Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
114


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 114...


"Aku tidak tahan lagi jika harus tertidur terus di atas tanah... Ini sangat menjijikkan... Rasanya tubuh ku menjadi gatal- gatal... Aku tidak tahan..." Batin Catlin, dan dengan cepat kembali berdiri. Seperti ia tidak pernah pingsan sebelumnya.


Ke dua pengawal yang menyeret tubuh Catlin pun terlonjak kaget. Melihat Catlin yang langsung bangun dari pingsannya dengan cepat. Seperti dia tidak pernah pingsan sebelumnya.


"Waduhhh... lihat nona Catlin langsung bangun... Astaga ternyata apa yang di katakan Tuan muda memang benar dia hanya bersandiwara belaka... " Ujar salah satu pebgawal tadi sambil menunjuk ke arah Catlin.


"Aku sangat menyesal mengasihani nya tadi.. Ck... Untung kita tidak jadi membantunya tadi..." Timpal pengawal lainnya dengan menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Iu... kotor sekali... Sangat menjijikkan... Issh..." Gumam Catlin dengan jijik, sambil mengibas- ngibas bajunya dan rambutnya yang terkena tanah.


Catlin langsung masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobil dengan keras.


Brak...


Catlin mengatur nafasnya. Amarah di dadanya begitu sangat besar. Wajahnya kini terlihat merah padam seperti kepiting rebus yang overkook. Hari ini ia benar- benar mendapat penghinaan besar. Sungguh memalukan seorang Catlin bisa di perlakukan seperti itu, bahkan di seret tanpa rasa iba sedikit pun.


"Sialan.....!!!!" Teriak Catlin dengan mengeluarkan seluruh suaranya.


Tangannya memukul keras stir mobil berkali- kali. Yang Menjadi pelampiasan kemarahan nya.


"Tunggu,,, kenapa bisa Rojer mendapatkan berkas yang sudah aku tanda tangani, seingat ku aku tidak pernah menandatangi surat itu..." Kening Catlin semakin berkerut dalam. Menerka- nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku meninggalkannya di apartemen Gery... Ooohhh aku mengerti ini ulah siapa... Brengsek kamu Gery berani sekali kamu menghianti ku... Cih... Bodoh... Kenapa aku tidak membaca berkas mobil yang dia berikan kepada ku kemarin.. Pasti dia yang menyelipkan surat perceraian itu... " Gumam Catlin, dengan menggenggam stir mobil erat, hingga buku- buku tangannya memutih.


Amarah semakin memuncak di dalam diri Catlin. Rasa sakit karna merasa terhianati, menjadi bensin penyala kemarahannya.


Catlin menyelakan mobil dan melesat meninggalkan rumah keluarga Wang dengan marah.


...----------------...


Gery melihat meja kerjanya dengan kerjaan yang masih menumpuk. Pikirannya terasa kacau.


Gery memijat pelipis kepalanya. Ia sedikit merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada Catlin. Tanpa sepengetahuan Catlin ia meminta tanda tangan wanita itu tanpa wanita itu sadari. Hal ini yang mengganggu pikirannya sekarang. Jika Catlin sampai tahu, jika dirinya adalah penyebab perceraian itu. Apa yang akan di lakukan Catlin pada dirinya. Wanita yang sangat di cintainya itu pasti akan sangat marah. Tapi, sungguh ia hanya menginginkan hal yang baik untuk Catlin. Tapi selama itu pula Catlin tidak pernah melihat cintanya, dan tidak pernah menganggap perjuangannya.


FLASBACK ON...


Gery mengambil berkas biru yang di lemparkan Catlin saat masuk ke dalam apartemennya. Ia memandangi setiap tulisan yang tertera dengan jelas di atas kertas putih itu. Sementara Catlin terus saja mengoceh melampiaskan amarahnya.


Catlin tidak menyadari Gery mengambil berkas perceraian itu dan menyelipkannya di dalam berkas mobil yang akan di tanda tangani oleh Catlin.


Gery sudah muak, melihat Catlin yang akan mengunjunginya hanya di saat moodnya hancur karna Rojer. Hal itu membuat Gery berpikir untuk melakukan ini semua. Dirinya ingin membahagiakan Catlin dan hidup bersamanya. Hal itu akan terjadi jika Catlin menandatangani surat perceraian itu.


Keesokan harinya, setelah malam panasnya dengan Catlin. Gery menyodorkan berkas tersebut untuk di tanda tangani Catlin.


Tanpa sadar karna saking antusiasnya, Catlin sama sekali tidak membaca surat apa yang di tanda tangani. Yang dirinya tahu surat itu hanya berkas mobil mewah yang membutuhkan tanda tangannya.


Hal itu membuat rencana Gery berjalan dengan lancar. Gery langsung bertemu dengan Edent dan memberikan surat cerai yang telah di tanda tangani. Tapi sampai sekarang Gery terus saja memikirkan hal itu. Ia sangat takut jika Catlin akan meninggalkannya jika ia tahu apa yang sudah ia lakukan. Catlin pasti akan berpikir jika dirinya telah menghianatinya.


FLASHBACK END....


...----------------...


Freya membantu Maura untuk pindah ke atas ranjang.

__ADS_1


Maura terus memegangi kepalanya yang sangat pening. Karna dirinya memaksakan diri untuk mengingat sesuatu. Tapi rasa penasaran itu kini berubah menjadi rasa sakit yang menyerang kepalanya.


"Nyonya muda... Anda baik- baik saja..?" Tanya Freya dengan nada sendu. Dirinya sangat merasa bersalah saat insident kecelakaan Maura. Bagaimana tidak dirinya lah yang di tugaskan untuk menjaga wanita di depannya. Tapi, dirinya malah gagal dalam mengemban tugasnya. Melihat kondisi Maura yang seperti ini membuta Freya semakin merasa bersalah.


"Hmmm Aku baik- baik saja... Hanya butuh istirahat saja ... Sakitnya nanti juga akan hilang.. Kamu temani saja Charlote...!!" Timpal Maura dengan menyender pada headbord ranjang.


"Baik Nyonya... Jika anda butuh sesuatu panggil saja saya... Saya akan melayani anda dengan sepenuh hati..."


Freya menyeret kakinya untuk keluar dari kamar, sebelum Maura kembali menghentikannya.


"Tunggu... Hey kamu..!!"


"Iya Nyonya..." Freya langsung menghampiri Maura dengan sigap.


"Maaf jika aku memanggil mu seperti itu... Aku belum tahu nama mu.. Maaf ku harap kamu mengerti..."


"Anda tidak perlu meminta maaf Nyonya... Panggil saja saya Freya..." Ujar Freya dengan suara yang melemah. Majikan yang selama ini di jaganya, ternyata juga melupakan dirinya. Hatinya terasa sedih dengan kenyataan ini.


"Apa kamu mengenal wanita tadi?? Apa maksudnya dengan mengatakan semua hal itu..? Sepertinya dia sangat mengenal ku dengan baik..?" Tanya Maura pada Freya. Setidaknya untuk mengetahui sesuatu, hal yang harus dirinya lakukan adalah bertanya bukan.


"Hmmmm..." Freya berdehem dengan tatapan bingung. Dirinya berpikir apa harus memberi tahu Maura siapa itu Catlin. Atau tidak.


"Sepertinya kamu memang mengenalnya.. Katakan pada ku ada hubungan apa diri nya dengan diri ku di masa lalu?" Tanya Maura lagi dengan sedikit tidak sabaran.


"Sebenarnya Nona Catlin adalah..---"


Krek...


Pintu terbuka, dari balik pintu masuk Rojer dengan tersenyum ke arah Maura.


"Tuan, nyonya muda.. Saya permisi dulu..." Pamit Freya, lalu menunduk memberi hormat dan berlalu hilang di balik pintu.


"Aku baik- baik saja... Hanya sedikit pusing tadi.. Tapi sekarang tidak lagi..." Timpal Maura menjawab pertanyaan Rojer yang terlihat sedikit cemas. Maura sangat bahagia dengan sikap Rojer yang langsung khawatir saat sesuatu terjadi pada dirinya. Meski hanya hal sepele, tapi pria di depannya ini tetap saja khawatir.


"Apa perlu aku memanggil Antony untuk memeriksa mu? Aku tidak ingin terjadi apa pun pada mu..." Rojer menyelipkan rambut Maura yang mencuat keluar ke belakang telinga.


"Ahhh... Kamu ini terlalu berlebihan.. sedikit- sedikit panggil dokter Antony... Apa sekarang kamu sudah jatuh cinta dengan dokter Antony..."


"Ssssuuuuhhhttt" Rojer meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibir Maura.


"Aku hanya khawatir pada mu... Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mu... Kamu tahu kan jika aku sangat mencintai mu hmmm.... Jatuh cinta dengan Antony???.. Masa jeruk makan jeruk...." Kekeh Rojer.


"Terimakasih sudah mencintai ku sebesar ini..." Tatapan Maura berubah menjadi sendu. Ia meraih kedua tangan besar Rojer dan menunmpuknya pada tangannya.


"Tidak ada kata berterimakasih dalam cinta.. Cinta ku ini akan terus tumbuh dan membesar setiap harinya... Meski aku sudah berusaha untuk membuat cinta ini dengan ukurannya yang tetap.. Tapi itu tidak bisa.. Rasa ini terus tumbuh semakin besar dan terus akan seperti itu..."


"Dari mana kamu mempelajari kata- kata seromantis itu hemmm?" Maura mulai mengejek Rojer dengan mengerjitkan dahinya.


"Kata- kata ini tidak di pelajari, ini asli dari hati ku... Karna hati ku sangag tulus dalam mencintai mu..."


Cup...


Satu kecupan kilat mendarat di bibir Rojer. Yang berhasil membuat Rojer mematung tanpa bisa bergerak sedikit pun.


Deg...

__ADS_1


Deg..


Deg...


Jantung Rojer bertalu dengan cepat. Darah nya berdesir begitu cepat. Nafasnya terasa begitu lepas saat ini. Kecupan kecil tepat di bibirnya, seakan membuat Rojer terbang ke langit ke tujuh.


"Rojer...!! Rojer...!!" Maura menjentikkan jari nya di depan wajah Rojer. Membuat Rojer menjadi salah tingkah sesaat.


"Kenapa?? Ada apa dengan mu..? Apa kamu tidak suka jika istri mu mencium mu..?"


"Tentu saja tidak...Emmmm... Aku hanya terkejut, tiba- tiba kamu mencium ku itu membuat ku sedikit kaget..."


"Terkejut kamu sungguh aneh... Kamu seperti pertama kalinya di cium oleh ku... Apa dulu aku tidak pernah melakukannya?..."


"Tentu saja ini pertama kalinya.. Rasanya aku berhenti bernafas untuk sesaat..." Batin Rojer dengan keterkejutan nya sendiri. Yang kembali membuatnya diam.


"Rojer...!!! Rojer...!!! kenapa kamu diam...!!!" Kini Maura menggoyang- goyangkan tubuh Rojer. Karna kesal dengan sikap aneh Rojer. Tingkah Rojer seakan- akan dia tidak pernah menciumnya saja.


"Iya... Iiii... Ya..." Rojer menjawab dengan tergugup.


"Baiklah... Aku jadi takut jika kamu bertingkah seperti ini... Aku janji tidak akan mencium mu lagi.."


"Eiiittsss apa yang kamu katakan ... Tidak... Tidak... Kamu tidak boleh berjanji seperti itu... Aku milik mu jadi kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau pada diri ku,,, termasuk juga mencium ku..." Bantah Rojer dengan memasang smirk menggoda, membuat wajah Maura merona.


"Apa sekarang aku boleh mencium mu lagi honey...??" Tanya Rojer yang semakin membuat Maura tersipu malu.


Maura tidak menjawab pertanyaan Rojer. Dirinya begitu malu hanya mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Rojer. Rasanya saat ini cahaya matahari begitu terik, meski kini dirinya berada di ruangan yang ber AC.


Rojer memegang dagu Maura, dan mengangkat wajah Maura yang sudah merah merona. Yang semakin membuat Rojer jatuh hati dengan kecantikan wanita pujaannya.


Rojer mendekatkan wajahnya dengan wajah Maura. Semakin dekat, hingga hanya menyisakan satu senti sebelum bibir mereka bertemu.


Tok...


Tok..


Tok...


Suara ketukan dari luar pintu, membuat Maura dan Rojer terlonjak kaget. Maura dan Rojer menjauhkan wajah mereka masing- masing dan menatap ke arah pintu bersamaan.


"Kamu lihat ada saja yang menggangu... Ck..." Ujar Rojer dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kini dirinya terlihat bodoh di hadapan Maura.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2