Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
87


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 87...


Jam begitu cepat berputar, entah kapan siang berubah menjadi malam. Dan sekarang mentari sudah siap menyinari dunia dengan sinarnya.


Rojer mematut dirinya di depan cermin. Ia menyisir rambutnya cepat, dan tersenyum melihat hasilnya yang semakin membuatnya terlihat tampan.


Rojer mengambil jam tangan di atas meja, dan memasangnya pada pergelangan tangannya. Membuat penampilannya makin terlihat sempurna.


"Perpect..." Gumam Rojer dengan tersenyum tipis.


"Tuan muda, barang- barang anda sudah siap..." Ujar Edent dari ambang pintu.


"Bagus, jam berapa penerbangan Maura dan Charlote ke kota Y.?"


"Sekitar jam 9 Tuan..."


"Kita harus segera sampai dulu. Sebelum mereka... O... iya... Kirim beberapa pengawal untuk menjaga keamanan di bandara dan tempat tujuan. Pastikan keselamatan istri dan anak ku yang paling utama..."


"Siap Tuan muda...."


Rojer melangkah keluar dari kamarnya dan melewati Edent. Ia berjalan menuju roof top mansion. Edent dengan setia berjalan mengekor di belakangnya.


Terlihat di roof top mansion yang cukup luas terparkir jet pribadi, yang siap di gunakan untuk terbang ke kota Y.


Beberapa pengawal bertubuh kekar sudah berdiri dengan sigap di sisi pintu masuk jet. Mereka membungkuk hormat saat Rojer berjalan melewati mereka.


Rojer masuk ke dalam jet pribadinya dengan santai. Sebenarnya di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin melakukan perjalanan ini bersama dengan keluarga kecilnya. Tapi ia sudah berjanji dengan Charlote jika mereka akan berangkat terpisah dan bertemu di kota Y.

__ADS_1


"Semoga hari ini, pertengkaran ku dengan Maura berakhir. Dan semua kejutan yang sudah ku siapkan nanti untuk Maura berjalan dengan lancar... Kenapa jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya ada sesuatu yang menganjal..." Batin Rojer dengan menarik nafas panjang. Entah kenapa hari ini, ia sedikit merasa gelisah. Namun ia tetap mengukir seulas senyum. Karna ini pertama kalinya dia akan pergi jauh bersama Maura dan Charlote.


"Tuan Silahkan...." Ujar Edent, dengan memasang sabuk pengaman pada tubuh Rojer. Keselamatan majikannya ini adalah yang paling penting, lebih penting dari pada nyawa seorang raja. Edent memicingkan matanya, melihat ekspresi gelisah dari wajah Rojer. Sebelumnya Rojer tidak pernah gelisah ketika naik jet dan bepergian jauh. Tapi hari ini berbeda.


"Edent..." Panggil Rojer, dengan mengetuk- ngetuk jari tangannya pada pegangan kursi.


"Iya Tuan muda..." Jawab Edent, sambil terus sibuk memasang perlengkapan pada tubuh Rojer.


"Kali ini aku benar- benar merasa gugup. Rasanya akan ada sesuatu hal yang akan terjadi... Apa perasaan ku ini wajar Edent?"


Edent kembali mengerutkan dahinya. Seumur hidup ini pertama kalinya Rojer berbicara dengan halus seperti ini. Biasanya hanya kedinginan yang berkutat pada setiap nada bicara yang keluar dari mulut majikannya.


"Tuan percayalah semuanya akan baik- baik saja. Aku sudah mengurus semuanya. Aku yakin tidak akan terjadi apa pun. Anda hanya perlu menikmati waktu ini. Dan selesaikan semua masalah anda dengan Nyonya. " Edent tersenyum tipis, menyalurkan ketenangan untuk membuat Rojer tidak gelisah.


"Tuan apa kita bisa berangkat...?" Tanya pilot dari tempat kemudi.


"Lakukan....!!!" Ujar Edent memberi pemerintah, yang sebelumnya Rojer sudah memberi aba- aba dengan mengangguk.


...----------------...


Steve mendorong troli barang yang berisi kopernya dan koper Maura serta Charlote. Hari ini ia akan terbang kembali ke kota D. Sementara Maura dan Charlote akan terbang ke kota Y untuk menghadiri acara pertemuan besar para hacker di seluruh dunia. Jadi setidaknya mereka bisa berpisah di bandara dengan pesawat masing- masing.


Freya berjalan dengan tegap, mengekor di belakang Maura dan Charlote. Ia juga di tugaskan untuk selalu ada di sisi Maura. Meski Maura sudah memintanya untuk tidak ikut. Tapi sepertinya telinganya terbuat dari besi, ia tidak mendengarkan Maura sedikit pun.


"Ma,,, akhirnya hari ini tiba... Aku sudah tidak sabar untuk sampai ke kota Y..." Ujar Charlote dengan antusias.


"Charlote... Izinkan paman ikut ke acara itu ya... Setidaknya paman bisa menjaga mu dan mama... Dan paman bisa menjadi teman bermain mu di sana... Kita akan mengunjungi tempat- tempat terbaik di sana..." Ucap Steve dengan wajah memelas. Saat mengetahui bahwa Maura dan Charlote akan pergi ke kota Y. Ia selalu merenggek minta ikut pada Charlote. Tapi sayangnya, anak laki- laki ini tidak bisa di bujuk sama sekali. Ia terus mengatakan tidak.

__ADS_1


"Hhhhhh manusi kodok ini, benar- benar membuat ku jengah... Sudah ribuan kali aku mengatakan aku tidak ingin mengajaknya... Apa dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan... Aku tidak tertarik untuk bermain bersama mu... Karna di sana aku akan bermain dan bersenang- senang dengan papa ku... Only mom, dad, and me... One day for family time..." Batin Charlote, dengan memasang wajah tidak setuju dengan permintaan Steve.


" Lebih baik paman pulang ke kandang paman saja oke... Aku ke sana bukan untuk bermain- main... Dan aku juga tidak tertarik untuk menghabiskan waktu bersama paman..." Timpal Charlote menjawab perkataan Steve.


"Sudahlah Steve... Kamu kembalilah di kota D. Pasti kamu memiliki banyak pekerjaan kan... Aku dan Charlote ke sana hanya untuk menghadiri acara saja... Lagi pula ada Freya dia bisa menjaga ku... Iya kan Freya...?" Ujar Maura menyakinkan Steve.


"Tentu Nyonya... Itu sudah tugas saya. Jika di perlukan saya akan mengorbankan nyawa saya untuk melindungi Nyonya." Jawab Freya dengan mantap. Matanya mengedar memperhatikan sekelilingnya. Sorot matanya menangkap beberapa titik, di mana pengawal Rojer sudah siaga untuk mengawasi perjalan Maura.


"Sepertinya Tuan juga sudah mengirim pengawal bayangan untuk mengawal Nyonya... Setidaknya tugas ku menjadi lebih ringan..." Batin Freya.


"Baiklah jika begitu, kita berpisah di sini... Pesawat ku akan segera berangkat... Mau jaga diri mu dan Charlote. Dan kamu Freya ingat sumpah mu itu..." Steve berpamitan dengan raut kecewa. Sepertinya ia tahu jika kehadirannya tidak butuhkan. Steve berjalan mendekat ke arah Maura dan hendak melakukan salam perpisahan dengan cupika cupiki. Namun dengan cepat dan cekatan Freya sudah berdiri di depan Maura. Menghalangi aksi Steve, yang di matanya terlihat berbahaya.


Steve mendengus kesal, bahkan salam perpisahan saja ia tidak di izinkan. Dengan berat hati Steve menyeret kopernya pergi.


...----------------...


"Semua sudah siap... Semuanya sudah di letakkan pada setiap titik gedung Tuan... Ke akuratan keberhasilan menghancurkan gedung 100%. Laporan selesai...." Ujar seseorang dengan memakai pakaian office boy. Ia mematikan handsheet bluetooth yang terpasang di telinganya. Pria itu berjalan dengan biasa, seperti para office boy yang lain, yang tengah sibuk dengan tugas mereka masing- masing, untuk menyiapkan acara pertemuan seluruh hacker di dunia besok malam. Yang akan di adakan di hotel ini, hotel ASTON.


Di tempat lain, di ruangan yang sama redup dan remang dengan tiga orang di dalamnya, tengah menyaksikan aksi office boy tersebut lewat layar proyektor di dinding.


"Ha.... Ha..... Bagus.... Bagus.... " Tawa membahana dan memekakkan telinga terdengar seakan- akan memantul pada dinding ruangan.


Pria dengan rambut pirang yang sedang duduk di depan layar proyektor dengan memasang wajah puas tak lain adalah ketua mafia.


"Let's Play now...." Ujarnya lagi dengan mengangkat gelas winenya ke udara.


...----------------...

__ADS_1


...****************...


makasih buat reader yang selalu komen abus baca cerita ku... Aku mencintai mu💖


__ADS_2