Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
113


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 113...


"Bercerai.?? Maksud mu..? Bahkan aku belum menandatangani surat perceraian itu. Artinya aku masih istri sah mu..."


"Ha... Ha... ha..." Rojer tertawa hambar, melihat wanita tidak tahu malu yang berdiri di hadapannya.


Rojer merebahkan bokongnya di atas kursi. Ia melirik Edent yang sudah berdiri dengan tegap. Siap menerima perintah dari majikannya, meski pekerjaannya saat ini begitu banyak. Namun baginya Rojer adalah prioritas utama.


Rojer menjentikkan jarinya, menciptakan sebuah suara yang keluar dari tabrakan jarinya.


Pluk...


Edent mengangguk, seolah- olah dia tahu apa yang di inginkan tuannya. Meski Rojer berkata atau pun tidak.


Edent melangkah mendekat ke arah Catlin. Tangannya dengan cepat mengeluarkan sebuah berkas dari saku jasnya, dan menyodorkannya pada Catlin.


Catlin terbebelak melihat berkas bersampul biru di depannya. Seingatnya ia meninggalkan berkas itu di apartemen Gery. Tapi kenapa bisa berkas itu ada di hadapannya sekarang.


Catlin tersenyum sinis, sepertinya pertanyaan nya sudah menemukan titik cerah di dalam kepalanya.


"Ohhh Aku tahu... Apa kamu ingin memaksa ku Rojer untuk menandatangani surat percerain ini lagi? " Ujar Catlin dengan smirk liciknya. Seolah- olah tebakannya itu memang tepat.


Rojer kembali memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ia sangat geli dengan kepercayaan diri Catlin yang begitu besar. Padahal belum tentu apa yang dirinya tebak itu benar. Rojer mengelus dagunya pelan.


"Maaf nona---"


"Nona??? lancang sekali kamu memanggil ku nona...!" Bentak Catlin pada Edent. Saat Edent memanggil dirinya nona. Ia tidak terima jika Edent memanggilnya nona. Karna dirinya adalah Nyonya di sini.


"Apa anda sudah selesai bicara? Saya ingin mengatakan sesuatu kepada anda... Untuk memperjelas semuanya..." Sambung Edent, yang sudah kesal dengan tingkah wanita yang sok bossy di depannya.


"Jangan pernah berani memanggil ku Nona... Aku adalah Nyonya di sini... Nyonya Catlin apa kamu paham itu..."


"Maaf nona.. Tapi anda sudah tidak menjadi Nyonya di rumah ini.." Bantah Edent dengan tenang.


Catlin langsung melebarkan ke dua matanya. Seakan- akan kedua bola matanya hampir keluar dari cangkangnya.


"Apa maksud mu..?" Tanya Catlin dengan tangan yang sudah mengepal keras.


"Apa yang anda dengar tadi memang benar Nona... Anda tidak lagi menjadi Nyonya di rumah ini. Karna anda dan Tuan muda sudah resmi bercerai... Ini bukti berkas surat perceraian yang sudah anda tanda tangani sendiri... Jadi di mata hukum maupun di mata tuhan, anda sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan Tuan muda... Tuan muda juga sudah memberikan harta gono gini kepada anda, dengan mengirimnya ke rekening anda Nyonya... Sisa harta gono gini anda seperti aset sudah di serahkan kepada pengacara anda.. Dan akan cair dalam dua hari ke depan... Jika anda tidak percaya atas apa yang saya bicarakan tadi... Nona bisa melihat berkas ini...!!" Edent menatap berkas yang masih ada di tangannya.


Dengan secepat kilat Catlin meraih berkas perceraian tersebut dari tangan Edent. Membolak balik halaman bekas tersebut dengan sorot mata tidak percaya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa menanda tangani nya.. Aku tidak pernah melakukannya.." Lirih Catlin, saat melihat tanda tangannya sudah terbubuh jelas di atas kertas putih tersebut. Yang artinya dirinya sudah resmi bercerai dari Rojer.


"*Hidup ku sudah hancur... Aku tidak punya apa- apa lagi..." Batin Catlin dengan perasaan yang sungguh menyakitkan. Di ceraikan tanpa ia ketahui sama sekali. Ia merasa dirinya saat ini di tipu mentah- mentah oleh Rojer. Dan kapan Rojer mengambil tanda tangannya tanpa ia sadari sedikit pun.


"Aku tidak bisa membiarkan semua ini berakhir begitu saja.. Aku tidak mau kehilangan Rojer... Aku harus melakukan sesuatu..." Batin Catlin, dengan kepalanya memikirkan sebuah rencana yang mampu menggagalkan perceraian yang ia tidak inginkan sama sekali*.


"Kamu sungguh jahat Rojer... Kamu benar- benar pria brengsek.... Kamu memanipulasi berkas ini dengan menaruh tanda tangan palsu... Cih... Kertas ini tidak akan bisa membuktikan bahwa kita sudah bercerai..." Catlin merobek berkas di tangannya menjadi beberapa bagian.


"Lihat aku sudah merobeknya... ini sudah tidak berlaku lagi sekarang... Aku tetap istri mu..." Tegas Catlin dengan keras kepala. Ia tidak mau menyerah begitu saja.


"Tidak Nona... Meski anda merobek berkas itu... Hal itu tidak ada efeknya... Perceraian nona sudah di sahkan oleh pengadilan... Dan untuk berkas ini, ini hanya salinan nona... Saya tidak akan bertindak sebodoh itu untuk memberikan berkas yang asli. Dan tanda tangan nona yang ada di berkas itu bisa di periksa ke asliannya. Nona menanda tangani nya tanpa ada paksaan.. Saya menjamin semua hal itu... Jika nona sudah selesai membuat keributan di sini.. Silahkan nona pergi..." Edent merentangkan tangannya menunjuk kearah pintu ke luar. Mempersilahkan Catlin untuk keluar dari rumah majikannya.


"Dasar asisten kurang ajar...!" Teriak Catlin frustasi, dirinya sudah kalah tidak ada yang bisa di harapkan lagi.


"Cukup Catlin!!!! Kami sudah sangat sabar untuk mendengar mu bicara.... Sekarang pergilah dari rumah ku...!!!" Teriak Ny. Anindita yang sudah sangat kesal dengan tingkah tidak tahu malu Catlin.


"Tidak... Kalian tidak bisa melakukan ini semua pada ku..!!! Kalian sangat kejam,, Rojer kamu tidak akan lepas begitu saja dari ku... Aku akan membuat Maura menghilang dari dunia ini...!!!"


Plak...


Plak...


Dua buah tamparan beruntun mengenai pipi Catlin, membuat tubuh Catlin terhuyung ke belakang. Kepalanya terasa pening akibat tamparan yang begitu keras. Sudut bibirnya terasa perih dan sakit.


Rojer mengeram, dengan tatapan yang nyalang dan begitu menyeramkan. Saat telinganya mendengar nama Maura di sebut oleh bibir Catlin. Amarahnya seperti tidak terbendung lagi. Ia tidak bisa membedakan jika ia sedang memukul seorang wanita bukan seorang pria. Selagi orang yang mengatakan hal buruk tentang Maura. Rojer tidak peduli jika dia perempuan atau laki- laki.


"Jangan pernah menyebut nama Maura dengan bibir busuk mu itu... Sekarang pergilah... Jangan membuat ku kehilangan kesabaran... Atau aku akan membuat mu sangat menderita... Edent... Bawa dia pergi dari sini.. Jangan biarkan dia menginjakkan kakinya lagi di rumah ini..."


Edent menggerakkan dua jarinya. Dua orang pengawal langsung berlari ke arahnya, dan memegang lengan Catlin. Menyeret tubuh Catlin untuk segera keluar dari rumah majikannya.


"Rojer jangan lakukan ini pada ku... Aku tidak akan bisa hidup tanpa mu Rojer... Aku bersumpah aku tidak pernah menanda tangani surat perceraian itu..." Ujar Catlin dengan tangis yang pecah. Ia memberontak melepaskan diri dari ke dua pengawal yang memegang ke dua tangannya.


Catlin menyadari jika dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Ia mengamit kaki Rojer dan mendekapnya erat. Mencoba hal terakhir yaitu memohon dan mengiba di bawah kaki Rojer.


"Lepaskan aku... !!" Bentak Rojer dengan menggerakkan kakinya, mencoba melepaskan tubuh Catlin.


"Aku rela di madu dengan Maura... Asal jangan ceraikan aku... Aku mohon... Aku rela jika kamu tidak peduli dengan ku.. Tapi jangan ceraikan aku...!!! Hiks...hiks..." Tangis pilu Catlin, memohon pada Rojer. dirinya sudah tidak memperdulikan egonya yang selama ini ia bangun. Hal terpenting baginya sekarang adalah memohon agar Rojer tidak menceraikannya.


"Bawa dia...!!" Ujar Edent pada ke dua pengawal.


Ke dua pengawal yang bertubuh kekar itu pun menyeret paksa tubuh Catlin untuk segera keluar dari rumah.

__ADS_1


Catlin terus melolong dengan jeritan memohon. Namun seperti nya Rojer menutup telinganya, pura- pura tuli seakan tidak mendengar teriakan Catlin.


"Akhhh...." Tubuh Catlin lemas dan ambruk dalam pegangan ke dua pengawal. Dengan sikap ke dua pengawal tersebut menopang tubuh Catlin yang sudah hilang kesadaran alias pingsan.


Ny. Anindita terhenyak, saat melihat Catlin pingsan. Hatinya sedikit terenyuh melihat mantan menantunya di seret keluar dari rumah. Dirinya juga seorang wanita, wajar jika dirinya sedikit kasihan.


"Catlin..." Lirih Ny. Anindita hendak menghampiri, namun tangan Rojer menarik lengan Ny. Anindita, membuat langkah Ny. Anindita terhenti.


Ke dua pengawal sempat berhenti saat mendengar suara nyonya besar mereka memanggil nama Catlin. Mereka menunggu titah apa yang akan di berikan. Apa tetap menyeret wanita yang sedang pingsan ini keluar dari rumah. Atau membawa masuk untuk membuatnya tersadar kembali.


"Dia hanya bersandiwara ma... Jangan percaya dengan wanita licik itu..." Hela Rojer, dengan tangan yang masih memegang erat lengan sang ibu. Menghalangi sang ibu untuk tidak kasihan kepada wanita licik seperti Catlin.


"Tapi nak dia pingsan..." Bantah Ny. Anindita.


"Percayalah pada ku... Dia hanya bersandiwara..." Timpal Rojer.


"Seret dia keluar...!!!" Titah Rojer lagi, membuat dua orang pengawal tersebut membopong tubuh Catlin, dan melangkah keluar. Melaksanakan perintah yang di titahkan oleh Rojer.


"Tuan muda benar- benar tidak memiliki hati, dia sangat tega menyuruh kita menyeret tubuh Nona Catlin yang pingsan... Ckkk..."Bisik salah satu pengawal kepada rekannya. Sambil terus membopong tubuh Catlin.


"Aku juga berpikir seperti itu.. Kasihan sekali nona Catlin.. Tapi sudah lah kita tidak bisa melakukan apa- apa kecuali menuruti perintah Tuan muda... Atau kita yang akan berada di posisi Nona Catlin jika kita membelanya... Jangan pikirkan hal itu... Kita laksanakan saja tugas kita..." Timpal Rekannya.


"Sial... Rojer tidak berpengaruh sama sekali... Sia- sia akting ku... Aku sudah tidak memiliki harapan lagi... Semuanya karna Maura... Aaaaaaaa!!! Aku sangat membenci mu Maura..." Batin Catlin dengan terus memejamkan matanya. Ia berharap Rojer akan meminta ke dua pengawal ini untuk membawa nya masuk. Tapi sepertinya apa yang ia harapkan tidak terjadi.


Ke dua pengawal tersebut meletakkan tubuh Catlin di pelataran rumah. Meletakkannya tanpa alas apa pun. Lalu berlalu pergi, dan kembali ke posisinya berjaga- jaga di pintu masuk.


Catlin merasa jijik tertidur di atas tanah. Debu menempel pada pakaian dan rambutnya. Ia tidak menyangka jika dirinya akan di perlakukan seperti ini tanpa rasa iba atau kasihan sedikit pun. Sandiwara nya benar- benar gagal total.


"Aku tidak tahan lagi jika harus tertidur terus di atas tanah... Ini sangat menjijikkan... Rasanya tubuh ku menjadi gatal- gatal... Aku tidak tahan..." Batin Catlin, dan dengan cepat kembali berdiri. Seperti ia tidak pernah pingsan sebelumnya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2