Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Peringatan kematian.


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 67...


Seperti hari biasa. Hari ini Maura kembali menginjak kan ke dua kakinya di tempat kerja yang sama, tak bukan tak lain adalah perusahaan SUNRISE IT.


Suasana tampak berbeda desain yang di ubah hanya dalam satu hari satu malam sejak kejadian kemarin menimpa Maura. Serta wajah- wajah baru yang sudah siap di posisi masing- masing sambil menyunggingkan senyum ke arah Maura.


"Selamat pagi nona Maura..."


"Selamat datang..."


Sapa karyawan baru dengan ramah. Kaki jenjang Maura terus melangkah menuju ruangan kerjanya yang tak bukan ruangan Rojer.


"Hmmm.... Dia benar- benar melakukannya untuk ku..." Lirih Maura dan membuka pintu ruangan.


"Edent..." Panggil Maura heran saat memasuki ruangan, hanya terdapat Edent yang sedang mengcopy file pada laptop Rojer.


Maura mengalihkan pandangannya pada kursi kebesaran sang CEO yang kosong tanpa penghuni. Sesekali Maura juga mengedarkan pandangan nya pada sisi ruangan, mencari sosok Rojer yang mungkin terselip di bagian ruangan ini.


"Selamat pagi nona muda..." Edent membungkuk memberi hormat pada Maura.


"Kamu sendiri???" Tanya Maura menutupi niat sebenarnya. Sebenarnya ia sedang menanyakan kehadiran Rojer. Namun bibirnya sangat gengsi untuk menanyakan hal itu. Hal itu membuat Maura merubah dan menyamarkan pertanyaannya.


Merasa mengerti tujuan dan kemana arah pertanyaan Maura. Edent tersenyum dan mencabut flashdisk dari laptop Rojer.


"Tuan muda tidak bisa masuk kantor hari ini... Jadi saya mengambil berkas yang tidak di kerjakan kemarin nona. Tuan muda akan bekerja di rumah hari ini. Karna ada urusan... Beliau tidak bisa masuk kantor." Tukas Edent.


"Ohhh begitu. Baiklah... Aku bisa melakukan apapun sepuas ku hari ini. Tanpa kehadirannya yang sangat menyulitkan ku..." Balas Maura dengan syok senang. Padahal dalam lubuk hatinya ada sedikit rasa kecewa yag menjalar karna hari ini bos yang menyebalkan tidak masuk kerja.


"Kalau begitu, saya undur diri nona... Semoga hari anda menyenangkan..." Edent beringsut dari ruangan CEO dan menutup pintu pelan.


Maura menatap sekali lagi meja Rojer yang kosong. Di kursi itu biasanya Rojer selalu memandangi dan menggodanya. Dan diri nya akan merasa kesal dan malu dalam waktu yang bersamaan.


Maura meletakkan totbagenya di atas meja. Ia melihat berkas bersampul hijau sudah ada di atas mejanya. Raut wajah Maura berubah menjadi penasaran melihat berkas itu. Ia meraih dan membukanya perlahan membaca isi file tersebut.


"Permintaan izin peresmian taman bunga di kota A..." Lirih Maura sambil terus menatap proposal pengajuan penambahan kegiatan pada schaduel Rojer.


"Apa dia akan setuju jika aku menambahkan acara peresmian ini pada jadwal nya hari ini ..? Acara sangat seru,,, aku harap dia setuju. Jadi aku juga bisa pergi ke acara taman bunga itu. Hhh taman bunganya pasti sangat indah. " Tanya Maura pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hhh... Aku akan menanyakannya nanti pada nya.." Maura menutup dan meletakkan proposal itu kembali. Ia membuka laptop kerjanya dan segera bergelung di sana.


...----------------...


Rojer sedang menyeruput kopi hangat di meja makan. Menggunakan baju serba putih.


"Tuan muda mobil anda sudah siap..." Ujar Mr. Kong dengan menunduk.


Rojer bangkit dari duduk nya dan bergegas menuju mobil yang sudah di parkir di depan pintu utama. Baju yang di kenakan Rojer sedikit berbeda dari biasanya. Ia menggunakan baju bermodel kurta dan sedikit kesedihan yang terpancar dari bilik matanya.


Rojer masuk ke dalam kursi belakang. Edent sudah siap di kursi pengemudi dan lansung melajukan mobil membelah jalanan yang cukup ramai.


Rojer hanya terduduk diam dengan menyatukan ke dua tangannya. Menggenggam erat satu sama lain.


"Tuan... Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan kantor. Anda hanya tinggal mendatangani berkas- berkas dan memeriksa ulang." Ujar Edent dengan fokus ke jalanan.


"Letakkan saja di ruang kerja rumah..." Jawab Edent singkat.


"Baik Tuan"


"Apa Maura masuk kantor hari ini?" Tanya Rojer dengan datar.


"Iya Tuan muda. Nona sempat menanyakan mu. Tapi saya mengatakan jika anda ada urusan penting. Nona Maura seperti nya senang mengetahui jika anda tidak masuk kantor." Jelas Edent.


Rojer tidak merespon atau menjawab apa yang di katakan Edent. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Mereka sudah memasuki area sepi kota X. Jauh dari keramaian kota.


Mobil mewah Rojer sudah sampai di sebuah tempat pemakaman. Rojer keluar dari mobil dengan kaca mata hitam bertengker di batang hidungnya. Menutupi ke dua manik matanya.


Rojer berjalan memasuki area pemakaman begitu pula Edent yang selalu setia mengiringi langkahnya.


Tampak dari kejauhan dua orang wanita memakai baju serba putih tengah berdiri di sebuah makam dengan membawa bunga dan meletakkannya pada batu nisan.


"Rojer sayang... Kamu sudah datang sayang..." Ujar Ny. Anindita saat mendapat Rojer sudah berdiri di sampingnya. Air mata Ny. Anindita masih mengalir dan ke dua matanya terlihat sembab.


Catlin juga menangis terisak dengan menutup hidungnya dengan tissu di tangannya. Catlin melirik Rojer namun tatapan Rojer tertuju pada batu nisan di depannya.

__ADS_1


"Pa... Rojer datang lagi.. Putra mu datang lagi menjenguk mu.. " Ujar Rojer berjongkok di samping batu nisan ayahnya. Hari ini adalah hari kepergian Tuan Wang yang tak lain adalah ayah Rojer. Setiap hari ini Rojer dan Ny. Anindita pasti akan datang ke makam sang ayah untuk memperingati hari kematiannya. Begitu pula dengan Catlin selalu datang menemani mertuanya untuk mengunjungi makam sang ayah mertua.


Setiap hari ini Catlin selalu melihat sosok lembut Rojer. Sosok yang tak pernah ia lihat pada hari lain kecuali hari ini.


Rojer meletakkan sebuket bunga tulip kuning di atas batu nisan. Dan mengelusnya lembut.


"Pa... papa apa kabar.?? Seperti biasa aku datang ke sini membawa bunga tulip kuning kesukaan papa... Setiap akhir minggu kita selalu ke taman pa hanya untuk melihat bunga kesukaan papa... Pa... Hari ini aku tidak datang hanya untuk hal itu. Aku ingin memberi tahu sebuah rahasia... He.. Papa tahu putra kecil papa sudah punya putra sendiri... Papa sudah punya cucu.. Namanya Charlote pa dia sangat tampan dan pintar. Jika papa bertemu dengannya papa akan langsung jatuh cinta padanya... Dan juga Maura pa.. Dia ibu dari putra ku.. Aku sangat mencintainya. Dia persis seperti menantu idaman kriteria papa... Lain waktu aku akan mengajak nya ke sini untuk menemui papa.." Ujar Rojer dengan berbisik pelan Hingga membuat Ny. Anindita atau Catlin tidak mendengar ucapannya. Air mata Rojer jatuh dari sudut mata nya.


Ny. Anindita menepuk- nepuk bahu Rojer yang terlihat sedikit bergetar. Catlin menyenderkan kepalanya di bahu Ny. Anindita menumpahkan kesedihan yang terlihat di buat- buat.


Ny. Anindita berjalan meninggalkan Catlin dan Rojer.


"Sayang... Sudah lah.. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan mu... hiks.." Ujar Catlin menepuk bahu Rojer.


Rojer mengangkat pandangannya ke arah Catlin. Ia dapat melihat kepura- puraan yang tersirat dengan jelas di wajah Catlin.


Rojer bangun dan segera berlalu, Catlin mengejarnya dan menarik lengan Rojer.


"Rojer ini hari peringatan kematian papa... Setidaknya di depan pemakamannya kamu memperlakukan ku seperti seorang istri..." Cecar Catlin mengapit lengan kokoh Rojer.


"Lepaskan aku... Aku tidak ingin berpura- pura di hadapan papa ku... Jadi jaga batasan mu. Jangan berani menyentuh ku lagi. Dan camkan dalam otak mu 7 hari lagi surat perceraian akan sampai di tangan mu..." Rojer menghempas tangan Catlin kasar dan melangkah Pergi.


Catlin mematung di tempat mendengar apa yang di ucap kan Rojer.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2