Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
106


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 106...


Kini Rojer, Charlote, Ny. Anindita dan Antony sudah berada di dalam ruang inap Maura. Menyaksikan tubuh ringkih wanita itu terbaring lemas tak berdaya.


Ny. Anindita begitu prihatin melihat kondisi Maura. Dirinya berpikir bagaimana bisa ia membenci Maura sebelumnya, karna hasutan dari Catlin. Seharusnya sejak pertama bertemu dengan Catlin, tidak seharusnya ia mempercayainya begitu saja. Menantu yang seharusnya berada di posisi itu kini berada di ujung tanduk kematian.


Sejak tadi Charlote dan Rojer, terus saja mengajak Maura berbincang, seakan Maura tidak tidur tapi ada di tengah- tengah mereka.


Hati siapa yang tidak teriris melihat pemandangan menyedihkan seperti itu di hadapannya. Ny. Anindita sampai kehilangan kata- kata menyaksikan moment yang sedang terjadi di depannya. Begitu pula dengan Antony, yang hanya berdiri diam tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Kembalilah... Bangunlah... Aku mohon... Demi diri ku... Aku akan selalu menunggu mu di sini... Jangan lakukan ini... Kemari lah dan peluk aku... Aku merindukan mu..." Seperti biasa saat datang, Rojer akan langsung memegang erat tangan Maura. Membujuk wanitanya untuk segera bangun dari tidur panjangnya yang sangat menyiksa dirinya.


Tit....


Tit...


Tit...


Suara Elektrokardiograf (EKG) yang berada di sisi ranjang, tiba- tiba berbunyi dengan detak jantung Maura yang semakin berpacu cepat. Membuat benda tersebut mengeluarkan suara dengan cepat.


"Mama....!!!" Teriak Charlote, saat tubuh Maura tiba- tiba berguncang.


"Antony.... Ada apa dengan nya...???" Ujar Rojer dengan panik.


Ke dua mata Maura terbuka lebar, Nafasnya terenggah- enggah, dengan mulutnya yang terbuka dan tertutup, mencari oksigen untuk masuk ke dalam paru- parunya. Meski di hidungnya sudah terpasang konsentraktor oksigen.


Melihat kondisi pasiennya yang memburuk Antony segera mengambil tindakan.


"Minggirlah... Aku akan memeriksanya..." Ujar Antony, meminta Rojer untuk memberinya akses untuk memeriksa apa yang sedang terjadi pada Maura.


"Cepat lakukan sesuatu... Maura kamu mendengar ku... Jangan pernah tinggalkan aku..." Rojer mulai histeris. Kepanikan dan cemas mengusai dirinya. Ketakutan kehilangan orang yang sangat di cintainya benar- benar membuatnya kalang kabut.


"Minggirlah Rojer... Jika kamu terus memegang tangannya, aku tidak bisa memeriksanya... Minggirlah beri aku jalan..." Teriak Antony, pada Rojer yang terus mengenggam tangan Maura dengan cemas.


"Suster....!!!" Teriak Antony lugas. Dua orang suster wanita, segera masuk ke dalam saat mendengar panggilan atasannya.


"Rojer... Tenanglah nak... percayakan semuanya pada Antony..." Bujuk Ny. Anindita, dan mencoba menarik tubuh Rojer agar menjauh.


"Tidak... Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri ma...."


"Papa biarkan paman Antony memeriksa mama... Jangan mempersulit keadaan..." Charlote, sudah menangis dengan terisak. Ia memeluk kaki Rojer.


"Aakkhhhh... Hiks... Hiks.. Tuhan Aku mohon jangan ambil dia..." Rintih Rojer dengan tangis yang sesegukan.


Ny. Anindita memapah tubuh Rojer dan Charlote untuk menjauh sejenak.


Suasana yang tadinya tenang, kini berubah menjadi mencekam. Suasana yang membuat kemungkinan apa pun bisa terjadi. Perjuangan antara hidup dan mati.


Bugh...


Bugh..


Bugh...


Rojer meninju tembok dengan tangan kosong. Membuat punggung tangannya mengeluarkan darah.


"Seharusnya malam itu, aku tidak meninggalkannya... Seharusnya aku tetap bersamanya. Laki- laki macam apa diri ku... Tidak bisa menjaga wanita yang ku cintai... Dasar bodoh..." Rojer terus menghantam tembok di depannya, dengan tinjuannya. Membuat luka sobek yang cukup dalam di tangannya. Cat tembok di depannya sudah retak karna hantaman pukulan Rojer.


Mata Ny. Anindita terbelalak melihat aksi putranya.

__ADS_1


"Hentikan... Rojer, kamu menyakiti diri mu... Hentikan... Tangan mu sudah mengeluarkan darah...." Ujar Ny. Anindita menghentikan aksi Rojer. Ny. Anindita mencengkram tangan Rojer kuat, membuat kepalan bulat sempurna itu mengambang di udara.


"Aku pria tidak berguna..." Rojer terus mengulangi kalimat tersebut. Dirinya terus mencoba meninju tembok kembali, meski tenaga cengkraman dari Ny. Anindita sedikit mampu menghentikan gerakan tangan Rojer. Meski Ny. Anindita tidak yakin bisa menahan gerakan tangan Rojer lebih lama lagi.


Charlote berjongkok di sudut ruangan, memejam kan matanya rapat, serapat- rapatnya. Kedua tangannya di angkat dan di tempelkan di telinga. Menghalangi suara EKG yang terus tergiang- giang di telinganya.


"Mama... Jangan tinggalkan Charlote ma... Charlote Tidak mau di tinggalin sendiri oleh mama... Ya tuhan Charlote mohon, selamatkan mama... Charlote ngak bisa hidup tanpa mama... Hiks... Charlote bersumpah siapapun yang sudah membuat mama seperti ini, Charlote akan membalasnya dengan setimpal bahkan lebih dari ini...." Batin Charlote, dengan menggertakkan giginya keras. Wajahnya sudah memerah padam, dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Mama.... hiks...." Lirih Charlote.


"Aku mohon tuhan jangan lakukan ini pada ku....!" Lirih Rojer dengan nafas yang sudah hampir habis.


"Ya tuhan... Selamatkan calon menantu ku... Aku belum berkenalan dan menghabiskan waktu untuk berbelanja bersamanya..." Gumam Ny. Anindita dengan memohon.


Harapan dan doa terlantunkan dari ketiga manusia yang sedang terselimuti dengan kabut ketakutan.


Suara EKG menjadi pelan dan stabil. Antony menghela nafas panjang dan mengulas senyum ringan.


Rojer segera berbalik dan menatap nanar beberapa orang yang sedang mengegelingi calon istrinya. Begitu pula dengan Ny. Anindita.


Charlote bangkit dari duduknya, dan menurunkan tangannya. Matanya tertuju ke depan. Berharap cemas, jika apa yang di takutkan tidak terjadi.


Antony dan dua suster menepi, memberikan ruang untuk Rojer dan Charlote untuk mendekat.


...----------------...


Seberkas sinar redup menggelitik ke dua bola mata Maura. Memaksa masuk dan membangunkan bola mata yang sudah lama terpejam itu.


Perlahan Maura membuka ke dua matanya. Pandanganya begitu buram, hingga ia mengerjapkan beberapa kali ke dua matanya.


Suara tangis sedih dan pilu dengan aroma obat- obatan yang khas memenuhi ruangan tempatnya berada.


Rojer dan Charlote mendekat ke arah Maura.


Deg..


Jantung mereka bertabuh dengan keras. Seperti genderang yang di tabuh saat perang


Maura menatap di depannya, berdiri pria dengan mata sembab dan bibir yang masih bergetar. Di sebilah kirinya ada anak kecil yang juga sedang menagis menatap dirinya penuh kerinduan. Di sebelah kanannya ada tiga orang dengan pakaian berwarna putih yang menyunggingkan senyum ke arahnya. Dan di pojok ruangan berdiri wanita paruh baya, dengan memegang bibirnya.


"Apa yang sedang terjadi,, kenapa mereka semua menatap ku seperi itu.?" Batin Maura dengan tatapan bingung.


"Mama....." Teriak Charlote, dan berhambur naik ke atas ranjang. Ia memeluk Maura erat. Rindu yang selama ini ia pendam kini bisa ia lampiaskan. Ibu tersayang yang selama ini menjaganya dengan sepenuh jiwa raganya, kini sudah bangun dari tidur panjangnya.


Rojer berbalik lagi. Dirinya benar- benar tidak percaya. Doa yang selama ini dia panjatkan sepertinya terjawab oleh tuhan.


"Apa aku sedang bermimpi...?" Gumam Rojer, dengan menampar pipinya bergantian. Rasanya ia tidak percaya, Maura wanita yang sangat di cintainya, kini sedang menatapnya.


Ny. Anindita tersenyum lega. Ia merasa turut behagia dengan Maura yang sudah sadar. Ny. Anindita menghampiri Rojer, yang masih saja menampar pipinya secara bergantian dan mengulangi kalimat yang sama.


"Apa aku sedang bermimpi..?"


"Stop...!! Sudah... Ini bukan mimpi... Berbaliklah dan lihat calon istri mu sedang menatap mu." Ujar Ny. Anindita dengan tersenyum lebar. Membuat Rojer tersadar dari pikirannya.


Ny. Anindita mengusap sisa- sisa air mata di pipi Rojer.


"Derita mu sudah berakhir sayang... Kebahagian sedang menunggu mu..." Lanjut Ny. Anindita lagi, dengan menunjuk ke arah Maura dengan dagunya.


Rojer mengangguk cepat. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Maura yang masih terbaring lemas.

__ADS_1


Rojer mendekat dengan tatapan lega. Tubuhnya langsung merengkuh tubuh Maura dalam pelukannya.


"Maura... Kamu sudah bangun sayang... Aku sungguh takut jika terjadi apa pun pada diri mu... Aku sudah tidak sanggup hidup jika kamu sampai kenapa- kenapa... Jangan ulangi lagi. Jangan....!!!" Air mata Rojer kembali pecah. Kini ia bisa merasa tanpa beban. Cintanya sudah kembali. Jiwanya sudah kembali seutuhnya.


"Aku benar- benar merasa berhasil menjadi seorang dokter sekarang...." Lirih Antony di sela- sela keharuan yang sedang terjadi di depannya.


Kedua suster juga, ikut terharu melihat tontonan di hadapan mereka.


Maura menatap bingung pria yang sedang memeluknya.


Rojer melepas pelukannya. Dan langsung memeluk Antony. Dirinya sangat berterimakasih pada sahabatnya ini. Sampai kapan pun ia akan berhutang budi pada Antony.


"Aku akui kamu adalah dokter yang hebat..." Ujar Rojer sambil menepuk punggung Antony.


"Hey... Lepaskan aku, Kamu membuat ku susah bernafas. Jika kamu terus memeluk ku bisa- bisa orang mengira kita Gay..." Timpal Anyony dengan terkekeh geli.


"Sungguh aku akan selalu berhutang budi seumur hidup ku pada mu Antony..." Rojer melepas pelukannya, dan menatap Antony dengan tatapan berterimakasih.


"Hahah... Tentu saja.. Bersiaplah aku akan meminta hal yang besar pada mu nantinya... Tapi aku sangat bahagia. Pengorbanan malam pertama ku dengan istri ku di gantikan dengan kesembuhan pasien ku... Ini sudah lebih dari apa pun..."


"Sungguh aku minta maaf sudah merepotkan mu selama ini... Selamat atas pernikahan mu..."


"Baiklah... Sekarang berhentilah berbicara pada ku... Urus Calon kakak ipar ku dulu... Jangan bilang sekarang kamu jatuh cinta dengan ku... Ha...ha..."


Rojer terkekeh tipis, mendengar lelucon sahabat nya itu.


"Kenapa kamu terus diam... Lihat lah sekarang semuanya baik- baik saja... Mama ku datang langsung untuk menemui mu... Semuanya sudah membaik... Maafkan aku jika waktu itu aku tidak meninggalkan mu... Pasti semua ini tidak akan terjadi..." Rojer meraih tangan Maura, dan menciumnya. Lalu menggenggam tangan wanita yang masih saja terdiam dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Mama jangan tinggalkan Charlote lagi... Charlote sangat senang mama sudah sembuh... Charlote janji bakal jadi anak baik buat mama..." Ujar Charlote dengan senang. Ia berjingkrak dengan tersenyum di samping ranjang.


"Sayang.... Kita nanti akan tinggal bersama... pasti akan sangat menyenangkan..." Ny. Anindita ikut turut antusias melihat kesenangan Charlote.


"Tentu saja Grand ma... Jangan lupa kita akan mengadakan pesta juga..."


"Pesta apa ?"


"Pesta pernikahan hehe..."


"Aaa cucu ku sangat pandai... uuuuu" Ny. Anindita mencubit ke dua pipi Charlote dengan gemas.


"Sayang... Kenapa kamu diam terus... Apa kamu baik- baik saja..?" Tanya Rojer pada Maura, yang masih menatapnya dengan bingung.


"Apa kamu bertanya pada ku?" Bukannya menjawab, Maura malah bertanya balik pada Rojer. Membuat Rojer mengerjit heran.


"Tentu saja... Aku bertanya pada mu sayang... Kepada siapa lagi.." Timpal Rojer yang mulai bimbang dengan sikap Maura yang sedikit berbeda.


"Aku... Si... Siapa kalian sebenarnya... Kenapa kalian membuat sandiwara di depan ku..?"


CEDAR...


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2