
...ILUSI TAKDIR 94...
Gemuruh tepuk tangan terus terdengar tanpa henti, menemani langkah kecil kaku Charlote yang terus berjalan dengan gaya angkuh dan dingin. Yang menjadi dasar sifat anak laki- laki yang sudah berhasil menyabet gelar king of heacker in the word.
Prok...
Prok...
Prok...
Maura terus memandang lurus ke arah Charlote yang sudah berdiri di atas panggung dengan kharisma yang terpancar dari dalam dirinya.
Maura mengusap ke dua sudut matanya yang mulai ber air. Rasa bangga dan terharu melihat pencapaian Charlote, putra kecilnya yang selalu bermanja dalam pelukannya.
Begitu pula dengan Rojer, rasa bahagia dan bangga terpancar dari wajahnya. Saat melihat putra kecilnya berdiri di atas panggung dengan gagah dan berwibawa.
Kehidupan tanpa seorang ayah di samping Charlote, tidak membuktikan pencapaian yang berhasil di raih oleh anak seusia dirinya saat ini. Rojer tersenyum lebar menyaksikan pemberian penghargaan kepada Charlote. Ingin rasanya dirinya berteriak dan mengatakan, jika anak yang tengah berdiri di atas panggung itu adalah putranya.
Sementara ekspresi yang berbeda di tunjukkan oleh Tuan Gillsy. Matanya menyiratkan kekecewaan dan tatapan merendahkan. Seharusnya dirinyalah yang lebih pantas berdiri di atas panggung besar itu, bukan anak ingusan seperti Charlote. Begitulah yang di rasakan Tuan Gillsy saat ini. Anak kecil yang beberapa saat lalu di hina, kini berdiri dengan tegap di atas panggung.
Ting...
Rojer mengalihkan pandangannya, saat mendengar dentingan yang berasal dari arlojinya. Senyumnya kian mengembang melihat waktu yang berpacu semakin dekat dengan rencananya.
Rojer berjalan keluar ballroom dengan tergesa- gesa dan sedikit berlari. Dirinya tidak ingin melewatkan momen yang membanggakan ini, tapi saat ini ada urusan yang jauh lebih penting yang harus ia urus.
Di pojok ruangan terlihat sosok pria memakai seragam penjaga yang bertugas menjaga keamanan acara bertingkah sedikit misterius dari rekan- rekannya yang lain.
Pria tersebut menatap sekekelingnya, seolah- olah sedang mengawasi dan menyelidik. Sesekali ia menundukkan pandangannya, saat ada seseorang yang lewat di depannya.
"Pertunjukan di mulai... Dalam lima menit ke depan...!!!" Lirihnya hampir berbisik, lalu melemparkan handsheet bluetooth yang di kenakannya sembarang arah. Lalu berjalan menjauh dan meninggalkan ballroom acara.
Maura menutup mulutnya. Setidaknya ia berhasil mendidik putranya, meski tanpa kehadiran seorang ayah di samping putranya. Keharuan menyeruak ke dalam relung- relung hati Maura.
"Terimakasih, atas penghargaan ini. Ini adalah pencapaian besar yang pernah saya raih. Tapi semuanya bisa saya raih, karna ada sosok wanita di belakang saya. Yang selalu menjadi tempat pulang bagi saya. Sekali lagi terimakasih.... " Ujar Charlote datar, dan tersenyum kecut. Charlote mengangkat piala di tangannya ke udara, sebelum membungkuk hormat dan turun dari panggung.
Maura langsung menyambut Charlote dengan pelukan hangat. Merangkul dan mengecup setiap inci wajah putra kesayangannya.
"I love you son..." Maura tersenyum riang.
"Love you too mom... Piala ini untuk mu... Mama terbaik di seluruh dunia..." Charlote terkekeh kecil, dan menyerahkan piala tersebut pada Maura.
Setelah acara pengumuman itu berakhir. Kini semua orang sibuk dengan urusan mereka masing- masing. Ada yang mengobrol ria dengan rekan mereka. Ada pula yang duduk sambil menikmati cemilan yang di tawarkan waiters.
Detikan yang terdengar jelas dan nyaring di dalam ruangan itu, menghentikan semua aktivitas semua orang.
Detikan seperti suara detikan jam itu, terus terdengar begitu jelas pada setiap telinga orang yang ada di dalam ballroom, tidak terkecuali Maura dan Charlote.
Mereka semua memasang wajah penasaran dengan suara tersebut. Semua orang mengedarkan pandangannya mencari sumber suara detikan tersebut.
__ADS_1
"Suara apa ini? kenapa seperti suara detikan jam... Padahal di ballroom ini tidak di pajang jam dinding..." Lirih Maura bingung. Begitu pula dengan ekspresi Charlote.
Semua orang saling melemparkan pertanyaan mereka masing- masing. Mencoba menerka dan menebak suara apa itu, dan dari mana asal suara tersebut.
"Ada bom...!!!" Pekik seorang penjaga yang berlarian ke arah pintu ballroom, di iringi oleh beberapa orang di belakangnya.
Mendengar teriakan penjaga tersebut, orang orang yang ada di dalam ballroom berlari tunggang langgang menuju pintu utama, untuk menyelamat diri. Suasana di dalam ruangan yang begitu luas menjadi kacau dan mencekam.
Suara teriakan dan derapan kaki begitu terdengar jelas. Dinding- dinding ruangan memantulkan suara jeritan dan kepanikan yang membuat ketakutan. Sedangkan suara detikan tersebut masih begitu jelas terdengar.
Maura tergopoh- gopoh memeluk Charlote, mendekap dalam seolah siap melindungi Charlote. Sementara wajah Maura sudah terlihat panik, dengan beberapa butiran keringat yang mengalir pada pelipisnya.
"Ma... Ini ada apa??? kenapa semua orang berlarian seperti itu..." Tanya Charlote dengan meremas tangannya, merasakan ketakutan karna suasana yang berubah menjadi kacau balau.
"Dengar sayang,,, kita harus keluar dari sini... Mama janji akan menjaga mu... Tidak akan terjadi apa pun dengan mu... Kamu percaya kan pada mama..." Maura mencoba menjelaskan pada Charlote dengan tenang. Sementara hatinya kini- kini benar takut. Tapi baginya sekarang ia harus mengeluarkan Charlote dari ruangan ini.
"Pintu nya terkunci,,, kita tidak bisa keluar...!!" Teriak histeris seseorang dari arah pintu.
"Tidak... pintu nya tidak boleh tertutup... Kita harus keluar dari sini dengan selamat..."
"Tidak ada jalan keluar lain selain pintu utama... Kita terjebak... Pintunya tidak bisa di buka..."
"Tidak.....!!!"
"Aku masih ingin hidup..."
"Hiksss...Hiks...."
"Ku mohon seseorang buka pintunya... Aku belum ingin mati..."
Sahutan dan teriakan pilu, serta percakapan begitu terasa mengerikan.
Pintu utama ballroom tidak bisa di buka. Sementara ada jutaan orang ada di dalam ruangan ballroom, berharap pintu besar itu terbuka.
Maura mengendong Charlote, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Rojer di dalam ruangan itu. Tapi sepertinya nihil bayangan pria itu pun tidak nampak di dalam ruangan.
Tubuh Maura semakin bergetar hebat. Air matanya sudah mengalir begitu deras. Rasa takut sudah mengusai hatinya. Rasanya tungkai kakinya terasa mati rasa. Tapi ia harus mengeluarkan Charlote dari dalam ruangan ini.
Detikan suara bom terus terdengar nyaring di telinga Maura. Dadanya semakin merasakan kepanikan yang semakin besar. Sementara Charlote terus memeluk Maura erat.
Maura semakin kalut, saat mendengar pintu utama tidak bisa di buka. Apa yang akan dia lakukan sekarang, pintu keluar satu- satunya dari ruangan ini sudah di tutup rapat. Sedangkan para penjaga sedang berusaha mendobrak pintu besi yang menjulang tinggi tersebut. Berusaha melakukan segala cara untuk membuat pintu itu terbuka.
"Ya tuhan... Ku mohon... Hiks... Selamatkan putra ku ya tuhan... Ku mohon, gantilah nyawanya dengan nyawa ku jika kau ingin mengambilnya. Biarkan dia hidup dan keluar dengan selamat.... Hiks..." Batin Maura, dengan air mata yang terus mengalir deras. Maura terus melangkah, sesekali berlari mencari jalan keluar dari dalam ruangan tersebut. Tapi yang di temukan hanya dinding- dinding yang menjulang tinggi dan kokoh.
Semua orang yang ada di dalam ruangan sudah mulai memanjatkan doa. Meminta untuk nyawa mereka sendiri. Sementara pintu besi itu belum menunjukkan akan terbuka, semakin menambah rasa cemas dan ketakutan semua orang.
Maura melirik sebuah meja besi yang cukup kokoh di sudut ruangan. Ia berlari dengan cepat dan masuk ke dalam kolong meja besi itu.
Jika pintu utama tidak bisa terbuka, maka hal terakhir yang akan terjadi adalah sebuah ledakan besar yang akan membuat ballroom ini runtuh. Setidaknya jika bangunan ini runtuh, ada meja besi ini yang bisa melindunginya, meski tidak tahu semua yang di pikirkan itu akan berhasil. Tapi bagi Maura, saat ini nyawanya tidak penting. Yang terpenting adalah Charlote harus selamat apa pun yang terjadi.
__ADS_1
"Kali ini aku berharap Rojer akan datang dan menyelamat kan ku... hiks..." Lirih Maura dengan memandangi wajah Charlote yang sudah menangis dan ketakutan di dalam pelukannya.
Tatapan lekat dan penuh kasih sayang, seolah- seolah tatapan perpisahan. Maura memandang Charlote tanpa berkedip. Menyimpan setiap detail dari wajah putra kesayanganya.
Entah berapa waktu yang mereka miliki sebelum ledakan ini terjadi. Maura berharap semua ini adalah mimpi. Dan ketika ia terbangun semuanya kembali seperti semula. Tidak ada apa- apa. Maura memejamkan matanya, dan membukanya kembali. Namun semuanya masih sama. Ia berada di bawah kolong meja besi dengan memeluk Charlote erat.
"Ini bukan mimpi... Hiks... Apa pun yang terjadi putra ku harus selamat..." Batin Maura mengusap air matanya kasar.
"Sayang, dengarkan mama nak... Apa pun yang terjadi ini adalah mimpi buruk... Ketika kamu terbangun dari tidur mu ini semua tidak pernah terjadi... Berjanjilah pada mama, kamu akan selamat sayang... Kamu akan menuruti semua kata- kata papa... Jadilah anak yang baik untuk papa... Jika mama tidak bisa di samping mu lagi.. Bukan berarti mama tidak menyayangi mu sayang... Hiks... Anggap saja mama sedang melakukan perjalan jauh... Hiks... Hiks...." Maura mengatakan semua itu pada Charlote dengan nafas yang tersenggal- senggal. Karna tangisnya yang semakin menjadi.
Entah mengapa mulutnya mengatakan itu semua pada putranya, seakan dirinya akan pergi jauh. Maura terdiam, mengamati wajah Charlote yang semakin memucat ketakutan.
"Mama akan selalu menyayangi mu... " Maura merengkuh tubuh mungil Charlote dalam pelukannya. Memeluk erat, seerat- eratnya. Sambil merunduk di bawah meja, dengan posisi Charlote di bawah Maura.
...----------------...
Rojer berlari, dengan wajah yang berseri- seri ke arah Edent yang sedang berdiri di luar ruangan.
Rojer langsung berhambur memeluk Edent dengan hangat. Yang membuat Edent langsung terkejut dengan mata melotot. Bagaimana tidak, seumur hidupnya dan selama bekerja pada Rojer. Tuannya ini tidak pernah memeluknya seperti ini.
"Anak ku... Putra ku... Dia yang terbaik... Aku sangat bangga padanya..." Ujar Rojer dengan lantang, membuat para pengawal di belakang Edent, juga ikut mendengarnya.
Rojer menepuk- nepuk bahu Edent senang, dan melepas pelukannya. Edent ikut tersenyum bahagia melihat kebahagian majikan di depannya, yang sepertinya sedang sangat senang.
"Kamu tahu Edent... Charlote kecil ku mendapat gelar besar itu... Charlote king of heaker in the world... Ini adalah kabar yang besar Edent... Kita harus merayakannya... Aku akan membuat pesta yang mewah..." Lanjut Rojer lagi, dengan menyugar rambutnya.
"Saya,,, ikut bahagia mendengar kabar bahagia ini Tuan... Saya ucapkan selamat..." Timpal Edent dengan hormat pada Rojer.
"Kejutan untuk nyonya di dekat sungai RELOVA sudah siap Tuan..." Lanjut Edent lagi.
"Aku akan membuat putra dan calon istri ku bahagia Edent..."
DUAR.....!!!!
DUAR...!!!
DUAR....!!!
"TIDAK......!!!!" Teriak Rojer histeris, saat mendengar ledakan besar beruntun di telinganya.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit