
...ILUSI TAKDIR 97...
Rojer membuka matanya lebar, di bawah sinar rembulan yang redup. Matanya memandang pada celah reruntuhan di bawahnya. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar.
Dengan kedua tangan Rojer yang sudah bersimbah darah bercampur tanah, mengais dan menggali reruntuhan di bawahnya.
Sebuah benda berkilau berwarna hitam dengan tulisan world yang terlihat di ujungnya. Detak jantung Rojer meningkat dengan kecepatan tangannya yang mengangkat potongan- potongan beton tersebut.
Rojer mengangkat benda tersebut dan mengusap tulisan yang tertutup oleh debu beton yang runtuh.
Nafas Rojer terasa berhenti sejenak. Tatapan matanya tidak dapat teralihkan dari benda yang sedang di pegangnya. Tubuhnya terasa bergetar hebat. Pembuluh darahnya terasa tersumbat. Tangisnya keluar dari bibirnya yang sejak tadi bungkam.
"Aaaa.... Aaarrgghh... Hiks... Hiks... Kesayangan papa... Hiks... Hiks...." Rojer mendekap potongan hitam tersebut, yang tak lain adalah piala penghargaan yang di angkat ke udara dengan tersenyum padanya oleh Charlote, putra kecilnya beberapa saat yang lalu.
"Edent....!!! Edent....!!! Cepat bawa tim penyelamat kemari... Cepat...!!!" Teriak Rojer histeris. Dan nada tidak sabaran. Ia kembali mengangkat beton- beton di bawahnya dengan cepat. Ia tidak peduli seberapa berat beton tersebut. Ia berharap dugaan nya ini benar.
Edent langsung menoleh saat mendengar suara teriakan Rojer. Ia segera berlari dengan membawa lima anak buahnya bersamanya. Menuju ke arah Rojer yang hampir pingsan mengangkat beban berat dan memindahkannya cepat.
"Cepatlah Edent... Putra ku pasti ada di bawah reruntuhan ini. Hati ku mengatakan jika Maura tertimbun bersama Charlote di sini..." Ucap Rojer dengan keyakinan yang terpancar di matanya.
Edent mengintruksikan pada lima anak buahnya yang mengikutinya, untuk menggali reruntuhan di depannya dengan cepat. Semoga firasat dan keyakinan Rojer membuahkan hasil.
...----------------...
Ny. Anindita memutuskan untuk menemui Catlin di kamarnya. Perasaannya benar- benar cemas, saat melihat menantunya pergi begitu saja dengan kemarahan.
Namun langkah Ny. Anindita berhenti di ambang pintu kamar, saat ke dua matanya melihat Gery tengah memeluk Catlin yang menangis. Sesekali mengecup puncak kepala Catlin dan mengelusnya halus.
"Apa yang sedang kalian lakukan...???" Tanya Ny. Anindita dengan nada menyelidik dan tidak suka.
Seketika Catlin dan Gery mengangkat wajahnya. Mereka terlihat terkejut dengan kehadiran Ny. Anindita yang tiba- tiba. Catlin segera mendorong tubuh Gery menjauh dari tubuhnya, dan berdiri dengan menghapus sisa air matanya.
"Mama... Mama jangan salah paham..." Catlin terbata- bata. Gery segera bangkit dari duduknya.
"Tante.... Ini tidak seperti yang tante pikirkan... Aku... Aku hanya menenangkan Catlin tante, tidak lebih... Aku tidak ingin dia kalang kabut dan sampai melukai dirinya..." Ucap Gery dengan cepat, mencoba menyakinkan tatapan curiga dari wanita paruh baya di depannya. Dirinya berharap semoga apa yang di katakan tadi di percayai oleh Ny. Anindita.
"Gery berkata jujur ma... Catlin tidak sengaja memeluk Gery... Catlin sungguh terbawa kesedihan... Hingga tidak menyadari semua itu..." Catlin membenarkan apa yang di katakan Catlin. Tangannya meremas ujung bajunya. Ada rasa takut yang tiba- tiba datang menyelimuti hatinya, membuat kemarahannya hilang entah kemana.
Ny. Anindita, mengedarkan pandanganya pada seisi kamar yang sudah sangat berantakan. Pecahan vas berserakan dengan tempat tidur yang berantakan. Begitu pula dengan jendela kaca kamar yang menjadi penghalang antara balkon dan kamar pecah tidak berbentuk lagi.
"Aku tidak boleh berburuk sangka dengan menantu ku sendiri... Aku harus menyingkirkan pikiran kotor ini..." Batin Ny. Anindita sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Sudahlah,,, kalian jangan tegang seperti itu... Maaf telah membuat kalian merasa tidak enak... Mama percaya pada mu sayang..." Ny. Anindita mendekat ke arah Catlin dan memeluknya singkat.
Gery menghela nafas panjang. Alasan yang ia berikan dapat menyakinkan Ny. Anindita. Begitu pula dengan Catlin. Ia merasa lega mertuanya ini tidak curiga dengan hubungannya dengan Gery. Jika mertuanya sampai tahu entah apa yang akan di lakukan wanita tua kaya ini pada dirinya.
"Aku tidak apa- apa ma... Mama jangan khawatir. Aku akan berusaha mempertahankan rumah tangga ku dengan Rojer. Aku tidak akan membiarkan wanita rendahan itu merusak rumah tangga ku..." Ujar Catlin dengan menggenggam tangan Ny. Anindita.
Ny. anindita mengelus punggung tangan Catlin dengan lembut. Sementara bibirnya menyunggingkan senyum keibuan.
__ADS_1
"Mama tahu kamu tidak akan menyerah secepat itu... Mama sangat merasa bersalah pada mu... Karna sikap Rojer yang sudah kelewatan. Dia belum sadar jika dia memiliki istri yang baik dan pengertian seperti mu." Timpal Ny. Anindita dengan semburat kecewa yang tergambar di wajahnya.
"Mama tidak perlu merasa bersalah... Ini bukan salah mama... Lebih baik mama istirahat sekarang... Aku tidak ingin kesehatan mama sampai terganggu... Percayalah aku akan mengurus semuanya..."
"Baiklah sayang... Jaga diri mu..." Ny. Anindita menepuk bahu Catlin sebelum melenggos pergi meninggalkan kamar yang sudah mirip kapal pecah tersebut.
"Lebih baik kamu pulang sekarang... Sebelum orang lain curiga dengan kita..." Ucap Catlin datar pada Gery yang hanya mematung berdiri setelah Ny. Anindita keluar dari kamar.
"Bagaimana bisa aku mening.---"
"Aku bilang pergilah...!! Aku bisa menjaga diri ku... Gery aku tidak ingin hidup ku hancur karna diri mu... Terserah kamu ingin berpikir apa pun tentang diri ku... Tapi kenyataan nya aku tidak akan mundur dengan mudah... Jika kamu ingin melihat ku bahagia,,, lebih baik kamu membantu ku untuk menyingkirkan Maura. Karna dialah akar dari segala masalah ku..."
Gery menghirup udara panjang. Menarik oksigen untuk sampai ke jantungnya yang di hujam oleh kata- kata pahit dari mulut merah Catlin.
"Terserah pada mu Catlin. Jika itu yang kamu inginkan aku akan melakukannya untuk melihat mu bahagia... Meski aku harus tersakiti untuk itu. Setidaknya kamu merasa bahagia..." Gery melangkah kan kakinya keluar dari kamar Catlin dengan cepat. Nafasnya memburu dengan kekecewaan yang terbendung dalam hatinya. Namun tidak bisa tersalurkan.
Catlin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Melihat bayangan Gery yang perlahan menghilang.
...----------------...
2 jam berlalu...
Sepertinya keyakinan Rojer membuah kan hasil. Lima anak buahnya masih mencoba mengangkat meja besi yang sudah penyok terkena runtuhan bangunan.
"Itu mereka... Maura....!!! Charlote...!!! kalian mendengar ku... Hiks... Bertahan lah sayang... Aku akan menyelamatkan mu... Edent Cepat kirim helikopter ke sini, kita akan membawa mereka ke rumah sakit kota.... Siapkan juga doter terbaik di seluruh kota.. Panggil Dokter Antony suruh dia bersiap... Dia harus menyelamatkan putra dan calon istri ku..." Ujar Rojer dengan setitik harapan bersinar di matanya. Ia berharap dan berdoa semoga proses evakuasi ini berjalan dengan cepat. Dan Maura serta Charlote baik- baik saja.
"Cepatlah... Jangan buang waktu... Cepat angkat meja besi itu...Calon istri dan putra ku ada di sana..." Teriak Rojer lagi, dengan membantu turun tangan proses evakuasi. Dirinya tidak bisa tinggal diam dengan hanya melihat saja.
Edent segera meorogoh ponselnya pada saku celana belakang, setelah mendapat perintah dari Rojer yang menemukan titik terang pencarian. Ia menekan salah satu nomer pada benda pipih di tangannya.
...----------------...
"Hmmmm... Hari ini benar- benar sangat melelahkan... Rasanya bibir ku akan copot karna terus tersenyum sejak tadi pagi..." Ujar Antony dengan merentangkan tangannya ke atas. Merenggangkan otot- otonya yang terasa kaku. Sesekali mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Itu semua karna keluarga mu yang mengundang banyak sekali tamu di acara pernikahan kita. Kamu pikir hanya diri mu yang merasa lelah, aku juga..." Timpal seorang wanita yang duduk dengan menyenderkan kepalanya di headbord tempat tidur. Sementara wajahnya terlihat kesal dan letih.
Hari ini adalah hari Antony mengikat seorang gadis dalam ikatan suci dan sakral yaitu pernikahan. Gadis manis dengan wajah cantik yang berhasil membuat hatinya bergetar saat berada di dekatnya. Ia adalah Karina seorang guru sekolah dasar yang ia temui beberapa bulan yang lalu, karna sebuah insident kecil.
"Kenapa kamu cemberut seperti itu sayang..? Sejak tadi kamu terlihat kurang bersemangat saat di acara resepsi kita. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. ? Atau kamu menyesal telah menikahi ku?" Tanya Antony dengan terkekeh kecil. Sambil duduk di dekat Karina yang sekarang berstatus sebagai istrinya.
"Bukan seperti itu... Aku sangat bahagia bisa menikah dengan pria seperti mu... Aku merasa beruntung menikahi dokter tampan dan berbakat seperti mu... Tapi,,," Suara Kirana mengambang di udara.
"Tapi???" Tanya Antony mengulangi.
"Tapi,,, hari ini seseorang yang aku tunggu kedatangannya tidak datang ke acara pernikahan kita. Kamu tahu aku sangat menantikan kehadirannya di acara spesial ini."
"Seseorang???"
"Iya..."
__ADS_1
"Siapa..??? Jangan bilang dia laki- laki... Hmmm Aku akan sangat cemburu jika begitu. Kamu saja tidak merindukan ku sebesar kamu merindukannya..." Renggek Antony cemburu, dengan memanyunkan bibirnya ke depan. Kirana langsung memukul lengan suaminya dengan pelan dan mendengus kesal.
"Aku tidak mengatakan dia laki- laki kan... Ini mulut jangan cepat menyimpulkan sesuatu..." Tangan Kirana memencet bibir Antony yang manyun ke depan.
"Lalu?"
"Dia sahabat ku... Dia seorang wanita... Dia adalah sahabat baik ku sejak meja perkuliahan. Dia sahabat seperjuangan ku.. Jadi dia sangat spesial untuk ku..."
"Huhhh... Aku merasa lega mengetahuinya... Teman baik ku juga tidak hadir di acara pernikahan ku... Jadi kita sama... Sudahlah sayang jangan di pikirkan... Kamu kan bisa menemuinya nanti. Mungkin dia tidak datang karna ada urusan yang penting... Jadi istri ku yang manis jangan bersedih... Kamu atur waktu saja dengannya. Kita akan menemuinya bersama..."
"Wah benarkah...???" Antony mengangguk dan tersenyum lebar.
"Kamu suami terbaik sayang...." Kirana langsung melompat ke atas tubuh suaminya. Kini posisi Antony berada di bawah kirana.
Kirana menyapu bibir seksi antony dengan bibirnya, merasakan sensasi yang berbeda dengan pertemuan dua benda kenyal itu. Suasana menjadi lebih intens di antara mereka. Sepertinya tradisi setiap pengantin yaitu malam pertama akan terjadi dengan mereka. Antony meraih saklar lampu tidur yang berada di samping ranjang dan mematikannya dengan cepat. Ia tidak ingin menganggu aktivitas yang selama ini di tahannya.
Tangan antony memeluk erat pinggang istrinya, memperdalam ciuman mereka menjadi lebih berhasrat.
Kring...
Kring...
Kring...
Suara telpon antony yang berdering di atas meja nakas membuat antony mendengus frustasi. Kirana melepas pelukan tangan Antony di pinggangnya. Antony berdecak kesal, di malam pertamanya pun ia tidak bisa tenang.
"Ck... Siapa sih yang menelpon? menganggu saja... Aku akan mematikan ponsel sialan itu agar tidak menganggu lagi..." Antony beranjak turun dari tempat tidur dengan kesal. Sementara Kirana hanya tertawa tipis melihat kelakuan suaminya.
"Ada apa dia menelpon ku malam- malam begini... Apa dia sengaja mengerjai ku karna dia tidak datang ke pernikahan ku..." Lirih Antony, lalu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
Namun kini, wajah yang tadi kesal dan kusut, berubah dengan cepat menjadi kaget dan tegang. Mata Antony hampir melotot dengan tangannya mengusap bibirnya halus. Kini di wajahnya terlihat ketegangan, sementara tangannya yang lain menempelkan benda pipih itu ke telinganya. mendengarkan apa yang di sampaikan si penelpon pada dirinya.
"Baik aku akan segera ke sana..." Ucap Antony, lalu mengambil jaket tebalnya, dan melesat meninggalkan istrinya di atas ranjang dengan tatapan bingung pada dirinya.
"Sayang... Kamu mau kemana...???" Teriak Karina memanggil Antony yang sudah melesat menghilang di balik pintu.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1