Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
141


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 141...


Tak butuh waktu lama, bagi Edent untuk membelah jalanan yang lenggang.


Mobil mewah Rojer, memasuki pelataran rumah besar keluarga Wang.


Matahari baru muncul sedikit, dengan sinar nya yang masih remang- remang.


Lampu - lampu rumah masih menyala terang.


Edent memarkirkan mobil, dan segera turun untuk membukakan pintu untuk Rojer.


Tapi seperti nya diri nya kalah cepat, Rojer langsung melompat keluar dari dalam mobil, tanpa menunggu Edent membuka pintu untuk nya seperti biasa.


Kesabaran nya sudah habis. Ia sudah tidak bisa menunggu lagi. Saat ini ia hanya ingin segera menemui Maura. Memastikan keadaan sang pujaan hati.


Edent menghembuskan nafas nya pelan. Melihat sikap sang majikan yang tidak sabaran untuk menemui sang istri.


Rojer menaiki tangga menuju kamar nya, hampir setengah berlari.


Dengan tergesa- gesa, Rojer memutar knop pintu dengan cepat.


Namun, langkah nya terhenti, saat melihat tempat tidur yang kosong. Berbeda saat terakhir kali dia keluar dari kamar ini. Masih ada sosok wanita yang sangat di cintai nya berbaring dengan lelap di atas tempat tidur.


Tanpa di undang , rasa takut menyergap Rojer dengan cepat. Seolah mencengkram tanpa ingin melepaskan lagi.


Rojer masuk dengan tergesa- gesa ke dalam kamar. Hati nya benar- benar merasa kalut dan gelisah.


Jantung nya terasa berhenti berdetak begitu saja, membuat nafas nya semakin tidak beraturan.


Rojer mengedarkan pandanga nya, ke suluruh sudut kamar . Dan terhenti pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"*Dimana Maura???... Apa dia sedang di dalam kamar mandi???" Batin Rojer dengan menatap kamar mandi lekat.


Ia sungguh sangat berharap, jika dugaan nya ini benar. Jika Maura sedang berada di dalam kamar mandi. Sementara pikiran nya terus saja bergejolak dengan kemungkinan'- kemungkinan buruk yang terjadi*.


Rojer mendekat dengan cepat ke arah kamar mandi. Ia harus memastikan jika Maura memang ada di dalam kamar.


Tok...


Tok..


Tok...


"Sayang... Apa kamu ada di dalam???" Panggil Rojer dengan mengetuk pintu kamar mandi, dengan bertenaga.


Saat ini yang hanya di dalam otak kecil nya adalah melihat Maura berdiri di hadapan nya.


Sungguh ia tidak akan bisa membayangkan hal yang akan terjadi, jika hal itu tidak terjadi.


Tok...


Tok..


Tok...

__ADS_1


Rojer kembali mengetuk pintu kamar mandi, setelah tidak memdapatkan respon atau pun jawaban.


Hanya ada keheningan.


"Maura.... Jawablah... Jika kamu memang ada di dalam... Jika tidak,,, aku akan masuk..." Ancam Rojer, dengan ekspresi wajah nya yang berubah panik.


Detakan jantung nya semakin cepat, dengan rasa takut yang kembali menyerang nya. Saat diri nya tidak mendapatkan jawaban dari balik pintu kamar mandi.


Rojer mendekatkan telinga nya ke arah daun pintu. Mencoba mendengar aktivitas di dalam kamar mandi.


Namun nihil, indra pendengaran nya sama sekali tidak bisa menangkap suara apa pun. Yang ada hanya keheningan. Seperti tidak ada aktivitas di dalam nya.


"Aku mohon tidak lagi..." Batin Rojer dengan wajah yang mengkerut dalam.


Tangan besar Rojer, memutar knok pintu kamar mandi. Dan mendorong daun pintu.


Rojer mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut sisi kamar mandi. Tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi alias kosong.


Rojer mengeratkan pegangan tangan nya pada knok pintu. Hingga buku- buku tangan nya memutih.


Keringat dingin muncul di kening Rojer, bersamaaan dengan gurat cemas, khawatir dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.


"Di mana Maura??... " Lirih Rojer dengan suara yang mulai bergetar.


"Maura....!!!"


"Maura...!!! Kamu di mana!!!"


Teriak Rojer memanggil Maura, dan segera keluar dari kamar mandi.


Rojer segera bergegas untuk keluar kamar, dan menemui Ny. Anindita. Ia sangat berharap saat ini Maura sedang bersama ibu nya.


Namun saat langkah kaki nya hampir keluar dari kamar. Kedua netra mata Rojer melihat Foto pernikahan diri nya dan Maura yang tergeletak begitu saja di lantai. Dengan kaca bingkai yang pecah dan berserakan.


Deg...


Deg..


Deg..


Jantung Rojer kembali berpacu semakin cepat. Pikiran- pikiran buruk yang ada di dalam otak nya, kembali bertambah kuat, saat ia melihat foto pernikahan yang pecah.


"Apa Maura--- Tidak... Ingatan nya tidak boleh kembali...." Lirih Rojer dengan kecemasan dan ketakutan yang terlihat jelas di wajah nya.


Ke dua tangan Rojer menyentuh pecahan- pecahan foti yang berserakan begitu saja.


Entah mengapa ia merasa hal ini adalah sebuah pertanda buruk bagi hubungan nya.


Rojer meraih ponsel di dalam saku nya dengan cepat. Memencet nomer Edent.


"Edent... Cepat kerah kan semua pengawal untuk mencari keberadaan Nyonya... Cari ke seluruh sudut rumah... Cepat..." Titah Rojer dengan frustasi.


Akal sehat nya seakan akan hilang saat ini juga.


Rojer menyugar rambut nya kasar. Nafas nya semakin menderu tidak stabil.

__ADS_1


Hati nya terasa sedang di porak porandakan sekarang.


Keinginan nya hanya satu, saat ini juga ia ingin bertemu dengan Maura.


Memeluk dan mencium tubuh wanita yang sangat di cintai


nya.


Ia tidak ingin lagi kehilangan lagi. Sudah cukup ia menderita atas nama kehilangan.


"Aku berharap dugaan ku tidak benar... Aku sangat berharap, Maura tidak mengingat masa lalu nya..." Lirih Rojer dan berlari keluar dari kamar.


Ia harus segera menemukan Maura, belahan jiwa nya. Ia tidak akan bisa bertahan tanpa Maura.


...----------------...


Suara kicauan burung begitu merdu terdengar. Dengan cahaya matahari yang mulai meninggi, namun menghangatkan.


Maura duduk di bangku salah satu taman, dengan tangan nya mengendong Charlote yang masih tertidur pulas.


Sementara di sisi lainnya, ada sebuah koper besar di samping nya.


Air mata merembes dari ke dua matanya. Rasa sakit, kecewa dan kesedihan terlihat sangat jelas di wajah nya.


"*Kenapa kamu lakukan ini lagi Rojer??... Kenapa kamu terus membohongi ku... Apa di mata mu aku hanya wanita bodoh yang sangat mudah di tipu. Kamu sangat tega membohongi ku seperti ini, bahkan di saat aku sedang sakit... Apa perasaan ku tidak pernah berarti untuk mu... Kamu terus membohongi ku.. Dengan cara licik mu.. Kamu berhasil menjebak ku untuk menikah dengan mu.


Apa kemarahan ku sebelum nya tidak bisa menyadarkan mu... Jika aku sangat membenci pembohong.


Dan dengan mudah nya kamu membohongi ku..


Hiks... Hiks..."


Batin Maura dengan air mata yang mengalir deras*.


Diri nya sangat kecewa, dengan Rojer. Bisa- bisanya Rojer memanfaatkan diri nya saat ia tidak bisa mengingat apa pun. Seperti layak nya ia adalah sebuah permainan. Di mana perasaan nya tidak penting dari pada ke egoisan Rojer.


Maura menatap lekat wajah Charlote yang masih terpejam dengan lelap. Suara kicauan burung dengan angin sepoi- sepoi seperti nya membuat Charlote tertidur semakin lelap.


"Sayang... Maaf kan mama... Mama sudah sangat keterlaluan dengan melupakan diri mu.. Bagaimana bisa mama melakukan kesalahan sebesar itu... Pasti saat itu kamu sangat terluka... Maaf kan mama..." Maura mencium pipi Charlote dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.


"Mulai sekarang kita tidak akan tinggal di kota ini lagi.. Kota yang hanya memberikan luka... Dengan orang- orang pembohong... Meski Rojer yang memberikan mu pada ku... Tapi diri mu hanya milik ku... Kau hanya milik ku Charlote... Kita akan segera pergi dan mulai hidup baru seperti saat kita hanya berdua... Hanya ada kita..." Lanjut Maura dengan menyungingkan senyum kecut.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2