Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Aku ingin masakan mu !!


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 44...


Dada Maura mulai sesak dan ia benar- benar tidak bisa bernafas. Menyadari hal itu Rojer menjauhkan wajahnya dari Maura hingga aktivitas ciuman mereka terhenti.


Rojer menatap Maura sendu, dengan smirk khasnya.


"Apa kamu menyukainya...???" Ujar Rojer sedikit menggoda Maura.


Mendengar pertanyaan Rojer wajah Maura berubah menjadi merah karna tersipu malu. Ia mengambil nafas panjang, menstabilkan nafasnya agar bernafas dengan benar.


Rojer mengusap bibir merah Maura dengan ibu jarinya, ia mengusapnya dengan lembut, membersihkan bibir Maura dari air liur yang tersisa.


"Aku mencintai mu Maura..." Ungkap Rojer dengan penuh kesungguhan.


Deg..


Jantung Maura semakin berdegup kencang karna ungkapan cinta Rojer. Maura tersenyum tipis namun tidak terlihat oleh Rojer. Wajahnya semakin memerah entah karna senang atau malu. Perut nya terasa di gerayani ribuan kupu- kupu terbang.


"Aku harus segera pergi dari sini... Bisa- bisa jantung ku melompat keluar..." Batin Maura.


Maura mendorong tubuh Rojer perlahan dari tubuhnya, lalu berlalu meninggalkan Rojer dengan wajah yang merah merona.


Dengan cepat, Rojer menarik pergelangan tangan Maura, hingga harus menghentikan langkah Maura.


"Tolong jangan tahan aku... aku sudah ingin meledak sekarang karna senang.." Rutuk Maura dalam hatinya, sedangkan wajahnya semakin merona semerah buah ceri.


"Apa... aku menyuruh mu pergi..???" Ujar Rojer kembali dengan nada serius.


Wajah Maura yang tersenyum kembali seperti awal, kesal dan marah. Maura memutar bola matanya malas. Ia tidak mengerti Rojer bisa berubah sikap seperti cuaca. Kadang bersikap romantis kadang bersikap menjengkelkan.


"Kenapa dia berbicara seperti itu?? Seperti tidak terjadi apa- apa... Dia baru saja menyatakan cinta kan padaku... kenapa sekarang mendadak bicara seperti boss... Apa dia mempermainkan ku???... Lagi pula aku tidak boleh sampai menyukainya.. huhhh sadar sadar..." Batin Maura.

__ADS_1


"Kenapa... ???" Tanya Maura dengan nada bosan.


"Apa kamu lupa... Aku belum mendapatkan makanan masakan mu kan... Aku sangat lapar... setelah berciuman dengan mu cukup lama tadi..." Ujar Rojer dengan menunjukkan wajah memelas.


"Apa...!!! heh... Maaf Tuan CEO yang terhormat aku sudah mengatakan aku sedang tidak ingin memasak.. Kamu pergi saja membeli makanan atau kamu bisa menyuruh Edent."


"Wow... Kamu sudah mencuri satu ciuman ku... dan sekarang kamu tidak ingin memasak untuk ku???... Hei... ayolah ciuman ku tidak gratis Maura.. Kamu harus membayarnya... "


"Apa... Kamu ini tidak waras ya... bukan aku yang mencuri ciuman mu itu.. Kamu yang nyosor mencium ku tadi... Kamu menghukum ku dengan cara seperti itu kan.. Dasar bos mesum..."


"Ckck... itu bukan hukuman... aku belum memberikan mu hukuman.. Kamu baru saja membohongi ku mana mungkin aku memberi hukuman yang sangat ringan seperti itu... Tapi tadi kamu sangat bersemangat kan... hehe.."


"Hhh... Tidak aku tidak mau... " Maura mendengus kesal.


"Baiklah jika tidak mau.. aku akan menambah hukuman mu menjadi lebih besar... Dan kamu masih ingat kan.. kamu masih memiliki hutang padaku... jadi kamu masih milik ku dan kamu harus menuruti semua kata- kata ku... Jangan coba- coba lari dari janji mu padaku.."


"Sialan... Bayi besar... aku membenci mu... " Rutuk Maura dengan mengerang kesal mengepal tangannya keras di depan wajahnya.


"Kenapa berdiri saja... Ayo lakukan... cepatlah ke pantri dan buat kan aku masakan yang enak... " Ujar Rojer dengan senyum bahagia, lalu menoel hidung Maura yang sedang kesal.


"Aaaa... Aku ingin mencopot kepalanya dari tubuhnya sekarang juga... Dia sangat menyebalkan... Aku ingin sekali mencakar - cakar wajahnya yang sok bossi itu... eee..." Maura mendumel dalam hati sambil memperagakan dengan tangannya. Sementara langkah kakinya terus berjalan ke arah pantri kantor.


Sementara Rojer tengah asik tertawa terpingkal- pingkal karna melihat ekspresi Maura.


"Astaga dia sangat manis tadi.. Tadi dia marah lalu tersipu malu lalu kesal... haha.. ha... bisa- bisa aku gila karna melihat ekspresi wajahnya yang penuh dengan kejutan..." Ujar Rojer sendiri sambil berguling- guling di sofa.


"Permisi Tuan muda..." Seorang staff pria masuk ke ruangan Rojer dengan wajah terkejut dan juga bingung, melihat tingkah Rojer yang tertawa terpingkal- pingkal bahkan sampai berguling- guling seperti anak kecil yang sedang menonton kartun lucu.


Menyadari ada orang yang masuk, Rojer menghentikan tawa nya, memasang wajah datar lagi sama seperti sebelumnya, dan merapikan jasnya berusaha menjaga image nya agar tidak rusak karna staff nya telah melihatnya tertawa seperti itu.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu,, sebelum masuk..." Ujar Rojer dengan nada dingin.

__ADS_1


"Saya sudah mengetuk pintu tadi Tuan,,, Tapi sepertinya tuan muda sangat bahagia sampai tidak mendengar dan menyadari kehadiran saya.." Jawab staff laki- laki tersebut sambil tersenyum dan memperhatikan sekeliling ruangan yang di penuhi dengan makanan yang berceceran serta pecahan- pecahan piring.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu... " Tanya Rojer menyelidik staff laki- laki itu yang tersenyum bahkan setengah tertawa dengan pandangan ke arah makanan yang berserakan di lantai.


"Apa kamu sedang mengejek ku karna ruangan ku sedang kotor??" Tanya Rojer dengan sedikit menekan dan dingin.


"Bukan.. Bukan begitu tuan muda.." Jawab Staff itu dengan terbata- bata. Ia mengurung senyum nya rapat - rapat agar tidak tampak lagi. Kata- kata Rojer yang penuh penekanan sudah membuatnya bergidik ngeri dan suhu di ruangan ini menjadi lebih dingin dan mencekam. Dihiasi dengan tatapan Rojer yang siap membelah tubuh staff laki- laki tersebut.


" Sa... Saya hanya ingin meminta tanda tangan untuk beberapa berkas proyek di kota A tuan.." Jawab staff tersebut dengan terbata- bata. Bahkan di dahinya sudah mengalir keringat.


"Berikan..." Ujar Rojer dengan tatapan tajam. Staff itu memberikan berkas yang di bawanya kepada Rojer.


"Dengar... Aku tidak ingin kamu mengulangi kesalahan mu lagi... Aku tidak memperkerjakan orang yang tidak tahu tata krama atau sopan santun..." Ujar Rojer dingin sambil menandatangi berkas tersebut.


"Baik Tuan Muda... Sekali lagi maaf kan saya... " Staff tersebut meminta maaf dengan kepala menunduk dalam.


"Kali ini aku maafkan... Ini..." Rojer menyerah kan berkas itu kembali ke pada staff tersebut.


"Oya... Panggil OB ke ruangan ku sekarang untuk membersihkan semua ini.." Titah Rojer pada staff tersebut.


" Baik Tuan muda... Saya akan melaksanakan perintah Tuan muda... O.. ya Tuan muda... Proyek ini akan di resmikan 5 hari lagi... Semua orang di sana akan sangat bahagia jika Tuan muda hadir di acara peresmian tersebut." Ujar Staff dengan berhati- hati. Ia tidak ingin mengatakan hal yang salah yang bisa menyinggung majikannya di depannya ini.


"Kamu bisa mengusulkanya pada sekertaris ku... Jika jadwal ku kosong. Aku mungkin akan menghadiri peresmian itu... Bekerja lah dengan baik jangan kecewakan aku.." Jawab Rojer dengan datar.


Staff laki- laki tersebut memberi hormat dengan membungkuk dan beringsut keluar dari ruangan Rojer.


...----------------...


...****************...


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!


__ADS_2