Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
105


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 105...


Gery menuangkan segelas air putih, dan menyodorkannya pada Catlin, yang sedang terbakar api kemarahan. Namun Catlin menepis tangan Gery.


"Minumlah.... Setidaknya ini bisa membuat mu lebih tenang..." Gumam Gery.


"Tidak... Aku tidak mau minum... Tidak ada waktu untuk minum saat ini. Hidup ku benar- benar hancur sekarang... Berantakan...!! Keluar dari alur rencana yang sudah ku buat..." Teriak Catlin frustasi, lalu menuju sebuah lemari dengan beberapa minuman ber akohol terpajang rapi.


Jemari lentik Catlin, meraih salah satu minuman tersebut, dan langsung meneguknya. Ia menyenderkan bokongnya pada sebuah meja yang ada di dekat jendela. Menikmati minuman yang membasahi tenggorokannya.


"Dia sangat keras kepala... Kapan diri mu akan mengerti...???" Lirih Gery, dan mengambil berkas yang di lemparkan Catlin barusan. Gery menatap berkas perceraian itu dengan fokus. Seolah- olah sedang memikirkan sesuatu.


"Gery kamu harus membantu ku...!" Ujar Catlin, sambil sesekali meneguk minuman tersebut langsung dari botolnya.


"Kenapa??? Kenapa sekarang kamu meminta bantuan ku...? Dan untuk apa aku membantu mu..? Jika diri mu saja tidak memperdulikan ku..." Gery beranjak dari duduknya, dan mengambil beberapa berkas yang lain di dalam lemarinya.


"Ohh.... Jadi kamu sedang marah... Karna perkataan ku kemarin..." Catlin menggelengkan kepalanya tersenyum ke arah Gery, yang sedang meletakkan sebuah berkas di atas meja nakas di samping tempat tidur.


"Apa sekarang kamu peduli.? Kamu tidak akan pernah menganggap kehadiran ku ada Catlin... Di mata mu hanya ada Rojer, Rojer dan Rojer..."


Catlin yang sudah mabuk, berjalan mendekat ke arah Gery.


Pluk...


Sebuah pelukan dari belakang di terima Gery. Kedua tangan Catlin melingkar sempurna di pinggang Gery. Gery mendengar kekehan kecil dari balik punggungnga.


Ini lah yang selalu terjadi, ketika Catlin mendapatkan masalah. Maka dirinya lah yang menjadi pelarian untuk mengembalikan mood wanita yang sedang memeluknya.


Gery ingin sekali terlepas dari Catlin, melupakan wanita ini. Tapi tidak bisa. Ia sudah sangat jatuh cinta dengan Catlin. Hingga dirinya bisa bertahan di situasi yang begitu menyakitkan.


"Hmmm... Bukankah ini hubungan gelap... Jadi wajar saja kamu tidak berarti dalam hidup ku... Hehe... Apa kamu pikir kamu bisa membandingkan diri mu dengan Rojer?... Gery, kamu menyarankan diri ku untuk mengerti... Jadi sekarang diri mu juga harus mengerti, kamu hanya kekasih gelap ku... Hanya menjadi bayangan tidak untuk menjadi nyata..." Ujar Catlin tanpa rasa bersalah di setiap ucapannya.


Gery memejamkan matanya. Hati nya kini benar- benar terluka. Rasanya seperti di hantam sebuah batu besar yang menghalangi nafas masuk ke dalam paru- paru.


Perjuangan yang selama ini di lakukan untuk mendapatkan Catlin, hingga dirinya rela hanya menjadi kekasih gelap. Tidak ada artinya sama sekali di mata Catlin.


"Apa aku benar- benar tidak berarti bagi mu ?? Apa sedetik pun kamu tidak pernah merasa aku ini penting dalam hidup mu...?" Ujar Gery dengan menahan perkataannya.


"Tidak pernah sama sekali... Hehe..." Tawa Catlin, yang semakin membuat luka Gery semakin besar.


"Jika Rojer meninggalkan mu atau mencampak kan mu... Apa kamu bersedia hidup bersama ku...?"


"Mungkin... Saat tidak ada pilihan mungkin aku akan menerima mu... Tapi aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu... Maka Rojer tetap menjadi milik ku... Hmmm Gery... Bersyukurlah dengan posisi mu menjadi kekasih gelap ku... Bukan kah kamu mencintai ku kan... Jadi lakukan semuanya seperti semula..."


Gery melepas pelukan Catlin di pingganganya, tapi ia tidak melepaskan kedua tangan Catlin. Gery berbalik menatap Catlin, melihat wanita yang di cintainya, sedang mabuk dan tersenyum dengan bibir terbuka di depannya.


"Tapi aku benar- benar tulus mencintai mu Catlin... Aku sangat mencintai mu... Mari hidup bersama, lupakan Rojer... Aku janji akan membuat mu bahagia untuk selamanya." Gery, mengelus pipi Catlin yang sudah memerah karna mabuk dengan penuh cinta.


"Iya baiklah mari hidup bersama..." Mata Gery langsung berbinar, mendengar jawaban yang selama ini di tunggu- tunggu terucap dari bibir Catlin.


"Bermimpilah... untuk mendengar ku mengatakan hal itu... Haha... Bermimpilah sayang..." Lanjut Catlin, dengan terkekeh geli. Wajah Gery langsung berubah muram, ternyata Catlin hanya mempermainkannya.


"Puaslah hanya menjadi teman ranjang ku..." Gumam Catlin, dan mencium bibir Gery. Menyesap dan menggigit benda kenyal itu. Catlin melingkarkan tangannya di leher Gery dan menjinjitkan kakinya, agar ia lebih leluasa menikmati bibir yang terasa manis di dalam mulutnya.


Hasrat Gery tersulut, hanya dengan Catlin mencium bibirnya. Dirinya selalu menginginkan Catlin. Gery mulai membalas pagutan Catlin. Melakukan hal sama saling menyesap dan bertukar saliva satu sama lain.


Gery menekan tengkuk Catlin, memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


"Mmmmppphhhhh..." Rintihan Catlin, saat tangan Gery sudah bermain liar di area dadanya. Tubuhnya semakin memanas menerima setiap sentuhan yang sangat memabukkan.


Gery mendorong tubuh Catlin, hingga terjerembab di atas kasur. Kini posisi Catlin berada di bawah dan Gery berada di atasnya. Mengungkung tubuh Catlin di bawahnya.


Permainan mereka semakin panas, saling bercengkrama memberikan sentuhan- sentuhan yang membuat mereka melayang. Menikmati sensasi yang sangat kontras pada kulit mereka.


...----------------...


Hari menunjukkan sinarnya kembali. Matahari kembali muncul dengan cahaya terangnya. Menyinari setiap sudut kota. Beberapa orang sudah mulai melakukan aktivitasnya, sebagian yang lain masih bergelut di bawah selimut hangat mereka.


Pagi ini Rojer memilih untuk kembali ke mansion, hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Maura. Pekerjaan kantor sudah ia serahkan pada Edent. Tapi Edent tetap bisa membagi waktunya untuk mengurus urusan kantor dan melayani tuannya.


Rojer masuk ke dalam mansion, ia di sambut dengan Ny. Anindita dan Charlote yang sedang sarapan bersama.


"Ternyata mama belum pulang dari kemarin... dia sangat betah bermain dengan Charlote.." Batin Rojer, dan mendekat ke arah meja makan.


"Rojer kamu sudah pulang sayang... Kemarilah duduklah dan sarapan bersama mama dan cucu kesayangan ku..." Ujar Ny. Anindita dengan bahagia. Sekarang ia bisa duduk dan makan bersama dengan putra dan cucunya. Sungguh pemandangan yang sangat ia impikan sejak lama.


Rojer menarik kursi ujung, dan meletakkan bokongnya. Matanya terlihat sayu, karna semalam ia tidak tidur dengan nyenyak.


"Pa bagaimana kondisi mama...???" Tanya Charlote yang mulai bersedih, membuat Ny. Anindita mendelik bingung dengan pembicaraan putra dan cucunya.


"Mama baik- baik saja... Sayang..." Timpal Rojer berusaha tersenyum. Tangannya mengusap pipi chuby Charlote.


"Papa jadi kan ngajak Charlote nemuin mama hari ini... Charlote kangen banget sama mama.."


Rojer mengangguk, menyetujui perminataan Charlote. Ia mengambil roti tawar dan selai.


"Rojer jika mama boleh tahu,,, memangnya wanita--"


"Maura... Namanya Maura..."


Charlote sibuk dengan sarapannya. Menghabiskannya dengan segera. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Maura.


"Maura ada di rumah sakit ma..." Ujar Rojer dengan wajah sedih. Saat membicarakan Maura kesedihannya tidak bisa di sembunyikan, meski dirinya sudah berusaha dengan keras.


"Di rumah sakit??? Apa yang terjadi dengan menantu ku..??" Mata Ny. Anindita membesar, mendengar jawaban dari Rojer.


Rojer mengangguk pelan, dan mulai menceritakan semua hal yang terjadi saat insident malam robohnya ballroom Aston.


Ny. Anindita menghampiri Rojer dan memeluk putranya. Ia mengelus kepala putranya lembut dan penuh kasih sayang. Ia tidak menyangka jika putranya begitu sangat mencintai Maura.


"Percayalah Maura akan baik- baik saja..." Gumam Ny. Anindita menguatkan Rojer.


Rojer memegang kedua tangan Ny. Anindita, dan menyatukannya di bawah telapak tangannya.


"Apa mama tidak membenci Maura?" Rojer mengangkat wajahnya, memandang wanita yang penuh dengan aura keibuan, di sampingnya.


"Kenapa mama harus membenci wanita yang di cintai oleh putra ku sendiri..." Ny. Anindita mengerutkan dahinya. Rojer langsung tersenyum mendengar jawaban dari Ny. Anindita. Ketakutan yang selama ini di takutkan ternyata tidak terjadi. Ia berfikir ibunya akan menyusahkan Maura jika dia mengetahui semuanya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Ny. Anindita begitu sangat mengerti dirinya.


"Jadi mama merestui ku dengan Maura?... Mama tidak akan lagi menghalangi proses perceraian ku dengan Catlin?"


"Tentu saja mama merestui mu... Wanita rendah itu sudah membohongi kita selama bertahun- tahun... Mama tidak akan memaafkan semua yang dia lakukan... Cepatlah sekarang habiskan makanan mu... Dan cepatlah bersiap... Kita akan pergi menemui menantu ku itu..." Ny. Anindita tersenyum lebar. Tangannya menoyor kepala Rojer, yang membuat Rojer tertawa tipis.


"Grand ma... pa... Aku sudah selesai... Aku akan segera bersiap...!!!" Teriak Charlote, dan berlari dengan cepat menuju lantai atas, di mana kamarnya berada.


"Charlote jangan lari sayang... Kamu bisa jatuh,,, pelan- pelan saja..." Teriak Ny. Anindita melihat cucunya melesat seperti roket.

__ADS_1


"Lihat, mama baru bertemu dengannya... Ternyata cucu mama sangat nakal... Sama seperti mu saat masih kecil... Tidak pernah mau mendengarkan mama..." Ny. Anindita menggelengkan kepalanya, sambil menyentuh dadanya.


"Tapi percayalah, aku selalu menyanyangi wanita tua di depan ku ini..." Ucap Rojer menggoda ibunya.


"Apa??? Berani sekali kamu mengatakan aku wanita tua..." Ujar Ny. Anindita yang akan menoyor kepala Rojer, namun tidak bisa karna Rojer sudah berlalu dengan cepat dari hadapannya.


...----------------...


Aku tidak bisa keluar dari tempat ini...


Aku menatap sekeliling ku. Aku memejamkan mata ku kembali dan membukanya kembali. Tapi tempat ku berada tetap sama. Hanya hamparan kosong tanpa apa pun.


Aku ingin kembali...


Aku merasa sesak di tempat kosong ini. Seakan udara berhenti untuk berhembus. Aku begitu ketakutan. Aku hanya sendiri di demensi yang tidak berujung ini.


Aku hanya bisa mendengar suara- suara samar yang tidak terlalu jelas.


"Aku di sini...."


Suara itu...


Aku memejamkan mata ku rapat. Memfokuskan pendengaran ku pada suara bariton yang menyapu gendang telinga ku...


"Kembalilah... Bangunlah... Aku mohon... Demi diri ku... Aku akan selalu menunggu mu di sini... Jangan lakukan ini... Kemari lah dan peluk aku... Aku merindukan mu..."


Suara yang ku dengar begitu syarat dengan penderitaan. Aku semakin memfokuskan pendengaran ku. Menerawang suara yang terdengar samar tapi sangat tulus.


Aaaa... Kepala ku kenapa sesakit ini...


Rasanya ada yang pecah di dalam otak kecil ku. Semakin aku fokuskan diri ku pada suara itu, semakin kepala ku terasa sangat sakit. Seperti ada benda tumpul yang menghantam kepala ku keras.


"Ku mohon..."


"Bangunlah..."


"Kami menunggu mu..."


"Aku mencintai mu..."


Aku ingin keluar....


Tubuh ku seakan berputar dengan cepat, dan hancur seketika. Sebuah portal hitam gelap, menyedot jiwa ku dengan kekuatan paksa.


"Ha...Ahhhh... Hap.. huk... Hap...."


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2