
...ILUSI TAKDIR 102...
Catlin beranjak dari tempat tidurnya, menyabet baju mandi yang tergantung di dekat pintu. Dan melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Usai menjalankan ritual mandi pagi, Catlin memandang pantulan dirinya pada cermin wastafel. Ia mengelus rahangnya, sambil mengangkat dagunya ke atas. Sesekali ia membuka mulut nya lebar. Memeriksa apa masih ada rasa nyeri yang tertinggal. Tapi sepertinya tidak, kondisi rahang Catlin sudah mulai membaik, bahkan kini bisa di vonis sehat. Dirinya bisa berbicara lagi dengan leluasa tanpa ada rasa takut jika rahangnya kembali bergeser.
Catlin tersenyum cukup lebar, membuat beberapa garis di samping lekukan bibirnya.
"Ternyata tidak sia- sia mama mertua mengirim dokter terbaik untuk merawat ku... Rahang ku jadi sehat lebih awal...." Batin Catlin, sambil membenarkan baju handuk yang melekat pada tubuhnya.
Lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidur. Mengecek apa ada sesuatu yang masuk ke dalam benda pipih itu. Wajah Catlin berubah suram seketika.
"Hhhhh Tumben sekali Gery tidak merecoki ku... Biasanya dia mengingatkan ku seperti alarm rusak... Apa dia benar marah...??? Hhh sudah lah... Dia tidak penting untuk ku...." Gumam Catlin lalu melempar ponselnya asal ke atas tempat tidur.
Ada rasa kosong yang menghampiri dirinya. Entah kekosongan apa itu. Dirinya pun tidak tahu. Tapi dirinya sadar, jika kehadiran Gery mempengaruhi hidupnya. Sudah sejak kemarin pria itu tidak menghubunginya seperti biasa, membuat Catlin merasa ada yang kurang. Tapi ia segera menepis perasaan itu.
Catlin meraih sebuah gaun pendek dengan atasan yang cukup tertutup dari dalam lemarinya, dan segera memakai gaun berwarna merah gelap itu. Sebelum meraih tas tentengnya, Catlin mengoleskan beberapa make up di wajahnya. Membuat penampilanya kini terlihat seperti kalangan atas.
Catlin berjalan dengan santai, menuruni anak tangga dengan perlahan. Namun ketika menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir. Tangannya memegang erat pegangan tangga. Membuat buku- buku tangannya memutih dengan sempurna.
Di atas meja ruang tamu, amplop berwarna coklat muda kembali tergeletak begitu saja. Selama tiga hari berlalu, Catlin terus menemukan amplop coklat terang itu tiga kali se hari setiap harinya. Selama itu pula dia melakukan hal yang sama merobek dan merobeknya berulang kali.
Dirinya sudah sangat muak dengan kedatangan amplop tersebut. Hanya gara- gara melihat amplop tersebut membuat mood nya benar- benar buruk.
Catlin menuruni sisa anak tangga dengan cepat. Dan mengambil amplop coklat terang tersebut.
"Sial... Pengacara kondang itu, terus saja mengirimi surat cerai ini... Tapi kamu tidak akan berhasil. Seberapa banyak pun kamu mengirim nya aku tidak akan pernah menandatangi nya... Kita lihat saja sampai kapan kamu melakukan ini...." Gumam Catlin dengan nada marah. Matanya sudah bersinar dengan kekesalan dan kemarahan yang siap di lampiaskan. Tangannya mencabik- cabik amplop itu seperti biasa. Merobeknya hingga tidak berbentuk lagi. Dan menjatuhkannya di atas lantai.
Catlin melangkah kan kakinya dengan ketukan yang menekan. Pagi yang cerah di awalinya dengan kemarahan.
Sepasang mata Ny. Anindita menangkap apa yang baru saja di lakukan Catlin dari lantai atas. Ia menggelengkan kepalanya. Ia juga turut pusing dengan apa yang terjadi. Dirinya sudah menelpon Rojer, untuk menuntaskan masalah ini. Tapi putranya itu tidak mau mengangkat telponnya. Hanya nada sambung yang selalu ia dapatkan. Ia juga melakukan usaha yang lain dengan menghubungi asisten kepercayaan Rojer, yaitu Edent. Tapi hasil yang di dapatkan sungguh tidak memuaskan sama sekali.
"Aku tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut- larut... Aku tidak ingin rumah tangga putra ku yang sudah di jalaninya selama bertahun- tahun. Hancur begitu saja, karna wanita ke tiga... Hhhhh.. Suami ku jika kamu menyaksikan ini, bantu aku untuk menyadarkan Rojer... Anak itu benar- benar membuat ku dalam kesulitan...." Gumam Ny. Anindita dengan menyilangkan dan mengenggam jari jemarinya kuat di depan dada. Sambil wajahnya menengadah ke atas. Berharap apa yang ia minta di kabulkan.
...----------------...
Catlin berjalan, dengan dirinya yang benar- benar panas dan di kuasai amarah. Ia masuk ke dalam mobil sport miliknya dan menutup pintu dengan keras.
"Huhhhh Tenang lah... Catlin... Tenanglah... Kamu tidak perlu terpengaruh dengan surat perceraian itu... Selama kamu tidak menandatangi surat percerain itu... Rojer akan tetap menjadi milik mu..." Gumam Catlin pada dirinya sendiri. Mencoba menenangkan emosi yang sedang meletup letup dalam dirinya.
Catlin merogoh tasnya dan mengeluarkan benda pipih sakti alias ponsel dari dalam. Ia menekan salah satu nomer dan menempelkan benda itu di telinganya. Tangannya yang lain mengetuk- ngetuk stir mobil, menunggu orang yang di telponnya mengangkat panggilan.
__ADS_1
"Hallo... Apa Tuan muda sudah pulang...???"
"Baiklah..."
Catlin menutup telpon, dan menginjak pedal gas. Mobil sport mewah meluncur ke jalanan. Bergabung dengan kendaraan yang lain.
...----------------...
Mobil limision hitam mewah Rojer, sudah terparkir di depan mansion. Edent segera turun dan berlari melingkar, membuka pintu mobil untuk majikannya.
Rojer turun dengan mengendong Charlote. Sejak di pulangkan dari rumah sakit dua hari yang lalu. Charlote tinggal di mansion di temani oleh Freya. Begitu pula dengan Edent yang juga turut mengawati tuan kecilnya tersebut.
Rojer mengantar Charlote ke kamarnya.
"Sayang... Beristirahatlah dengan baik... Papa akan membersihkan diri dulu... Jika kamu butuh sesuatu panggil para pelayan untuk melayani mu..." Ujar Rojer pada Charlote, yang tengah duduk di pinggiran ranjang tidur.
Charlote mengangguk mengerti dengan ucapan ayahnya itu. Ia tahu jika Rojer sudah menjaga Maura dengan sangat baik. Bahkan penampilan Rojer kini terlihat sedikit lusuh.
"Pa... papa juga jaga kesehatan... Aku menyayangi mu..." Charlote memeluk Rojer dengan penuh kasih sayang, yang di sambut dengan pelukan balik dari Rojer.
"Oke sayang... Besok papa akan mengajak mu untuk menemui mama... Jadi cepatlah sembuh..." Rojer mengelus kepala putranya lembut, melangkah keluar dari kamar Charlote.
Di depan pintu kamar Freya berdiri dengan kepala menunduk. Ia segera membungkuk hormat saat Rojer keluar dari kamar.
"Baik tuan muda...." Timpal Freya dengan kepala tetap menunduk. Rojer berjalan melewatinya dan menjauh dari pandangannya. Freya segera masuk ke dalam kamar tuan kecilnya yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.
Rojer berjalan menuju kamarnya, dengan sedikit cepat. Ia ingin segera kembali ke rumah sakit untuk menemui Maura. Hatinya merasa gelisah saat ia tidak ada di samping pujaan hatinya.
"Selamat datang Tuan muda... semua perlengkapan anda sudah saya siapkan..." Ucap Mr. Kong, yang menyambut Rojer di depan pintu kamarnya, yang sebelumnya menunduk memberi hormat kepada tuannya.
Mr. Kong, berjalan mengekor masuk ke dalam kamar Rojer. Sudah menjadi tugasnya untuk melayani Rojer dengan baik.
"Terimakasih..." Timpal Rojer singkat.
"Tuan muda.... Nyonya Catlin menelpon menanyakan kepulangan anda... Begitu pula dengan Nyonya besar..." Mr. Kong, memberikan handuk mandi kepada Rojer.
"Hhhh... Perempuan itu lagi.... Aku tidak punya waktu untuk membahas tentang dirinya.. Aku tidak peduli dengannya, yang terpenting sekarang adalah Maura... Bukan yang lain... Tapi jangan pernah memberi tahu kepada Catlin, kemana aku pergi... begitu juga dengan mama dia tidak boleh tahu sama sekali...." Jelas Rojer, dan melenggos masuk ke dalam kamar mandi. Dirinya tidak ingin mengambil resiko, jika Catlin sampai tahu kondisi Maura saat ini. Bisa- bisa dia melakukan hal yang buruk yang bisa mencelakai Maura. Karna Rojer sangat tahu seberapa besar kebencian Catlin pada saudari tirinya.
Mobil sport mewah Catlin memasuki pelataran mansion Rojer. Ia juga melihat mobil Rojer sudah terparkir di depan mansion.
"Ternyata pria tuan itu tidak membohongi ku kali ini..." Lirih Catlin, dan memarkir mobilnya. Sebelum kemari, ia sudah menelpon ke mansion, untuk mengetahui apa Rojer sudah pulang. Ketika mengetahui Rojer sudah kembali dari Mr. Kong. Catlin langsung menginjak gas untuk kemari.
__ADS_1
Edent menyipitkan kedua matanya, saat melihat Catlin berjalan masuk ke arah mansion.
"Wanita ular itu, untuk apa dia datang kemari...? Apa dia belum menandatangi surat perceraian itu, hingga ia memiliki keberanian untuk menginjakkan kaki di sini..." Gumam Edent sambil mengelengkan kepalanya tidak percaya.
Catlin masuk ke dalam masion, bertepatan dengan Rojer yang sedang menuruni anak tangga.
"Rojer...!!!" Panggil Catlin, membuat Rojer memperlambat langkahnya.
"Ck.. Hhhh untuk apa ratu biang onar ini kemari..?" Batin Rojer dengan tidak suka melihat kehadiran Catlin di depannya.
Seperti tidak melihat siapapun, Rojer bersikap seperti Catlin tidak ada di hadapannya. Ia terus berjalan tanpa ekspresi melewati Catlin yang memandangnya dengan sorot yang sama. Sorot penuh harapan.
Catlin meraih lengan Rojer paksa, membuat langkah Rojer terhenti. Catlin tidak bisa di acuhkan seperti ini. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Rojer sekarang juga. Ia tidak terima jika Rojer ingin menceraikannya.
"Rojer....!!! Aku memanggil mu... Apa kamu tidak mendengarnya..." Ujar Catlin dengan sedikit berteriak. Membuat Rojer berbalik dan menghadap ke arah Catlin.
"Lepaskan tangan mu dari lengan ku..."
"Tidak... Aku tidak akan melepaskannya.. Aku tidak akan membiarkan mu pergi...!"
"Kamu tidak punya hak sama sekali untuk menghalangi ku untuk pergi kemana pun yang aku mau..."
"Kamu salah...! Aku memiliki hak atas diri mu... Aku adalah istri mu... Aku berhak untuk menahan mu untuk pergi..."
Rojer menghempaskan tangan Catlin kasar. Membuat pegangan pada lengan Rojer terlepas.
"Hhhh... Bukannya surat pengajuan perceraian ku sudah sampai kepada mu.. Apa hal itu belum cukup untuk menegaskan kepada mu, jika kamu sama sekali tidak punya hak atas diri ku... Kamu tidak ada artinya bagi ku... Di hati ku hanya ada Maura.. Hanya ada Maura... Kamu harusnya sadar di mana posisi mu..." Rojer menekankan setiap perkataannya dengan menatap ke arah Catlin tajam. Membuat bulu kuduk Catlin berdiri menerima tatapan tajam dari mata hitam Rojer.
"Tidak... Aku tidak akan pernah menandatangi surat perceraian itu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu Rojer... Kamu camkan itu... Surat perceraian itu, tidak akan membuat ku mundur... Kamu hanya suami ku.. Dan Maura tidak akan bisa merebut hak ku itu..."
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
__ADS_1
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit