pandangannya dari Maura, dan fokus dengan sarapannya.


Maura memakan sarapannya dengan perlahan. Pikirannya masih terganggu dengan kejadian semalam. Ia ingin tahu apa Rojer mengingat semua kelakuannya yang melewati batas karna mabuk atau tidak. Ia sudah mencoba memancing Rojer dengan bertanya, tapi Rojer tidak menjawab sesuai dengan jawaban yang di inginkan Maura.


"Habiskan sarapanmu kita akan pulang sekarang..." Ujar Rojer merapikan piringnya dan meletakkannya di troler makanan.


"Oh.. ya untuk hari ini kamu tidak usah masuk bekerja..." Ujar Rojer lagi.


"Kenapa..???" Tanya Maura mendengar keputusan Rojer, sambil meletakkan piringnya di atas troler makanan.


"Karna... Kamu pasti sangat lelah kan.. Karna aktivitas kita tadi malam.." Ujar Rojer dengan smirknya yang menggoda.


"Apa..." Ujar Maura ternganga mendengar jawaban Rojer.


...----------------...


Sementara itu, Charlote tengah sibuk menyiapkan sarapannya dengan membuat roti bakar isi.


Di sisi lain Edent masih tertidur pulas di sofa.


"Dasar cecurut... Jam segini belum bangun... Asisten apa yang di pekerjakan papa.. Tidak berguna sama sekali..." Rutuk Charlote sesekali melihat ke arah sofa demgan Edent yang masih tertidur.


Aroma roti bakar isi menyelinap masuk ke lubang hidung Edent. Aroma yang lezat dan menggiurkan. Edent mengerjapkannya matanya perlahan. Ia bangkit dari tidurnya dan menggeliatkan tubuhnya untuk merenggangkan otot- otot dan sendinya.


"Uhhhmmm Aromanya lezat sekali..." Lirih Edent, sambil menghirup aroma roti bakar isi dalam- dalam.


"Pangeran tidur sepertinya sudah bangun ya dari mimpi indahnya..." Ujar Charlote dengan nada mengolok, sambil membawa dua piring roti bakar isi dan meletakkannya di depan Edent.


"Maaf tuan muda kecil... Saya bangun terlambat..." Ujar Rojer berdiri dan membungkuk meminta maaf pada Charlote.

__ADS_1


"Hhhh..." Dengus Charlote.


"Sekali lagi aku minta maaf tuan muda kecil. Ini tidak akan terjadi lagi." Ujar Edent dengan nada penyesalan.


"Apakah roti bakar isi ini untuk ku??" Tanya Edent lagi, dengan wajah yang ingin langsung melahap roti bakar isi yang lezat di depannya.


"Bukan... Itu untuk tikus..." Ujar Charlote ketus, lalu memakan sarapannya.


"Terimakasih tuan muda kecil,, untuk sarapannya.." Ujar Edent dan langsung memakan roti bakar isi dengan lahap.


"Keenakan..." Batin Charlote melihat tingkah Edent yang makan roti bakar isi buatannya dengan lahap.


"Tuan muda kecil... Ternyata masakanmu sangat lezat... Tuan muda bahkan tidak bisa memasak seperti dirimu.." Ujar Edent dengan tanpa beralih fokus dari sarapannya.


"Sudah aku katakan... Jangan bandingkan diriku dengan papa... Dari segi apapun aku lebih darinya..." Ujar Charlote dengan nada dingin.


"Itu sangat benar... tuan kecil.." Ujar Edent menyetujui apa yang di katakan Charlote.


...----------------...


Di parkiran hotel Rojer sudah sigap membukakan pintu mobilnya untuk Maura.


Maura langsung masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang masih riwet tentang kejadian semalam. Maura merasa dari tingkah laku Rojer, pria ini tidak melupakan satu kejadianpun.


"Ada apa Maura,,, kamu terlihat sangat tegang??" Ujar Rojer tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya.


"Un...tuk... Untuk yang tadi malam aku minta maaf... Sungguh aku tidak sadar saat itu..." Ujar Maura dengan nada menyesal mengingat kejadian tadi malam.


"Tapi,,, setahuku seseorang yang tidak sadar itu,,, lebih jujur untuk mengutarakan keinginannya ataupun mengatakan perasaannya.." Ujar Rojer sambil mengerjitkan dahi.


"Apapun itu... Kamu maupun aku harus melupakan malam itu... Anggap saja kita tidak pernah melakukannya. Dan aku tidak akan menuntut sesuatu darimu sebagai ganti rugi..." Ujar Maura canggung.


"Ha...ha... Ganti rugi,,, jika di ingat kembali..."


"Jangan di ingat...!!" Potong Maura.


"Baiklah.... Tapi seharusnya aku kan yang harus meminta ganti rugi padamu... Karna aku yang menjadi korban malam itu... Aku begitu polos tapi kamu terus memaksaku... Maura... Jadi di sini aku adalah korban dan kamu adalah pelakunya... Dengan kata lain kamu sudah memperkosaku Maura..." Jelas Rojer dengan kalimat yang di buat sedih di akhir perkataannya.


"Aa... apa maksudmu aku memperkosamu... Bagaimana bisa seorang wanita memperkosa seorang pria..." Ujar Maura terbata- bata menjawab perkataan Rojer.


"Apa yang di katakannya memang benar... Di sini aku yang salah.. Tapi tidak munkin aku mengakuinya.. Dimana harga diriku jika aku mengakuinya... Hhh sudahlah... Aku pura- pura saja..." Batin Maura mendumel pada dirinya sendiri.


"Ya... Tentu saja bisa... Contohnya dirimu... Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan... Kamu tahu aku sangat ketakutan tadi malam... Kamu mengatakan ingin melakukannya bersamaku.. Kamu mulai membuka bajumu... Meraba dada ku... Membelaiku... dan........"

__ADS_1


Maura langsung membungkam mulut Rojer dengan tangannya, sebelum Rojer mengatakan hal lebih banyak. Maura benar- benar sangat malu dengan apa yang di dengarnya dari Rojer.


"Cukup... Sudah cukup... Sekarang diamlah... " Ujar Maura dengan mengatur nafasnya. Karna kini jantungnya berdegup sangat kencang.


Rojer menggelengkan kepalanya, mengerti apa yang di katakan Maura.


"Tapi satu kata untuk mu versi tadi malam... Kucing Liar..." Ujar Rojer dengan smirknya.


Maura melotot ke arah Rojer mendengar apa yang di katakan pria di sampingnya. Rasa malu sudah mengusai Maura dan sekarang Rojer malah semakin menggodanya.


...----------------...


"Aku akan mengantarmu ke sekolah tuan muda kecil.." Ujar Edent pada Charlote saat keluar dari rumah.


"Baiklah... Tapi kapan mama dan papa ku akan pulang.. Mereka sangat sibuk hingga melupakanku..." Ujar Charlote sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celana. Menambah ketampanan dan ke cool- an Charlote.


"Mereka akan segera kembali..." Ujar Edent singkat dan menuju mobil.


"Paman Edent..." Panggil Charlote.


"Iya tuan muda kecil.." Jawab Edent berbalik menghadap Charlote.


"Carikan aku informasi tentang USB ini..." Ujar Charlote, sambil mengeluarkan USB hitam yang pernah di temukannya di halaman rumah beberapa hari yang lalu.


Edent mengambil USB itu dari tangan Charlote, dia memperhatikan USB itu dengan seksama.


"Sepertinya ini USB negara... Dari mana tuan muda kecil mendapatkannya...?" Tanya Edent pada Charlote.


"Ck... paman tidak usah bertanya dari mana aku mendapatkannya... Cari tahu saja tentang USB itu..." Ujar Charlote ketus, dan melangkah pergi.


"Dan... Jangan beritahu soal ini pada papa... Tidak ada pertanyaan lagi..." Ujar Charlote lagi dengan bossy dan memeringatkan Edent tidak bertanya dengan keputusannya.


Charlote kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil.


...----------------...


...****************...


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!!!

__ADS_1


__ADS_2